KISAH THALUT DAN JALUT DALAM SURAT AL-BAQARAH AYAT 246-251

1042
 
A.
Pembahasan
Dulu pada zaman Nabi Musa, pengikutnya yang terkenal dengan
sebutan Bani Israel banyak yang membangkang untuk berperang memasuki daerah
Kana’an atau yang sekarang dikenal dengan sebutan Palestina, atas
pembangkangannya itulah akhirnya mereka dihukum oleh Tuhan dengan terperangkap
di Gurun Sinai selama 40 tahun. Sepeninggal Nabi Musa dan Nabi Harun, Bani
Israel dipimpin Yasyu’, Yusya’ alias Joshua bin Non yang berhasil memimpin
penaklukan daerah sekitarnya mulai Amaliqoh, Madyan, Aram, dan lainnya, bahkan memimpin
memasuki Palestina. Setelah Yusya’ dan para pemimpin lainnya meninggal dunia
mereka terpecah-pecah, terlibat dalam konflik akut, serta melupakan ajaran
Taurat. Alhasil, ketika terjadi perang kembali dengan orang Palestina pimpinan
Jalut, Bani Israel ditimpa kekalahan yang menghinakan. Wanita dan anak cucu
mereka dihinakan dan peti yang isinya catatan perintah Tuhan (baca Taurat) juga
dirampas, dibawa ke rumah Dajon, tuhan orang Palestina.[1]
Dalam situasi kenestapaan dan kehinaan, ia meminta pada orang
paling shalih di antara mereka, Nabi Syamuil[2], agar diangkatkan
untuk mereka seorang raja, memimpin perang mengembalikan kehormatan. Namun, Syamuil
mengatakan, “Adalah mungkin sekali kalian akan udhur diri, ketika kalian diajak
berperang, persis seperti di era Musa.”(Q.S. Al Baqarah: 246). Menanggapi
sindiran ini Bani Israel menjawab, “Apa mungkin kami udhur diri padahal perang
justru untuk merebut kembali kehormatan kami?”[3]
Akhirnya, disampaikan oleh Syamuil kepada mereka, akan datang seorang
pemimpin bernama Thalut, yang mempunyai tugas untuk menyatukan kalian semua dan
menjadi raja pertama.[4]
1.
Riwayat Hidup Thalut Sebelum Menjadi Raja
Thalut semula adalah anak desa dari golongan Bani Israel, bahkan
anak seorang yang tak punya. Jangankan ia akan di kenal sebagai seorang
pemimpin, dalam pergaulan sehari-hari saja, jarang orang yang kenal kepadanya.
Tetapi dia adalah seorang yang berbadan kuat dan sehat, tinggi dan gagah
perawakannya, matanya tajam, pikirannya pun luas dan tajam pula. Dan juga, dia
mempunyai hati yang suci dan bersih, budi pekerti yang halus dan agung. Dia
tinggal di desa kecil bersama ayahnya. Pekerjaannya bertani dan beternak.[5]
Pada suatu hari ketika dia sedang berada dalam kandang keledai
bersama ayahnya, ternyata keledai betinanya tidak berada dalam kandang, mungkin
keledai itu tersesat ke kampung lain. Dengan ditemani oleh seorang anak,
pergilah dia mencari keledai itu di tengah-tengah padang yang luas dengan
menyeberangi jurang dan mendaki gunung.[6]
Berhari-hari mereka mencarinya, sampai luka-luka kedua kakinya,
sehingga seluruh badan merekapun terasa capek dan letih, namun keledai itu
belum juga di temukannya.
