Ilmu Filsafat dan Teologi

57
“Aku datang – entah dari mana,
aku ini – entah siapa,
aku pergi – entah kemana,
aku akan mati – entah kapan,
aku heran bahwa aku gembira”.
(Martinus
dari Biberach,
tokoh
abad pertengahan).
1. Manusia bertanya
Menghadapi
seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia kagum atas apa yang dilihatnya,
manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai
menyadari keterbatasannya.  Dalam situasi
itu banyak yang berpaling kepada agama:
“Manusia
mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi
sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu, sekarang pun rahasia tersebut
menggelisahkan hati manusia secara mendalam: apa makna dan tujuan hidup kita,
apa itu kebaikan apa itu dosa, apa asal mula dan apa tujuan derita, mana
kiranya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati, apa itu kematian, apa
pengadilan dan ganjaran sesudah maut, akhirnya apa itu misteri terakhir dan tak
terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita, darinya kita berasal dan
kepadanya kita menuju?”
  —  Zaman
Kita (no.1), Deklarasi Konsili Vatikan II tentang Sikap Gereja Katolik terhadap
Agama-agama bukan Kristen, 1965.
Salah satu hasil
renungan mengenai hal itu, yang berangkat dari sikap iman yang penuh taqwa
kepada Allah, terdapat dalam Mazmur 8:
 “Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulianya namaMu
diseluruh bumi!
KeagunganMu yang mengatasi langit dinyanyikan.
Mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu berbicara
bagiMu, membungkam musuh dan lawanMu.
Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan
bintang yang Kautempatkan;
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?
Siapakah dia sehingga Engkau mengindahkannya? —
Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah
memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu;
segalanya telah Kauletakkan dibawah kakinya:
kambing domba dan lembu sapi sekalian,
juga binatang-binatang di padang;
burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut,
 dan apa yang
melintasi arus lautan.
Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulia namaMu di seluruh
bumi!”
2.  Manusia
berfilsafat
Tetapi sudah
sejak awal sejarah ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia
menggunakan akal budi dan fikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada
dibalik segala kenyataan (realitas) itu. 
Proses itu mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pengetahuan.  Jika proses itu memiliki ciri-ciri
metodis,  sistematis dan  koheren, dan cara mendapatkannya dapat
dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang (1) disusun
metodis, sistematis dan koheren (“bertalian”) tentang suatu bidang tertentu
dari kenyataan (realitas), dan yang (2) dapat digunakan untuk menerangkan
gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.
Makin ilmu
pengetahuan menggali dan menekuni hal-hal yang khusus dari kenyataan
(realitas), makin nyatalah tuntutan untuk mencari tahu tentang seluruh
kenyataan (realitas).
Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan
koheren tentang seluruh kenyataan (realitas).
Filsafat merupakan refleksi
rasional
(fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (= kebenaran) dan memperoleh hikmat (= kebijaksanaan). 
Al-Kindi (801 –
873 M) : “Kegiatan manusia yang bertingkat tertinggi adalah filsafat yang
merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin
bagi manusia …  Bagian filsafat yang
paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang
merupakan sebab dari segala kebenaran”.
Unsur
“rasional” (penggunaan akal budi) dalam kegiatan ini merupakan syarat
mutlak, dalam upaya untuk mempelajari dan mengungkapkan “secara
mendasar” pengembaraan manusia di dunianya menuju akhirat.  Disebut “secara mendasar” karena
upaya itu dimaksudkan menuju kepada rumusan dari sebab-musabab pertama, atau
sebab-musabab terakhir, atau bahkan sebab-musabab terdalam dari obyek yang
dipelajari  (“obyek material”),
yaitu “manusia di dunia dalam mengembara menuju akhirat”. Itulah scientia rerum per causas ultimas
pengetahuan mengenai hal ikhwal berdasarkan sebab-musabab yang paling dalam.
Karl Popper
(1902-?) menulis “semua orang adalah filsuf, karena semua mempunyai salah
satu sikap terhadap hidup dan kematian. 
