Iffah

65

Upaya Menjaga Kesucian Diri

Di penggalan masa ini, disaat kejahiliahan
hampir merata di seluruh penjuru, upaya penjagaan diri dari
berbagai bentuk kemaksiatan, kesiasian dan kerendahan terasa
lebih butuh untuk ditekankan. Terlebih bagi seorang muslimah
yang telah mulai tumbuh kesadaran mempelajari Al Islam dan komitmen
mengamalkannya. Iffah adalah bahasa yang lebih akrab untuk menyatakan
upaya penjagaan diri ini. Iffah
sendiri memiliki makna usaha memelihara dan menjauhkan diri
dari hal-hal yang tidak halal, makruh dan tercela. 
Ada beberapa hal yang bisa menumbuhkan
iffah, yang sewajarnya diusahakan oleh seorang muslimah diantaranya: 

Ketaqwaan Kepada Allah
Hal ini merupakan asas paling fundamental dalam mengusahakan iffah
pada diri seseorang. Ketaqwaan adalah pengekang seseorang dari
perbuatan-perbuatan tercela yang dilarang oeh dienul Islam. Taqwa
akan menyebabkan seseorang selalu berhati dalam melakukan berbagai
perbuatan, baik di kala sendirian maupun keramaian mengamalkan
sabda Nabi sholallohu alaihi wasalam ”
Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada…” segala
anggota tubuh akan selalu terjaga jangan sampai melanggar larangan
Allah sehingga terjerumus dalam kemurkaan-Nya. Mulutnya terjaga
dari pembicaraan yang bermuatan dosa, baik dosa kepada Allah,
maupun dosa kepada manusia seperti ghibah, fitnah adu domba berdusta,
mngumpat kepada taqdir, mencela zaman dan lain sebagainya. Tangannya
pun terjaga dari hal yang dilarang seperti mengambil yang bukan
haknya, memukul tanpa kebenaran, bersentuhan/ berjabat tangan
dengan yang bukan mahram dan lainnya. Mata pun demikian tak kalah
dengan anggota tubuh yang lain tak ingin terjerumus dalam mengumbar
pandangan yang diharamkan, dan seluruh anggota tubuh yang lainnya
selalu terjauh dari larangan Allah azza wa jalla. Sungguh ketika
taqwa berdiam pada diri seseorang, maka muncullah pribadi yang
penuh dengan hiasan yang tak tertandingi keindahannya. Mengalahkan
keindahan mutiara, emas, perak, berlian dan hiasan dunia yang
lainnya. Taqwa tak sebatas hanya di masjid, atau di tempat kajian
saja, namun ia melekat dimanapun dan kapanpun. Di rumah, tempat
belajar, sekolah dan di segala tempat… 
Nikah

Nikah adalah salah satu jalan lempang untuk menjaga kesucian
diri. Bahkan sarana yang terutama untuk menumbuhkan sifat iffah.
Dengannya terjaga pandangan mata dan kehormatan diri seorang
muslimah. Yang memang godaan kepadanya sangat besar dan berat
. maka nikah adalah solusi yang paling tepat. Ia adalah fitrah
kemanusiaan yang di dalamnya terkandung rasa cinta dan kasih
sayang serta kedamaian, yang tak di dapatkan dengan jalan-jalan
yang lain. Ini sebagaimana firman Allah :

“dan diantara tanda kekuasaanNya adalah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya
kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu
rasa cinta dan kasih sayang ” ( QS Ar
Rum : 21 )
Rasa Malu

Ia adalah sifat yang agung dan terpuji. Dengan rasa malu, seorang
akan terhindar dari berbagai perbuatan yang keji, tidak pantas,
mengandung dosa dan kemaksiatan. Ia menjadi bertambah indah
ketika melekat pada diri seorang muslimah. Dengan malu seorang
muslimah akan selalu nampak dalam fitrah kewanitaannya, tak
mau mengumbar aurat tubuhnya, tak mau mengeraskan suara yang
tak diperlukan di tengah kumpulan manusia, tak tertawa dengan
selepas-lepasnya dan yang lain sebagainya. Orang yang awam sekali
pun bila disuruh untuk memberikan penilaian terhadap dua orang
, yang seorang adalah wanita yang menjaga rasa malunya. Seorang
lagi tak pedulian tak punya rasa malu terhadap orang, bicara
seenaknya duduk seenaknya, segalanya seenaknya tentu orang akan
memberikan penilaian tinggi pada wanita yang pertama daripada
wanita yang kedua. Rasa malu ini benar-benar akan menjadi penjaga
yang baik bagi seorang muslimah. Ia akan menyedikitkan beraktivitas
keluar rumah yang tanpa faedah, ia akan menjaga diri ketika
berbicara dengan orang terlebih laki-laki yang bukan mahram.
Tentu hal ini akan lebih menjaga kehormatannya.
SHARE