Kewajiban Seorang Pemimpin Harus Mencontoh Nabi SAW

99
Muhammad sebagai
seorang utusan Allah (Rasul) yang menjadi penutup dari para Nabi. Tidak
seorangpun Nabi yang diutus oleh Allah sesudah Nabi Muhammad saw. Dalam konteks
pendidikan beliau merupakan gurunya para guru, karena Allah telah mendidik dan
mengajarnya dengan sebaik-baik pendidik dan pengajaran. Beliau sendiri dalam
hal ini menegaskan bahwa, “adabanī rabī fa ahsana ta’dībī”[1] (Tuhanku telah
mendidik dan mengajarku, maka dialah yang membaikkan pendidikanku). Hadits ini
memberikan informasi tentang pengajaran dan pendidikan yang dilakukan oleh sang
guru agung, Muhammad yang kemudian menjadi sumber inspirasi bagi pendidikan
Muslim. Tidak berlebihan jika dikatakan kehidupan Muhammad sendiri merupakan
refleksi pendidikan bagi umatnya.
Sebagai seorang
rasul, Muhammad memiliki hak istimewa mengajar mereka yang mempercayai misinya,
yakni kitab dan hikmah. Dalam menjalankan tugas ini, sebagaimana rasul-rasul
sebelumnya, Muhammad tidak meminta upah atas pekerjaannya dari manusia, karena
yang diharapkannya hanya pahala dari Tuhan.[2]
Nabi diutus
tidak untuk menumpuk harta, melainkan diutus sebagai penunjuk jalan (hidayah),
pemberi kabar gembira dan peringatan, penyeru kepada Allah dan sebagai pelita.
Inilah inti yang menjadi tugas para Rasul dan Nabi dengan cara memberikan
pengajaran dan pendidikan. Dalam menyampaikan peringatan kepada manusia Nabi
dibekali mukjizat berupa al-Quran, yang dijadikan sebagai bukti kerasulannya.
Tentang tugas
Nabi Muhammad saw. yang diutus Allah kepada segenap manusia, dalam al-Quran
telah dinyatakan dengan jelas, di antaranya terdapat dalam surat Al-Ahzab ayat
45-48:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا
وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُم مِّنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا وَلَا تُطِعِ
الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَىٰ
بِاللَّهِ وَكِيلًا
“Hai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi,
dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada
agama Allah dengan izin-Nya dan jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita
gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesunggunya mereka karunia yang besar
bagi Allah. Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang
munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertakwalah kepada
Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung”.[3] (QS. Al-Ahzab 45-48)
Ayat di atas
menunjukkan bahwa tugas dan kewajiban Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah
sebagai berikut:
1) Menjadi syahid, yang menyampaikan semua
amanat yang diserahkan oleh Allah kepadanya untuk disampaikan pada manusia.
2) Menjadi mubasyir, yang selalu menyampaikan
berita gembira kepada manusia dengan menerangkan pahala yang akan dibawakan
kepada orang yang mau beriman.
3) Menjadi nadzir, yang selalu memberi
peringatan atau mengancam kepada manusia dengan menerangkan siksa yang akan
ditimpakan kepada orang-orang yang tidak mau beriman.
4) Menjadi dai, yang tidak ada berhentinya
menyampaikan seruan kepada manusia supaya mengikuti agama Allah dengan cara
yang diizinkan oleh-Nya.
5) Menjadi sirajan muniiraa, yang
terus-menerus menerangi dengan pelita yang terang benderang kepada manusia.[4]
Tegasnya, Nabi
Muhammad saw. diperintahkan oleh Allah supaya menyampaikan segala sesuatu yang
telah diturunkan kepada beliau, yaitu al-Quran kepada umat manusia. Adapun
cara-cara Nabi menyampaikan tugas kewajibannya, dinyatakan dalam surat
Al-Jumu’ah ayat 2-3, yaitu:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا
مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ وَآخَرِينَ مِنْهُمْ
لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dialah yang mengutus kamu kepada kaum yang buta huruf
seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan
sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan
(juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka.
Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Jumu’ah: 2-3). [5]
Ayat di atas
menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. Diutus oleh Allah dari golongan mereka,
dengan diberi petunjuk untuk:
1) Membacakan ayat-ayat Allah, yaitu al-Quran
kepada mereka.
2) Menyucikan/membersihkan jiwa dan kelakuan
mereka dari segala kekotoran
3) Mengajarkan atau menjelaskan al-Quran
kepada mereka sampai diterima dan dimengerti oleh mereka.
4) Mengajarkan akan hikmah atau tuntutan yang
benar kepada mereka supaya menjadi umat yang tidak ummi, umat yang
berpengetahuan dan umat yang terpimpin ke jalan yang lurus.[6]
pada intinya
diutusnya Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan tuntutan kepada umat manusia
yaitu al-Quran. Sementara itu sebagai pemimpin, pendidik dan segala yang
disandang Nabi lainnya, beliau mempunyai hak-hak atas umatnya, di antaranya[7]:
a. Mengimani ajaran yang dibawa Nabi
Muhammad saw.
b. Kewajiban menaati Nabi saw. dan dilarang
maksiat kepadanya.
c. Menjadikan Nabi saw. sebagai panutan.
d. Mencintai Rasul melebihi cintanya pada
keluarganya, anak, orang tua dan semua orang.
e.  Menghormati, memuliakan dan menolong Nabi
saw.
f.  Shalawat kepada Nabi saw.
g.  Kewajiban menjadikan Rasulullah saw.
sebagai hakim dan menerima segala keputusannya.
h.  Menempatkan kedudukan Nabi saw. secara
proporsional.
Penghormatan
kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw selayaknya dilakukan oleh seorang
muslim yang selalu mengharapkan pertolongannya kelak di hari akhirat. Hal
tersebut menunjukkan sebagai bukti bahwa kita umat yang bertakwa kepada Allah
dan rasul – Nya.
Dalam konteks
pendidikan Nabi Muhammad saw. berperan sebagai guru, pendidik yang diartikan
sebagai satu-satunya guru pertama dalam literatur Islam yang hujjah-nya
diteladani oleh seluruh manusia. Ini juga dapat diartikan bahwa Rasulullah saw.
secara tidak langsung berperan sebagai pemimpin yang bertugas mendidik dan mengajar
ummatnya.
Kepemimpinan
Nabi Muhammad saw. dalam pendidikan telah nampak dengan tugasnya sebagai
syahid, mubasyir, nadzir, dai, juga sebagai siraajan muniira, di mana semua
kewajiban yang menjadi tugasnya ini mencerminkan bahwa beliau merupakan pemimpin
yang mempunyai peran yang sangat kompleks. Pada intinya kewajiban-kewajiban itu
semua bermaksud untuk mengajak,menuntut dan mengarahkan membimbing orang lain
dalam mencapai tujuan bersama yakni kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan
inti dari ajakan, seruan dan ancaman yang beliau bawa dan sampaikan merupakan
pelajaran yang berharga yang mengandung unsur pendidikan. Sehingga tidak dapat
disangkal lagi bahwa diutusnya Nabi Muhammad saw. salah satunya yaitu untuk
menjadi pemimpin dengan memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik.
________________________________________
[1] Jalal Al Din
Al-Suyuti, Al-Jami Al-Sagir Fi Ahadis Al-Basyir Al-Nazir, (Qahirah: Dar
al-Qalam, 1996), hlm. 13
[2] QS. Yunus:
72, artinya: “Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah
sedikiitpun dari padamu, upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku
disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri
(kepada-Nya)”.
[3] Soenaryo,
et.al., Op.Cit, hlm. 675
[4] Moenawar
Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw., (Jakarta: Gema Insani Press),
Cet.-1, 2001, hlm. 554
[5] Soenaryo,
et.al., Op.Cit, hlm. 932
[6] Moenawar
Chalil, Op.Cit, hlm. 555
[7] Said bin Ali
bin Muhammad al-Qaththani, Pesan-pesan Rasulullah Menjelang Wafat, Terj. Edi
Bahtiar, (Yogyakarta: Mitra Pustaka), 2002, hlm. 167-168.
SHARE