Kerusakan Moral dan Solusi Islam

46
Sekarang ini, karena pengaruh internet yang demikian luas
penggunaannya, gaya berpacaran remaja di wilayah perdesaan kian
mengkhawatirkan. Remaja kini tidak lagi sungkan mengajak teman sebayanya
untuk berhubungan seks di luar nikah karena termakan propaganda
pergaulan bebas di televisi maupun situs internet.
“Umumnya, remaja usia 15 tahun atau yang dikenal dengan sebutan ABG
sampai mahasiswa semester awal yang berkonsultasi mengaku pernah
berhubungan intim dengan pacarnya,” kata Psikolog Badan Pemberdayaan
Perempuan dan Keluarga Berencana (BPP dan KB) Bahkan, ia melanjutkan,
ada yang setiap kali ganti pacar selalu berhubungan suami istri.Tidak diragukan bahwa prilaku menyimpang di atas adalah produk jahiliyah
modern) yang acuh terhadap nilai-nilai agama dan moral.Pada edisi kali
ini mari kita mencoba menelusuri sejarah moral dalam kejahiliyahan
modern. Salah satu tujuannya agar kita mengetahui apakah kejahiliyahan
modern itu sedang menanjak atau  mengalami kemerosotan. Sebab tidak
sedikit yang silau memandang segala yang datang dari barat sangat
manusiawi atau identik dengan kemajuan.

Latar Belakang Kehancuran Moral Bangsa Barat
Pada abad pertengahan ajaran moral yang mendominasi Benua Eropa
adalah Nasrani, seperti yang digambarkan oleh kekuasaan gereja di
eropa. Nabi Isa as. mengajarkan kehidupan zuhud dan menghindari
kesenangan jasmani secara berlebih-lebihan. Dan ini adalah juga ajakan
setiap Nabi kepada umat mereka masing-masing.

 

Di zaman Nabi Isa persoalan ini ditekankan kembali oleh beliau karena
ia melihat ketika itu manusia hidup dalam keserakahan yang
menjadi-jadi  dalam mengejar materi. Akibat keserakahan itu, sedikit
demi sedikit mempengaruhi stabilitas moral Bani Israil dan penguasa
Romawi. Di dalam injil Matius dikatakan, “tetapi aku berkata padamu
setiap yang memandang perempuan dan menginginkannya maka ia sudah
berzina dengan dia dalam hatinya.
Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau cungkillah dan
buanglah itu,karena lebih baik bagi engkau jika salah satu anggota
tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan dalam neraka
Dari ucapan tersebut di atas dan yang serupa dengannya, maka gereja
menetapkan aturan-moral ketat kepada para pengikutnya. Di kemudian hari
lahirlah sistem kerahiban yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Isa
‘Alaihissalam
lebih jauh dan ekstrim, gereja membuat doktrin bid’ah yaitu bahwa
seks adalah kotor,wanita adalah makhluk mirip setan yang wajib dijauhi,
pernikahan adalah kebutuhan naluriah hewaniyah ! Sebaliknya manusia yang
paling bahagia dan besar takwanya adalah sanggup “meningkatkan”
kwalitas diri dan tidak menikah.
Dalam kurun waktu yang panjang kemesuman dan kebejatan moral meluas di
tengah masyarakat Romawi. Sebagai reaksinya meluas pula penolakan dengan
menjamurnya sistem kerahiban (hidup membujang dan menjauh dari gemerlap
materi).
Abul Hasan Ali an-Nadawi mengutip ucapan Lucky (sejarah moral Eropa),
ia mengatakan, “pada masa itu dunia terombang ambing oleh sistem
kerahiban produk gereja yang sangat ekstrem dan maksiyat yang melampaui
batas, justru di kota-kota yang paling banyak terjadi pencabulan dan
kemesuman. Pada saat itu kejahatan dan kerahiban bisa menjadi dua hal
yang berbeda dalam satu paket”
Selanjutnya Lucky mengatakan, “para rahib itu lari jika melihat
bayangan wanita, mereka merasa berdosa jika berada atau berkumpul dekat
wanita. Mereka berkeyakinan bahwa bertemu dengan wanita di pinggir jalan
atau bercakap-cakap dengannya-meski wanita itu adalah ibu, saudari
kandung atau bahkan  istri sendiri- maka itu akan menghapuskan amal
kebajikan ”.
Inilah pandangan dasar mereka tentang wanita. Bagi kaum rahib itu,
wanita adalah pintu neraka. Wanitalah yang mengeluarkan laki-laki dari
sorga. Andai bukan godaan wanita mungkin manusia beranak pinak di surga
dan bukan di bumi.
sampai tiba pada satu masa, Eropa dengan pandangan jahiliyahnya yang
penuh dengan penyelewengan, timbul reaksi jahiliyah yang lebih hebat
lagi. Kerusakan mengerikan yang terjadi di biara-biara dengan berbagai
tindak kemesuman antara rahib pria dan wanita merupakan pukulan hebat
yang menggoyangkan sendi-seni kerahiban. Belum lagi dengan hukum sadis
(INKUISISI) yg diterapkan oleh pihak gereja terhadap para pelanggar
aturan moral, seperti pencungkilan mata, memotong atau menusuk alat
kemaluan dst., memicu kebencian rakyat pada pihak gereja berikut produk
undang-undangnya. Akhirnya manusia pada zaman itu muak dan memalingkan
diri dari hidup “suci” dan tidak peduli dengan semua akibatnya. Mereka
akhirnya dengan liar mengejar-ngejar kelezatan syahwat.
Semua itu tidak terjadi begitu saja, tapi terjadi perlahan-lahan.

