Kajian Perkembangan Tafsir Al-Qur’an dari Masa Sahabat Hingga Ke Indonesia

18

Kajian Perkembangan Tafsir Al-Qur’an – Al
Qur’an adalah kitab suci kaum Muslimin yang berisi kumpulan wahyu Ilahi yang
diturunkan kepada Nabi muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun. Sebagian
besar sarjana Muslim memandang nama tersebut secara sederhana merupakan kata
benda bentukan (mashdar) dari kata kerja (fi’il) qara’a (قرأ) “membaca”. Dengan demikian Al Qur’an bermakna “bacaan” atau
yang “dibaca” (maqru’). 
Dalam manuskrip Al Qur’an beraksara kufi yang awal,
kata ini ditulis tanpa menggunakan hamzah yakni “al quran” dan hal ini telah
menyebabkan sejumlah sarjana Muslim memandang bahwa terma itu diturunkan dari
akar kata qarana (قرن) ,”menggabungkan
sesuatu dengan sesuatu yang lain” atau “mengumpulkan”, dan al quran (القران) berarti kumpulan atau gabungan. Tetapi
pandangan minoritas ini harus diberi catatan bahwa penghilangan hamzah
merupakan suatu karakteristik dialek Makkah atau Hijazi, dan karakteristik
tulisan al Quran dalam aksara kufi yang awal. [2] 
Al
Qur’an dikhususkan sebagai nama bagi kitab yang diturunkan kepada Muhammad SAW
sehingga nama Qur’an menjadi nama khas kitab itu. Sebagian ulama menyebutkan
bahwa  penamaan kitab ini dengan nama
Qur’an di antara kitab-kitab Allah itu karena ini mencakup inti dari kitab-kitab-Nya,
bahkan mencakup inti dari semua ilmu. Hal ini disyaratkan dalam Firman-Nya: “Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al
Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu……”[3] 
Para
ulama menyebutkan definisi Qur’an yang mendekati maknanya dan membedakannnya
dari yang lain dengan menyebutkan bahwa:” Al Qur’an adalah Kalam atau Firman
Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW yang membacaannya merupakan suatu
ibadah.”[4]  Sedang kaum teolog cenderung
mendefinisikan Al Qur’an dari sudut pandang teologis seperti Kullabiyat,
Asy’ariyyat, Karramiyat, Maturidiyat, dan penganut shifatiyyat yang lain
berkata: “Al Qur’an adalah kalam Allah yang qadim tidak makhluk”, sebaliknya
kaum Jahmiyyat, Mu’tazilah, dan lain-lain yang menganut bahwa Tuhan tak
mempunyai sifat menyatakan bahwa Al Qur’an 
adalah “Makhluk (tidak qadim)”. Sementara kaum filosof dan
al-Shabi’at  melihat Al Qur’an dari sudut
pandang filosofis. Itulah sebabnya mereka berpendapat bahwa Al Qur’an ialah
“makna yang melimpah kedalam jiwa”. 