Lalu,
dia berkata kepada seorang anak yang bersamanya: “Marilah kita pulang, mungkin
ayah telah khawatir terhadap kita karena berhari-hari belum pulang.[7]
Kemudian anak itu menjawab: “Sekarang ini kita sudah sampai di
sebuah desa yang bernama Shofa, di mana Nabi Allah yang bernama Syamuil tinggal
di sana. Lebih baik kita bertemu dulu dengan Nabi yang mulia itu, kemudian
bertanya kepadanya tentang keledai kita yang hilang. Semoga turun malaikat
kepadanya membawa wahyu, sehingga dapat memberi petunjuk kepada kita tentang
keinginan kita ini.[8]
Setelah mendengar ucapan yang seperti itu, muncul kembali harapan
dalam hati Thalut. Lalu, keduanya berjalan lagi dan bertanya keberadaan dari rumahnya
Nabi Syamuil tersebut.[9]
Tiba-tiba keduanya bertemu dengan dua orang anak perempuan yang
sedang mencari air di sungai, mereka meminta untuk di tunjukan rumahnya Nabi
yang mulia tersebut. Anak itu pun menjawab, barang siapa yang ingin bertemu
dengan Nabi Syamuil, maka harus menunggunya di puncak bukit tempat berdirinya
mereka.[10]
Dan kemudian tahulah Thalut, bahwa itu adalah Nabi Syamuil, yang
sudah terlihat tanda-tanda kenabiannya dari orang-orang yang ditemuinya dan
juga menurut keterangan dari kedua anak perempuan itu.[11]
Mereka berdua saling memandang dan terikatlah antara keduanya hati
yang bersih, jiwa yang saling tertarik, walaupun mereka belum pernah bertemu
sebelumnya. Dan Syamuil pun juga tahu bahwa itu adalah Thalut yang pernah di
wahyukan Allah kepadanya, untuk dijadikan seorang raja, sebagai pemimpin dan
jenderal bagi bangsa Israel yang membutuhkan pimpinannya itu.[12]
Setelah itu Thalut bertanya, bahwa maksud kami menemui Tuan adalah
untuk bertanya mengenai keledai ayahku yang hilang di padang yang luas ini.
Apakah Tuan dapat memberi tahu kepada kami dengan ilmu tinggi yang Tuan miliki.[13]
Kemudian Syamuil menjawab, keledai kalian yang hilang itu sekarang
telah berjalan pulang menuju kandangnya. Janganlah engkau bersusah payah untuk
mencarinya lagi. Di sini saya ingin bertemu denganmu untuk sebuah urusan yang
lebih penting dan mulia. Bukan mengenai keledai yang hilang, akan tetapi
mengenai sebuah urusan kemerdekaan yang sudah lama hilang. Dan bahwa Allah
telah memilihmu menjadi raja bagi Bani Israel untuk menyatukan mereka, lalu
menyusun kekuatannya untuk menghadapi musuh-musuh yang sudah menjajah dan
mengusir mereka dari tanah airnya sendiri. Disamping itu juga, Allah telah menjanjikan
pertolongan-Nya kepada engkau dengan mendapatkan
kemenangan di dalam pertempuran melawan penjajah itu.[14]
Dan Thalut menjawab: “Apakah saya akan menjadi raja, pemimpin dan
jenderal mereka? Saya ini adalah keturunan Bunyamin adik dari Nabi Yusuf, orang
yang terhina dalam kalangan bangsa-bangsa yang 12 suku (asbath), paling
miskin dan melarat, bagaimana saya dapat menjadi raja untuk memegang pimpinan
atas bangsa yang besar ini?”[15]
Kemudian Syamuil berkata: “Ini adalah atas iradat dan wahyu
Allah”, sudah menjadi perintah Allah dan kehendak-Nya, hendaklah engkau
bersyukur atas nikmat Allah itu dan membulatkan tekadmu untuk memimpin
perjuangan yang hebat ini.[16]
Sesudah Syamuil dan Thalut berjabat tangan, keduanya lalu pergi
menemui bangsa Israel. Nabi Syamuil bersabda kepada mereka: “Hai Bani Israel,
Allah telah mengutus Thalut untuk menjadi raja bagi kalian semua, dia sekarang
berhak untuk memegang pimpinan atasmu, maka hendaklah kamu sekalian tunduk dan
taat terhadap pimpinanmu ini dan bersiaplah untuk menghadapi musuh-musuhmu di
bawah komandonya.”[17]
Thalut adalah seorang pemimpin yang memiliki loyalitas dan
semangat juang yang tinggi serta wawasan yang luas, terutama dalam bidang
politik dan kemasyarakatan. Dengan kelebihannya itu ia berhasil menghimpun
kekuatan Bani Israel untuk melepaskan diri dari penjajahan Jalut.[18]
2. Riwayat Hidup Jalut
Jalut terkenal dengan nama Goliath, adalah seorang pemimpin perang
bangsa Palestina yang terkenal kejam, bengis dan tak berperi kemanusiaan. Jalut
muncul, sebagai diperkirakan orang, sekitar abad ke-11 SM. Ia merupakan lawan
dari Thalut yang ditunjuk Tuhan menjadi raja pertama Bani Israel melalui
wahyu-Nya lewat Syamuil. Dalam sebuah pertempuran, Jalut dibunuh oleh seorang
pemuda yang menggabungkan dirinya dalam pasukan Thalut, bernama Dawud; putra
seorang yang shalih.Daud menghancurkan kepala Jalut dengan batu-batu besar yang
dilemparkan kepadanya.[19]
Diungkapkan dalam riwayat, bahwa keberanian Dawud untuk
membinasakan Jalut bangkit karena Thalut sangat mengharapkan adanya seorang
tentara yang sanggup membunuh Jalut. Bahkan Thalut mengeluarkan suatu maklumat:
“Barangsiapa sanggup membunuh Jalut, sehingga kaum beriman terpelihara dari
tipu-dayanya, akan dikawinkan dengan salah seorang putrinya, dan akan
diangkatnya menjadi raja sesudahnya.”[20]Terbunuhnya
Jalut oleh Dawud semakin memantapkan kedudukan Thalut
sebagai raja bani Israel yang pertama. Kekuasaan kemudian berpindah ke tangan
Dawud. Dalam al-Qur’an, kehadiran pasukan Jalut melawan tentara Thalut ini
adalah sesudah berlalunya kurun Nabi Musa. Kisahnya diungkapkan kembali oleh
Allah, dalam Surah al-Baqarah, ayat 247-251.[21]
