Hukum Puasa Ramadhan bagi Musafir

277
Puasa Ramadhan bagi Musafir,- Untuk
dibolehkannya berbuka (tidak puasa) di dalam bepergian (safar) disyaratkan
sebagai berikut: Safar harus memenuhi jarak atau kebiasaan perjalan jauh
(sesuai perselisihan para ulama di dalam pembatasannya), safar harus melampaui
negerinya dan pinggirannya (38), safar harus
bukan untuk tujuan kemaksiatan (sebagaimana pendapat jumhur ulama), dan safar
tidak boleh dimaksudkan untuk mencari alasan supaya boleh berbuka (tidak
puasa).
Boleh berbuka
(tidak puasa) bagi musafir
sebagaimana disepakati para ulama, apakah ia mampu
berpuasa ataupun tidak, apakah sulit baginya berpuasa ataupun tidak, sampai
sekalipun kepergiannya itu selalu ada di bawah naungan (ruang AC, pent. ) dan
banyak air serta disertai oleh seorang pembantu, tetap diperbolehkan tidak
berpuasa dan meng-qashar shalat.(39)

Barangsiapa sudah
bertekad untuk bepergian di bulan Ramadhan, maka ia tidak boleh berniat untuk
berbuka sebelum ia melakukan safarnya, karena boleh jadi rencana kepergiannya
batal karena suatu aral.(40)

Hukum Puasa Ramadhan bagi Musafir

Seorang musafir
tidak boleh membatalkan puasanya (berbuka) kecuali setelah ia benar-benar
keluar dan meninggalkan kampungnya, lalu apabila ia telah terpisah dari
bangunan-bangunan yang bersambung dengan kampungnya maka boleh berbuka. Dan
demikian pula bila pesawat telah take off (terbang) dan melewati semua bangunan
yang menyambung ke kota. Dan jika bandara itu berada di luar kotanya, maka
boleh ia berbuka di sana, tetapi jika bandara tersebut di dalam kota atau
bersambung dengan kota (di pinggir kota) maka ia tidak boleh berbuka, karena
masih terhitung di dalam kota (kampung halaman).

Apabila matahari
telah terbenam (ketika si musafir) masih ada di darat ia telah berbuka puasa,
kemudian pesawat udara yang dikendarai take off (berangkat) kemudian melihat
matahari, maka ia tidak wajib imsak, karena ia telah menyempunakan puasa Ramadhanya sehari penuh. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengulangi ibadah yang
telah ia lakukan. Namun jika pesawat berangkat sebelum matahari terbenam,
sedangkan ia berniat menyempurnakan puasa hari itu di dalam perjalanannya, maka
ia tidak boleh berbuka sebelum matahari terbenam ketika ia sedang berada di
angkasa, dan awak pesawat tidak boleh merendahkan pesawatnya untuk tidak
melihat matahari supaya boleh berbuka (ifthar), karena perbuatan itu merupakan
tindakan mencari-cari alasan. Akan tetapi jika pesawat turun (meren-dahkan
jarak dari daratan) karena mashlahat penerbangan, lalu matahari tidak tampak,
maka boleh berbuka.(41)

Barangsiapa
(musafir)
yang telah tiba di suatu negeri dan ia berniat untuk tinggal di situ
lebih dari empat hari, maka ia wajib berpuasa, sebagaimana pendapat jumhur
ulama. Maka orang yang bepergian jauh ke luar negeri untuk studi di dalam
beberapa bulan atau beberapa tahun, maka menurut Jumhur Ulama, termasuk di
dalamnya empat tokoh Madzhab berpendapat bahwa orang itu sama statusnya dengan
orang muqim (tinggal di sana) maka ia wajib berpuasa dan shalat secara
sempurna.
Apabila seorang
musafir mampir di suatu negeri yang bukan negerinya, maka ia tidak wajib imsak
kecuali jika ia tinggal di situ lebih dari empat hari, karena tinggal lebih
dari empat hari sama hukumnya dengan orang-orang yang muqim.(42)

