Konsep Pendidikan Islam Integratif

113
Banyak hal yang dibicarakan, termasuk tentang
konsep pendidikan Islam yang integratif. Namun dari bacaan dan diskusi dengan
beberapa teman, paling tidak dapat menarik sebuah benang merah tentang hal itu.
Pertama, integratif dimaksud adalah memadukan ilmu agama dan umum dalam kurikulum
yang dilaksanakan di sekolah. Model ini persis sama dengan yang diterapkan
Departemen Agama dulu, sekarang dan mungkin sampai esok di semua sekolah dari
tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Tsanawiyah (MTs), dan Aliyah (MA).
Dalam kajian historis, dikotomi ilmu agama dan umum pertama kali
dimunculkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20 yaitu masa
politik etis.
Sebelum imprealis dan kolonialis menginjakkan kakinya di nusantara, muslim
pedagang baik dari Arab maupun Gujarat (India) sejak abad ke-7 sampai 15,
mengajarkan kita tentang pendidikan Agama Islam mulai dari mengenal huruf
hijaiyyah sampai Kitab Kuning.
Jadi, sangat tidak beralasan jika bangsa ini dikatakan buta huruf. Karena,
sejak kedatangan muslim pedagang itu kita dikenalkan huruf Arab (hijaiyyah).
Kembali ke persoalan dikotomi tadi, ternyata pemerintah Hindia Belanda
tidak mau beradaptasi dengan masyarakat pribumi khususnya menyangkut pendidikan
yang akan ia tanamkan dalam rangka menjalankan politik etis tadi.
Karena itu, akhirnya pendidikan yang dijalankan pemerintah Hindia Belanda
harus ‘bebas’ dari nilai agama (Islam). Untuk mengakomodasi pendidikan agama
yang memang sudah mengakar di Nusantara sebelum bangsa Eropa khususnya Belanda,
didirikan departemen yang khusus mengurusi pendidikan agama.
Kelemahan model ini yang lama dipraktikkan, yaitu masih terjadi dikotomi
secara tajam. Saat guru mengajarkan ilmu alam seperti fisika, biologi, kimia
dan pelajaran lain, keterlibatan Tuhan di dalamnya belum terlihat nyata.
Akibatnya, peserta didik belum merasakan kehadiran Tuhan ketika ia menerima
materi pelajaran. Dengan demikian potensi sekulerisme bisa mengancam kemudian.
Kedua, integratif yang kami tangkap adalah model yang dipopulerkan pada masa BJ
Habibie berkuasa. Yaitu
memadukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (imtek) dan Imtak (Iman dan Takwa).
Realisasinya, memberikan nilai Agama Islam berdasarkan Alquran dan Hadist
pada setiap ilmu atau mata pelajaan yang diberikan kepada peserta didik.
Misalnya, mata pelajaran IPS sejarah. Untuk membantah dan mematahkan teori
Darwin, guru tidak cukup hanya mengatakan, manusia berasal dari Nabi Adam dan
adanya missing link. Tetapi harus mampu menjelaskan berdasarkan Alquran dan
Hadist.
Sejak dulu bahkan hingga kini, manusia purba yang diajarkan pendidik
khususnya guru sejarah adalah bukan manusia yang dikatakan dalam Alquran.
Manusia purba dimaksud adalah manusia ‘setengah manusia’ yang bukan keturunan
Nabi Adam. Ini, satu contoh yang cukup menggelitik.
Contoh lain, mata pelajaran fisika, geografi, biologi dan seterusnya.
Semestinya dalam kurikulum tersebut harus dicantumkan bagaimana Tuhan berfirman
di dalam kitabnya yang Ia turunkan, baik Injil maupun Alquran sebagai penyempurna
kitab sebelumnya.
Model integratif ini ternyata mengalami banyak kendala. 1. Sulit merancang
kurikulum yang guru dan muridnya sangat heterogen khususnya agama. 2. Sekalipun
muslim namun ia pun banyak memiliki kekurangan pengetahuan Islam (agama) termasuk
membaca Alquran. 3. Waktu yang tersedia tidak mencukupi. Jangankan menambah
Imtak dalam setiap mengajar di bidang tertentu, pelajaran yang tanpa tambahan
pun kadang tidak mencukupi.
Kualitas SDM
Lalu, bagaimana ingin meningkatkan kualitas SDM? Perlu pemikiran lebih
lanjut mengenai hal ini. Usul konkret kami adalah perlu pembenahan kurikulum.
Beberapa mata pelajaran dijadikan ekstra kurikuler saja seperti Olahraga,
Kesenian (KTK) dan pelajaran lain yang lebih banyak menekankan kemampuan
psikomotorik.
Ketiga, integratif yang ditawarkan yaitu integrasi antara yayasan dan
orangtua/wali murid. Ini hal baru yang kami terima dan dengar, yaitu bagaimana
sekolah/yayasan dalam mendidik anak juga melibatkan orangtua/wali murid.
Hal ini jarang kita jumpai. Mungkin ini berangkat dari pemahaman yang
keliru oleh masyarakat, bahwa pendidikan adalah tanggung jawab
guru/sekolah/yayasan saja. Padahal, orangtua dan masyarakat juga harus
bertanggung jawab (lihat UU Sisdiknas).
Misalnya, pada kurikulum SD yaitu pelajaran membaca Alquran (Iqra) dan shalat. Pembelajaran di sekolah tidak akan pernah berhasil, jika
orangtua/wali murid tidak mencontohkan di rumah.
Karena itu, guru mengajar dan melatih orangtua/wali murid yang tidak bisa
membaca Al-Qur’an dan sholat. Dengan demikian, kurikulum yang disajikan akan
mampu mencapai tujuan karena bantuan orangtua/wali murid dan masyarakat.
Intinya orangtua/wali murid dan masyarakat, hendaknya memberikan contoh
yang baik sesuai tuntunan Alquran dan Hadist dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, peserta didik nantinya
memiliki kecerdasan intelektual yang terbukti dengan prestasi akademik nasional
dan internasional, emosional dan spiritual.
Sesungguhnya kita rindu sekolah  yang
menyajikan ilmu pengetahuan sekaligus melibatkan Tuhan di dalamnya. Diharapkan,
bisa melahirkan Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd (ahli ilmu kedokteran), serta Ibnu
Khaldun (sosiolog) abad 21. Wallahu a’lamu bissawab.
SHARE