Maafkanlah

25

Pada hakikatnya, manusia terlahir
sebagai makhluk pribadi dan sosial. Dalam menjalankan perannya sebagai makhluk
sosial, manusia harus berinteraksi dengan manusia lain. Interaksi ini tentunya
tidak selalu berjalan mulus seperti yang diinginkan. Karena friksi tujuan dan
harapan, seringkali menimbulkan riak-riak kecil yang kadangkala berubah menjadi
ombak besar sehingga bisa memperkeruh suasana hati dan sulit dijernihkan lagi
seperti sediakala.
“Aku memaafkanmu”. Ini
teramat mudah diucapkan di ujung bibir, namun sangat susah dikukuhkan dalam
hati. Sulit sekali memaafkan orang yang telah menzalimi kita. Bahkan
kadang-kadang kita malah ingin melihat orang itu merasakan hal yang sama.
Astaghfirullah, apakah kita pernah seperti itu? Jika pernah, sekali-kali jangan
pernah terulangi lagi dan jangan pula mendoakan hal yang buruk padanya. Goresan
luka memang meninggalkan bekas, akan tetapi bukankah sakitnya cuma sebentar?
Apa keuntungan yang kita peroleh dengan mengungkit-ungkit kesalahan yang telah
berlalu?
Adalah Ali bin Abi Thalib r.a.
yang gagah berani, sepupu Rasulullah SAW yang tangguh bagai singa dalam
peperangan ini ternyata memiliki hati yang lembut dan sangat pemaaf. Ketika
Abdurrahman bin Muljam -yang menyebabkan kepalanya luka parah dan akhirnya
menghantarkannya ke ajal- berhasil ditangkap dan dihadapkan kepadanya, Ali
melihat dendam dan kebencian di mata Hasan dan Husain r.a., kedua putranya
serta karib kerabatnya. Tahukah kita apa yang diucapkannya saat itu,

