Gambaran Surga dalam al-Quran dan Hadis Nabi SAW

190
Gambaran Surga dalam al-Quran dan Hadis Nabi

Gambaran Surga – Di luar alam nyata ini, terdapat perkara-perkara ghoib yang tidak mudah untuk bisa dicerna oleh akal manusia tanpa bantuan wahyu dari ilahi. Atas kebijaksanaan dan belas kasihNya, Ia pun mengirim utusan untuk membimbing umat manusia kepada kebenaran.

Satu dari sekian banyaknya tugas (Muhammad SAW sebagai utusan terakhir) adalah mengingatkan ummat akan tempat kembali setelah qiamat. Langkah cerdas yang diambil Nabi SAW memberikan dampak positif kepada setiap muslim. Mereka akan termotivasi untuk lebih baik dalam menjalankan syari’at agama.

Surga, adalah satu dari sekian banyak ciptaan Tuhan yang diyakini keberadaannya oleh hampir seluruh umat manusia. Tidak hanya dalam Islam, di agama-agama lainnya pun surga dikenal dan dipahami sebagai balasan atas ketaatan menjalankan ajaran agama.

Terkait dengan tugas seorang Rasul sebagai pelurus akidah umat, maka dalam memahami dan mengenal surga, di sini kami akan paparkan beberapa hadis pokok yang membahas tentang surga tersebut. Di antaranya:

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَاللَّفْظُ لِإِسْحَقَ قَالَا أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ قَالَ الثَّوْرِيُّ فَحَدَّثَنِي أَبُو إِسْحَقَ أَنَّ الْأَغَرَّ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُنَادِي مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمْ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ[1

Artinya: Nabi Muhammad SAW bersabda: “(ada petugas) yang berseru, (di sini-surga) kamu sehat, tidak pernah sakit buat selama-lamanya. Di sini kamu hidup selamanya, tidak akan mati lagi. Di sini kamu muda selamanya, tidak akan tua lagi. Di sini kamu senang selamnya, tidak akan pernah putus asa” setelah itu Nabi membacakan firman Tuhan mengenai surga itu yang berbunyi, “itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan. (HR. Muslim)

Di atas adalah salah satu dari sekian banyaknya hadis yang berbicara tentang kondisi manusia yang telah sukses meraih prestasi tertinggi dari Tuhan, surga. Untuk mengecek kebenaran hadis tersebut, maka penting untuk dilakukan takhrij (baca: Metode Penilitian Hadits) sehingga kualitas dan keberadaan hadis dapat diketahui. Hasilnya:

Kualitas Rawi

No Nama Urutan periwayat/sanad Kualitas
1. Abu Hurairah I/VI Diterima
2. Abu Sa’id Al-Khudri I/VI Diterima
3. Aghar II/V Diterima
4. Abu Ishaq III/IV Diterima
5. Al-tsauri IV/III Diterima
6. Abdurrazaq V/II Diterima
7. Abd Ibn Humaid VI/I Diterima
8. Ishaq ibn Ibrahim VI/I Diterima
9. Muslim VII/Mukharij al-hadis Diterima[1]

 

Hadis senada yang diriwayatkan di kitab-kitab lainnya,

Kitab Nomor Hadits
Ahmad 11469, 10904
Turmudzi 3169[2]

 

Setelah dilakukan takhrij hadis, makan dari segi sanad hadis ini berada pada derajat shahih. Sedangkan dari segi matan juga sama hanya ada perbedaan pada susunan teksnya tetapi pada hakikatnya maknanya tetap sama.