3. Kisah Dari Thalut dan Jalut dalam Al-Qur’an.
Sebagaimana di atas bahwa kisah dari Thalut dan Jalut di dalam
al-Qur’an terdapat dalam Surah al-Baqarah ayat 246-251, yang adapun bunyinya
sebagai berikut:
أَلَمْ
تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا
لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ
هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا قَالُوا
وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن
دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا
إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ  وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ [٢:٢٤٦]
Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka
Bani Israil sesudah nabi Musa, yaitu ketika mereka Berkata kepada seorang nabi
mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah
pimpinannya) di jalan Allah”. nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali
jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. mereka
menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal
Sesungguhnya kami Telah diusir dari anak-anak kami?”[22].
Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali
beberapa saja di antara mereka. dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang
yang zalim.
وَقَالَ
لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا  قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ
عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ
الْمَالِ
قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ
وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ  وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ  وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [٢:٢٤٧]
Artinya: Nabi mereka mengatakan kepada
mereka: “Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.”
mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih
berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi
kekayaan yang cukup banyak?” nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya
Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang
perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
وَقَالَ
لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ
سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ
تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن
كُنتُم مُّؤْمِنِينَ [٢:٢٤٨]
Artinya:
Dan nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan
menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan[23] dari Tuhanmu
dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa
malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu
orang yang beriman.
فَلَمَّا
فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن
شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا
مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا
مِّنْهُمْ
فَلَمَّا
جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ
بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم
مُّلَاقُو اللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ
اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ [٢:٢٤٩]
Artinya: maka tatkala Thalut keluar membawa
tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu
sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. dan
barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, Maka dia adalah
pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara
mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia Telah
menyeberangi sungai itu, orang-orang yang Telah minum berkata: “Tak ada
kesanggupan kami pada hari Ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” orang-orang
yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak
terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan
izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”
وَلَمَّا
بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا
وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ [٢:٢٥٠]
Artinya:
Tatkala Jalut dan tentaranya Telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan
tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami,
dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang
kafir.”
فَهَزَمُوهُم
بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ
وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ  وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم
بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى
الْعَالَمِينَ [٢:٢٥١]
Artinya:
Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam
peperangan itu) Daud membunuh Jalut, Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud)
pemerintahan dan hikmah[24]
(sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang
dikehendaki-Nya. seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat
manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah
mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.
Dari ayat di atas dapat difahami bahwa Thalut dijadikan raja
pertama untuk memimpin Bani Israel melawan Jalut dan tentaranya. Namun, pada
waktu itu Bani Israel langsung menentang dan melanggar sumpah serta janjinya
sendiri, karena Thalut dianggap bukan dari keturunan terhormat. Sebab,
raja-raja Bani Israel kekayaan adalah ukuran keutamaan dan kemuliaan bagi
mereka.[25]
Dan juga karena di sini Bani Israel mempunyai calon yang lebih
baik untuk dijadikan raja dan pemimpin menurut mereka, yaitu anak Lawei
keturunan dari segala Nabi dan Rasul, keturunan Jahuza yang selamanya memegang
tampuk pimpinan dan keturunan raja-raja pula. Maka, atas dasar itulah mereka
menentang Thalut untuk menjadi raja pertama bagi mereka, karena Thalut seorang
yang miskin dan tak punya, bukan keturunan dari kalangan orang terhormat,
bertangan kosong, serta tak mempunyai kekayaan untuk menjalankan pemerintahan.
