Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala [Al Qashash/28: 56]

50
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat
memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu sayangi, tetapi Allah memberi
hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang
yang mau menerima petunjuk”[Al Qashash/28: 56]


Sebab
turunnya ayat ini berkaitan dengan meninggalnya Abu Thalib dalam keadaan tetap
memeluk agama Abdul Muththalib (musyrik). Hal ini sebagaimana ditunjukkan
hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibnu
Al Musayyab, bahwa bapaknya (Al Musayyab) berkata: ‘Tatkala Abu Thalib akan
meninggal, Rasulullah saw. bergegas mendatanginya. Dan saat itu, Abdullah bin
Abu Umayyah serta Abu Jahal berada di sisinya. Beliau saw. berkata kepadanya:
“Wahai, pamanku. Ucapkanlah laa ilaha illallah; suatu kalimat yang dapat
aku jadikan pembelaan untukmu di hadapan Allah. Akan tetapi, Abdullah bin Abu
Umayyah dan Abu Jahal menimpali degan ucapan: Apakah engkau (Abu Thalib) membenci
agama Abdul Muththalib?. Lalu Nabi saw. mengulangi sabdanya lagi. Namun mereka
berdua pun mengulang kata-katanya itu. Maka akhir kata yang diucapkannya, bahwa
dia masih tetap di atas agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan La
ilaha illallah
. Kemudian Nabi saw. bersabda: “Sungguh, akan aku mintakan
ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang”. Lalu Allah menurunkan firmanNya:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن
يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ٩:١١٣
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang
beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun
orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka
bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam”. [At Taubah/9:
113]

Adapun mengenai Abu Thalib, Allah berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ
يَهْدِي مَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah
kepada orang yang kamu sayangi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang
Dia kehendaki”. [Al Qashash/28: 56].

Dari firman Allah swt. dan hadits Rasulullah saw. di
atas, dapat dipetik beberapa manfaat dan pelajaran, sebagaimana akan kami
sebutkan berikut ini.
Pertama: Dalam kitab Shahih
Tafsir Ibnu Katsir edisi
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Al-bani disebutkan: “Allah swt. berfirman kepada
RasulNya, Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, tidak akan dapat memberi hidayah
kepada orang yang engkau sayangi, artinya, (memberi hidayah atau petunjuk) itu
bukan urusanmu. Akan tetapi, kewajibanmu hanyalah menyampaikan, dan Allah akan
memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia-lah yang memiliki hikmah yang
mendalam dan hujjah yang mengalahkan. Hal ini sesuai dengan kandungan firman
Allah swt. yang artinya: Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat
hidayah, akan tetapi Allah-lah yang memberi hidayah (memberi taufiq) kepada
siapa yang Dia kehendaki
. (Al Baqarah: 272). Begitu juga firmanNya: Dan
sebahagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat
menginginkannya.
(Yusuf:103). “[1]

Dalam
kitab At Tamhid Li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh
Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy Syaikh berkata: ‘Hidayah yang dinyatkan oleh
Allah yang tidak dimiliki oleh Rasulullah Saw. di sini ialah hidayah taufik,
ilham dan bantuan yang khusus. Hidayah inilah yang disebut oleh ulama sebagai
hidayah at taufiq wal ilham. Yaitu, Allah swt menjadikan dalam hati
seorang hamba kemudahan secara khusus untuk menerima petunjuk; sebuah bantuan
kemudahan yang tidak diberikan kepada orang selainnya. Jadi, hidayah taufik
ini, secara khusus diberikan Allah kepada orang yang Dia kehendaki, dan
pengaruhnya orang tersebut akan menerima petunjuk dan berusaha meraihnya. Oleh
karena itu, memasukkan hidayah ini ke dalam hati seseorang bukanlah tugas
Rasulullah saw. Sebab hati hamba berada di tangan Allah, Dia yang membolak-balikannya
sesuai degan kehendakNya. Sehingga orang yang paling Beliau cintai sekalipun, tidak
mampu Beliau jadikan menjadi seorang muslim, yang mau menerima petunjuk”.[2]

Adapun
jenis hidayah yang kedua, berkaitan degan hamba yang mukallaf, yaitu hidayah ad
dilalah wal irsyad
(memberi penjelasan dan bimbingan). Allah swt.
menetapkan jenis hidayah ini ditetapkan pada Nabi saw. secara khusus, seluruh
nabi dan rasul, dan setiap dai yang menyeru manusia kepada Allah swt. Allah swt.
berfirman:
إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرٌ ۖ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah seorang
pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi hidayah”.
[Ar Ra‘d/13: 7].

