KAIDAH KAUSALITAS (QIYAS) DAN PERANANNYA DALAM KEHIDUPAN MUSLIM

66
Kaidah Kausalitas: Tinjauan
Etimologi dan Fakta

Di dalam
kamus Ash-Shahâh disebutkan bahwa as-sabab mengandung makna sebagai segala
sesuatu yang dapat mengantarkan pada sesuatu yang lain
.  Orang-orang Arab Aqhah (yang masih
murni bahasanya) menggunakan istilah as-sabab dengan pengertian
tersebut.  Dalam bait syairnya, Juhair
bertutur demikian:
Siapa yang takut pada sebab kematian, ia akan menemuinya juga
Meski dia menemukan jalan ke langit melalui tangga
Pengertian
di atas sama dengan apa yang tercantum di dalam al-Quran, yakni segala
sesuatu yang dapat mengantarkan pada sesuatu yang lain
.  Allah SWT berfirman:
Atau apakah bagi mereka kerajaan langit dan bumi dan yang ada
di antara keduanya?  (Jika ada),
hendaklah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit).
  (QS Shad [38]: 10)
Imam
Zamakhsyari menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Hendaklah mereka
menaiki tangga-tangga dan jalan-jalan yang dapat mengantarkan mereka ke Arsy.”
Allah SWT juga berfirman di dalam al-Quran:
Fir’aun berkata, “Hammân, buatkanlah bagiku sebuah bangunan
yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit,
sehingga aku dapat melihat Tuhan Mûsâ. 
Sesungguhnya aku menganggap dia sebagai seorang pendusta.”  Demikian, di hadapan Fir’aun, keburukan
perbuatannya dipandang baik, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar).  Tipudaya Fir’aun itu tidak lain hanyalah
membawa kerugian.
  (QS al-Mu’min [40]: 36-37)
Imam Zamakhsyari juga menafsirkan kata asbâb
as-samâwât
dengan kalimat, “jalan-jalan dan pintu-pintu menuju langit.”
Dengan demikian, hal-hal yang menjadi
perantara untuk sampai pada sesuatu disebut sebab, seperti zina,
misalnya, (menjadi sebab murka Allah, karena zina bisa mengantarkan terhadap
murka Allah), dan contoh lainnya.
Begtu juga dalam istilah ahli ushul
fikih, kata sabab (sebab) mempunyai arti yang sama.  Mereka telah mendefinisikan sebab
sebagai sifat nyata yang ditunjukkan oleh dalil sam’î (naqlî) bahwa sifat
tersebut merupakan pemberitahuan adanya hukum, bukan pemberitahuan
disyariatkannya hukum.