Ada yang berpendapat bahwa hidup itu tanpa harga, karena hidup itu akan
berakhir.  Mereka tidak menyadari bahwa
argumen yang terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa kalau hidup tidak
akan berakhir, maka hidup adalah tanpa harga; bahwa bahaya yang selalu  hadir yang membuat kita dapat kehilangan
hidup sekurang-kuran gnya ikut menolong kita untuk menyadari nilai dari
hidup”.  Mengingat berfilsafat
adalah berfikir tentang hidup, dan “berfikir” = “to think”
(Inggeris) = “denken” (Jerman), maka – menurut Heidegger (1889-1976
), dalam “berfikir” sebenarnya kita “berterimakasih” =
“to thank” (Inggeris) = “danken” (Jerman) kepada Sang
Pemberi hidup atas segala anugerah kehidupan yang diberikan kepada kita.
Menarik juga
untuk dicatat bahwa kata “hikmat” bahasa Inggerisnya adalah
“wisdom”, dengan akar kata “wise” atau “wissen”
(bahasa Jerman) yang artinya mengetahui. Dalam bahasa Norwegia itulah
“viten”, yang memiliki akar sama dengan kata bahasa Sansekerta
“vidya” yang diindonesiakan menjadi “widya”. Kata itu dekat
dengan kata “widi” dalam “Hyang Widi” =  Tuhan. 
Kata “vidya” pun dekat dengan kata Yunani “idea”,
yang dilontarkan pertama kali oleh Socrates/Plato dan digali terus-menerus oleh
para filsuf sepanjang segala abad.
Menurut
Aristoteles (384-322 sM), pemikiran kita melewati 3 jenis abstraksi (abstrahere  = menjauhkan diri dari, mengambil dari).  Tiap jenis abstraksi melahirkan satu jenis
ilmu pengetahuan dalam bangunan pengetahuan yang pada waktu itu disebut
filsafat:
Aras abstraksi pertama – fisika.  Kita mulai berfikir kalau
kita mengamati.  Dalam berfikir, akal dan
budi kita “melepaskan diri” dari pengamatan inderawi segi-segi tertentu, yaitu
“materi yang dapat dirasakan” (“hyle aistete”). Dari hal-hal yang partikular
dan nyata, ditarik daripadanya hal-hal yang bersifat umum: itulah proses abstraksi dari ciri-ciri individual.
Akal budi manusia, bersama materi yang “abstrak” itu, menghasilan ilmu
pengetahuan yang disebut “fisika” (“physos” = alam).
Aras abstraksi kedua – matesis. Dalam proses abstraksi selanjutnya, kita dapat melepaskan diri dari
materi yang kelihatan.  Itu terjadi kalau
akal budi melepaskan dari materi hanya segi yang dapat dimengerti (“hyle
noete”). Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis abstraksi dari semua ciri material ini disebut “matesis”
(“matematika” – mathesis = pengetahuan, ilmu).
Aras abstraksi ketiga – teologi atau “filsafat
pertama”.
 
Kita dapat meng-“abstrahere” dari semua materi dan berfikir
tentang seluruh kenyataan, tentang asal dan tujuannya, tentang asas
pembentukannya, dsb.  Aras fisika dan aras
matematika jelas telah kita tinggalkan. 
Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu pengetahuan yang oleh
Aristoteles disebut teologi atau “filsafat pertama”.  Akan tetapi 
karena ilmu pengetahuan ini “datang sesudah” fisika, maka dalam tradisi
selanjutnya disebut metafisika.

Ilmu Filsafat dan Teologi

Secara singkat,
filsafat mencakup “segalanya”. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu
pengetahuan; disebut “sebelum” karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai
sebagai bagian dari filsafat dan disebut “sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus
pasti menghadapi pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya.
3.  Manusia
berteologi
Teologi adalah:
pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan berdasarkan iman.   Secara sederhana, iman dapat didefinisikan
sebagai sikap manusia dihadapan Allah,
Yang mutlak dan Yang kudus, yang diakui sebagai Sumber segala kehidupan di alam
semesta ini.  Iman itu ada dalam diri
seseorang antara lain melalui pendidikan (misalnya oleh orang tua), tetapi
dapat juga melalui usaha sendiri, misalnya dengan cermat merenungkan hidupnya
di hadapan Sang pemberi hidup itu. Dalam hal ini Allah dimengerti sebagai
Realitas yang paling mengagumkan dan mendebarkan. Tentulah dalam arti terakhir
itu berteologi adalah berfilsafat juga.
