Konsep Intuisi Menurut al-Attas

45
Syed Muhammad Naquib al-Attas termasuk ilmuan Islam kontemporer yang
mempunyai pemikiran mendalam, detail dan cukup rumit. Bagi orang orang
yang akrab dengan pemikirannya mungkin dengan mudah menelusuri alur
diskusi yang dikembangkannya. Namun bagi yang belum terbiasa akan
menemukan batu sandungan dalam memahaminya. Termasuk dalam hal ini
adalah tentang intuisi. Tulisan ini ingin mengungkap secara singkat apa
sebenarnya yang dimaksud intuisi dalam pemikiran al-Attas? Di mana
posisi intuisi dalam keilmuan? Dan apa pentingnya intuisi ini?
Intuisi bagi al-Attas adalah pemerolehan ilmu di peringkat yang
tinggi, iaitu di peringkat istimewa yang hanya dialami oleh orang-orang
tertentu (khawas atau khawas al-khawas), di mana sampainya ilmu
merupakan proses yang cepat dan langsung tanpa batas-batas sujek-objek,
partikular-partikular, dan keberagaman pada aspek eksternal manusia.
Inilah intuisi yang merupakan kondisi ihsan bagi kalangan Sufi.
Berkaitan dengan hakekat intuisi ini,
al-Attas kemudian mengatakan bahwa ilmu itu “The arrival in the soul of
the meaning of a thing or an object of knowledge; and the arrival of the
soul at the meaning of a thing or an object of knowledge.” (lihat
al-Attas dalam The Concept of Education, h. 17)
Melalui informasi dari wahyu, al-Attas menyatakan, intuisi ini sangat
mungkin terjadi kepada manusia. Ini bisa dilihat dari tiga konsep yang
berkaitan erat dengan pembahasan intuisi ini, yakni tentang kosmologi
(cosmology); tentang eksistensi manusia (human existence); dan tentang
adanya peran dominan di luar akal diri manusia (beyond human mind). Dari
sisi kosmologi, manusia dan makluk yang lain adalah entitas terendah
dari tingkatan-tingkatan kewujudan dalam kosmos Allah. Oleh karena itu,
apabila menyadari tentang hal ini, maka ada kemungkinan besar,
berdasarkan sudut pandang eksistensi diri manusia yang boleh melintasi
pengalaman fisik, maka kemungkinan sampainya manusia kepada makna-makna
intuitif itu sangat besar. Belum lagi, ketika dominasi peranan di luar
diri manusia memang tidak boleh dibantah lagi, apakah itu yang disebut
Ruh al-Quds, ’Alam al-Mithal dan al-Mala’ al-A’la, apabila manusia
betul-betul menyadari ini dan mencoba melaksnakan peraturan agama dengan
baik, menghindari diri dari larangan Allah, maka ilmu intuitif itu akan
semakin nyata baginya. Oleh karena itu, untuk memperoleh pengalaman
intuitif ini, perlu persiapan, latihan, dan pendisiplinan diri
seseorang.
Terkait dengan dengan hal ini, al-Attas menyatakan: “Intuition comes
to a man when he is prepared for it; when his reason and experience are
trained and disciplined to receive and interpret it. But whereas the
levels of intuition to which rational and empirical methods might lead
refer only to spesific aspects of the nature of reality, and not to the
whole of it, the levels of intuition at the higher levels of human
consciousness to which prophets and saints attain give direct insight
into the nature of reality as a whole. (lihat al-Attas dalam Islam and
The Philosophy of Science, h. 12)
Bahkan para nabi, para wali dan orang-orang saleh juga perlu melalui
latihan-latihan untuk menerima dan menafsirkan ilmu intuitif ini.
Latihan dan pendisiplinan ini tidak sekedar luaran diri manusianya, tapi
aspek dalamannya, di mana aspek dalaman ini inti kepada dirinya, dan
itulah yang mempunyai kapasitas mengenal hakekat kebenaran.
Dari sisi ini, nampaknya pendisiplinan jiwa ini mempengaruhi konsep
pendidikannya yang disebut dengan adab. Sebab, konsep pendidikan
al-Attas adalah pendisiplinan pikiran dan jiwa. Orang yang pikiran dan
jiwanya sudah terlatih dan disiplin, maka sudah memasuki kategori orang
saleh (good man) yang siap menerima ilmu intuitif. Orang yang paling
sempurna jiwanya adalah nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu, beliaulah
profil manusia sempurna (insan kamil) yang mempunyai kapasitas sempurna
menerima semua level ilmu, termasuk ilmu intuitif.
