KRITIK SANAD HADIS TENTANG RAMADAN DI MADINAH LEBIH BAIK 1000 KALI DARI NEGERI LAIN

48
A. Latar Belakang Masalah
Penelitian hadis merupakan kegiatan ilmiah untuk membuktikan kebenaran
suatu berita dan bagian dari upaya membenarkan yang benar dan membatalkan yang
batil. Umat Islam sangat besar perhatiannya dalam segi ini, baik dipakai
sebagai penetapan suatu pengetahuan atau pengambilan suatu dalil (dasar hukum). Apa lagi jika hal tersebut
berkaitan dengan riwayat hidup Nabi Muhammad saw.  baik itu ucapan, perbuatan, dan ketetapan yang
disandarkan kepada Beliau. Usaha ini hanya mempunyai satu tujuan, yaitu
mengikuti jejak Nabi Muhammad Saw. dengan berjalan di atas sunnah beliau, dalam
rangka mencapai keridhoan Allah dan mendapatkan kecintaannya.
Sudah sejak lama para pendahulu kita berusaha memelihara peninggalan Nabi
ini, dan menjaganya dari persangkaan negatif dan pemalsuan yang ternyata banyak
dilakukan oleh berbagai kalangan. Usaha pemeliharaan pusaka Nabi Muhammad
tersebut dimulai dengan pembukuan secara umum tentang hadis dan secara terus
menerus diadakan penelitian melalui proses yang sangat ketat berdasarkan metodologi
dan standar yang diciptakan secara sendiri-sendiri oleh masing-masing peneliti.
Untuk memahami hadis maka dua unsur sanad dan
matan menjadi
hal yang tidak bisa diabaikan. Keduanya merupakan dua unsur pokok hadis yang
harus ada pada setiap hadis, dan antara keduanya  memiliki kaitan yang
sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Suatu berita tentang Rasul (matan)
tanpa ditemukan rangkaiannya atau susunan sanadnya  yang jelas maka berita tersebut tidak
dapat dikatakan sebagai sebuah hadis. Sebaliknya susunan sanad meskipun bersambung sampai kepada Rasulullah.
Untuk mengetahui bahwa sebuah hadis
benar-benar bersumber dari Rasulullah, maka diperlukan usaha penelitian untuk
membuktikan hal tersebut. Dengan demikian,  tujuan utama  penelitian
hadis adalah untuk menilai apakah  secara historis sesuatu yang disebut
sebagai hadis Nabi itu benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya
berasal dari Nabi ataukah tidak. Hal ini sangat penting mengingat
kedudukan  kualitas
hadis  erat sekali  kaitannya dengan dapat atau tidaknya
dijadikan sebagai  hujjah agama.
Penelitian kualitas hadis perlu
dilakukan, bukan berarti meragukan  hadis Nabi Muhammad saw. tetapi
untuk melihat keterbatasan perawi hadis sebagai manusia, yang adakalanya
melakukan kesalahan, baik karena lupa maupun karena didorong oleh kepentingan
tertentu.  Keberadaan perawi hadis sangat menentukan  kualitas hadis, baik kualitas sanad
maupun kualitas matan hadis. Dalam hal inilah ada
dua obyek terpenting dalam penelitian hadis yaitu: Pertama, materi/isi hadis itu
sendiri (matn
al-hadis
) dan Kedua, rangkaian sejumlah periwayat yang menyampaikan
hadis (sanad
al-hadis
).
Berdasarkan alasan di ataslah
sehingga penulis melakukan peniltian hadis yang berkaitan tentang “Ramadhan di Madinah itu lebih baik dari 1000 Ramadhan di negeri
selainnya. Satu jum’at di Madinah itu lebih baik dari 1000 Jum’at di negeri selainnya”
  tetapi dsini penulis hanya menfokuskan diri
pada pembahasan Kritik Sanad terhadap hadis yang diriwayatkan oleh Husain
Bin ‘Ali
, karena semata-mata guna memenuhi tanggungjawab tugas
mata kuliah Takhrȋj al-hadȋs.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana mengetahui validitas sanad hadis “Ramadhan di Madinah itu lebih baik dari 1000 Ramadhan di negeri
selainnya. Satu jum’at di Madinah itu lebih baik dari 1000 Jum’at di negeri selainnya”
C. Langkah Penelitian
1.     Takhrȋj al-Hadȋs
2.    Membuat skema sanad
3.    Menuliskan biografi
para perawi
D. Pembahasan
1.     Takhrȋj al-Hadȋs
Secara ringkas takhrȋj al-hadȋs diartikan penelusuran atau
pencarian hadis di berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadis yang
bersangkutan, yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan
sanad hadis yang bersangkutan.[1]Setelah
melakukan penelitian ternyata peneliti mendapatkan hadis tersebut hanya ada di
dalam kitab Mu‘jam al-Kabȋr karangan at-Thabrȃnȋ[2]. Secara
lengkap sanad hadis tersebut adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بن
عَلِيِّ بن نَصْرٍ الطُّوسِيُّ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن أَيُّوبَ
الْمُخَرِّمِيُّ ،
 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن كَثِيرِ بن
جَعْفَرٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، عَنْ بِلالِ بن الْحَارِثِ
، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَمَضَانُ بِالْمَدِينَةِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ
 رَمَضَانَ فِيمَا سِوَاهَا مِنَ الْبُلْدَانِ، وَجُمُعَةٌ بِالْمَدِينَةِ
خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ جُمُعَةٍ فِيمَا
سِوَاهَا مِنَ الْبُلْدَانِ
Artinya: Rasulullah
saw.