Barangsiapa
yang memulai puasanya di saat ia muqim, lalu ia berangkat safar di siang
harinya, boleh baginya berbuka, karena Alllah I menjadikan safar sebagai sebab
diberlakukannya rukhshah (keringanan), sebagaimana firman-Nya: “Dan
barangsiapa sakit atau di dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu
.” (Al-Baqarah:
185).
Boleh berbuka
bagi orang yang kebiasaannya dalam perjalanan (safar) bila ia mempunyai tempat
(negeri) untuk tinggal, seperti tukang pos yang selalu bepergian untuk maslahat
dan kepentingan kaum muslimin (dan begitu pula para awak bus antar kota, awak
pesawat dan para pejabat lainnya, dan sekalipun kepergian mereka itu adalah
rutinitas harian, dan mereka wajib meng-qadha’). Dan demikian pula para awak
kapal laut yang mempunyai tempat khusus di darat untuk peristirahatannya.
Adapun orang yang istri dan sarana prasarana bersamanya di kapal dan ia terus
menjadi musafir, maka tidak boleh berbuka dan tidak boleh shalat qashar.
Sedangkan orang-orang
badui (nomaden) yang hidupnya selalu berpindah-pindah dari musim panas ke musim
dingin dan sebaliknya, mereka boleh berbuka dan melakukan qashar. Namun apabila
mereka telah berada di tempat di mana mereka tinggal di musim panas atau di
musim dingin itu, maka tidak boleh berbuka dan tidak boleh shalat qashar
sekalipun mereka selalu menelusuri tempat-tempat gembalaannya.(43)

Hukum Puasa Ramadhan bagi MusafirApabila seorang
musafir tiba dari perjalanannya di siang hari, maka wajib imsak (tidak makan
dan tidak minum), namun dalam masalah ini terjadi perselisihan tajam di antara
para ulama (44), dan yang lebih
hati-hati adalah melakukan imsak untuk menjaga kehormatan bulan suci Ramadhan,
namun ia tetap wajib mengqadha (mengganti puasanya) apakah dia melakukan imsak
ataupun tidak. Apabila puasa telah dimulai di suatu negeri (tempat) lalu ia
(musafir) melakukan perjalanan (safar) ke suatu negeri lain yang penduduknya
lebih dahulu melakukan puasa daripada negerinya atau lebih belakangan, maka
hukum orang musafir itu ikut kepada hukum orang-orang di negeri itu (tempat
tujuan), maka ia tidak boleh berbuka kecuali jika penduduk negeri itu berbuka,
sekalipun ia harus puasa lebih dari 30 hari, karena Rasulullah r bersabda: “Puasa itu adalah pada hari kamu berpuasa dan ifthar itu
adalah pada hari kamu ifthar (berhari raya)
.”
Dan jika puasa si
musafir
itu kurang dari 29 hari maka ia wajib menyempurnakannya setelah hari
Lebaran hingga menjadi 29 hari, karena satu bulan Hijriyah itu tidak kurang
dari 29 hari.(45)
(38) Jumhur ulama melarang berbuka sebelum meninggalkan negeri, mereka
mengatakan: “Safar (perjalanan) itu belum terjadi, saat itu dianggap masih
muqim dan ada di tempatnya. Allah
I telah berfirman, artinya (Barangsiapa di antara kamu yang menyaksikan
bulan maka hendaklah ia berpuasa). Orang yang demikian tidak termasuk musafir
sampai ia keluar dari negerinya. Adapun ketika semasih di dalam negerinya, maka
baginya berlaku hukum hadhir (tidak musafir). Dan oleh karena itu pula ia tidak
boleh mengqashar shalat
”. Puasa Ramadhan bagi Musafir (Dikutib dan diselaraskan kembali oleh Muh Akbar dari risalah
puasa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid)
(39) Majmu’
Al-Fatawa, 25/210.
(40) Tafsir Al-Qurthubi, 2/210.
(41) Dari fatwanya Syaikh bin Baz secara lisan.
(42) Lihat Fatawa Ad-Da’wah, Syaikh bin Baz, h. 977.
(43) Lihat Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 25/213.
(44) Majmu’ Al-Fatawa, 25/212.
(45) Dari fatwanya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Fatawa Ash-Shiyam,
diterbitkan oleh Darul Wathan, h. 15-16.
SHARE