Kemiskinan Dalam Perspektif al-qur’an

793
Tulisan ini tidak dapat
menyajikan  petunjuk-petunjuk  praktis operasional   tentang  
pengentasan  kemiskinan.  Karena 
pada dasarnya  Al-Quran  –yang 
menjadi  rujukan–  adalah  
kitab petunjuk  yang  bersifat 
global. Sehingga jangankan persoalan kemasyarakatan, masalah-masalah
yang berkaitan  dengan  ibadah mahdhah  (murni) 
sekalipun,  hampir  tidak 
ditemukan rincian operasionalnya 
kecuali  dalam  As-Sunnah, 
seperti   misalnya rincian shalat
dan haji. Sementara rincian petunjuk menyangkut segi kehidupan bermasyarakat,
kalaupun ditemukan  dari  Sunnah Nabi
maka hal tersebut lebih banyak berkaitan dengan kondisi masyarakat yang
beliau temui, sehingga  masyarakat  sesudahnya perlu    melakukan  
penyesuaian-penyesuaian  
sesuai   dengan kondisinya
masing-masing, tanpa mengabaikan nilai-nilai 
Ilahi itu.
Kemiskinan     dan    
pengentasannya    termasuk    persoalan kemasyarakatan, yang faktor
penyebab dan tolok ukur  kadarnya, dapat  berbeda akibat perbedaan lokasi dan situasi.
Karena itu Al-Quran  tidak  menetapkan 
kadarnya,  dan  tidak 
memberikan petunjuk operasional yang rinci untuk pengentasannya.
SIAPA YANG DISEBUT MISKIN?
Dalam  Kamus 
Besar  Bahasa Indonesia, kata
miskin” diartikan sebagai tidak berharta benda; serba kekurangan
(berpenghasilan rendah).  Sedangkan  fakir diartikan sebagai orang yang sangat berkekurangan;
atau sangat miskin.
Dari bahasa aslinya
(Arab)  kata  miskin 
terambil  dari  kata sakana  yang 
berarti diam atau tenang, sedang faqir dari kata faqr yang
pada mulanya berarti tulang punggung.  Faqir  adalah orang 
yang  patah  tulang punggungnya, dalam arti bahwa beban yang
dipikulnya sedemikian berat sehingga “mematahkan”  tulang punggungnya.
Kemiskinan Dalam Perspektif al-qur'anSebagai  akibat 
dari  tidak  adanya definisi yang dikemukakan Al-Quran  untuk 
kedua  istilah  tersebut, 
para  pakar  Islam berbeda 
pendapat  dalam  menetapkan tolok ukur kemiskinan dan kefakiran.
Sebagian mereka
berpendapat  bahwa  fakir 
adalah  orang  yang berpenghasilan kurang dari setengah kebutuhan
pokoknya, sedang miskin adalah yang berpenghasilan di  atas 
itu,  namun  tidak cukup  
untuk  menutupi  kebutuhan 
pokoknya.  Ada  juga 
yang mendefinisikan sebaliknya, sehingga menurut mereka keadaan  si fakir relatif lebih baik dari si miskin.

Al-Quran  dan hadis tidak menetapkan angka tertentu
lagi pasti sebagai ukuran kemiskinan, sehingga yang dikemukakan  di 
atas dapat  saja  berubah. 
Namun  yang  pasti, Al-Quran menjadikan setiap orang yang
memerlukan sesuatu sebagai fakir atau miskin yang harus dibantu.

Yusuf Qardhawi, seorang ulama
kontemporer, menulis:
Menurut pandangan Islam,
tidak dapat dibenarkan seseorang yang hidup di tengah masyarakat Islam, sekalipun
Ahl Al-Dzimmah (warga negara non-Muslim), menderita lapar, tidak berpakaian,
menggelandang (tidak bertempat tinggal) dan membujang.


Di  tempat 
lain,  Yusuf  Qardhawi 
menyatakan   bahwa   biaya pengobatan  dan 
pendidikan pun termasuk kebutuhan primer yang harus dipenuhi.
FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN
Memperhatikan akar kata “miskin
yang disebut di atas  sebagai berarti  diam atau tidak bergerak diperoleh kesan
bahwa faktor utama penyebab kemiskinan adalah sikap berdiam  diri, 
enggan, atau  tidak  dapat 
bergerak dan berusaha. Keengganan berusaha adalah   penganiayaan   terhadap   
diri    sendiri,    sedang ketidakmampuan    berusaha  
antara   lain   disebabkan  
oleh penganiyaan  manusia  1ain.   

Ketidakmampuan   berusaha   yang disebabkan oleh orang lain diistilahkan
pula dengan kemiskinan struktural. Kesan ini lebih jelas lagi bila diperhatikan
bahwa jaminan rezeki yang dijanjikan Tuhan, ditujukan kepada makhluk yang
dinamainya  dabbah,  yang 
arti  harfiahnya  adalah 
yang bergerak.

Tidak ada satu dabbah pun di bumi kecuali
Allah yang menjamin rezekinya
(QS Hud [11]: 6).
Ayat ini “menjamin”
siapa yang aktif bergerak mencari 
rezeki, bukan yang diam menanti.
Lebih tegas lagi dinyatakannya
bahwa,
Allah telah menganugerahkan kepada kamu
segala apa yang kamu minta (butuhkan dan inginkan). Jika kamu mengitung-hitung
nikmat Allah, niscaya kamu tidak mampu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia
sangat aniaya lagi sangat kufur
(95 Ibrahim [14]: 34).
Pernyataan Al-Quran di atas
dikemukakannya setelah menyebutkan aneka 
nikmat-Nya,  seperti  langit, bumi, hujan, laut, bulan, matahari,
dan sebagainya.
Sumber daya alam yang
disiapkan Allah untuk umat manusia tidak terhingga  dan tidak terbatas. Seandainya sesuatu telah
habis, maka ada alternatif lain yang disediakan Allah selama  manusia berusaha.  Oleh 
karena  itu,  tidak 
ada alasan untuk berkata bahwa sumber daya alam terbatas, tetapi sikap
manusia terhadap pihak   lain,   dan 
sikapnya  terhadap  dirinya 
itulah  yang menjadikan sebagian
manusia tidak memperoleh sumber daya 
alam tersebut.
Kemiskinan   terjadi 
akibat  adanya  ketidakseimbangan  dalam perolehan  atau 
penggunaan  sumber  daya  
alam   itu,   yang diistilahkan  oleh 
ayat  di  atas 
dengan  sikap aniaya, atau karena
keengganan manusia menggali sumber daya alam itu  untuk mengangkatoya  ke 
permukaan,  atau untuk menemukan
alternatif pengganti. Dan kedua hal 
terakhir  inilah  yang 
diistilahkan oleh ayat di atas dengan sikap kufur.
PANDANGAN ISLAM TENTANG KEMISKINAN
Salah satu bentuk penganiayaan
manusia terhadap  dirinya  yang melahirkan  kemiskinan adalah pandangannya yang keliru
tentang kemiskinan.  Karena  itu 
langkah  pertama  yang 
dilaksanakan Al-Quran adalah meluruskan persepsi yang keliru itu.
Seperti  kita 
ketahui,  sementara  orang 
berpandangan  bahwa kemiskinan
adalah sarana penyucian diri, pandangan ini 
bahkan masih dianut oleh sebagian masyarakat hingga kini. Dalam Kamus Besar  Bahasa 
Indonesia  antara  lain 
ditemukan   penjelasan tentang  arti 
kata “fakir” sebagai orang pang sengaja membuat dirinya  menderita 
kekurangan  untuk  mencapai  
kesempurnaan batin.
Dalam konteks penjelasan
pandangan Al-Quran tentang kemiskinan ditemukan 
sekian  banyak  ayat-ayat 
Al-Quran   yang   memuji kecukupan,   bahkan 
Al-Quran  menganjurkan  untuk 
memperoleh kelebihan.