Kajian Perkembangan Tafsir Al-Qur'an
Disamping itu ahli Bahasa Arab, para
fuqaha’, dan ahli Ushul Fiqih lebih menitik beratkan pengertian Al Qur’an pada
teks (lafal) yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW mulai dari al-Fatihah sampai
surat al-Nas.[5] Al
Qur’an memang sukar diberi batasan dengan definisi-definisi logika yang
mengelompokkan segala jenis, bagian-bagian serta ketentuan-ketentuannya yang
khusus, mempunyai genus, differentia, dan propium, sehingga definisi Qur’an
mempunyai batasan-batasan yang benar-benar konkrit. Definisi yang konkrit untuk
Al Qur’an adalah mengahdirkannya dalam fikiran atau dalam realita. 
Kajian-kajian
seputar Al Qur’an selanjutnya melahirkan karya ilmiah yang disebut dengan
tafsir. Tafsir sebagai sebagai sebuah penjelasan tentang arti atau maksud
firman Tuhan sudah ada sejak Al Qur’an diturunkan. Sebab sebegitu Al Qur’an
diturunkan kepada manusia bernama Muhammad, sejak itu pula beliau melakukan
tafsir dalam pengertian yang sederhana, yakni memahami dan menjelaskannya
kepada para sahabat. Beliau adalah the first interpreter yang menguraikan Al
Qur’an dan menjelaskan kepada umatnya.[6] 
Dari
zaman ke zaman tafsir terus berkembang dan akhirnya melahirkan banyak karya
monumental. Masa pembukuan tafsir dimulai pada akhir abad dinasti Bani Umayah
dan awal dinasti Abbasiyah. Dalam hal ini hadis mendapatkan perioritas utama
dan pembukuannya meliputi berbagai bab, sedang tafsir hanya merupakan salah
satu bab dari sekian bab yang dicakupnya. Pada masa ini peulisan tafsir belum
dipisahkan secara khusus yang hanya memuat tafsir Al Qur’an, surah demi surah
dan ayat demi ayat, dari awal Qur’an sampai akhir. 
Perhatian
segolongan ulama terhadap periwayatan tafsir yang dinisbahkan kepada Nabi,
sahabat, atau tabi’in sangat besar disamping perhatian terhadap pengumpulan
hadis. Tokoh terkemuka diantara mereka dalam bidang ini ialah Yazid bin Harun
as-Sulami, Syu’bah bin al-Hajjaj, Waki’ bin Jarrah, dan lain sebagainya. Tafsir
golongan ini sedikitpun  tidak ada yang
sampai kepada kita, yang kita terima hanyalah nukilan-nukilan yang dinisbahkan
kepada mereka sebagaimana termuat dalam kitab-kitab tafsir bil ma’sur.[7] 
Sesudah
golongan ini datanglah generasi berikutnya yang menulis tafsir secara khusus
dan independen serta menjadikannya sebagai ilmu yang berdiri sendiri dan
terpisah dari hadis. Qur’an mereka tafsirkan secara sistematis sesuai dengan
tertib Mushaf. Diantara mereka Ibnu Jarir at-Tabari, Ibnu Abi Hatim, Abu Bakar
al-Mardawaih, dan lain sebagainya.[8] Kemudian muncul sejumlah Mufassir yang
(aktifitasnya) tidak lebih dari batas-batas tafsir bil ma’sur, tetapi dengan
meringkas sanad-sanad dan menghimpun berbagai pendapat tanpa menyebutkan
pemiliknya. Karena itu persoalannya menjadi kabur dan riwayat-riwayat yang shahih
bercampur dengan yang tidak shahih. 
Ilmu
semakin berkembang pesat, pembukuannya mencapai kesempurnaan, cabang-cabangnya
bermunculan, perbedaan pendapat terus meningkat, masalah-masalah “kalam”
semakin berkobar, fanatisme madzab menjadi serius dan ilmu-ilmu filsafat
bercorak rasional bercampur baur dengan ilmu-ilmu naqli serta setiap golongan
berupaya mendukung madzab masing-masing. Ini semua menyebabakan tafsir ternoda
polusi udara tidak sehat tersebut. Sehingga para mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an berpegang pada pemahaman pribadi dan mengarah ke berbagai kecenderungan.
Pada diri mereka melekat istilah-istilah ilmiah, akidah madzabi, dan
pengetahuan falsafi. Masing-masing mufassir memenuhi tafsirnya hanya dengan
ilmu yang paling dikuasainya tanpa memerhatikan ilmu-ilmu yang lain. 
Ahli ilmu
rasional hanya memperhatikan dalam tafsirnya kata-kata pujangga dan filosof,
seperti Fahruddin ar-Razi. Ahli fikih hanya membahas soal-soal fikih, seperti
al-Jassas dan al-Qurtubi. Sejarawan hanya mementingkan kisah dan berita-berita,
seperti as-Sa’labi dan al-Khazin. Demikian pula golongan ahli Bid’ah berupaya