bersabda: “Ramadhan di Madinah itu lebih baik dari 1000 Ramadhan di negeri
selainnya. Satu jum’at di Madinah itu lebih baik dari 1000
 Jum’at di negeri selainnya”. 

2.    Membuat Diagram sanad (diagram sanad terlampir)
3.    Biografi perawi hadis jalur at-Thabrȃnȋ.
Al-Hasan bin ‘Ali
Nama
lengkap beliau adalah Abȗ ‘Ali  al-Hasan
bin ‘Ali  bin Nashr ath-Thawsȋ. Ia
meriwayatkan hadis dari Muhammad bin Rȃfi’, Muhammada bin Aslam, Ishȃk al-Kausaj,
Abdullȃh bin Hȃsyim, Zaid bin Ahzam dan selain dari mereka. Diantara orang yang
meriwayatkan hadis dari beliau adalah Abdullȃh bin Muhammad bin Muslim, Ahmad bin
‘Ali  ar-Rȃzi, Abȗ Sahl ash-Shu‘lȗkȋ, Muhammad
bin Ja‘far al-Bustȋ dan selain dari mereka. Abȗ Ya’la al-Khalȋlȋ berkata, “ Ia termasuk
dari 10 sahabat”.[3]
‘Abdullȃh bin Ayȗb
Nama lengkap beliau adalah Abdullȃh bin Muhammmad
bin Ayȗb al-Mukharrimȋ. Ia meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Yahya bin
salim ath-Thȃifȋ, Abdullȃh bin Numair, ‘Ali
bin Ȃsim, Hasan bin Sȃlih al-Abbȃdanȋ, Yahya bin abȗ Bukair, Wahab bin Jarir
dan selain dari mereka. Di antara orang yang meriwayatkan dari beliau adalah Yahya
Bin Said, Muhammad bin Makhlad, ibnu Abȗ Hȃtim, Ismail ash-Shaffȃr, dan selain dari mereka. Abȗ Hȃtim berkata, “saya mendengar dari
bapakku bahwa dia seorang yang jujur.[4]
‘Abdullȃh bin Katsȋr bin Ja‘far
Nama lengkap beliau adalah ‘Abdullȃh bin
Katsȋr bin Ja‘far bin abȗ Katsȋr al-Anshȃrȋ
az-Zarkȋ. Dia meriwayatkan hadis dari bapaknya, ibnu abȗ Fudaik, Katsȋr
bin ‘Abdullȃh bin Amr bin Auf dan selain mereka.  Dan diantara yang meriwayatkan hadis dari ‘Abdullȃh bin Katsȋr ialah Abbȃs al-Anbarȋ, Ibrȃhȋm bin Said
al-Jauharȋ, ‘Abdullȃh bin Muhammad bin Ayyub al-Mukharrimȋ, Yahya bin
Ayyub al-Maqȃbirȋ, Harun bin Sufyan dan Zubair bin Bakkȃr. Ibnu majah berkata
pada salah satu hadis yang diriwayatkanya ‘Abdullȃh bin Katsȋr adalah
seorang yang wahm (sering salah).[5]
Katsȋr Bin Abdullȃh bin Amr
Nama lengkap
beliau adalah Katsȋr Bin Abdullȃh bin Amr bin Auf bin Zaid bin Milhah al-Muzannȋ.