Sedang orang yang mereka usulkan adalah mempunyai kebesaran dan hartawan, serta
mempunyai pengaruh terhadap orang banyak.
Kemudian Syamuil menjawab, “Untuk menjadi seorang panglima perang
dan kepala Negara, tidak membutuhkan syarat kebangSawanan dan kehartawanan,
walaupun itu semua ada, akan tetapi kalau seseorang tidak mempunyai
kebijaksanaan dan kemampuan, maka tidak akan dapat menjadi raja yang baik.
Bahkan darah bangSawan itu banyak yang menyebabkan seorang penakut, dan harta
benda yang banyak menjadikan orang berotak tumpul. Adapun Thalut ini, Allah
telah melebihkannya di banding dengan kamu sekalian, karena ia memiliki
kekuatan dan kesanggupan, berupa badan yang kuat serta sehat, pemikirannya yang
luas, panjang akalnya, kuat jiwanya serta tabah hatinya, sehingga hanya dialah
yang pantas memimpin dan memerintah atas kamu sekalian.” Dan Allah telah
menetapkan dia menjadi raja. Dan Allah akan menyerahkan kekuasaan kepada siapa
saja yang di kehendaki-Nya. Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
Dialah yang mengetahui kebaikan dan bagaimana urusan itu diletakkan pada posisinya
secara proporsional.[26]
Ini adalah urusan untuk meluruskan pandangan yang semrawut dan
untuk menerangi kegelapan. Akan tetapi, karakter dari Bani Israel telah dimengerti
oleh Nabi mereka, bahwa mereka tidak layak untuk menyandang hakikat-hakikat
yang tinggi itu sendirian. Mereka sedang menghadapi peperangan. Maka, harus ada
suatu hal yang luar biasa yang dapat menggoncang hati mereka untuk
mengembalikan kepercayaan dan keyakinannya.
Sebagaimana dalam ayat 248, yakni dengan datangnya Tabut[27] kepada mereka. Di
dalam kisahnya, awalnya Bani Israel diusir oleh kaum Amaliqah (orang Palestina)
dari tanah suci mereka sendiri, yang mana sudah mereka taklukkan di bawah
pimpinan Nabi mereka Yusya’ sesudah masa mereka terkatung-katung di Padang Tih
(kebun teh) dan setelah wafatnya Nabi Musa a.s., dan benda suci dari tangan
mereka yang berupa tabut (kotak) tempat menyimpan peninggalan nabi-nabi mereka
dari keluarga Nabi Musa dan Nabi Harun itu pun juga dirampas. Ada yang mengatakan
bahwa tabut itu berisi kepingan-kepingan papan naskah yang di berikan Allah
kepada Nabi Musa di gunung Thur.
Maka, Nabi mereka menunjukkan kepada mereka suatu tanda dari
Allah, yaitu terjadinya suatu hal yang luar biasa yang dapat mereka saksikan.
Hal itu adalah didatangkannya “tabut” dengan isinya yang “di bawa
oleh Malaikat
” di letakkan di sisi Thalut, sehingga hati mereka menjadi
tenang. Berkatalah Nabi mereka, “Sesungguhnya tanda ini sudah cukup untuk
menunjukkan bahwa Allah benar-benar telah memilih Thalut jika kamu benar-benar
beriman.”[28]
Kemudian Thalut mempersiapkan tentaranya yang tidak berpaling dari
kewajiban jihad dan tidak merusak janjinya kepada Nabi mereka sejak awal
perjalanannya. [29] Dan Thalut
berpidato di hadapan mereka, menerangkan syarat-syarat tentara yang dia
kehendaki: “Hai rakyatku sekalian, dalam ketentaraan yang telah aku susun ini,
tidak boleh ikut serta menjadi anggotanya bagi orang-orang yang masih ragu-ragu
dan tidak penuh semangatnya, orang-orang yang telah meminang seorang perempuan
tapi belum menikah dengan perempuan tersebut, atau orang-orang yang mempunyai
dagangan, sedang hatinya masih selalu kepada dagangannya itu!”[30]
Setelah syarat-syarat tersebut dipenuhi dengan baik, maka
terbentuklah suatu tentara yang berdisiplin untuk berperang melawan Jalut dan
tentaranya—yang menurut Qatadah berjumlah 80.000 orang,[31] terdiri dari
orang-orang yang benar-benar kuat hati dan bernyala-nyala semangatnya, yang
diharapkan mampu mengendalikan syahwat dan keinginan, yang tegar menghadapi
kesulitan dan penderitaan, serta mampu mengungguli semua kebutuhan dan
keperluan, dan lebih mengutamakan ketaatan dalam mengemban tugas-tugas dan
tanggung jawabnya sehingga mampu melewati ujian demi ujian nantinya. Pemimpin
yang telah dipilih untuk mereka itu harus menguji iradah tentaranya, meliputi
ketabahan dan kesabaran. Sang pemimpin (Thalut) memilih percobaan ini,
sedangkan mereka sebagaimana dikatakan dalam beberapa riwayat sedang kehausan,
dengan maksud untuk mengetahui siapa orang yang sabar bersamanya dan siapa
orang yang akan surut ke belakang dan lebih mengutamakan keselamatan dirinya
sendiri.