Iman adalah sikap
batin.  Iman seseorang terwujud dalam
sikap, perilaku dan perbuatannya, terhadap sesamanya dan terhadap lingkungan
hidupnya.  Jika iman yang sama (apapun
makna kata “sama” itu) ada pada dan dimiliki oleh sejumlah atau
sekelompok orang, maka yang terjadi adalah proses pelembagaan.  Pelembagaan itu misalnya berupa (1) tatacara
bagaimana kelompok itu ingin mengungkapkan imannya dalam doa dan ibadat, (2)
tatanilai dan aturan yang menjadi pedoman bagi penghayatan dan pengamalan iman
dalam kegiatan sehari-hari, dan (3) tatanan ajaran atau isi iman untuk
dikomunikasikan (disiarkan) dan dilestarikan. 
Jika pelembagaan itu terjadi, lahirlah agama. Karena itu agama adalah
wujud sosial dari iman.
Catatan.
 
(1) Proses yang disebut
pelembagaan itu adalah usaha yang sifatnya metodis, sistematis dan koheren atas
kenyataan yang berupa kesadaran akan kehadiran Sang Realitas yang mengatasi
hidup. Dalam konteks inilah kiranya kata akal (“‘aql”) dan kata ilmu
(“‘ilm”) telah digunakan dalam teks Al Qur’an.  Kedekatan kata ‘ilm dengan kata sifat ‘alim
kata ulama kiranya juga dapat dimengerti. 
Periksalah pula buku Yusuf Qardhawi, “Al-Qur’an berbicara tentang
akal dan ilmu pengetahuan”, Gema Insani Press, 1998.  Namun sekaligus juga harus dikatakan, bahwa
kata “ilmu” itu dalam pengertian umum dewasa ini meski serupa namun
tetap tak sama dengan makna kata “ilmu” dalam teks dan konteks
Al-Qur’an itu.
(2) Proses terbentuknya agama
sebagaimana diungkapkan disini pantas disebut sebagai pendekatan “dari
bawah”. Inisiatif seakan-akan berasal dari manusia, yang ingin menemukan
hakekat hidupnya di dunia ini dikaitkan dengan Sang sumber hidup dan kehidupan.
Manusia meniti dan menata hidupnya sesuai dengan hasil penemuannya. Pendekatan
“dari atas” nyata pada agama-agama samawi:  Allah mengambil inisiatif mewahyukan
kehendakNya kepada manusia, dan oleh karena itu iman adalah tanggapan manusia
atas “sapaan” Allah itu.
Sebagai ilmu,
teologi merefleksikan hubungan Allah dan manusia. Manusia berteologi karena
ingin memahami imannya dengan cara lebih baik, dan ingin
mempertanggungjawabkannya: “aku tahu kepada siapa  aku percaya” (2Tim 1:12). Teologi bukan
agama dan tidak sama dengan Ajaran Agama. Dalam teologi, adanya unsur
“intellectus quaerens fidem” (akal menyelidiki isi iman) diharapkan
memberi sumbangan substansial untuk integrasi akal dan iman, iptek dan imtaq,
yang pada gilirannya sangat bermanfaat bagi hidup manusia masa kini.
4.  Obyek
material dan obyek formal
Ilmu filsafat
memiliki obyek material dan obyek formal. 
Obyek material adalah apa yang
dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan, yaitu gejala
“manusia di dunia yang mengembara menuju akhirat”.  Dalam gejala ini jelas ada tiga hal menonjol,
yaitu manusia, dunia, dan akhirat.  Maka
ada filsafat tentang manusia (antropologi), filsafat tentang alam (kosmologi),
dan filsafat tentang akhirat (teologi – filsafat ketuhanan; kata
“akhirat” dalam konteks hidup beriman dapat dengan mudah diganti
dengan kata Tuhan).  Antropologi,
kosmologi dan teologi, sekalipun kelihatan terpisah, saling berkaitan juga,
sebab pembicaraan tentang yang satu pastilah tidak dapat dilepaskan dari yang
lain.  Juga pembicaraan filsafat tentang
akhirat atau Tuhan hanya sejauh yang dikenal manusia dalam dunianya.
Obyek formal adalah cara
pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga
mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara
pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem
filsafat
.