Penjelasan Hadis tentang Gambaran Surga

Hadis tersebut menggambarkan kenikmatan yang tiada tara dalam surga. Kenikmatan yang bersifat abadi, kekal selama-lamanya. Orang yang mendapatkannya tidak akan pernah merasakan sakit, senantiasa sehat. Tidak ada kebosanan, kekurangan, dan kesusahan lainnya. Kenikmatan yang abadi membuat ia tak akan pernah mati lagi. Hal ini juga sesuai dengan ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan kekekalan ahli surga, antara lain:

ü وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (82) البقرة

ü وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (72) التوبة

ü لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَى وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (56) الدخان

Maka orang yang sering sakit di dunia tidak akan sakit lagi di akhirat, jika ia termasuk ahli surga. Selalu merasa senang sebab kesenangan di sana adalah kesenangan yang hakiki, sangat berbeda dengan kesenangan di dunia. Kesenangan di dunia selalu bergandengan kesusahan.

Pengertian Surga

Sebagai seorang muslim kita harus mengimaninya. Setiap insan yang beriman tentu ingin menikmati keindahan surga dan takut terjerumus dalam siksa neraka. Oleh sebab itulah sudah seyogyanya kita kenali lebih dekat apa itu surga.

Di dalam Al-Qur’an surga disebut dengan Jannah yang secara bahasa artinya taman bunga. Sedangkan maknanya yang dimaksudkan dalam pembicaraan syari’at adalah sebuah tempat tinggal yang disediakan oleh Alloh bagi orang-orang yang membela agama-Nya yaitu orang-orang yang bertakwa.

Di dalam surga itu terdapat kenikmatan yang tiada tara. Sebuah kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terbetik di dalam hati umat manusia (baca: gambaran masa depan manusia). Alloh ta’ala berfirman:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan” (Qs. As-Sajadah: 17)

Untuk sampai ke tempat ini, manusia harus menempuh perjalanan panjang yang dimulai dengan kematian. Mati adalah syarat utama untuk mencapainya. Kemudian dilanjutkan dengan melewati alam barzah, kiamat, padang mahsyar, pengadilan di mahkamah Rabb al-Jalil, terakhir meniti sirath al-mustaqim barulah sampai pada aljanntunna’im.

Gambaran Keberadaan Surga

Mengenai keberadaan surga, seluruh umat Islam tampaknya sepakat bahwa surga pasti ada. Akan tetapi mengenai kapan surga diciptakan, sudah adakah surga pada saat ini, para ulama’ berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa surga telah diciptakan sejak dulu. Juga ada yang mengatakan belum diciptakan hingga datangnya hari kiamat.

Pendapat pertama adalah pendapat yang masyhur dan diyakini oleh sebagian besar umat Islam. Dalilnya:

‌أ. وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) النجم

‌ب. حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَنْبَسَةُ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ كَانَ أَبُو ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فُرِجَ سَقْفُ بَيْتِي وَأَنَا بِمَكَّةَ فَنَزَلَ جِبْرِيلُ ……ثُمَّ انْطَلَقَ حَتَّى أَتَى بِي السِّدْرَةَ الْمُنْتَهَى فَغَشِيَهَا أَلْوَانٌ لَا أَدْرِي مَا هِيَ ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا فِيهَا جَنَابِذُ اللُّؤْلُؤِ وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ[4

‌ج. حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ[5

‌د. حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ شَيْئًا فِي مَقَامِكَ ثُمَّ رَأَيْنَاكَ تَكَعْكَعْتَ قَالَ إِنِّي أُرِيتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتْ الدُّنْيَا[6

‌ه. بَاب حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ أَخْبَرَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلَاةَ الْكُسُوفِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ رَفَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ رَفَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ رَفَعَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ رَفَعَ فَسَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ رَفَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ انْصَرَفَ فَقَالَ قَدْ دَنَتْ مِنِّي الْجَنَّةُ حَتَّى لَوْ اجْتَرَأْتُ عَلَيْهَا لَجِئْتُكُمْ بِقِطَافٍ مِنْ قِطَافِهَا وَدَنَتْ مِنِّي النَّارُ حَتَّى قُلْتُ أَيْ رَبِّ وَأَنَا مَعَهُمْ فَإِذَا امْرَأَةٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ تَخْدِشُهَا هِرَّةٌ قُلْتُ مَا شَأْنُ هَذِهِ قَالُوا حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا لَا أَطْعَمَتْهَا وَلَا أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ قَالَ نَافِعٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ مِنْ خَشِيشِ أَوْ خَشَاشِ الْأَرْضِ[7

