Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1437 H / 2016 M Membangu Masyarakat Sejahtera dengan Ketakwaan

202
KHUTBAH IDUL FITRI 1 SYAWAL
1436 H / 2015 M
MEMBANGUN MASYARAKAT SEJAHTERA
DENGAN KETAQWAAN
الله أكبر الله أكبر
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً
لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَه، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ
وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ
نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ
الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرُ الصِّيَامِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَجَعَلَ عِيْدَ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِلصَّائِمِيْنَ وَفَرْحَةً لِلْمُتَّقِيْنَ،
أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ
الأَمِيْن، اللهم فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ
آلهِ وَأَصْحَابِ الْكِرَامِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن.
Hadirin Jama’ah ‘Idul Fitri Rahimakumullah
         
Kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala rahmat
dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita semuanya, sehingga pada hari
ini kita bersama dapat duduk bersimpuh mengucapkan takbir, tahmid, tasbih, dan
tahlil sebagai perwujudan dari rasa syukur kita menyelesaikan ibadah shaum di
bulan suci Ramadhan. Dan hari ini kita memasuki hari yang penuh dengan
kebahagiaan rohani, kelezatan samawi dan kenikmatan spiritual, sejalan dengan
firman-Nya pada QS. Al-Baqarah
ayat 185:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: .. وَلِتُكْمِلُوْا
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُ اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.
{البقرة : 185}.
“…Dan hendaknya kamu mencukupkan bilangannya dan hendaknya kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, niscaya kamu
bersyukur”.
(QS.
Al-Baqarah: 185).

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1436 H / 2015 M

الله أكبر الله أكبر
الله أكبر ولله الحمد!

Ibadah
shaum di bulan Ramadhan yang baru saja kita laksanakan, sesungguhnya adalah
suatu proses pendidikan yang berkelanjutan dan berkesinambungan bagi orang-orang
yang beriman yang menghantarkannya pada puncak nilai-nilai kemanusiaan yang
disebut dengan taqwa (لعلكم
تتقون). Taqwa inilah indikator utama kemuliaan, indikator utama
kebahagiaan dan indikator utama kesejahteraan. Firman-Nya dalam QS. Al-Hujurat
ayat 13.
قَالَ اللهُ تَعَاَلَى: يَآأَيـــُّهَا
النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا
وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ
اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ. {الحجرات : 13}.
”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
(QS. Al-Hujurat: 13).

Dengan ketaqwaan yang terus-menerus kita bangun dalam
diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, masyarakat dan bangsa kita, insya
Allah akan menumbuhkan kesejahteraan dan keberkahan hidup yang senantiasa kita
dambakan. Kita menyadari dan kita akui dengan jujur bahwa saat ini dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, keberkahan dan kesejahteraan masih belum
kita raih. Ini terbukti dari jumlah orang miskin yang semakin banyak, angka
pengangguran semakin tinggi, jumlah anak usia sekolah yang tidak bisa sekolah
semakin besar, penduduk yang termasuk tunawisma, tidak memiliki tempat tinggal
yang layak semakin banyak, apalagi kalau kita melihat kriteria rumah tangga
miskin yang saat ini di negara kita mendapatkan uang kompensasi BBM 300 ribu
untuk tiga bulan, ternyata jumlahnya cukup banyak. Dan dibeberapa daerah
tertentu angkanya meningkat sebesar 14,3%. Jika diukur dengan kriteria
kemiskinan antara lain sebagai berikut: Luas tempat tinggal: kurang dari 8m2
perorang, jenis lantai bangunan tempat tinggal adalah tanah/bambu/kayu murahan.
Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu kualitas rendah.
Fasilitas tempat buang hajat sama sekali tidak ada. Sumber penerangan rumah
bukan listrik, sumber air minum adalah sumur atau mata air tidak terlindungi
bahkan kadangkala juga sungai. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah
kayu bakar/arang/minyak tanah, tetapi dengan melonjaknya harga minyak tanah
saat ini banyak yang kembali dengan menggunakan kayu bakar. Tidak pernah
mengkonsumsi daging/susu/ayam, kecuali maksimal seminggu sekali. Tidak pernah
pula membeli pakaian baru, kecuali setahun sekali. Kemiskinan ini semakin
bertambah-tambah dengan banyaknya musibah yang menimpa masyarakat dan bangsa
kita, seperti banjir, longsor, gempa bumi, dan badai tsunami, seperti terjadi
akhir tahun yang lalu terutama di Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias Sumatera
Utara. Ditambah lagi kini semakin banyak para pekerja yang di PHK-kan oleh
perusahaannya masing-masing.