Filsafat
berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam dunianya.  Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan
segala sesuatu yang tersirat ingin
dinyatakan secara tersurat. Dalam
proses itu intuisi  (merupakan hal yang ada dalam setiap
pengalaman) menjadi basis bagi proses abstraksi,
sehingga yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.
Dalam filsafat,
ada filsafat pengetahuan.
“Segala manusia ingin mengetahui”, itu kalimat pertama Aristoteles
dalam Metaphysica. Obyek materialnya
adalah gejala “manusia tahu”. 
Tugas filsafat ini adalah menyoroti gejala itu berdasarkan sebab-musabab
pertamanya. Filsafat menggali “kebenaran” (versus
“kepalsuan”), “kepastian” (versus
“ketidakpastian”), “obyektivitas” (versus
“subyektivitas”), “abstraksi”, “intuisi”, dari
mana asal pengetahuan dan kemana arah pengetahuan.   Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan
menjadi obyek material juga, dan kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan
menurut sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat
ilmu pengetahuan
.  Kekhususan gejala
ilmu pengetahuan terhadap gejala pengetahuan dicermati dengan teliti.  Kekhususan itu terletak dalam cara kerja atau
metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.
5. 
Cabang-cabang filsafat
5.1.  Sekalipun bertanya
tentang seluruh realitas, filsafat selalu bersifat “filsafat tentang”
sesuatu: tentang manusia, tentang alam, tentang akhirat, tentang kebudayaan,
kesenian, bahasa, hukum, agama, sejarah, … 
Semua selalu dikembalikan ke empat bidang induk:
1. filsafat
tentang pengetahuan:
    obyek material : pengetahuan
(“episteme”) dan kebenaran
            epistemologi;
            logika;
            kritik ilmu-ilmu;
2. filsafat
tentang seluruh keseluruhan kenyataan:
    obyek material : eksistensi (keberadaan)
dan esensi (hakekat)
            metafisika umum (ontologi);
            metafisika khusus:
                        antropologi (tentang
manusia);
                        kosmologi (tentang alam
semesta);
                        teodise (tentang tuhan);
3. filsafat
tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan:
    obyek material : kebaikan dan keindahan
            etika;
            estetika;
4. sejarah
filsafat.
5.2.  Beberapa penjelasan
diberikan disini khusus mengenai filsafat tentang pengetahuan.  Dipertanyakan: Apa itu pengetahuan?  Dari mana asalnya?  Apa ada kepastian dalam pengetahuan, atau
semua hanya hipotesis atau dugaan belaka?
Pertanyaan
tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, batas-batas pengetahuan, asal dan
jenis-jenis pengetahuan dibahas dalam epistemologi. Logika
(“logikos”) “berhubungan dengan pengetahuan”,
“berhubungan dengan bahasa”. 
Disini bahasa dimengerti sebagai cara bagaimana pengetahuan itu
dikomunikasikan dan dinyatakan. Maka logika merupakan cabang filsafat yang
menyelidiki kesehatan cara berfikir serta aturan-aturan yang harus dihormati
supaya pernyataan-pernyataan sah adanya.
Ada banyak ilmu,
ada pohon ilmu-ilmu, yaitu tentang bagaimana ilmu yang satu berkait dengan ilmu
lain.  Disebut pohon karena dimengerti
pastilah ada ibu (akar) dari semua ilmu. Kritik ilmu-ilmu mempertanyakan
teori-teori dalam membagi ilmu-ilmu, metode-metode dalam ilmu-ilmu, dasar
kepastian dan jenis keterangan yang diberikan. 
5.3.  Menurut cara
pendekatannya, dalam filsafat dikenal ada banyak aliran filsafat: eksistensialisme, fenomenologi, nihilisme,
materialisme, … dan sebaginya.