Dan masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang maknanya menunjukkan adanya surga pada saat ini. Para ulama’ yang berpendapat seperti ini tidak menggunakan dalil dengan kisah Adam yang dulu tinggal di surga kemudian dikeluarkan darinya, sebab meskipun dalil ini cukup atau bahkan paling masuk akal di kalangan awam akan tetapi justru di kalangan ulama’ terdapat khilafiyah[8] tentang surga yang dihuni oleh Adam terdahulu.[9]

Dalil untuk pendapat kedua, yakni tidak sepakat bahwa surga sudah diciptakan, adalah:

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya: “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (QS. Al-Qhosos: 88)

Jika surga sudah diciptakan, sesuai dengan ayat di atas, ia akan hancur berkeping-keping dan penciptaan surga menjadi sia-sia karenanya. Kemudian alasan kedua adalah jika surga adalah makhluk maka ia pasti mati pada hari kiamat.

Pendapat seperti ini dianut oleh Aliran Qadariyah dan Mu’tazilah. Keduanya adalah kelompok yang mengunggulkan kemampuan berpikir. Ratio di atas segala-galanya.

Mengenai perbedaan ini, kami lebih condong kepada pendapat pertama dengan alasan bahwa Ia tidak akan memberi ancaman neraka, menjanjikan surga, menceritakan gambaran neraka atau surga bila keduanya tidak ada, atau belum diciptakan. Seperti orang tua yang suka memberikan imbalan atau janji kepada anaknya jika meraih prestasi yang cemerlang, misalnya jika mendapat juara 1 di kelas, maka orang tua akan menghadiahkan liburan ke suatu tempat wisata.

Tentu saja tempat wisata itu sudah ada. Tidak mungkin dijanjikan dengan tempat yang tidak ada ataupun belum ada. Seorang yang kakinya pincang tidak akan mengancam akan menendang, perampok yang hanya mempunya golok tidak akan mengancam akan menembak. Seseorang tidak akan mengajak ke Ancol bila Ancol tidak ada pada saat ini di Jakarta.

Kesimpulannya, surga dan alam akhirat itu sudah ada, tetapi itu dalam pandangan Allah. Kecuali orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk melihat kondisi akhirat. Coba bayangkan sebelum alam semesta tercipta, ruang dan waktu tidak ada. Yang ada hanya kehampaan. Kemudian Allah menciptakan alam semesta ini dalam enam hari.

Bagi Allah waktu adalah tak terbatas, Allah tidak terikat dengan waktu. Dengan kata lain Allah bisa menjelajah waktu kapan saja. Jadi menurut Allah surga dan neraka itu sudah ada dan sedang berjalan. Kalau untuk alam manusia tentu saja akhirat belum dimulai, kalaupun ada orang yang pernah diberi gambaran tentang alam akhirat, itu sama halnya dengan orang yang diberi gambaran tentang masa depan. الله اعلم باصواب.

Gambaran Surga dalam Pandangan Islam

Ayat-ayat al-Qur’an banyak yang menggambarkan surga yang dipenuhi sungai-sungai bersimpang siur. Airnya bening laksana air mata. Tidak pernah keruh, sedap dan menyegarkan. Firman Allah:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 25)

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آَسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

Artinya: “(apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (QS. Muhammad: 15)

Surga dilukiskan Allah sebagai sumber kenikmatan. Mengenai kaeadaan surga tidak seorangpun yang tahu secara pasti. Akan tetapi gambaran “sedikit” yang diberikan Allah mengandung banyak makna. Deskripsi surga yang ditawarkan Allah dan RasulNya disesuaikan dengan budaya arab setempat pada waktu itu.