menta’wilkan kalamullah menurut selera madzabnya yang rusak itu, seperti
ar-Rumani, al-Juba’i, al-Qadi Abdul Jabbar dan Zamakhsyari dari kaum
Mu’tazilah.[9] 
Hal
ini juga dikarenakan Al Qur’an sendiri yang memang sangat terbuka untuk
ditafsirkan (Multi interpretable), dan masing-masing Mufassir ketika
menafsirkan Al Qur’an biasanya juga dipengaruhi oleh kondisi sosio kultural di
mana ia tinggal, bahakan situasi politik yang melingkupinya juga sangat
berpengaruh baginya. Disamping itu ada kecenderungan dalam diri seorng mufassir
untuk memahami Al Qur’an sesuai dengan disiplin ilmu yang ia tekuni, sehingga
meskipun objek kajiannny tunggal (Al Qur’an) namun hasil penafsiran Al Qur’an
tidaklah tunggal, melainkan plural. Oleh karena itu munculnya Madzahibut Tafsir
tidak dapat dipisahkan dari sejarah pemikiran umat Islam.[10] 
Pada
masa selanjutnya, penulisan tafsir mengikuti pola di atas melalui upaya ulama
Muta’akhirrin yang mengambil begitu saja penafsiran golongan Mutaqaddimin,
tetapi dengan cara meringkasnya di satu saat dan memberinya komentar di saat
lain. Keadaan demikian terus berlanjut sampai lahirnya pola baru dalam tafsir
mu’asir (modern)
, dimana sebagian mufassir memperhatikan
kebutuhan-kebutuhan  kontemporer di
samping upaya penyingkapan asas-asas kehidupan sosial, prinsip-prinsip tasyri’
dan teori-teori ilmu pengetahuan dari kandungan Al Qur’an sebagaimana terlihat
dalam tafsir al-Mannar. 
Kajian
tafsir semakin berkembang di Nusantara, yang salah satunya di Indonesia pada
awal abad ke-20 M bermunculan literatur tafsir yang mulai ditulis oleh
ulama-ulama  Muslim Indonesia dengan
menggunakan bahasa daerah yang bukan bahasa resmi Negara, seperti Tafsir surat
al-Kahfi
dengan Bahasa Melajoe, karya Abdul Wahid Kari Moeda bin Muhammad
Siddiq yang menggunakan Bahasa Melayu Jawi sebagai media pengungkapan tafsir Al
Qur’an, Tafsir al Ibriz karya KH. Bisri Mustafa yang menggunakan huruf Arab
pegon berbahasa Jawa gundul, dan Tafsir al Iklil fi Ma’an al-Tanzil karya KH.
Misbah bin Zainul Mustafa.[11]Hal ini membuktikan bahwa tradisi penulisan
tafsir di Indonesia sebenarnya telah bergerak cukup lama, dengan berbagai macam
corak dan gaya bahasa yang dipakai. 
Semakin
banyak tafsir yang bermunculan dengan berbagai bahasa, ini menggerakkan naluri pemerhati tafsir untuk ikut serta mengarungi dunia Tafsir dengan mencoba megkaji dan
memahami salah satu kajian tafsir yang berhubungan dengan kemaha Agungan Allah
serta Nama-nama Allah dalam Al Qur’an (Asma al-Husna) yang terbaik dan Agung
yang banyak diamalkan manusia dalam kehidupan sehari-hari serta mempunyai
faedah dan khasiyat yang bermacam-macam.

Daftar Rujukan

[2]
Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al Qur’an, ( Yogyakarta: Forum Kajian
Budaya dan Agama, 2001), hlm. 45.
[3]
Al Qur’an, Surat an-Nahl: 89.
[4]
Manna Khalil al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Bogor: Litera Antar Nusa,
2004), hlm. 17.
[5]
Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran Al Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2002), hlm 29-30.
[6]
Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), hlm.
29.
[7]
Manna Khalil al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, hlm. 477.
[8]
Tafsir generasi ini memuat riwayat-riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah,
sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in, dan terkadang disertai pentajrihan
terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan 
dan penyimpulan (istinbath) sejumlah hukum serta penjelasan kedudukan
kata (i’rab) jika diperlukan, sebagaimana dilakukan Ibn Jarir at Tabari.
[9]
Manna Khalil al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, hlm. 477-478. Dan untuk lebih
jelas memehami Madzab-Madzab Tafsir, bisa dibaca buku karya Abdul Mustaqim
“Aliran-Airan Tafsir”.
[10]
Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir, hlm. 4.
[11]
Islah Gusnian, Khazanah Tafsir Indonesia; dari Hermeneutika hingga
Ideologi,(Bandung: Teraju, 2003), hlm. 62-63.

SHARE