 5.4.  Pastilah ada filsafat tentang agama, yaitu pemikiran filsafati (kritis, analitis,
rasional) tentang gejala agama: hakekat agama sebagai wujud dari pengalaman
religius manusia, hakikat hubungan manusia dengan Yang Kudus (Numen): adanya
kenyataan trans-empiris, yang begitu mempengaruhi dan menentukan, tetapi
sekaligus membentuk dan menjadi dasar tingkah-laku manusia.  Yang Kudus itu dimengerti sebagai Mysterium Tremendum et Fascinosum;
kepadaNya manusia hanya beriman, yang
dapat diamati (oleh seorang pengamat) dalam perilaku hidup yang penuh dengan
sikap “takut-dan-taqwa”, wedi-lan-asih
ing Panjenengane
Sebegitu, maka tidak ada filsafat agama X; yang ada
adalah filsafat dalam agama X,
yaitu pemikiran menuju pembentukan
infrastruktur rasional bagi ajaran agama X

Hubungan antara filsafat dengan agama X dapat diibaratkan sebagai
hubungan antara jemaah haji dengan kendaraan yang ditumpangi untuk pergi haji
ke Tanah Suci, dan bukan hubungan antara jemaah haji dengan iman yang ada dalam
hati jemaah itu.
Catatan lain. 
1. Iman dapat digambarkan
mirip dengan gunung es di lautan. Yang tampak hanya sekitar sepersepuluh saja
dari keseluruhannya.  Karena iman adalah
suasana hati, maka berlakulah peribahasa: “dalam laut dapat diduga, dalam
hati siapa yang tahu”.  Tahukah
saudara akan kadar keimanan saya?
2. Sekaligus juga patut
ditanyakan “dimanakah letak hati yang dimaksudkan disini?  Pastilah “hati” itu (misalnya dalam
kata “sakit hati” jika seorang pemudi dibuat kecewa  oleh sang pemuda yang menjadi pacarnya) bukan
organ hati (dan kata “sakit hati” karena liver anda membengkak) yang
diurus oleh para dokter di rumah sakit. 
Periksa pula apa yang tersirat dalam kata “batin”,
“kalbu”, “berhati-hatilah”, “jantung hati”,
“jatuh hati”, “hati nurani”, dan “suara hati”.
3.  Menurut Paul A Samuelson tirani kata merupakan gejala umum dalam masyarakat.  Sering ada banyak kata dipakai untuk
menyampaikan makna yang sama dan ada pula banyak makna terkait dalam satu
kata.  Manusia ditantang untuk berfikir
dan berbicara dengan jelas dan terpilah-pilah (“clearly and
distinctly”), sekurang-kurangnya untuk menghindarkan miskomunikasi dan
menegakkan kebenaran. Itulah nasehat dari Rene Descrates. Bahkan kedewasaan
seseorang dalam menghadapi persoalan (termasuk persoalan-persoalan dalam
hidupnya) erat hubungannya dengan kemampuannya untuk berfikir dan berbicara
dengan jelas dan terpilah-pilah tersebut.
6.  Refleksi
rasional dan refleksi imani
Ketika bangsa
Yunani mulai membuat refleksi atas persoalan-persoalan yang sekarang menjadi
obyek material dalam filsafat dan bahkan ketika hasil-hasil refleksi itu
dibukukan dalam naskah-naskah yang sekarang menjadi klasik, bangsa Israel telah
memiliki sejumlah naskah (yang sekarang dikenal sebagai bagian dari Alkitab
yang disebut Perjanjian Lama). Naskah-naskah itu pada hakekatnya merupakan
hasil refleksi juga, oleh para bapa bangsa itu tentang nasib dan keberuntungan
bangsa Israel — bagaimana dalam perjalanan sejarah sebagai “bangsa
terpilih”,  mereka sungguh dituntun
(bahkan sering pula dihardik dengan keras serta dihukum) oleh YHWH (dibaca: Yahwe),
Allah mereka.  Ikatan erat dengan tradisi
dan ibadat telah menjadikan naskah-naskah itu Kitab Suci agama mereka (Agama
Yahudi).  Pada gilirannya, Kitab Suci itu
pun memiliki posisi unik dalam Agama Kristiani.
Catatan.
Bangsa
Israel (dan Israel dalam Alkitab) sebagaimana dimaksudkan diatas tidak harus
dimengerti sama dengan bangsa Israel yang sekarang ada di wilayah geografis
yang sekarang disebut “negara Israel”.