Dan Allah berfirman tentang diri Nabi Muhammad saw.,
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
صِرَاطِ اللَّهِ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar
memberi hidayah kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan Allah”. [Asy Syura/42:
52-53]

Makna “engkau memberi hidayah” di sini ialah, engkau
memberi petunjuk dan bimbingan ke jalan yang lurus dengan beragam petunjuk dan
bimbingan, dengan didukung oleh sejumlah mukjizat dan bukti yang menunjukkan
kejujuran dan kebenaran Beliau sebagai seorang pemberi petunjuk dan bimbingan.[3]

Syaikh Abdul Aziz Abdullah Bin Baz berkata dalam catatan kakinya terhadap
kitab Fathul Majid: “Kata hidayah, diberikan
kepada penerima petunjuk pada hatinya, degan mengubah dari kesesatan, kekufuran
dan kefasikan, menuju petunjuk, keimanan dan ketaatan, dan membuatnya tetap
lurus, teguh di atas jalan Allah. Hidayah seperti ini, khusus hanya dimiliki
Allah swt., karena Dia-lah yang berkuasa membolak-balikkan hati dan
mengubahnya, serta memberi hidayah atau menjadikan tersesat jalan bagi siapa
saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang diberi Allah petunjuk, maka tidak ada
yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak
ada yang dapat memberinya petunjuk.[4]

Berdasarkan ayat diatas diketahui, bahwa petunjuk
semacam ini tidak terdapat pada diri Nabi saw., apalagi orang selain Beliau.
Orang-orang yang mengaku memiliki petunjuk ini, misalnya para tokoh, sufi dan
semacamnya yang mengaku dapat memasuki hati murid-muridnya, dapat mengetahui
isinya, serta dapat mengendalikan sesuai keinginannya, maka semua itu merupakan
kedustaan dan penyesatkan. Orang yang mempercayai klaim seperti ini, berarti ia
sesat dan menganggap Allah RasulNya dusta.[5]

Adapun petunjuk menuju ilmu, dalil, keterangan Al
Qur`an dan lainnya untuk menempuh jalan keselamatan dan kebahagiaan, maka para
hamba mampu melakukan petunjuk ini, sebagaimana telah ditetapkan pada diri Nabi
saw. dalam firman Allah swt, yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar
memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. [Asy Syura: 52].[6]

Kedua: Berkenaan dengan tafsir surat At Taubah ayat
113, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy Syaikh berkata:
‘Artinya, memintakan ampunan untuk orang musyrik, tidaklah pantas dilakukan
para nabi. Ini adalah kalimat yang bentuknya khabar (berita), yang mengandung
pengertian larangan. Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Abu Thalib,
sebagaimana disinyalir dari lafazh hadits yang menyebutkan kalimat fa anzala
(lalu Allah menurunkan) setelah kalimat ucapan Rasulullah la astaghfiranna
laka ma lam unha ‘anhu’
(sungguh, akan aku mintakan ampunan untukmu selama
hal itu tidak dilarang) yang mengisyaratkan sebagai kelanjutannya.[7]

Kesimpulan

Diantara hikmah dalam
kisah Abu Thalib yang tidak diberi hidayah kepada islam adalah untuk
menjelaskan bahwa urusan hidayah adalah urusan Allah swt., sedangkan selainnya
tidak akan mampu melakukanya.

Disini juga terkandung
pengharaman memohonkan ampunan untuk kaum musyrikin, ber-wala’ kepada
kepada mereka dan mencintai mereka. Karena jika permohonan ampun diharamkan
untuk mereka. Maka ber-wala’ untuk mereka dan mencintai mereka tentu
lebih dari itu.

Do’a tentang Hidayah

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ
لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada
kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena
sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).
” (QS. Ali Imran: 7)

يَا
مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati,
teguhkan hati kami di atas agama-Mu.
” (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

اللَّهُمَّ
مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Artinya: “Ya Allah yang mengarahkan hati,
arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu.
” (HR. Muslim)

[1] Ibnu Katsir, Sahih
tafsir ibnu katsir (terjemahan)
, Bogor:Pustaka Ibnu Katsir, 2008,  jilid 6 hlm. 796.
[2] Syaikh
Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy Syaikh at-Tamhid lii syarh kitab At-Tauhid, riyad:daar at-Tauhid 2002, hlm.228-229.
[3] Ibid hlm.
229.
[4] Syakh
Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, Fathul Majid Penjelasan  Kitab Tauhid [edisi revisi] (terjemahan),
Jakarta: pustaka azzam, 2008 Hlm  399.
[5] Ibid hlm
399-400
[6] Ibid
hlm 400.
[7] Ibid
hlm 408.
Makalah diajukan sebagai tugas fiqih dakwah di PUTM
SHARE

1 COMMENT