Seperti yang kita tahu, kondisi daerah Arab sangat gersang dengan padang pasirnya yang sangat luas pula. Sehingga keberadaan sumber-sumber air sangat diharapkan. Tak heran jika mereka (penduduk Arab) akan sangat tergiur dengan iming-iming mata air yang jernih, sungai yang mengalir, dan semisalnya.

Maka, semisal al-Qur’an dulu diturunkan di Indonesia, meski itu tidak pernah terjadi, gambaran tentang surga pun mungkin akan berbeda sesuai dengan kebutuhan yang paling diinginkan masyarakat Indonesia saat itu.

Sedangkan mengenai bentuk surga adalah sama dengan bentuk bumi. Di dalamnya terdapat pegunungan, lembah-lembah, sungai-sungai, kebun-kebun, taman-taman bunga, pasar, dan sebagainya yang kesemuanya lebih indah sejuta kali bahkan lebih dibanding dengan yang ada di bumi.

Di surga yang ada hanyalah kebahagiaan yang mutlak dan abadi. Tidak ada keputus-asaan. Tidak ada yang pernah sakit bahkan sampai mati. Manusia juga tidak mempunyai rasa ingin kencing atau berak lagi. Rezeki pun sangat tercukupi, bahkan lebih. Ditemani pasangan masing-masing yang sangat rupawan dengan maghligai, istana, dan ghuraf-ghuraf yang terbuat dari emas, perak, intan dan sebagainya.

Keindahan dan kebesaran surga tidak pernah bisa dibayangkan oleh akal manusia. Sebab sesuatu yang terindah dan terbesar di dunia pun tidak bisa membandingi keindahahan dan kebesaran surga.

Nama-Nama Surga yang ada dalam Al-Qur’an

Seperti di dunia, manusia di surga itu berkelas-kelas atau bertingkat-tingkat, bahkan lebih besar perbedaan tingkatannya dibanding di dunia. Maka surga tidak hanya satu, tetapi ada beberapa surga yang berbeda-beda tingkatannya. Memang semuanya indah, tapi tingkat keindahan, kenikmatan, dan kenyamanannya berbeda-beda.[10]

Adapun nama-nama surga yang tersebut dalam al-Qur’an menurut Ibn Qayyim adalah:

  1. Jannatul Firdaus
  2. Jannatun Na’im
  3. annatul Makwa
  4. annatul Khuldi
  5. annatul Adnan
  6. aq’idus Shadqi
  7. aqamul Amin
  8. Darul Maqamah
  9. Darussalam
  10. Darul Hayawan.[11]

Jannatul Firdaus adalah tingkatan surge yang tertinggi. Namun dari semua surga yang ada, masing-masing mempunyai kelebihan. Tergantung amal perbuatan masing-masing ahli surga.

Pintu-Pintu Surga yang telah dijanjikan

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ رَبِيعَةَ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ ح وَحَدَّثَنِي أَبُو عُثْمَانَ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ كَانَتْ عَلَيْنَا رِعَايَةُ الْإِبِلِ فَجَاءَتْ نَوْبَتِي فَرَوَّحْتُهَا بِعَشِيٍّ فَأَدْرَكْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا يُحَدِّثُ النَّاسَ فَأَدْرَكْتُ مِنْ قَوْلِهِ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ قَالَ فَقُلْتُ مَا أَجْوَدَ هَذِهِ فَإِذَا قَائِلٌ بَيْنَ يَدَيَّ يَقُولُ الَّتِي قَبْلَهَا أَجْوَدُ فَنَظَرْتُ فَإِذَا عُمَرُ قَالَ إِنِّي قَدْ رَأَيْتُكَ جِئْتَ آنِفًا قَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ وَأَبِي عُثْمَانَ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرِ بْنِ مَالِكٍ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَذَكَرَ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ[12

Hadis tersebut menyatakan bahwa Surga mempunyai delapan pintu dengan nama-nama sebagai berikut:

  1. Bab Al-Yamin,
  2. Bab Al-Jihad,
  3. Bab At-Taubah,
  4. Bab As-Salat,
  5. Bab Al-haji,
  6. BAr-Rihan,
  7. Bab Ash-Shadaqah, dan
  8. Bab Ar-Rida.