Intuisi dalam pemikiran al-Attas boleh dibagi kepada dua: level biasa
dan level di atas biasa. Level biasa adalah yang dialami oleh manusia
pada umumnya, yaitu pemerolehan ilmu yang datang secara tiba-tiba,
secara inspiratif, melalui perenungan dan pencarian bukti-bukti rasional
yang kemudian melahirkan inspirasi tertentu. Ini yang disebut hads.
Level ini adalah merujuk kepada bagian pertama dari definisi ilmu
al-Attas, yakni “sampainya jiwa kepada makna”. Dengan kata lain,
inspirasi intuitif itu adalah upaya sendiri orang tersbeut. Berbeda
dengan level biasa adalah level di atasnya, yaitu level widjan. Level
ini merujuk kepada bagian kedua dari definisi ilmunya, iaitu ”sampainya
makna kepada jiwa”. Dengan kata lain, ilmu itu memang dicurahkan
kepadanya, bukan dicari olehnya. Dari kedua level ini, instrumen yang
digunakan untuk memeroleh ilmu ini berbeda. Level yang pertama
menggunakan panca indera dan penalaran pada umumnya. Sedangkan level
yang kedua menggunakan instrumen spiritual, yaitu kasyf dan dhauq,
hudur, shuhud, dan ahwal. Ini bukan berarti akal dan panca indera tidak
digunakan pada level ini, tapi sudah mengalami konvertasi dari yang
biasa kepada yang luar biasa, yaitu rasional dikonvert kepada
intelektual dan empirical kepada pengalaman spiritual yang otentik
(outhentic spiritual experience). Jadi instrumen di tingkat biasa masih
valid dan sah digunapakai.
Sementara itu, berbicara jenis ilmu yang diperoleh intuisi ini,
sepertinya apa yang boleh dipahami dari konsepsi yang al-Attas uraikan
adalah boleh dikatakan ilmu-ilmu itu mempunyai peringkat-peringkat,
paling tidaknya boleh dibagi kepada tiga: pertama, laisa bi ilm; kedua,
shibhu ilm; dan ketiga, ilm. Ini seperti yang pernah dijelaskan oleh Dr
Syamsuddin Arif, salah satu murid al-Attas, dalam satu kajian rutin
Insists Malaysia beberapa waktu silam.
Pertama, ketidaktahuan terhadap sesuatu disebut suatu kebodohan
(jahl). Ini suatu keadaan nihil dari pengetahuan. Tidak ada pengetahuan
yang diperoleh oleh seseorang. Oleh karena itu, makna tidak ada pada
jiwa seseorang. Kekosongan dari ilmu boleh jadi karena disengaja atau
tidak disengaja. Dikatakan disengaja karena manusia ada yang ingkar
terhadap pemerolehan ilmu, merasa ilmu mustahil bagi manusia. Ini yang
dialamai oleh orang-orang sofis yang mengatakan ilmu itu tidak mungkin.
Karena keegoisan mereka dan keingkaran mereka dengan ilmu, maka hati
mereka tertutup dari mendapatkan ilmu. Tidak hanya itu, orang yang
dengan sengaja menutup diri dari informasi kebenaran, utamanya yang
datang dari wahyu, mereka selalu dalam kejahilan, seperti orang-orang
kafir yang senantiasa tidak mau menerima risalah para nabi, bahkan
menentangnya. Sedangkan mereka yang secara tidak sengaja menjadi tidak
tahu adalah seperti orang-orang yang akalnya tidak sempurna sehingga ia
tidak termasuk kalangan mukallaf. Orang seperti ini disebut juga tidak
tahu, atau jahil.