Apabila telah selesai shalat (Jumat) maka
bertebaran1ah  di bumi dan carilah fadhl
(kelebihan) dan Allah
(QS
Al-Jum’ah [62]: 10)
Sejak dini pula Kitab Suci ini
mengingatkan Nabi Muhammad Saw. tentang betapa besar anugerah Allah kepada
beliau, yang antara lain 
menjadikannya  berkecukupan  (kaya) 
setelah  sebelumnya papa.
Bukankah Allah telah mendapatimu miskin
kemudian Dia    menganugerahkan kepadamu
kecukupan
? (QS Al-Dhuha
[93]: 8)
Seandainya kecukupan atau
kekayaan tidak terpuji,  niscaya  ia tidak 
dikemukakan  oleh  ayat di atas dalam konteks pemaparan anugerah
llahi.
Berupaya untuk memperoleh
kelebihan,  bahkan  dibenarkan 
oleh Allah walau pada musim ibadah haji sekalipun.
Tidak ada dosa bagi kamu untuk mencari
fadhl (kelebihan) dari Allah (di musim haji)
(QS Al-Baqarah [2]: 198).
Di sisi  lain, 
Al-Quran  mengecam  mereka 
yang  mengharamkan hiasan  duniawi 
yang  diciptakan  Allah bagi umat manusia (QS Al-A’raf [7]:
32),  dan 
menyatakan  bahwa  Allah 
menjanjikan ampunan  dan  anugerah yang berlebih, sedang setan
menjanjikan kefakiran (QS Al-Baqarah [2]: 268).
Tak mengherankan  jika 
dalam  literatur  keagamaan 
ditemukan ungkapan,
Hampir saja kekafiran itu menjadi
kekufuran karena Nabi Saw. sering berdoa,
Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari
kekufuran, kefakiran
(HR Abu Dawd).
Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari
kefakiran, kekurangan dan kehinaan, dan Aku berlindung pu1a dari  menganiaya dan dianinya
(HR Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Meskipun demikian,  Islam 
tidak  menjadikan  banyaknya 
harta sebagai  tolok  ukur kekayaan, karena kekayaan yang sebenarnya
adalah kekayaan hati dan kepuasannya. Sebuah lingkaran  betapa pun 
kecilnya adalah sama dengan 360 derajat, tetapi betapapun
besarnya, bila tidak bulat, maka ia pasti  kurang 
dari  angka tersebut.  Karena 
itu,  Islam  mengajarkan 
apa  yang dinamai qann’ah,
namun itu bukan berarti nrimo (menerima apa 
adanya), karena  seseorang tidak
dapat menyandang sipat qana’ah kecuali setelah melalui lima tahap:
a.   Menginginkan kepemilikan sesuatu.  
B .Berusaha
sehingga memiliki sesuatu itu, dan mampu menggunakan apa yang diinginkannya
itu.  
c.    Mengabaikan yang telah dimiliki dan
diinginkan itu secara suka rela dan senang hati  
d.  Menyerahkannya kepada orang lain, dan merasa
puas dengan apa yang dimiliki sebelumnya.
BAGAIMANA CARA MENGENTASKAN KEMISKINAN?
Dalam rangka mengentaskan  kemiskinan, 
Al-Quran  menganjurkan banyak cara
yang harus ditempuh, yang secara garis besar dapat dibagi pada tiga hal pokok.
   1.
Kewajiban setiap individu.
   2.
Kewajiban orang lain/masyarakat.
   3.
Kewajiban pemerintah.
1. 
Kewajiban  terhadap  setiap  
individu   tercermin   dalam kewajiban bekerja dan berusaha.
Kerja   dan 
usaha  merupakan  cara 
pertama  dan  utama 
yang ditekankan oleh Kitab Suci Al-Quran, karena  hal 
inilah  yang sejalan   dengan 
naluri  manusia,  sekaligus 
juga  merupakan kehormatan dan
harga dirinya.
Dijadikan indah dalam (pandangan) manusia
kesenangan kepada syahwat, berupa wanita (lawan seks), harta yang  banyak dari jenis emas dan perak, kuda
pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup duniawi.
dan di sisi Allah tempat kecuali yang    baik
(QS Ali ‘Imran: 14).
