Hadis Nabi Sebagai Pedoman Hidup Umat Islam

113
HADIS NABI SEBAGAI PEDOMAN HIDUP UMAT ISLAM
Oleh: Syamsul Wathani

Umat Islam meyakini dan menempatkan hadis Nabi sebagai salah satu sumber nilai dan ajaran dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Hadis sebagai pedoman hidup umat Islam tentunya tidak boleh digeser sedikitpun dari ruang kehidupan umat, meninggalkannya dan hanya mengandalkan al-Qur’an, maka akan berdampak pada jalannya kehidupan yang timpang.

Kesadaran akan pentingnya kehadiran hadis di tengah-tengah kehidupan umat Islam sebagai ajaran, nilai-nilai kehidupan, dan sebagai pedoman merupakan kesadaran yang perlu direnungi oleh setiap Umat Muslim, mengingat hadits adalah pengejawantahan dan rekaman dari perjalan keagamaan baginda Rasulullah SAW.
Hadis Nabi Sebagai Pedoman Hidup Umat Islam
Hadis Nabi Sebagai Pedoman Hidup

Barangkali perlu masing-masing dari umat Muslim menghimpun beberapa hadis dalam tema-tema tertentu yang dimaksudkan sebagai pedoman bagi umat Islam dalam hubungannya dengan Tuhannya (hubungan vertikal) di dalamnya termasuk pedoman meningkatkan latihan jiwa. 
Tentu ada pedoman kitab hadits, namun penghimpunan hadits secara pribadi akan menjadi semacam usaha pribadi dalam belajar dan mendalami ajaran islam yang termuat didalammnya. Tidak seperti al-Qur’an, hadits cukup rinci dan lebih detail dalam membahas persoalan kehidupan islam (masa’il al-yaumiyyah).

Misalnya, dalam hadits tampak dari beberapa tema yang membahas tentang pahala bagi aktivitas zikir, dan amalan-amalan terkait relasi manusia dengan Tuhannya), maupun hubungan horisontal, yakni hubungan antar sesama manusia dalam pergaulan sehari-hari, hal ini tampak sekali dari tema-tema seperti menjaga lisan, mengucapkan salam, menjenguk orang sakit dan lain-lain. 

Hadis-hadis terkait dengan hubungan vertikal dan horisontal disusun agar manusia senantiasa mampu menjaga hubungan yang harmonis antara Tuhannya dan sesamanya dan terjauh dari kemaksiatan-kemaksiatan dan pertengkaran-pertengkaran yang tidak ada manfaatnya.

Salah satu contoh msialnya: 

حدثني محمد بن عبد الله بن الفضل ، حدثنا محمود بن خالد ، حدثنا الوليد بن مسلم ، عن ابن ثوبان ، عن أبيه ، عن مكحول ، عن جبير بن نفير عن مالك بن يخامر ، عن معاذ بن جبل ، رضي الله عنه قال : آخر كلمة فارقت عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم  قلت : يا رسول الله ، أخبرني بأحب الأعمال إلى الله عز وجل . قال : « أن تموت ولسانك رطب من ذكر الله تعالى
أخبرنا أبو عبد الرحمن ، حدثنا الحسين بن منصور ، حدثنا يحيى بن أبي بكير ، عن شعبة ، عن منصور ، عن أبي الفيض ، عن أبي ذر رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا خرج من الخلاء قال : « الحمد لله الذي أذهب عني الأذى وعافاني

Dua hadits diatas mengajarkan poin penjelasan dari agama, yakni selalu mengingat/berdzikir Allah. Demikian adalah hal yang sifatnya ilahiyah, dengan memotivasi kaum Muslim untuk selalu mengingat tuhannya. 
Hadits kedua lebih aplicable lagi menyangkut hal yang sejatinya perlu diingat, doa dalam sekecil apapun aktivitas Muslim, bahkan sekedear keluar dari kamar mandi. Hal kecil lain banyak dibahas dalam ahdits, terkait tata krama, amalan sunnah, doa dari bangun tidur dampai tidur lagi, tata cara makan, hingga aturan lainnya yang sangat detai.

Dengan demikian, kitab hadis yang layak untuk diapresiasi karena di dalamnya banyak mengandung nilai-nilai spiritual dan etika yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam rangka menjaga hubungan yang harmonis, baik hubungan vertikal maupun hubungan horizontal. 

Dan yang tidak kalah penting, sebagai muslim mulailah mengoleksi hadits -minimal- dalam bentuk catatan saku, agar mengingatkan kita pada hal-hal kehidupan sepele, namun ditata betul dalam hadits. Sembari juga membayangkan, bagaimana prilaku agung baginda Rasulullah dalam rekaman hadits, yang bisa menjadi uswah kita sebagai generasi islam.
SHARE