Kedua, adalah seakan-akan pengetahuan tapi sebenarnya bukan
pengetahuan, atau hanya menyerupai saja. Ini terdiri dari tiga macam
pengetahuan; (a) wahmiyyat. Yaitu pemahaman tentang sesuatu dengan
dugaan atau sangkaan (prejudice). Pengetahuan ini adalah pengetahuan 
yang lebih banyak kemungkinan salahnya. Biasanya pengetahuan seperti ini
dialami oleh orang yang hatinya tidak stabil dan cenderung ke jiwa
hayawaniyyah-nya, sehingga kebanyakan cara pandangnya menggunakan
barometer hewani. Biasanya orang seperti ini subyektif, karena ia banyak
menduganya; (b) syakkiyyat. Yaitu pengetahuan seseorang yang
kemungkinan salah dan benarnya sama-sama besar potensinya; dan (c)
zhanniyyat. Yaitu pengetahuan yang kemungkinan besarnya benar dan ada
peluang untuk salah. Kualitas pengetahuannya yang berkutat pada
zhanniyyat ini kevalidannya tidaklah seratus peratus, sebab setiap waktu
boleh berubah, mengikut objek yang diamati boleh berubah setiap waktu,
dan perubahan ini mengikuti konsep dasar dari materi itu yang selalu
mengalami penciptaan dengan materinya yang baru.
Jadi, makna yang diperolehi dalam tingkatan ini pun terbatas kepada
kemateriannya. Oleh karena itu, pengetahuan di tingkatan ini bukanlah
ilmu sejati, sebab walaupun ia memberi pengetahuan kepada manusia, namun
manusia tidak mencapai keyakinan sepenuhnya yang diakibatkan
perubahan-perubahan yang akan terjadi pada setiap saat. Selain itu, alam
materi ini sebenarnya aksidental dari realitas sebenarnya yang bukan
lagi fisik. Dengan demikian, pengertian di tingkatan ini adalah
bergantung kepada realitas essensinya, yaitu Realitas yang sebenarnya
(The Ultimate Reality) dalam pemikiran al-Attas.
Ketiga, adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang betul-betul meyakinkan
atas kebenaran makna yang telah sampai kepada jiwa seseorang. Tidak ada
zhan, syakk, apalagi wahm. Apabila sudah memperoleh makna yang demikian,
maka orang seperti ini disebut dengan arif, atau yang mengetahui dengan
pengetahuan yang mendalam dan keyakinan yang betul-betul kuat dalam
jiwa. Keyakinan pada ilmu ini mengalami tiga gradasi, dilihat dari sudut
pandang tasawwuf; ilm al-yaqin, ’ain al-yaqin dan haqq al-yaqin.
Peringkat ketiga ini hanya dialami oleh orang-orang khawas dan khawas
al-khawas, seperti yang disebut di atas. Yakni mereka yang betul-betul
telah sampai kepada makna dan menerima makna itu dengan seluruh
keyakinannya. Semua makna itu seakan tiada batas lagi, semua terbuka
kepadanya. Semua hakekat di dunia empiris tersingkap kepadanya. Oleh
karena itu tidak ada lagi partikular-partikular yang menyesatkan
baginya; tidak ada lagi dikotomi-dikotomi kepadanya; yang ada
keuniversalan yang tunggal dan makna-makna yang teratur dalam satu
sistem yang rapi. Sampai di sini boleh kita pahami bahwa ilmu intuisi
menurut al-Attas adalah yang peringkat ketiga di atas, yakni yang sudah
boleh dikategorikan ilmu, bukan syibh ilm, apalagi jahl.
Dengan demikian, setelah makna-makna sudah sampai kepada jiwa secara
intuitif dengan pengertian wijdan, maka semua jenis ilmu ter-cover di
sini. Tidak ada lagi perpisahan antara dirinya dengan objek ilmu.
Apabila sudah sampai di level tinggi ini, ilmu yang didapati otomatis
merangkumi tidak saja di level tinggi itu sendiri tapi juga di level
biasa.
Dalam konteks tasawwuf, tasawwuf bagi al-Attas adalah ”pelaksanaan
syariat di peringkat ihsan”. Artinya, ketika seseorang sampai pada level
intuisi, semua level ilmu yang ada di peringkat bawahnya tidak
terabaikan, baik di level panca indera atau rasio semua masih berlaku
dan valid, seperti dijelaskan sebelumnya. Ini untuk menolak kalangan
yang mengaku sufi yang kerap kali mengatakan telah mendapatkan inspirasi
ilahi walaupun perbuatannya banyak melanggar syariat. Maka bagi
al-Attas mereka bukan Sufi sejati, tapi psedo-Sufi, yakni orang yang
mengaku-ngaku sufi, padahal sebenarnya bukan. Sebab, tidak mungkin orang
yang betul-betul dekat kepada Allah itu melanggar syariat-Nya. posted on www.inpasonline.com 10-12-2010

SHARE

1 COMMENT