Di samping delapan pintu tersebut, ada empat buah pintu lagi[13]:

  1. Bab Ar-Rahmah,
  2. Bab Az-Zamil Ghairi,
  3. ab Ar-Radhiyin, dan
  4. ab Al-Aiman.[14]

Penyambut di Pintu Surga

Yang menyambut kedatangan ahli surge di pintu surga adalah:

a. Malaikat

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ (23) سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (24)الرعد

b. Hurul aini (badadari)

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ وَأَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَمُجْتَمَعًا لِلْحُورِ الْعِينِ يُرَفِّعْنَ بِأَصْوَاتٍ لَمْ يَسْمَعْ الْخَلَائِقُ مِثْلَهَا قَالَ يَقُلْنَ نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا نَبِيدُ وَنَحْنُ النَّاعِمَاتُ فَلَا نَبْؤُسُ وَنَحْنُ الرَّاضِيَاتُ فَلَا نَسْخَطُ طُوبَى لِمَنْ كَانَ لَنَا وَكُنَّا لَهُ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأَنَسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثِ عَلِيٍّ حَدِيثٌ غَرِيبٌ[15

c. Anak-anak yang mati sebelum baligh

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى وَتَقَارَبَا فِي اللَّفْظِ قَالَا حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي السَّلِيلِ عَنْ أَبِي حَسَّانَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّهُ قَدْ مَاتَ لِيَ ابْنَانِ فَمَا أَنْتَ مُحَدِّثِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِيثٍ تُطَيِّبُ بِهِ أَنْفُسَنَا عَنْ مَوْتَانَا قَالَ قَالَ نَعَمْ صِغَارُهُمْ دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ يَتَلَقَّى أَحَدُهُمْ أَبَاهُ أَوْ قَالَ أَبَوَيْهِ فَيَأْخُذُ بِثَوْبِهِ أَوْ قَالَ بِيَدِهِ كَمَا آخُذُ أَنَا بِصَنِفَةِ ثَوْبِكَ هَذَا فَلَا يَتَنَاهَى أَوْ قَالَ فَلَا يَنْتَهِي حَتَّى يُدْخِلَهُ اللَّهُ وَأَبَاهُ الْجَنَّةَ وَفِي رِوَايَةِ سُوَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو السَّلِيلِ و حَدَّثَنِيهِ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ عَنْ التَّيْمِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ فَهَلْ سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا تُطَيِّبُ بِهِ أَنْفُسَنَا عَنْ مَوْتَانَا قَالَ نَعَمْ[16

Dapatkah Seorang Muslim Melihat Tuhan di Surga?

Puncak dari segala puncak kesenangan di surga adalah ketika melihat Allah SWT. Semua ahli surga akan melihat wajahNya dan Ia akan membalas dengan pandangan kasih sayang. Sahabat Ali Ibn Abi Thalib pernah berkata: “di waktu orang melihat wajah Allah, di waktu itulah pucak kesenangan dalam surga. Ketika itulah orang lupa terhadap dirinya sendiri, lupa kepada hurul aini bahkan kepada pasangannya yang sangat rupawan yang selalu mendampingnya sekalipun. Ia juga akan lupa dengan surga jannatun na’im.”[17]

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ  إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Artinya: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka Melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Bagaimanakah Petunjuk Jalan Menuju ke Surga

Hanya ada satu jalan menuju surga, sedangkan jalan ke nerka tak terhitung jumlahnya. Yang dimaksud jalan di sini adalah cara bagaimana manusia bisa memperoleh surgNya. Firman Allah:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)

وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

Artinya: “Dan hak bagi Allah ( jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. dan Jikalau dia menghendaki, tentulah dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar)”. (QS. An-Nahl: 9)

Jalan yang dimaksud adalah jalan yang lurus yang didasarkan pada satu agama yang benar, Islam.