Kelompok yang berusaha mempertahankan moral masyarakat terus
menerus meneriakkan kebebasan seks. Sebaliknya kelompok yang membela
“perkembangan” dan “kemajuan” membagus-baguskan dekadensi moral. Hanya
saja kelompok yag kedua menyebarkan idenya dengan berbagai sarana.
Semua ini merupakan praktek dari budaya jahiliyah modern yang
menyeleweng jauh dari tuntutan ilahi sehingga kebobrokan sedemikian jauh
mencapai puncaknya. Kaum wanita telah bebas, semua manusia yang berada
dalam belenggu jahiliyah telah “bebas” sebebas-bebasnya dari belenggu
agama, moral dan tradisi. Pergaulan bebas antara pria dan wanita
akhirnya menjadi norma yang diakui.
William Durant, berkata tentang kebobrokan moral jahiliyah modern,
“Perkawinan dua orang. suami istri dalam masyarakat moderen bukanlah
perkawinan dalam arti sebenarnya, ia tidak lebih dari hubungan biologis
semata-mata. Perkawinan tidak dilandasi atas dasar yang kokoh pasti
cepat pudar karena terpisah dari tujuan hidup dan tujuan melestarikan
keturunan. Pada akhirnya hubungan seperti itu membuat jiwa pasangan
suami istri menciut sehingga menjadi dua individu yang serupa dengan dua
keping benda yang terpisah sama sekali ”
Demikianlah seterusnya, hari ini kita saksikan hampir semua negara
menikmati “berkah kebebasan” dari belenggu agama dan moral. Hampir semua
telah menikmati “manisnya” hubungan bebas antara pria dan wanita lepas
dari berbagai jenis ikatan moral. Di Amerika Serikat-negeri yang
menghalalkan segala rupa kemesuman- melindunginya dengan kekuasaan
legislatif. Bahkan ada yang melangkah lebih jauh, beberapa negara di
Eropa seperti Belanda telah mengakui hubungan “suami istri” dari sesama
jenis.
Sayang seribu sayang di negeri Muslim seperti Indonesia, juga
sekumpulan orang yang merasa jadi pahlawan dengan menganjurkan kebebasan
seperti Prof. Musda Mulia. Guru besar salah satu perguruan tinggi ini
intens memberikan pembelaan terhadap kaum gay dan lesbian. Jika dukungan
dan propaganda meluas entah akan menjadi apa negeri mayoritas Muslim
ini. Wallahul musta’an
Islam adalah Solusi