Benarlah firasatnya, Ketika telah melewati sungai yang terletak diantara
Yordania dan Palestina[32] yang mengalir
deras, yang berada di gurun pasir dan padang tandus yang gersang. Dengan penuh
kehausan, akhirnya mereka minum air sungai tersebut hingga puas dan hilang
dahaganya. Yang pada mulanya Thalut memperbolehkan mereka minum, namun hanya
dicukupkan seciduk tangan saja untuk membasahi tenggorokannya. Akan tetapi
mereka nekad meminumnya, kecuali 4000 orang yang tetap disiplin, teguh
pendirian dan patuh pada pemimpinnya. Sedangkan yang 76000 orang telah
membangkang akan perintah Thalut dengan meminum air sepuas-puasnya. Sehingga
mereka kekenyangan dan tidak dapat melanjutkan
perjalanan.[33]
Kemudian Thalut melanjutkan perjalanan dengan hanya di sertai sisa
pasukannya yang sedikit tapi masih setia dan loyal untuk memerangi Jalut. Demikianlah,
“Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak”.
Inilah golongan kecil yang percaya penuh akan bertemu dengan Allah, yang
mengembangkan semua kesabaran dan keyakinannya terhadap pertemuan ini, yang
menyandarkan semua kekuatannya dari izin Allah, bahwa Allah senantiasa beserta
orang-orang yang sabar, mantap dan mempunyai kepercayaan yang utuh. Kemudian
mereka berdo’a yang intinya adalah meminta kepada Allah untuk diberikan
kesabaran, teguh pendirian serta optimis dan pertolongan dari-Nya untuk menghadapi musuh-musuh mereka yang
kafir sebagaimana dalam ayat 251 di atas.
Maka, tidak ada kegamangan dalam hati, tidak ada kesamaran dalam
pandangan, dan tidak ada keraguan tentang lurusnya tujuan dan terangnya jalan
yang di tempuh. Kemenangan itu pun kemudian Allah berikan kepada para pemberani
yang gigih berjuang di atas jalan kebenaran. Pasukan Thalut yang sedikit dan
kelihatan lemah itu akhirnya dapat mengalahkan tentara Jalut yang banyak dan terlihat
sangat kuat tersebut.[34]
Setidaknya dari paparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa di
dalam
Kisah
Thalut dan Jalut ada beberapa unsur yang perlu digaris bawahi. Diantara:
1.
Ada
unsur Dialog
Hal
ini terlihat ketika bani israil meminta kepada nabi syuaib menunjuk seorang
pemimpin. Nabi syuaib menunjuk Thalut tapi bani israil sendiri menolak dengan
mengatakan:
أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ
أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ
Artinya:
“Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan
pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup
banyak?
Nabi
mereka hanya menjawab:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ
وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ
Artinya:
Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan
tubuh yang perkasa.
2.