الله أكبر الله أكبر
الله أكبر ولله الحمد!
Hadirin Jama’ah Idul Fitri yang dimuliakan

          Memang kondisi semacam ini terasa sangat ironis dan
sangat kontradiktif jika dikaitkan dengan kondisi tanah negara kita yang sangat
subur, sumber alam yang melimpah ruah dan mayoritas penduduknya beragama Islam.
Tetapi tentu hal ini tidaklah mengherankan jika dilihat dari ajaran Islam itu
sendiri. Di dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayat pun yang mengkaitkan kesuburan
dengan kemakmuran. Artinya negeri yang subur tidak otomatis rakyatnya akan
menjadi makmur. Bahkan kesuburan akan menjadi malapetaka kalau disertai dengan
kekufuran terhadap nikmat Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman Allah pada
QS. An-Nahl ayat 112.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: وَضَرَ بَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً
يَأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ
فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْأ يَصْنَعُوْنَ.
{النحل : 112}.
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah
negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya daya kepadanya melimpah ruah
dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; oleh
karena itu Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan,
disebebabkan apa yang telah mereka perbuat”.
(QS. An-Nahl: 112).
Bahkan sungguh sangat menarik
hasil penelitian Lembaaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2004 yang
menyatakan bahwa di negara kita terdapat empat propinsi yang paling subur,
tetapi ternyata penduduknya paling miskin.

Hadirin Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah

Kemakmuran dan kesejahteraan
sesungguhnya akan bisa dibangun dan diraih melalui perilaku yang baik, yang
berdasarkan iman dan taqwa, seperti kejujuran, kecerdasan (intelektual,
spiritual, emosional, dan sosial), etos kerja yang tinggi, etika berusaha dan
bekerja yang berdasarkan pada nilai-nilai tauhid dan kepekaan sosial yang
tinggi. Di dalam Al-Qur’an dan hadits banyak digambarkan betapa kejujuran
(ash-Shiddiq) akan meraih kebaikan, sebaliknya khianat, dusta, korup dan
mengambil hak orang lain akan menghasilkan berbagai macam keburukan. Rasulullah
Saw. bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ s: عَلَيْكُمْ
بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِىْ إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يـَهْدِى
إِلَى اْلجَنَّةِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدِقُ حَتَّى يُكْتَب عِنْدَ اللهِ صِدِّيـْقًا.
وَإِنَّ الْكَذِبَ يـَهْدِىْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يـَهْدِى إِلَى
النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ  حَتَّى
يُكْتَب عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً . {رواه البخارى}.

“Hendaknya
kalian selalu berusaha menjadi orang yang benar dan jujur, kerena kejujuran
akan melahirkan kebaikan (keuntungan-keuntungan). Dan kebaikan akan menunjukkan
jalan ke surga. Jika seseorang terus berusaha menjadi orang yang jujur, maka
pasti dicatat oleh Allah sebagai orang yang selalu jujur. Jauhilah dusta dan
menipu, karena dusta itu akan melahirkan kejahatan dan kejahatan akan
menunjukkan jalan ke neraka. Jika seseorang terus-menerus berdusta, maka akan
dicatat oleh Allah sebagai orang selalu berdusta.”
(HR.
Bukhari).
          Perhatikan pula firman-Nya
dalam QS. Al-Baqarah ayat 188:
قَالَ اللهُ
تَعَاَلَى: وَلاَ تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا
بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ
بِالإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. {البقرة : 188}.
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain
diantara kamu dengan cara bathil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta
itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang
lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.
(QS. Al-Baqarah: 188).
Hadirin Jama’ah
’Idul Fitri Rahimakumullah