Kedua refleksi
itu berbeda dalam banyak hal.  Refleksi tokoh-tokoh Yunani itu (misal
Plato dan Aristoteles) mengandalkan akal  dan merupakan 
cetusan penolakan mereka atas
mitologi (faham yang menggambarkan dunia sebagai senantiasa dikuasai oleh para
dewa dan dewi).  Sebaliknya, refleksi para bapa bangsa Israel itu
(misal: Musa yang umumnya diterima sebagai penulis 5 kitab pertama Perjanjian
Lama) merupakan ditopang oleh kalbu
karena merupakan cetusan penerimaan
bangsa Israel atas peran Sang YHWH dalam keseluruhan nasib dan sejarah bangsa
itu.  Refleksi imani itu sungguh
merupakan pernyataan universal pengakuan yang tulus, barangkali yang pertama
dalam sejarah umat manusia, akan kemahakuasaan Allah dalam hidup dan sejarah
manusia.
Sekarang ada
yang berpendirian, bahwa hasil refleksi rasional para tokoh Yunani itu, berasimilasi dengan tradisi refleksi hidup
keagamaan yang monoteistis
, ternyata menjadi bibit bagi lahirnya ilmu-ilmu
pengetahuan yang dikenal dewasa ini. Oleh karena itu sering filsafat dikatakan
mengatasi setiap ilmu.
Sementara itu,
harus dicatat bahwa dalam lingkungan kebudayaan India dan Cina berkembang pula
refleksi bernuansa lain: wajah Asia.
Refleksi itu nyata dalam buah pengetahuan yang terkumpul (misalnya dalam wujud
“ilmu kedokteran alternatif” tusuk jarum), dan dalam karya-karya
sastra “kaliber dunia” dari anak benua India.  Karya-karya sastra itu sering diperlakukan
sebagai kitab suci, atau dihormati sebagai Kitab Suci, karena diterima sebagai
kitab yang penuh dengan hal-hal yang bernilai suci untuk menjadi pedoman hidup
sehari-hari. 
Misalnya saja
Bhagavadgita (abad 4 seb Masehi). Bhagawadgita (atau Gita) diangkat dari epik
Mahabharata, dari posisi sekunder (bagian dari sebuah cerita) ke posisi primer
(sumber segala inspirasi untuk hidup). Pada abad 8 Masehi, Sankara (seorang
guru) menginterpretasi Gita bukan sebagai
pedoman untuk aksi
, tetapi sebagai  pedoman untuk “mokhsa”,
pembebasan dari keterikatan kepada dunia ini. 
Ramanuja (abad 12 Masehi) melihatnya sebagai sumber devosi atas
kerahiman Tuhan yang hanya bisa dihayati melalui cinta.  Pada masa perjuangan kemerdekaan sekitar
tahun 40-an, Gita dilihat sebagai pedoman untuk ber-“dharma yuddha”,
perang penuh semangat menegakkan kebenaran terhadap penjajah yang tak
adil.  Bagi Tilak, Arjuna adalah “a
man of action” (“karma yogin”), dan Gita mendorong seseorang
untuk bertindak sedemikian sehingga ia menjadi “mokhsa” melalui “perjuangan” yang ditempuhnya.
Aurobindo, Mahatma Gandhi, Bhave, Radhakrishnan, dan tokoh-tokoh lain membuat
komentar yang kurang lebih sama.  Tanpa
interpretasi Tilak, misalnya, pergolakan di India pada waktu itu mudah dinilai sebagai
bersifat politis murni (atau kriminal murni?), yaitu tanpa  landasan ideal, spiritual, teologis dan etis.
Sesungguhnya, berefleksi merupakan ciri khas manusia
sebagai pribadi dan dalam kelompok.
Refleksi
merupakan sarana untuk mengembangkan spiritualitas dan aktualisasi menjadi
manusia yang utuh, dewasa dan mandiri. 
Melalui refleksi pula, manusia dan kelompok-kelompok  manusia (yaitu suku dan bangsa) menemukan
jati dirinya, menyadari tempatnya dalam dimensi ruang dan waktu (dalam
sejarah), serta melaksanakan panggilannya untuk membuat sejarah bagi masa
depan. 
Catatan.
Adakah refleksi tentang realitas yang
khas Indonesia?  Suatu kajian berdasar
naskah-naskah sastra Jawa masa lalu terdapat dalam disertasi doktor P J
Zoetmulter SJ: “Manunggaling Kawula Gusti” (1935), yang telah
diterjemahkan oleh Dick Hartoko SJ dan diterbitkan oleh PT Gramedia.
SHARE