Di Antara Berjuta Cinta

19
Kehidupan ini rasanya tak pernah dapat dilepaskan
dari apa yang dinamakan ‘cinta’. Dengannya
menjadi semarak dan indah dunia ini. Lihat saja, bagaimana seorang
bapak begitu bersemangat dalam beraktivitas mencari nafkah, tak
lain karena dorongan cintanya terhadap anak dan isterinya. Seorang
yang lain pun begitu semangatnya menumpuk harta kekayaan, karena
sebuah dorongan cinta terhadap harta benda, demikian pula mereka
yang cinta kepada kedudukan, akan begitu semangat meraih cintanya. 
Itu semua adalah beberapa contoh dari berjuta cinta
yang ada. Meskipun kesan yang banyak dipahami orang tentang cinta,
identik dengan apa yang terjadi antara seorang pemudi dan pemuda.
Padahal cinta tak hanya sebatas itu saja. 
Ternyata masalah cinta memang tidak sederhana. Ada
cinta yang bernilai agung lagi utama, namun ada pula cinta yang
haram dan tercela. Cinta sendiri kalau dilihat menurut islam, maka
dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk. Kita semestinya tahu tentang
model cinta tersebut untuk kemudian mampu memilih mana cinta yang
mesti kita lekatkan di hati, mana pula cinta yang mesti kita tinggalkan
sejauh-jauhnya.

Cinta kepada Allah
Cinta model ini adalah cinta yang paling utama. Bahkan kata ulama
kita, cinta kepada Allah adalah pokok dari iman dan tauhid seorang
hamba. Karena memang Allah sajalah satu-satunya dzat yang patut
diberikan rasa cinta. 

Segala cinta, kalau kita buat peringkat maka
nyatalah bahwa cinta kepada Allah adalah puncaknya. Ia adalah
yang tertinggi, paling agung dan paling bermanfaat. Begitu bermanfaat
cinta kepada Allah ini, sehingga tangga-tangga menuju kepadanya
pun merupakan hal-hal yang bermanfaat pula. Diantaranya berupa
taubat, sabar dan zuhud. Apabila cinta diibaratkan sebuah pohon
maka ia pun akan menghasilkan buah-buah yang bermanfaat seperti
rasa rindu dan ridha kepada Allah.
Mengapa kita mesti cinta kepada Allah ? banyak
sekali alasannnya. Diantaranya adalah karena Allah lah yang
memberikan nikmat kepada kita, bahkan segala nikmat. Sedangkan
hati seorang hamba tercipta untuk mencinta orang yang memberikan
kebaikan kepadanya. Kalau demikian, sungguh sangat pantas apabila
seorang hamba cinta kepada Allah, karena Dialah yang memberikan
semua kebaikan kepada hamba. 
“Dan apa-apa nikmat yang ada pada kalian , maka
itu semua dari Allah”
(QS Al Baqarah : 165)

Seorang hamba di setiap pagi dan petang, siang
dan malam selalu berdoa, memohon dan meminta pertolongan kepada
Allah. Dari doa tersebut kemudian Allah memberikan jawaban, menghindarkan
hamba dari bahaya, memenuhi kebutuhan hamba tadi. Keterikatan
ini mendorong hati untuk mencinta kepada dzat tempat ia bermohon.

Setiap insan pun tak lepas dari dosa dan kesalahan,
maka Allah selalu membuka pintu taubat kepada hamba tadi, bahkan
Allah tetap memberikan rahmah meski hamba kadang tidak menyayangi
dirinya sendiri. Kebaikan-kebaikan yang dibuat hamba, tak ada
sesuatu pun yang mampu diharap untuk memberi balasan dan pahala
kecuali Allah semata.

Terlebih lagi, Allah telah menciptakan hamba,
dari sesuatu yang tak ada menjadi ada. Tumbuh, berkembang dengan
rizki dari Allah Ta’ala. Maka ini menjadi alasan kenapa hamba
semestinya cinta kepada Allah.

Cinta memang menuntut bukti. Tak hanya sekedar
ucapan, seperti pepatah orang arab ‘semua orang mengaku punya
hubungan cinta dengan Laila namun si Laila tak pernah mengakuinya’.
Dan wujud cinta ilahi dibuktikan dengan

“Katakanlah
apabila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Rasulullah)
maka Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”


(QS Ali Imran : 31)

mengikuti sunah nabi dan juga berjihad di jalan
Allah Ta’ala.

Cinta karena Allah
/ cinta di jalan Allah

Cinta karena Allah tentu saja mengikuti cinta yang pertama. Seperti
dalam kehidupan, ketika kita cinta kepada seseorang maka apa yang
dicintai oleh orang yang kita cinta pun kita sukai pula. Cinta
karena Allah adalah cinta kepada ‘person’ yang dicinta Allah seperti
para nabi, rasul para sahabat nabi dan orang-orang shalih. Cinta
karena Allah jua berujud cinta kepada perbuatan shalih seperti
shalat, puasa zakat, berbakti kepada orang tua, memuliakan tetangga,
berakhlaq mulia, menuntut ilmu syar’i dan segala perbuatan baik
yang lain. Dengan demikian, ketika seoarng muslim mencinta seseorang
atau perbuatan maka ia punya sebuah barometer “apakah hadir pada
perbuatan maupun orang tadi hal yang dicinta Allah”. Bagaimana
kita tahu kalau suatu perbuatan dicinta Allah? Jawabnya adalah,
apabila Allah perintahkan atau diperintahkan Rasulullah berupa
hal yang wajib maupun yang sunnah(mustahab).
Cinta yang disyariatkan diantaranya adalah cinta kepada saudara
seiman 

“Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai
mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana mencintai dirinya
sendiri” (HR Bukhari dan Muslim) 

Cinta ini bermanfaat bagi pelakunya sehingga mereka layak mendapatkan
perlindungan Allah di hari tiada perlindungan kecuali perlindungan
Allah saja.

Cinta bersama Allah

Kecintaan ketiga ini adalah cinta yang terlarang. Cinta bersama
Allah berarti mencintai sesuatu selain Allah bersama kecintaan
kepada Allah. Membagi cinta, adalah model cinta yang ketiga ini.
Kecintaan ini hanyalah milik orang-orang musyrik yang mencintai
sesembahan-sesembahan mereka bersama cinta kepada Allah. Seperti
firman Allah:

“Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain
Allah sebagai tandingan-tandingan, yang mereka mencintai tandingan
tadi sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman
amat sangat besar cinta mereka kepada Allah ”
(QS Al Baqarah : 165)
 
Kecintaan ini bisa ditujukan kepada pohon,
berhala, bintang, matahari, patung , malaikat, rasul dan para
wali apabila kesemuanya dijadikan sesembahan selain Allah. 
Terus bagaimana cinta kita kepada anak, harta,
pakaian, nikah dan kepada hal yang berhubungan dunia ? Cinta
yang seperti ini adalah cinta yang disebut sebagai “cinta thabi’i”
cinta yang sesuai dengan tabiat artinya wajar-wajar saja. Apabila
mengikuti kecintaan kepada Allah, mendorong kepada ketaatan
maka ia bermuatan ibadah. Sebaliknya bila mendorong kepada kemaksiatan
maka ia adalah cinta yang tercela dan terlarang.
SHARE