“Perlakukanlah ia dengan
sebaik-baiknya.
Hormati martabatnya sebagai
manusia.
Kalau aku masih hidup, maka
akulah yang lebih berhak atasnya.
Apakah akan menuntut qishash atau
memaafkannya.
Dan kalau aku mati, maka
biarkanlah ia menemaniku, untuk kuhadapi di hadapan pengadilan Rabbul ‘Alamin.
Janganlah kalian membunuh
selainnya karena menuntut balas atas kematianku.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas.”
Sekarang marilah kita kenang hari
pembebasan Makkah. Setelah kaum kafir Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiyah,
tidak ada alasan lagi untuk menahan Rasulullah dan pasukan Muslimin menduduki
Makkah. Penduduk Mekkah kala itu dirundung ketakutan yang teramat sangat
mengingat apa yang telah mereka lakukan terhadap Rasulullah. Bukankah mereka
yang selama ini menganggapnya orang gila dan telah menghasut orang-orang untuk
memusuhinya? Bukankah mereka yang mengejeknya, melempari dengan batu dan
kotoran unta? Bukankah mereka yang telah memboikot dia dan keluarganya, Bani
Hasyim yang dianggap membangkang dari agama leluhur? Bukankah mereka pernah
melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya? Dan bukankah mereka juga yang telah
mengusirnya dari kota kelahirannya ini? Mereka pernah menggempurnya
habis-habisan dalam berbagai peperangan. Dan di antara mereka juga ada dalang pembunuhan
dan penganiayaan keji atas pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib.
Rasanya tak ada lagi alasan untuk
membela diri. Sekarang, nyawa mereka terletak pada keputusan dan wewenang
Muhammad SAW putra Abdullah atas ribuan balatentara yang bersenjatakan lengkap
dan siap meluluhlantakkan Makkah. Mari kita dengar keputusan itu,
“Pergilah kamu sekalian!
Kamu sekarang sudah bebas!”
Dibebaskan? Bukan itu saja!
Rasulullah juga melarang keras pasukannya berbuat semena-mena terhadap penduduk
Makkah walaupun di antara mereka ada yang menyimpan rasa sakit hati terhadap
perlakuan orang Makkah dahulu.
Subhanallah! Betapa mudahnya
orang-orang ini membuka pintu maaf. Ali bukanlah malaikat. Rasulullah, walaupun
diberi beberapa keistimewaan oleh Allah SWT pada dasarnya tetap manusia biasa.
Seperti kita, mereka juga punya amarah. Betapa mudah sebetulnya Ali menyuruh
Hasan atau Husain r.a. untuk mendera Ibnu Muljam dengan derita. Toh, Ibnu
Muljam juga mengaku ingin menghabisinya. Melihat kebencian yang membara di mata
anak-anak dan teman-temannya, suami Fathimah r.a. ini sudah membayangkan
bagaimana nasib Ibnu Muljam seandainya dia meninggal nanti. Maka timbullah
keinginan untuk melindungi pembunuhnya itu dari qishash yang bisa saja
berlebihan dan menyimpang dari ajaran agama Islam.
Dan renungkanlah, ahli sejarah
mencatat, hari pembebasan Makkah adalah kemenangan besar yang diraih kaum
muslimin yang sedikit sekali menelan korban jiwa dan kerugian. Kenapa bisa
demikian padahal kita tahu bahwa orang-orang Mekkah itu yang paling bersemangat
memusuhinya? Bahkan Hindun binti ‘Uthbah, istri Abu Sufyan yang menjadi arsitek
pembunuhan Hamzah juga dibiarkan hidup begitu saja. Peristiwa pada Hari
Pembebasan Makkah hanyalah salah satu dari sekian banyak bukti pemaafnya.
Beliau memang tidak mengenal permusuhan dan selalu bersikap sabar atas
perlakuan musuh. Tapi itu tidak berarti lari dan berdiam diri jika diserang
oleh kaum kafir. Allah memperbolehkan perang asalkan di jalan Allah dan tidak
melampaui batas. Oleh karena itu, Rasulullah tidak pernah memulai peperangan
dan tidak pernah menyerang musuh sebelum diserang terlebih dahulu. Beliau juga
tidak pernah membunuh orang yang sudah menyerah kalah.
Kita tentu pernah membaca cerita
tentang guru sekolah yang menyuruh murid-muridnya membawa kentang sebanyak
orang yang mereka benci. Selama seminggu, kentang-kentang itu harus dibawa ke
manapun mereka pergi, bahkan juga ke toilet. Hari berganti hari kentang-kentang
pun mulai membusuk. Murid-murid mulai mengeluh, selain berat, baunya juga tidak
sedap. Pada hari ke-7, murid-murid tersebut merasa lega karena penderitaan
mereka bisa berakhir.
Suasana hati kita bisa
dianalogikan dengan cerita kentang di atas. Jika hati tidak dibersihkan dari
kebencian, kita tidak akan bisa menjalani hidup dengan tentram dan selalu
merasa ada beban yang menghimpit. Air susu memang tidak boleh dibalas dengan
air tuba. Air tuba pun jangan sampai dibalas dengan air tuba, akan lebih baik
dibalas dengan air susu. Betapa indahnya hidup ini tanpa ada perasaan dendam
dan benci yang menyelinap di dalam hati.
Tak ada gading yang tak retak.
Tak ada manusia yang luput dari satu kesalahan pun. Jika kita disakiti,
anggaplah itu sebagai ujian kesabaran dari Allah yang akan mengangkat kita ke
derajat yang lebih tinggi. Terimalah permintaan maaf itu dengan keikhlasan yang
bermuara pada Allah semata. Allah Maha Adil pada ciptaan-Nya dan tentu membalas
semua perbuatan baik kita dengan balasan yang setimpal. Bukankah kita
menginginkan ridha-Nya sebagai balasan itu? Adakah yang lebih membahagiakan
dibandingkan memperoleh ridha Allah?
“Maka barangsiapa memaafkan
dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (Asy-Syura: 40)
Teman, apakah kita masih membawa
‘kentang busuk’ hari ini? Lebih baik dibuang saja.

SHARE