Diterimahkah Ibadah Kita??? Jika didasari dengan Keraguan

64
Dan di antara manusia ada
orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh
kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu
bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang
demikian itu adalah kerugian yang nyata.[al-Hajj:11]


Imam Ibnu Katsir menyatakan,” Menurut
Mujahid, Qatadah serta ‘ulama-‘ulama tafsir lainnya, bahwa yang dimaksud ‘ala
harf
, adalah ‘ala syakk (di atas keraguan).”
Ayat ini menyindir
orang-orang yang menyembah kepada Allah di atas keraguan, bukan di atas
keyakinan hatinya.
Imam Qurthubiy, di dalam tafsir Qurthubiy,
mengutip penafsiran Ibnu ‘Abbas menyatakan, ‘Ayat ini berhubungan
dengan kisah berikut ini : “Sejumlah orang Arab mendatangi Rasulullah saw di
Medinah, kemudian mereka masuk Islam. Jika setelah masuk Islam isteri mereka
melahirkan anak laki-laki, dan ternak mereka berkembang biak, mereka menyatakan
bahwa Islam adalah agama yang baik. Namun sebaliknya, jika mereka mendapati
bahwa isterinya melahirkan anak perempuan, dan ternaknya tidak berkembang biak,
mereka menyatakan bahwa Islam adalah agama sial (buruk). Kemudian mereka murtad
dari Islam kembali.”
 
Ini adalah gambaran
orang-orang yang menyembah kepada Allah karena manfaat-manfaat atau
kepentingan-kepentingan duniawi. Jika mereka mendapatkan keuntungan duniawi,
atau mendapatkan kebahagian-kebahagiaan bendawi, mereka akan tentram dan giat
beribadah kepada Allah. Sebaliknya, tatkala mereka beribadah kepada Allah,
kemudian mendapatkan berbagai macam fitnah, celaan, dan kerugian-kerugian harta
benda, mereka segera berpaling dari Islam dan kembali kepada kekafiran.
Menurut Ali Ash-Shabuni
dalam Tafsir Shafwatut Tafaasir, “Orang-orang semacam ini seperti pasukan
yang tengah berada dalam kondisi kritis. Pasukan yang berada dalam kondisi
kritis cenderung akan berbuat apapun untuk menyelamatkan dirinya. Seandainya
mereka diperintahkan untuk murtad –asalkan itu bisa menyelamatkan dirinya—tentu
mereka akan bergegas untuk kembali murtad”.
 
Seorang muslim wajib
beribadah kepada Allah swt dengan hati yang tunduk dan ikhlash.   Keikhlasan dan ketundukan merupakan benteng
yang sangat kokoh yang bisa menjaga keistiqamahan seseorang dalam beribadah
kepada Allah.   Seseorang yang berhati
bersih dan ikhlash akan selalu beribadah kepada Allah dalam kondisik
apapun.   Dalam kondisi senang ia tetap
ingat kepada Allah swt.  Dalam kondisi
kesusahan, dirinya semakin tunduk dan mendekatkan diri kepada Allah.
Tatkala ia diperintahkan
untuk berjihad di jalan Allah swt, dirinya akan segera terpanggil dan memenuhi
seruan Tuhannya.  Ia rela mengorbankan
harta dan jiwanya di jalan Allah swt.
Ia rela menanggung hinaan dan cobaan demi menjaga agama Allah swt.
Berbeda dengan orang yang
beribadah kepada Allah tanpa landasan keikhlasan.  Orang semacam ini tidak ubahnya dengan orang
yang berada dalam keraguan.   Benteng
keimanannya sangat rapuh dan ringkih.
Ia mudah sekali berpaling dari Allah swt, hanya karena iming-iming,
godaan dan rayuan dunia.   Dirinya sangat
mudah terjangkit penyakit nifaq.  Tatkala
ia mendapatkan keuntungan ia ingat kepada Allah swt.  Namun, tatkala ia mendapatkan kesusahan
akibat memikul taklif dari Allah swt, ia segera mencampakkan agama Allah dan
surut kembali ke belakang.
Pada dasarnya, orang-orang
semacam ini gemar mengubah-ubah hukum-hukum Allah swt.  Yang halal berubah menjadi haram, sedangkan
yang haram menjadi halal.  Hukum Allah
dipaksa tunduk di bawah kepentingan dan hawa nafsu mereka. Di tangan mereka, ajaran Islam menjadi
olok-olok dan bahan permainan.   Bahkan
mereka tidak segan-segan berkomplot dengan orang-orang kafir untuk menyerang
dan membunuh kaum muslim hanya untuk kepentingan-kepentingan sesaat mereka.
Wahai, betapa banyak para
penguasa kaum muslim yang tega berkhianat dan bersekongkol dengan orang-orang
kafir untuk memusuhi Islam dan kaum muslim sendiri.   Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang
telah terjangkit penyakit nifaq dan takut mati.   Mereka lebih takut kepada orang-orang kafir
dan kepentingan-kepentingannya daripada takut kepada Allah swt.  Padahal, bukankah Allah swt yang seharusnya
ditakuti?  Bukankah Allah semata pemilik
surga dan neraka, pahala dan siksa, rahmat, karunia, bahkan bumi dan
seisinya?  Lantas, mengapa kita lebih
takut kepada manusia –yang sangat lemah—daripada Maha Rahman Yang Gagah
Perkasa?
SHARE

2 COMMENTS