Dalam
kisah tersebut juga setidaknya ada 3 nasehat bagi seseorang yang ingin
menghadapi musuh dalam peperangan:
a. Sabar
Adapun
kesabaran yang terdapat dalam kisah Thalut dan Jalut di atas adalah, terlihat
dalam sikap Thalut dan tentaranya yang tahan di dalam menghadapi cobaan dan
ujian ketika mereka dihadapkan pada sungai yang mereka lewati dan dalam keadaan
yang sangat haus mereka di larang meminum banyak air dari sungai itu, akan
tetapi hanya dibolehkan satu cakupan tangan saja. Bagi orang yang tahan menghadapi
cobaan, mereka tetap sabar untuk tidak meminum air sungai tersebut secara
berlebihan, walaupun kehausan yang mereka alami begitu berat, namun bagi mereka
yang tidak sabar mereka tetap meminum banyak dari air sungai tersebut sampai
akhirnya kekenyangan dan tidak dapat lagi melanjutkan peperangan melawan Jalut
dan tentaranya. Di sinilah letak ujian yang berat bagi mereka agar tetap
bersabar menghadapi cobaan untuk meraih kemenangan pada akhirnya.
b. Teguh Pendirian
Teguh
pendirian dalam kisah di atas terlihat dari pendiriannya yang tidak mudah
tergoyahkan untuk tetap berperang melawan Jalut dan tentaranya, melawan
orang-orang kafir. Cobaan berupa kehausan, kepanasan, materi dan bahkan ancaman
nyawa. Namun akhirnya cobaan demi cobaan dapat mereka hadapi dengan kegigihan
dan teguh pendirian untuk tetap berjuang menegakkan kebenaran dan meraih kemenangan
dengan ijin dari Allah, walaupun sebagian besar tentara yang maju dari awal,
ketika ditengah perjalanan peperangan tersebut banyak yang memilih jalannya
sendiri, yaitu mengundurkan diri karena tidak kuasa menghadapi cobaan yang
mendera.
Dan
dalam kitab Riyadhus Shalikhin, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim
dari Abu Hurairah, sebagai berikut:
Artinya: Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah
Saw bersabda: “Biasa-biasa sajalah kamu sekalian di dalam mendekatkan diri
kepada Allah dan berpegang teguhlah kamu sekalian terhadap apa yang kalian
yakini: ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun di antara kamu sekalian yang
selamat karena amal perbuatannya”(HR. Muslim).[35]
c. Optimis
Dari kisah di atas sifat optimis terlihat dari sikapnya
yang selalu berharap dan minta pertolongan hanya kepada Allah, agar jangan
sampai patah semangat dalam melawan Jalut dan tentaranya yang tidak sebanding
dengan tentaranya Thalut yang semakin sedikit karena tidak kuasa menahan cobaan
dan menghadapi ujian yang di berikan oleh Allah, dan mereka tetap optimis
dengan sifat-sifat tersebut mereka dapat mengalahkan Jalut beserta tentaranya
atas bantuan dan ijin dari Allah semata. Dengan optimis dan keyakinan untuk meraih
kemenangan inilah, kemenangan yang sejati akan dapat diraih. Kemenangan untuk
mengalahkan musuh negara dan musuh yang sebenarnya, yaitu hawa nafsu yang
selalu bersemayam dalam hati setiap manusia.
3.      Dalam kisah Thalut yang dituturkan diatas selain untuk memberi
nesahat dan teladan. Kisah ini di dalamnya terdapat tuntunan-tuntunan yang
dapat diambil hikmahnya. Banyak pelajaran dari orang-orang dahulu yang hidup
pada masa Thalut. Seperti halnya ketika Thalut diangkat menjadi raja. Banyak
yang mempertentangkannya, karena Thalut bukanlah dari kalangan bangsawan dan
hartawan. Tetapi Allah telah melebihkannya dengan ilmu dan tubuh yang kuat.
Dari sini bisa diambil
pelajaran bahwa syarat mutlak untuk menjadi raja atau pemimpin bukanlah
kebangsawanan dan kehartawanan. Karena sekalipun orangnya bangsawan dan
hartawan, tetapi tidak mempunyai kebijaksanaan dan kemampuan, maka akan sulit
menjadi raja atau pemimpin yang dapat memimpin rakyatnya dengan baik. Bahkan
darah bangsawan itu banyak menjadikaan orang berotak tumpul, sehingga pendek
pemikirannya, pendek akalnya serta tidak sehat jiwanya.[36]
4.      Di samping itu, kisah Thalut juga mengandung anjuran/tarhib untuk
berdoa di setiap keadaan yang kita hadapi. Hal ini terlihat ketika Thalut dan
tentaranya menghadapi tentara Jalut yang jumlahnya sangat banyak, mereka berdoa
kepada Allah agar diberi kesabaran dan pertolongan oleh Allah. Disamping
itupula terdapat anjuran untuk berperang dengan gerakan-gerakan yang sesuai
dengan ajaran al Qur’an.[37]
5.      Unsur yang keenam yaitu terdapat usur tarhib atau ancaman yang
tersirat dalam kisah Thalut dan Jalut hal ini terlihat dalam ayat berikut:
فَلَمَّا
كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ  وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ] ٢:٢٤٦]
Artinya: Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun
berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. dan Allah Maha mengetahui siapa
orang-orang yang zalim.