Islam adalah Manhajul Hayat (sistem kehidupan) yang membimbing
manusia menuju jalan keselamatan. Tidak ada perintah yang tertuang dalam
ajaran Islam kecuali di sana ada maslahat. Sebaliknya tidak larangan
yang tertuang dalam kecuali di sana ada mudharat yang menghadang. Itulah
sebabnya Islam menolak sama sekali kedunguan jahiliyah modern. Pria dan wanita dipertemukan bukan untuk
hiburan dan bersenang-senang semata tanpa tujuan. Tujuan universal dari
pertemuan kedua makhluk beda jenis ini untuk melahirkan masyarakat mulia
dan bertakwa. Allah berfirman, “wahai manusia hendaklah kalian bertakwa
pada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa. Dan
dari jiwa itulah Allah menciptakan pasangannya. Lalu dari keduanyalah
Allah menyebarkan banyak pria dan wanita…” (an-Nisa’:1)
Jadi, pertemuan antara pria dan wanita bukan pertemuan gila-gilaan
tanpa aturan dan tidak bertujuan kecuali  membangkitkan dan mengompori
naluri negatif. Tidak sama sekali ! Jika ini mewabah di tengah
masyarakat maka ini sangat berbahaya, sebab salah satu pintu kebinasaan
umat dahulu adalah dikala mereka memperturutkan syahwat tanpa kendali.
Di dalam Islam, pernikahan adalah jalan terbaik dalam membina
hubungan laki-laki dan perempuan. Pernikahan dalam pandangan Islam tidak
semata-mata penyaluran kebutuhan biologis dan setelah semua itu
tersalurkan maka selesai sudah. Tidak ! Tapi, di sana ada tanggung jawab
dari kedua belah pihak. Di sana ada kewajiban menafkahi, membesarkan
dan mendidik anak-anak yang lahir dari hubungan harmonis tersebut. Di
sana ada kewajiban untuk terus membina harmonisasi antara suami dan
istri, antara orangtua dan anak dan kewajiban menyambung hubungan
kekerabatan dari keluarga laki-laki dan dari keluarga perempuan. Jika
ini berlangsung dengan baik, maka sungguh ini sebuah harmoni kehidupan
yang indah, hidup harmoni yang sangat diimpi-impikan oleh jahiliyah
modern yang berada di ujung keruntuhan
Halaman Oase

Manfaat Menjaga Kesucian Diri

Menjaga diri dari kekotoran moral memiliki banyak manfaat. Di antaranya Alllah akan menjaganya dan keturunannya.
Allah ta’ala akan menjaga kelurga,harta, jiwa, kehidupan masa kini
dan masa depan, dan bahkan segala urusannya. Hal ini telah dijelaskan
oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabda beliau  yang cukup
terkenal, “ Jagalah Allah, Niscaya Ia akan menjagamu. Jagalah Allah Niscaya Engkau temukan Ia di Hadapanmu” (H.R.Tirmidzi)
Para Ulama mengatakan ketika menafsirkan hadis ini; Jagalah Allah
Artinya, jagalah Ia dalam Perintah dan larangan-larangan Nya, dengan
menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.
Apa Hasilnya? “Niscaya Allah akan menjagamu”. Allah akan menjaga
anda, keluarga anda, anak anda, harta benda, masa depan anda di dunia.
Juga Allah akan menjaga agama anda dan masa depan anda di akhirat.
Seperti ini pula yang dikatakan Allah dalam surah Al Kahfi ayat 82,
“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota
itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, adapun
ayahnya adalah orang yang shaleh”
Ibnu Katsir, ketika member tafsir ayat ini, beliau mengatakan, ini
menunjukkan bahwa orang yang shaleh itu akan dijaga keturunannya. Dan
berkah ibadahnya juga mencakup keturunannya di dunia dan di akhirat
karena syafaatnya untuk mereka, juga akan mengangkat derajat mereka ke
surga yang tertinggi.
Dinukil dari Ibnu Abbas, terkait penafsiran kedua anak yang
disebutkan dalam ayat ini: bahwa mereka dijaga karena kesholehan ayahnya
dan tidak dijelaskan bahwa kedua anak itu adalah anak yang sholeh.
Said Ibnul Musayyid berkata kepada anaknya: Sesungguhnya aku akan
menambah shalatku untukmu dengan harapan engkau akan dijaga karenaku.
Lalu beliau membaca ayat tersebut di Atas.
Umar bin Abdul Aziz berkata, tidak ada seorang mukmin yang meninggal
dunia, melainkan Allah akan menjaga keturunannya dan keturunan
keturunannya, maka bergembiralah orang-orang yang senantiasa menjaga
akhlak dan moralnya serta istiqamah di jalan Allah karena ia adalah
manusia yang paling banyak mendapatkan penjagaan dari Allah karena ia
menjaga perintah-perintah Allah.
Dan balasan itu setimpal dengan amal.
(Sumber: “Meniti Jalan Istiqamah”  Syaikh Musnid al-Qahthany)
http://akhlaqsalaf.wordpress.com/2010/03/01/kerusakan-moral-dan-solusi-islam/
SHARE