Islam juga mengajarkan etos kerja yang tinggi dengan
mengerahkan segala kemampuan yang ada pada diri kita untuk mempersembahkan yang
terbaik dalam kehidupan ini yang disebut dengan itqan atau ihsan.
Sebagaimana sabdanya:
قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ s: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ
أَحَدَكُمُ الْعَمَلَ أَنْ يُتْقِنَهُ. {رواه الديلمي}.
“Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT
mencintai suatu perbuatan yang dikerjakan secara itqan (profesional)”.
(HR.
Ad-Dailamiy).
Salah satu do’a yang sering dibaca oleh Rasulullah Saw.
adalah do’a terhindar dari sifat lemah, malas, kikir, dan penakut.
قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ s: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ
وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَغَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ،
وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. {رواه البخارى ومسلم}.
“Rasulullah Saw.
bersabda: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari lemah pendirian, sifat
malas, penakut, kikir, hilangnya kesadaran, terlilit utang dan dikendalikan
orang lain.”. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka dan
dari fitnah (ketika) hidup dan mati”.
(HR.
Bukhari dan Muslim).
Disamping etos kerja yang tinggi, juga menumbuhkan etika
bekerja dan etika berusaha. Artinya hanya rizki yang halallah, baik
substansinya maupun cara mendapatkannya yang dicari dan dilakukannya. Karena
disadari, rizki yang halal akan menimbulkan perilaku yang baik, sebaliknya
rizki yang haram akan menimbulkan perilaku yang buruk. Allah berfirman dalam
QS. 2: 168:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَآ أَيــُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فيِ الأَرْضِ
حَلاَلاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ
مُبِيْنٌ. {البقرة : 168}.
“Hai sekalian manusia,
makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah
kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagimu.”
(QS.
Al-Baqarah: 168).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. menyatakan:
قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ s: كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنَ الْحَرَامِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ.{الحديث}.
”Rasulullah Saw. bersabda:
”Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih pantas
baginya”.
(al-Hadits).

الله أكبر الله أكبر
الله أكبر ولله الحمد!
Hadirin Jama’ah ’Idul Fitri Rahimakumullah

Disamping kejujuran, etos kerja, dan etika kerja yang
harus kita bangun, kepekaan sosial pun harus senantiasa kita tumbuhkan. Artinya
rizki yang kita dapatkan bukanlah sekedar untuk diri kita dan keluarga kita,
tetapi disitu terdapat hak orang lain, terutama hak fakir-miskin. Allah SWT
berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 19.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ. {الذاريات :
19}.
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin
yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian”.
(QS. Adz-Dzariyat: 19).
Kepekaan sosial ini ditumbuhkan antara lain dengan cara
memberikan sebagian harta kita kepada mereka yang membutuhkan, terutama
fakir-miskin, baik dalam bentuk zakat ataupun infaq dan shadaqah. Yang perlu
kita sadari bersama adalah bahwa kesediaan berzakat, berinfaq atau bershadaqah
merupakan ciri utama akhlaq orang yang bertaqwa, yang sarana pembangunan ketaqwaan
itu adalah ibadah shaum di bulan Ramadhan. Allah berfirman dalam QS. 3:
133-134.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ
وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُـتَّقِيْنَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فيِ السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ
الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ (134).
{ال عمران : 133-134}.
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu
dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk
orang-orang yang bertakwa (133)
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan
(134)”.
(QS. Ali Imran: 133-134).
الله أكبر الله أكبر
الله أكبر ولله الحمد!
Hadirin Jama’ah ’Iedul Fitri Rahimakumullah

Yang perlu kita sadari adalah bahwa ternyata kesediaan
kita untuk berzakat atau berinfaq akan menimbulkan ketenangan bathin,
kejernihan pikiran, dan bahkan harta kita yang kita infaqkan akan semakin
berkembang dan bertambah keberkahannya. Firman Allah dalam QS. 2: 261 dan QS.
Ar-Rum ayat 39.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ
كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ
وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ. {البقرة : 261}.
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat
gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
(QS. Al-Baqarah: 261).