Secara tersirat Ayat tersebut menunjukkan jika mereka tidak mau
berperang maka mereka termasuk orang zalim dan akan diazab diakhirat kelak.
B.
Pelajaran Yang dapat diambil dari kisah Thalut Dan Jalut
Dari kisah di atas terdapat hikmah yang sangat tinggi, apabila difahami
tentang nilai-nilai pelajaran yang terkandung di dalamnya. Ketika kita
menghadirkan dalam diri sendiri sebuah renungan bahwa al-Qur’an itu adalah
kitab suci umat, pemimpinnya yang setia menasihati, madrasahnya di mana umat
ini dapat menemukan pelajaran hidupnya, Allah Swt mendidik masyarakat muslim
pertama dengan al-Qur’an itu, yang telah memberikan taufik kepada mereka untuk
menegakkan konsepsinya (manhaj-nya) di muka bumi dan menumpukan semua
peran besar ini kepada al-Qur’an, setelah dipersiapkan untuk mereka.
Sesungguhnya Allah Swt menginginkan al-Qur’an menjadi pemandu yang
tetap hidup setelah wafatnya Rasulullah Saw untuk membimbing generasi umat ini
dan untuk mendidik dan mempersiapkannya memegang peran kepemimpinan yang arif
yang telah dijanjikan-Nya, selama mereka mengikuti petunjuk-Nya, memegang
janji-Nya, dan menyandarkan semua hidupnya kepada al-Qur’an, merasa bangga
dengannya, dan menjunjungnya di atas semua konsepsi dunia yangbersifat jahiliyah.
Thalut merupakan simbol dari kelompok mukmin sedangkan Jalut
adalah simbol kelompok kafir. Kekuatan yang dimiliki oleh Thalut dan tentaranya
tidaklah besar apabila dibandingkan dengan Jalut dan tentaranya. Beberapa pesan
moral dari kisah Thalut yang dapat diambil pelajaran bagi masyarakat muslim di
setiap masa adalah:
1.      Pengujian semangat lahiriah dan emosi yang menyala-nyala pada jiwa
kelompok masyarakat, hendaklah tidak berhenti pada ujian pertama.
2.      Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki ilmu yang luas
sehingga dapat mengendalikan pemerintahan dengan baik.
3.      Ukuran kekuatan bukan berada di tangan orang-orang kafir yang berjumlah
lebih banyak, melainkan di tangan Allah semata.
4.
Dalam berjihad
kondisi kejiwaan dan aspek spiritual dan kesabaran lebih diutamakan daripada
mengandalkan kondisi eksternal materi.
5.
Larangan menghina sesama manusia.
6.
Bergaul dengan sesama manusia tidak membedakan pangkat dan
harta
7.
Memperbanyakkan doa dan munajat sebagai lambang pergantungan
yang tinggi kepada Allah s.w.t.
8.       Bersabar pada setiap ujian hidup dan
selalu bertawakal pada Allah swt.
9.
Anjuran bersifat optimis dan teguh pendirian dalam menghadapi
rintang dan masalah.[38]
C.
Doa
Didalam kisah Thalut dan Jalut
terdapat suatu hikmah bahwa dianjurkan berdoa ketika dalam menghadapi musibah
hal ini terlihat dalam surat al-Baqarah ayat 251 yang berbunyi:
وَلَمَّا
بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا
وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ [٢:٢٥٠]
Artinya:
Tatkala Jalut dan tentaranya Telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan
tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami,
dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang
kafir.”
Sumber
Tulisan
1.
Dhuroruddin Mashad, Mutiara Hikmah Kisah 25 Rasul, Jakarta:
Erlangga, 2003.
2.
Bey Arifin, Rangkaian Kisah Dalam Al-Qur’an, Surabaya:
al-Ma’arif, 1963.
3.
Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia,
Jakarta: Djambatan, 1992.
4.
Imam
Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin Abdurrahman Ibn
Abu Bakar, Tafsir Jalalain, Bandung: Al-Ma’arif, tt.
5.