Mereka juga mengatakan bahwa sebab
adalah sesuatu yang pasti mendatangkan akibat.  Tidak adanya sebab, pasti tidak akan
mendatangkan akibat.  Keberadaan
akad syar’î, misalnya, menjadi sebab kebolehan untuk mengambil manfaat
atau sebab adanya peralihan kepemilikan; nishâb menjadi sebab bagi
kewajiban membayar zakat; dan sebagainya. 
Jadi, sebab adalah segala sesuatu yang mengantarkan pada sesuatu yang
lain.  Makna tersebut telah digunakan oleh
orang-orang Arab, al-Quran, para ulama, dan para fuqahâ.
Berdasarkan hal ini, tali, jalan,
datangnya ajal, dan hitungan ‘iddah (wanita), semuanya merupakan sebab,
karena bisa mengantarkan pada sesuatu yang lain.  Apabila kita menggunakan kata sebab
dalam suatu ungkapan –misalnya: sebab-sebab pewarisan; sebab-sebab
kepemilikan; upaya mengaitkan sebab dengan akibat; atau sebab-sebab turunnya
ayat– maka yang dimaksud adalah segala sesuatu yang bisa mengantarkan pada
sesuatu yang lain.  Tidak ada pengertian
lain selain pengertian tersebut.
Dengan demikian, perantara yang dapat
mengantarkan sesuatu pada sesuatu yang lain disebut sebab, sedangkan
sesuatu yang lain tersebut disebut akibat.
As-Sababiyyah (Kaidah Kausalitas) adalah upaya untuk
mengaitkan sebab dengan akibatnya.  As-Sababiyyah
merupakan landasan dalam menjalankan berbagai aktivitas (qâ’idah ‘amaliyyah)
dan meraih berbagai tujuan.  Dengan
memenuhi tuntutan kaidah ini, suatu aktivitas dapat terlaksana, bagaimanapun
keadaannya; baik mudah ataupun sulit. 
Dengan memenuhi tuntutan kaidah ini pula, tujuan suatu aktivitas akan
dapat diraih, bagaimanapun keadannya; baik dekat ataupun jauh.
Dalam konteks as-sababiyyah
(kaidah kausalitas) ini, ada beberapa contoh yang dapat dikemukakan.  Upaya seorang petani untuk menebarkan benih
di musim tanam, menaburkan pupuk, dan membajak tanah; upaya seorang panglima
pasukan untuk meneliti berbagai informasi tentang musuh melalui badan intelijen
atau untuk menambah jumlah pasukan dan perbekalan; upaya orang sakit untuk
mengambil obat yang sesuai dengan penyakitnya dan mengikuti petunjuk dokter;
upaya seorang pedagang untuk membuka toko serta mengiklankan barang dagangannya
melalui pamflet atau sarana lainnya; upaya seorang musafir untuk menaiki
kendaraan yang sesuai dengan tujuannya; upaya seorang pelajar untuk
mempelajari, memahami, dan menguasai mata pelajaran yang telah ditetapkan;
upaya seorang aktivis partai politik untuk melakukan interaksi dengan
–sekaligus melakukan perekrutan terhadap– orang yang bisa memberikan
perlindungan (ahlun nusrah), cendikiawan, atau politikus; upaya seorang
aktivis partai politik untuk menyebarkan selebaran (al-mansyûrât) atau
untuk terjun dalam aktivitas di daerahnya; serta upaya aktivis partai politik
untuk mencermati berbagai fenomena politik yang ada di dunia sekaligus memahami
dan memecahkan masalahnya dalam rangka mengatur urusan umat atau berusaha
mengatur urusan tersebut; semua itu termasuk upaya untuk menjalani berbagai
sebab atau upaya untuk mengaitkan sebab dengan akibatnya.
Sementara itu, ketika kita berupaya
melakukan aktivitas untuk mengembalikan kejayaan Islam melalui tharîqah
(metode) khutbah Jumat; berupaya menyingkirkan para penguasa zalim melalui
pendirian organisasi sosial-kemasyarakatan (jam’iyât khairiyât);
berupaya mewujudkan kebangkitan umat dengan cara meniru dan mengikuti peradaban
Barat serta memeluk pemikiran dan ideologinya; atau mengharapkan kembalinya
kejayaan Islam tanpa mendirikan partai politik, semua itu termasuk sikap
berserah diri secara total pada keadaan (fatalistis).  Fatalisme bertentangan dengan prinsip atau
kaidah kausalitas (as-sababiyyah) karena tidak berupaya untuk mengaitkan
sebab dengan akibat.
As-Sababiyyah adalah upaya untuk mengaitkan
sebab-sebab fisik dengan akibat-akibatnya yang juga bersifat fisik dalam rangka
mencapai target dan tujuan tertentu. 
Upaya tersebut dilakukan dengan cara mengetahui seluruh sebab yang mampu
mengantarkan pada tercapainya tujuan serta mengaitkannya dengan seluruh
akibatnya secara benar.  Hanya dengan
cara semacam ini, kita dapat mengatakan bahwa, kita telah menjalani sebab-sebab
atau mengambil kaidah kausalitas (qâi’dah as-sababiyyah) sebagai
landasan untuk melakukan berbagai aktivitas dan mencapai berbagai tujuan.  Alasannya, terwujudnya aktivitas dan tujuan
tersebut pada akhirnya, secara pasti, bergantung pada sejumlah tolok-ukur fisik
(maqâyis mâdiyyah) yang kita miliki; tentu saja selama tidak ada
pengaruh gaib yang bersumber dari lingkaran qadhâ.
Dengan paparan di atas berarti, fatalisme
atau sikap pasrah secara total (at-tawâkuliyyah) menunjukkan tidak
adanya upaya untuk mengaitkan sebab dengan akibat
.  Sebaliknya, fatalisme menunjukkan pada adanya
sikap merasa puas dengan hanya menjalani sebagian sebab dan lebih banyak
menyandarkan diri pada perkara gaib yang tidak mungkin diketahui.  Padahal, pada saat yang sama, masih banyak
sebab-sebab lain yang dapat diupayakan atau masih perlu adanya upaya mengaitkan
sebab dengan akibat secara benar.
Dengan demikian, fatalisme akan tampak
dalam dua perkara.  Pertama, tidak adanya upaya untuk menjalani
seluruh sebab yang bisa mengantarkan pada tujuan.  Kedua,
adanya upaya meremehkan keterkaitan antara sebab dengan akibat atau adanya sikap
menyandarkan diri pada perkara gaib.  []
SHARE