قَالَ اللهُ
تَعَالَى: وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ
يَرْبُو عِنْدَ اللهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللهِ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ. {الروم : 39}.
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia
bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan
apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan
Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan
(pahalanya)”.
(QS. Ar-Rum: 39).
Mudah-mudahan dengan sifat-sifat tersebut di atas, yang
merupakan sebagian dari sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa, kita bisa
membangun kesejahteraan pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan
bangsa kita. Amien ya rabbal ’alamin.
جَعَلَنَا اللهُ
وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَئِزِيْنَ الأَمِنِيْنَ وَأدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فيِ
زُمْرَةِ الْمُوَحِّدِيْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ الله ِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَلَوْ أَنَّ أَهْلُ الْقَرَى ءَامَنُوْا
وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالأَرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَنُوْا يَكْسِبُوْنَ. وَقُلْ رَبِّ
اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
DO’A
KHUTBAH II IDUL FITRI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ
وَلاَهُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ: أَيــُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ
عَظِيْمٌ، فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، إِنَّ
اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأيــُّهَا الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ
بِإِحْسَانٍِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ
يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Allahumma ya Allah, ya Tuhan
kami. Kami panjatkan segala puji dan syukur atas segala rahmat dan karunia yang
telah Engkau limpahkan kepada kami, nikmat sehat wal ‘afiat, nikmat ilmu
pengetahuan dan nikmat iman serta Islam. Ya
Allah, ya Tuhan kami. Jadikanlah kami semua hamba-hamba-Mu yang pandai
mensyukuri nikmat-Mu, dan janganlah Engkau jadikan kami hamba-hamba yang ingkar
dan kufur terhadap segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.
لَئِنْ شَكَْرْتُمْ
لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ.
Allahumma ya Allah, ya Tuhan
kami. Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, kesalahan dan dosa kedua orang
tua kami, kesalahan dan dosa saudara-saudara kami, kaum muslimin dan muslimat
yang telah melalaikan segala perintah-Mu dan melaksanakan segala larangan-Mu.
Andaikan Engkau tidak mengampuni dan memaafkan kami, kami takut pada adzab-Mu
di akhirat nanti dan pertentangan bathin dalam kehidupan dunia ini. Ya Allah.
Janganlah Engkau limpahkan adzab-Mu kepada kami, karena dosa dan kesalahan
kami. Kami yakin ya Allah, rahmat dan ampunan-Mu jauh lebih luas daripada
adzab-Mu.
Allahumma ya Allah, ya Tuhan
kami. Terimalah segala amal ibadah kami, terimalah ibadah puasa kami, terimalah
shalat kami dan amal ibadah kami yang lain. Ya Allah, jadikanlah kami
hamba-hamba-Mu yang selalu bertaqwa, yang ridha dan ikhlas untuk melaksanakan
segala aturan-Mu, yang ridha dan ikhlas, Islam sebagai ajaran-Mu, yang ridha dan
ikhlas, Al-Qur’an sebagai imam dan petunjuk kami, yang ridha dan ikhlas, Nabi
Muhammad Saw. sebagai panutan kami.
Allahumma ya Allah, ya Tuhan
kami. Berbagai macam ujian dan musibah kini sedang menimpa masyarakat dan
bangsa kami. Kami yakin musibah itu bukan karena Engkau membenci kami, akan
tetapi sebagai peringatan agar kami semua lebih dekat dan lebih cinta
kepada-Mu. Agar kami semuanya lebih memiliki sikap سمعنا وأطعنا akan segala ketentuan-Mu. Agar kami semua kembali
pada agama-Mu, yaitu agama Islam yang Engkau ridhai.
ظَهَرَ الْفَسَادُ
فيِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ
الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. رَبَّنَا هَبْ
لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا
فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
 عِبَادَ اللهِ,
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونْ فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْـئَلُوْهُ مِنْ فَضْـلِهِ
يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
Baca: Panduan Pelaksanaan Sholat Idul Fiti Sesuai Sunnah Nabi SAW


Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1437 H / 2016 M Oleh: Didin Hafidhuddin
SHARE

1 COMMENT