Ayat ini secara  tegas 
menggarisbawahi  dua  naluri 
manusia, yaitu  naluri  seksual 
yang  dilukiskan  sebagai 
“kesenangan kepada syahwat wanita” (lawan seks),  dan 
naluri  kepemilikan yang  dipahami 
dari  ungkapan (kesenangan kepada)
“harta yang banyak”.
Sementara  pakar  
menyatakan   bahwa   seakan-akan  
Al-Quran menjadikan  kedua  naluri 
itu  sebagai  naluri pokok manusia. Bukankah teks ayat tersebut
membatasi (hashr) kesenangan hidup duniawi pada hasil penggunaan kedua naluri
itu?.
Ibnu   Khaldun 
dalam  Muqaddimah-nya,  menjelaskan 
bagaimana naluri kepemilikan itu kemudian mendorong manusia bekerja  dan berusaha. 
Hasil kerja tersebut apabila mencukupi kebutuhannya –dalam istilah  agama– 
disebut  rizki  (rezeki), 
dan  bila melebihinya disebut kasb
(hasil usaha).
Kalau  demikian 
kerja  dan  usaha merupakan dasar utama dalam memperoleh
kecukupan dan kelebihan. Sedang mengharapkan 
usaha orang  lain untuk keperluan
itu, lahir dari adat kebiasaan dan di luar naluri manusia. Memang, lanjut Ibnu
Khaldun, kebiasaan dapat membawa manusia jauh dari hakikat kemanusiaannya.
Dari sini dapat disimpulkan
bahwa jalan pertama dan utama yang diajarkan Al-Quran untuk pengentasan
kemiskinan  adalah  kerja dan 
usaha yang diwajibkannya atas setiap individu yang mampu. Puluhan ayat
yang memerintahkan dan 
mengisyaratkan  kemuliaan bekerja.
Segala pekerjaan dan usaha halal dipujinya, sedangkan segala bentuk pengangguran
dikecam dan dicelanya.
Apabila engkau telah menyelesaikan satu
pekerjaan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (pekerjaan yang lain, agar jangan
menganggu), dan hanya kepada Tuhanmu sajalah hendaknya kamu mengharap
(QS Alam Nasyrah [94]: 7-8).
Rasulullah Saw. juga pernah
bersabda:
Salah seorang di antara kamu mengambil
tali, kemudian membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya lalu dijualnya,
sehingga ditutup Allah air mukanya, itu lebih baik daripada meminta-minta
kepada orang, baik ia diberi maupun ditolak
(HR Bukhari).
Kalau  di 
tempat  seseorang  berdomisili,  
tidak   ditemukan lapangan   pekerjaan.  
Al-Quran   menganjurkan  kepada 
orang tersebut untuk berhijrah mencari tempat lain, dan  ketika 
itu pasti dia bertemu di bumi ini, tempat perlindungan yang banyak dan
keluasan,
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah
niscaya mereka mendapat di muka bumi tempat yang luas lagi rezeki yang banyak
(QS Al-Nisa’ [4]: 100).
2. Kewajiban orang lain tercermin  pada 
jaminan  satu  rumpun keluarga,  dan 
jaminan  sosial dalam bentuk zakat
dan sedekah wajib.
Sebelum menguraikan cara  kedua 
ini,  perlu  terlebih 
dahulu digarisbawahi   bahwa  menggantungkan  penanggulangan  problem kemiskinan semata-mata kepada
sumbangan sukarela dan keinsafan pribadi, 
tidak dapat diandalkan. Teori ini telah dipraktekkan berabad-abad
lamanya, namun hasilnya tidak pernah memuaskan.
Sementara  orang 
sering  kali  tidak 
merasa   bahwa   mereka mempunyai  tanggung 
jawab  sosial, walaupun ia telah
memiliki kelebihan  harta  kekayaan. 
Karena  itu   diperlukan  
adanya penetapan  hak  dan 
kewajiban  agar  tanggung 
jawab keadilan sosial dapat terlaksana dengan baik.