Ia meriwayatkan hadis dari Bakr bin Abdurrahman al-Muzannȋ, Rubaih bin Abdurrahman
bin abȗ said al-Khudrȋ, bapaknya yaitu Abdullȃh bin Amr bin Auf al-Muzannȋ, dan
selain mereka. Diantara orang yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah Ibrȃhȋm
bin ‘Ali ar-Rȃfi, Ishȃk bin Ibrȃhȋm al-Hunainȋ, Ismȃil bin abȗ Uyais. Dan
selain mereka. Abu Thȃlib berkata, saya pernah bertanya tentang Katsȋr Bin
Abdullȃh kepada Ahmad bin Hanbal, Ia menjawab ia termasuk munkar al-hadȋs.
An-Nasȃȋ dan Dȃr al-Qutnȋ: matrȗk al-hadȋs. Abu Ubai al-Ȃjirȋ juga pernah
menanyakan Katsȋr Bin Abdullȃh kepada Abȗ Daȗd lalu ia menjawab ahad al-kadzdzȃbȋn.[6]
Bilȃl bin Hȃrits
            Nama lengkap beliau adalah Bilȃl bin Hȃrits al-Muzannȋ.
Dia meriwayatkan hadis dari Nabi, Abdullȃh bin Mas‘ud dan Umar bin al-Khattȃb.
Diantara orang yang meriwayatkan hadis darinya adalah anaknya yaitu al- Hȃrits bin Bilȃl bin Hȃrits al-Muzannȋ, Abdurrahman bin
Athiyyah bin Dallȃf, Amr bin Auf al-Muzannȋ dan selain dari mereka. Al-Bukharȋ
berkata: ia termasuk penduduk Madinah. Al-Wȃqidȋ: dia adalah orang yang pertama
k’Ali  datang kepada Nabi dari suku
al-Muzannȋ pada tahun ke-5 Hijriyah.[7]
E. Kesimpulan
Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa
derajat sanad hadis tersebut adalah dhaif karena ada dua perawi hadis yaitu
‘Abdullȃh bin Katsȋr bin Ja‘far dan Katsȋr
Bin Abdullȃh yang dinilai dhaif oleh ulama hadis.
Sumber Tulisan
Asqolȃnȋ, Syihȃbuddȋn
abȗ al-Fadhl Ahmad bin Ali ibnu Hajar al-, Tahdzibu tahdhzȋb, Beirut: Dȃr
shȃdir, 1968.
Ismail, Prof. DR. M. Suhudi, Metodologi Penelitan Hadis Nabi,
Jakarta: Bulan Bintang, 2007.
Mutayqqan, Jamaluddȋn abȗ al-Hujjȃj yȗsuf al-Mazzȋ Al-, Tahdzȋb
al-Kamȃl fȋ Asmȃ’ ar-Rijȃl,
Beirut:
Mu’assasah ar-Risalah, 1996.
Suyȗthȋ,
Jalȃluddȋn as-,  Asmȃ’ al-Mudallisȋn,
Beirut: Dȃr al-Jayl, 1992.
‘Thabrȃnȋ, Al-Hȃfiz
abȗ al-Qȃsim bin Ahmad at-, Mu’jam al-Kabȋr, Kairo: Maktabah ibnu Taymiyyah,
Tth.
Zahabȋ, Syamsuddin
abȗ Abdullȃh Muhmmad bin Ahmad az-, sayr a’lam an-nublȃi, Edisi Syuaib
al-Arnȃȗt. Beirut: Muassah ar-Risȃlah, t.th.
1.    Lampiran
diagram sanad hadis
Berhubung diagramnya  gak kebaca maka Diagram sanadnya bisa di buat sendiri. hehehhehehe

 

[1] Suhudi Ismail,
Metodologi Penelitan Hadis Nabi, Cet ke-2 (Jakarta: Bulan Bintang, 2007)
h. 41.
[2] Ahmad at-Thabrȃnȋ,
Mu’jam al-Kabȋr, (Kairo: Maktabah ibnu Taymiyyah, Tth), I: 382, hadis
no. 1144.
[3] Syamsuddin abȗ
Abdullah Muhmmad bin Ahmad az-Zahabȋ, sayr a’lam an-nublȃi, Edisi Syuaib
al-Arnȃȗt. (Beirut: Muassah ar-Risȃlah, t.th), XXIX: 2.
[4] Ibid,
XXIII:350.
[5] Ibnu Hajar
al-‘Asqalȃnȋ, Tahdzȋbu tahdzȋb, cet ke-1 (Beirut: Dȃr shȃdir, 1968) V:
366-367.
[6]
Jamaluddȋn
al-Mazzȋ, Tahdzȋb al-Kamȃl fȋ Asmȃ’ ar-Rijȃl, cet ke-1 (Beirut:  Mu’assasah ar-Risalah, 1996), XX4: 137-139.
[7] Ibid, IV: 283-284.
SHARE