Kesimpulan

Surga disebut dengan Jannah di dalam al-Qur’an yang secara bahasa artinya taman bunga. Dalam Islam, surga diartikan dengan sebuah tempat tinggal yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang membela agama-Nya yaitu orang-orang yang bertakwa.

Para ulama’ berbeda pendapat mengenai keberadaan surga saat ini. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, semua meyakini bahwa kenikmatan surgawi kekal adanya, dengan nama dan pintu yang beragam dan melihat wajah Allah sabagai puncak tertinggi kenikmatan surga.

Demikianlah sedikit-banyak uraian yang dapat disampaikan penyusun sehubungan dengan surga. Layaknya manusia biasa, kekurangan tak bisa dihindari. Untuk itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah yang selanjutnya. Terima kasih!

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim.
Al Hadis Al Syarif “min” CD Mausu’atul Hadis Al Syarif.

CD-Rom: Al-Maktabah Al-Syamilah.

Munawwir, A.W. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Yogyakarta: Pustaka Progresif. 2002.

Halimuddin. Kehidupan Di Surga Jannatun Na’im. Jakarta: Rineka. tt.

Al-Mawasyaraji, Syaridah. Surga Yang Dijanjika., Pustaka Mantiq, tt.

Ahmad ‘Atha, AbdulQadir. Surga di Mata Ahlussunnah, Gema Insani: Jakarta, tt.

Ali, Muhammad. Surga: Persinggahan Abadi Hamba Ilahi. Bandung:Trigendi Karya. 1993.

Catatan Kaki

[1] Shahih Muslim, no. 5069, CD-ROM Mausu’ah Al-Hadis Al-Syarif

[2] Cek di CD Mausu’ah al Hadis Al Syarif
[3] Cek di CD Mausu’ah al Hadis…..

[4] Shahih Bukhari, no. 3094, CD-ROM Mausu’ah Al-Hadis Al-Syarif

[5] Shahih Bukhari, no. 1290, CD-ROM Mausu’ah Al-Hadis Al-Syarif
[6] Shahih Bukhari, no. 706, CD-ROM Mausu’ah Al-Hadis Al-Syarif

[7] Shahih Bukhari, no. 703, CD-ROM Mausu’ah Al-Hadis Al-Syarif

[8] Khilafiyah yang dimasud adalah perbedaaan pendapat mengenai apakah surga yang dulu dihuni oleh Adam dan Hawa sama dengan surga yang akan dihuni oleh para ahli surga kemudian, atau ada surga lain yang berbeda dengan surga tersebut atau bahkan ada surga yang terletak di bumi?

[9] Abdul Qadir Ahmad ‘Atha, Surga di Mata Ahlussunnah (Gema Insani: Jakarta), hal. 23

[10] Syaridah Al-Mawasyaraji, Surga Yang Dijanjikan, (Pustaka Mantiq), hal. 48

[11] Halimuddin, Kehidupan Di Surga Jannatun Na’im, (Rineka: Jakarta), hal. 58

[12] Shahih Muslim, no. 345, CD-ROM Mausu’ah Al-Hadis Al-Syarif
[13] Hal ini menurut Imam Muslim

[14] Lihat Kehidupan Di Surga Jannatun Na’im, Halimuddin (Rineka: Jakarta), hal. 13-15

[15] Sunan At-Turmudzi, no. 2488, CD-ROM Mausu’ah Al-Hadis Al-Syarif
[16] Shahih Muslim, no. 4769, CD-ROM Mausu’ah Al-Hadis Al-Syarif

[17] Halimuddin, Kehidupan Di Surga Jannatun Na’im, (Rineka: Jakarta), hal. 158

SHARE