Dalam  hal 
ini,  Al-Quran  walaupun 
menganjurkan   sumbangan sukarela   dan  
menekankan  keinsafan  pribadi, 
namun  dalam beberapa hal Kitab
Suci ini menekankan hak dan kewajiban, baik melalui  kewajiban 
zakat, yang merupakan hak delapan kelompok yang ditetapkan (QS Al-Tawbah
[9]: 60) maupun melalui  sedekah wajib  yang 
merupakan  hak bagi yang meminta
atau yang tidak, namun membutuhkan bantuan:
Dalam harta mereka ada hak untuk (orang
miskin yang  meminta) dan yang tidak
berkecukupan (walaupun tidak meminta
) (QS Al-Dzariyat [51]: 19).
Hak dan  kewajiban 
tersebut  mempunyai  kekuatan 
tersendiri, karena   keduanya   dapat 
melahirkan 
“paksaan”  kepada  yang berkewajiban untuk melaksanakannya.
Bukan  hanya  paksaan 
dan lubuk  hatinya,  tetapi juga atas dasar bahwa pemerintah dapat
tampil  memaksakan  pelaksanaan  
kewajiban   tersebut   untuk diserahkan kepada pemilik haknya.
Dalam  konteks 
inilah  Al-Quran menetapkan
kewajiban membantu keluarga  oleh  rumpun 
keluarganya,  dan   kewajiban  
setiap individu untuk membantu anggota masyarakatnya.
a. Jaminan satu rumpun keluarga
Boleh jadi karena satu
dan  lain 
hal  seseorang  tidak 
mampu memperoleh  kecukupan untuk
kebutuhan pokoknya, maka dalam hal ini Al-Quran datang dengan  konsep 
kewajiban  memberi  nafkah kepada 
keluarga,  atau dengan istilah
lain jaminan antar satu rumpun keluarga sehingga setiap keluarga harus saling
menjamin dan mencukupi.
Orang-orang yang berhubungan kerabat itu
sebagian lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)
(QS Al-Anfal [8]: 75).
Dan berikanlah kepada keluarga dekat
haknya, juga kepada orang miskin, dan orang yang berada dalam perjalanan…(
QS Al-Isra’ [17]: 26).
Ayat ini menggarisbawahi
adanya hak bagi keluarga  yang  tidak mampu 
terhadap  yang  mampu. Dalam mazhab Abu Hanifah memberi nafkah
kepada anak dan cucu, atau ayah  dan  datuk 
merupakan. Kewajiban walaupun mereka bukan muslim.
Para  ahli 
hukum menetapkan bahwa yang dimaksud dengan nafkah mencakup sandang,
pangan, papan dan perabotnya, pelayan 
(bagi yang memerlukannya), mengawinkan anak bila tiba saatnya, serta belanja
untuk istri dan siapa saja yang menjadi tanggungannya.
Hendaklah orang-orang yang mempunyai
kelapangan, memberi nafkah sesuai dengan kelapangannya, dan barang siapa sempit
rezekinya maka hendaklah ia memberi nafkah sesuai apa yang diberi Allah
kepadanya
(QS Al-Thalaq
[65]: 7).
b. Zakat
Dari sekumpulan ayat-ayat  Al-Quran 
dapat  disimpulkan  bahwa kewajiban  zakat 
dan  kewajiban-kewajiban  keuangan 
lainnya, ditetapkan Allah berdasarkan pemilikan-Nya  yang 
mutlak  atas segala  sesuatu, 
dan  juga  berdasarkan 
istikhlaf (penugasan manusia  sebagai  khalifah) 
dan  persaudaraan   semasyarakat, sebangsa, dan sekemanusiaan.
Apa   yang  
berada  dalam  genggaman 
tangan  seseorang  atau sekelompok orang, pada hakikatnya adalah
milik Allah.  Manusia diwajibkan  menyerahkan 
kadar tertentu dari kekayaannya untuk kepentingan  saudara-saudara  mereka.  