Syaikh
Muhammad bin Ahmad bin Ilyas, Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang
Zaman,
Bandung: Pustaka Hidayah, 2002.
6.
Sayyid
Quthb, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an – Di bawah Naungan Al-Qur’an – Jilid II,
Jakarta: Gema Insani, 2000.
7.
Imam
Abu Al-Fada’ al-Hafidh Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azdim, Juz. I.,
Beirut: Darul Fikr, 1992.
8.
Abdullah Gymnastiar, 10 Sikap Positif Menghadapi Kesulitan
Hidup,
Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2003.
diajukan sebagai tugas mata kuliah metodologi dakwah di PUTM

 

[1] Dhuroruddin Mashad, Mutiara Hikmah Kisah 25 Rasul,
(Jakarta: Erlangga, 2003), hlm. 180.
[2] Orang Barat menyebutnya dengan nama Samuel.
[3] Dhuroruddin Mashad, Mutiara Hikmah,…hlm 180.
[4] Ibid
[5] Bey Arifin, Rangkaian Kisah Dalam Al-Qur’an,
(Surabaya: al-Ma’arif, 1963), hlm. 184-186.
[6] Ibid
[7] Ibid
[8] Ibid
[9] Ibid
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Ibid
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Ibid
[16] Ibid
[17] Ibid
[18] Harun Nasution, Ensiklopedi Islam
Indonesia
, (Jakarta: Djambatan, 1992), hlm.923.
[19] Ibid.hlm. 478.
[20] Ibid.
[21] Ibid.
[22]
Maksudnya: mereka diusir dan anak-anak mereka ditawan.
[23]
Tabut
ialah peti tempat menyimpan Taurat yang membawa ketenangan bagi mereka.
[24]
Yang dimaksud di sini ialah kenabian dan Kitab Zabur
[25] Dhuroruddin
Mashad, Mutiara Hikmah,…hlm 180.
[26] Bey
Arifin, Rangkaian Kisah Dalam,… hlm. 186.
[27]
Dalam Kitab Tafsir Jalalain disebutkan bahwa, Tabut adalah kotak yang berisi di
dalamnya naskah-naskah para  Nabi yang
diturunkan oleh Allah kepada Nabi Adam AS. Lihat: Imam Jalaluddin Muhammad Ibn
Ahmad Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin Abdurrahman Ibn Abu Bakar, Tafsir
Jalalain
, (Bandung: Al-Ma’arif, tt), hlm.38.
Sedangkan
menurut As-Sadi yang dikutip oleh Muhammad bin Ilyas mengatakan, tabut
as-Sakinah
tingginya sekitar tiga siku dan lebarnya dua siku. Ia terbuat
dari kayu Syahsyad. Menurut sebuah kisah, di dalamnya ada sandal dari Nabi
Musa, potongan tongkatnya, serban Nabi Harun, dan potongan manna yang di
turunkan kepada bani Israel sewaktu berada di kebun Teh. Tabut ini, apabila
mereka simpan di depan mereka (Bani Israel) sewaktu berperang, maka mereka bisa
mengalahkan musuh-musuh mereka. Lihat: Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ilyas,
Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman,
(Bandung: Pustaka Hidayah,
2002), hlm. 272.
[28]
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an – Di bawah Naungan Al-Qur’an
Jilid II, (Jakarta: Gema Insani, 2000), hlm. 180-181.
[29] Ibid,
hlm. 181.
[30] Bey
Arifin, Rangkaian Kisah Dalam,… hlm. 187.
[31]
Imam Abu Al-Fada’ al-Hafidh Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azdim, Juz.
I., (Beirut: Darul Fikr, 1992., hlm. 373.
[32] Seperti dikutip dari Ibnu Abbas oleh Ibnu Katsir,
op. cit.
[33]
Imam Abu Al-Fada’ al-Hafidh Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an,…hlm. 373.
[34] Abdullah Gymnastiar, 10 Sikap Positif Menghadapi
Kesulitan Hidup,
(Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2003), hlm. 77.
[35]
Muhyiddin Abu Zakariya Ibn Syaraf al-Nawawi, Riyadlus Shalikhin,
(Pekalongan: Toko Kitab Raja Murah, tt), hlm. 59.
[36]
Bey
Arifin, Rangkaian Kisah Dalam,… hlm. 214
[37]
Shalah
al Khalidi, Kisah-Kisah Al Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999),
hlm. 322
[38]
Ibid., hlm. 327-339
SHARE