Bukankah   hasil-hasil produksi,   apa  
pun  bentuknya,  pada 
hakikatnya  merupakan pemanfaatan
materi-materi yang telah diciptakan 
dan  dimiliki Tuhan?  Bukankah 
manusia  dalam  berproduksi hanya mengadakan perubahan,
penyesuaian, atau perakitan satu bahan dengan bahan lain  yang 
sebelumnya  telah diciptakan
Allah? Seorang petani berhasil dalam pertaniannya karena adanya  irigasi, 
alat-alat (walaupun 
sederhana),  makanan, pakaian,
stabilitas keamanan, yang kesemuanya tidak mungkin dapat  diwujudkan 
kecuali  oleh kebersamaan   pribadi-pribadi   tersebut,  
dengan  kata  lain “masyarakat”. Pedagang
demikian pula halnya.
 Siapa yang menjual dan siapa pula  yang 
membeli  kalau  bukan orang lain?
Jelas   sudah  
bahwa  keberhasilan  orang 
kaya  adalah  atas keterlibatan banyak pihak, termasuk para
fakir miskin:
“Kalian mendapat kemenangan dan
kecukupan berkat orang-orang lemah di antara kalian.”
Demikian Nabi Saw. bersabda, sebagaimana
diriwayatkan oleh Abu Daud melalui Abu Ad-Darda’.
Kalau demikian, wajar jika
Allah Swt. sebagai  pemilik  segala sesuatu,  mewajibkan kepada yang berkelebihan agar
menyisihkan sebagian harta mereka untuk orang yang memerlukan.
Apabila kamu beriman dan bertakwa, Allah akan
memberikan kepada kamu ganjaran, dan Dia tidak meminta harta bendamu
(seluruhnya). Jika Tuhan meminta harta bendamu (sebagai zakat dan sumbangan
wajib) dan Dia mendesakmu (agar engkau memberikan semuanya) niscaya kamu akan
kikir, (karenanya Dia hanya meminta sebagian dan ketika itu bila kamu tetap
kikir maka) Dia akan menampakkan kedengkian (kecemburuan sosial) antara kamu
(QS Muhammad [47]: 36-37).
Bukan di sini  tempatnya 
menguraikan  macam-macam  zakat 
dan rinciannya,   namun   yang 
perlu  digarisbawahi  bahwa 
dalam pandangan hukum Islam, zakat harta yang diberikan kepada fakir miskin  hendaknya 
dapat memenuhi kebutuhannya selama setahun, bahkan seumur hidup.
Menutupi kebutuhan tersebut
dapat berupa  modal  kerja 
sesuai dengan  keahlian dan keterampilan
masing-masing, yang ditopang oleh peningkatan kualitasnya. Hal lain yang perlu
juga dicatat adalah  bahwa  pakar-pakar 
hukum  Islam  menetapkan kebutuhan pokok dimaksud  mencakup 
kebutuhan  sandang,  pangan, 
papan, seks, pendidikan, dan kesehatan.
3. Kewajiban Pemerintah
Pemerintah juga berkewajiban
mencukupi setiap kebutuhan  warga negara,  melalui 
sumber-sumber dana yang sah. Yang terpenting di antaranya adalah pajak,
baik dalam bentuk pajak perorangan, tanah, 
atau  perdagangan,  maupun pajak tambahan lainnya yang ditetapkan
pemerintah  bila  sumber-sumber 
tersebut  di  atas belum mencukupi.
Al-Quran mewajibkan kepada
setiap Muslim untuk  berpartisipasi menanggulangi
kemiskinan sesuai dengan kemampuannya. Bagi yang tidak  memiliki 
kemampuan  material,  maka  
paling   sedikit partisipasinya  diharapkan dalam bentuk merasakan,
memikirkan, dan mendorong pihak lain untuk berpartisipasi aktif.
Secara tegas Al-Quran mencap
mereka yang enggan berpartisipasi (walau  
dalam   bentuk  minimal) 
sebagai  orang  yang 
telah mendustakan agama dan hari kemudian.
Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan
orang miskin
(QS Al-Ma’un
[107]: 1-3).

Semoga kita  terhindar 
dari  segala  macam 
bencana  demikian itu.[]
Dr. M. Quraish Shihab, M.A
SHARE

1 COMMENT