Macam-Macam dan Sistem Pendistribusian Zakat

226
Macam-macam Zakat,- Macam zakat dalam
ketentuan hukum Islam itu ada dua, yaitu zakat Fitrah dan zakat Mal. Pertama, zakat
Fitrah yang dinamakan juga zakat badan. Orang yang dibebani untuk mengeluarkan
zakat fitrah adalah orang yang 
mempunyai  lebih  dalam 
makanan  pokoknya  untuk 
dirinya  dan untuk keluarganya
pada hari dan malam hari raya, dengan pengecualian kebutuhan tempat tinggal,
dan alat-alat primer.
Jumlah  yang 
harus  dikeluarkan  untuk 
zakat  fitrah  adalah 
satu sho’ (satu  gantang),  baik 
untuk gandum, kurma, anggur 
kering, maupun jagung, dan seterusnya yang menjadi kebiasaan makanan
pokoknya. Kalau standar masyarakat kita, beras dua setengah kilogram atau uang
yang senilai dengan harga beras itu. Waktu mengeluarkan zakat fitrah yaitu
masuknya malam hari raya idul fitri. Kewajiban melaksanakannya, mulai
tenggelamnya matahari sampai tergelincirnya matahari. Dan yang lebih utama
dalam melaksanakannya adalah sebelum pelaksanaan sholat hari raya, menurut
Imamiyah. Sedangkan menurut Syafi’i, diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah
adalah akhir bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal, artinya pada tenggelamnya
matahari dan (dalam jangka waktu dekat) padahari akhir bulan Ramadhan. Orang
yang berhak menerima zakat fitrah adalah orang-orang  yang 
berhak  menerima zakat secara  umum, 
yaitu  orang-orang yang dijelaskan
dalam al-Quran surat-Taubah ayat 60.
Kedua, zakat mal adalah
zakat yang dikeluarkan dari harta-harta yang dimiliki seseorang dengan dibatasi oleh nishab. Namun dalam
menentukan  harta atau barang apa saja
yang wajib dikenakan zakat, terjadi perbedaan pendapat yang semuanya karena
perbedaan dalam  memandang nash-nash yang
ada. Para ulama fikih mazhab Syafi’i, sebagaimana yang termaktub dalam
kitab-kitab mazhab ini, dengan bersandar pada al-Quran dan Hadits telah
menerangkan  secara mendetail jenis harta yang wajib dizakati. Secara
global terdiri atas lima jenis, yaitu binatang ternak, emas dan perak, bahan
makanan pokok, buah anggur dan kurma, serta barang perdagangan. Dan beberapa macam redaksi yang diungkapkan
oleh para ulama dalam menentukan jumlah harta wajib zakat. Ada yang mengatakan
lima jenis sebagaimana tersebut tadi, bahkan yang kelima tadi adalah yang disepakatioleh imam-imam mazhab.
Macam-Macam Nishab Dan Sistem Pendistribusian Zakat
Ulama lain mengatakan  delapan macam dengan menguraikan dari lima
jenis tersebut, demikian juga yang diungkapkan oleh Sayyid Sabiq walaupun
dengan dengan redaksi yang berbeda. Dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan macam-macam zakat, pasal 11
menetapkan bahwa zakat terdiri dari atas zakat mal dan zakat fitrah. Harta yang
dikenakan zakat adalah:
Zakat Emas, perak, dan
uang;
Zakat Perdagangan dan
perusahaan;
Zakat Hasil pertanian, hasil perkebunan, dan hasil
perikanan;
Zakat Hasil pertambangan;
Zakat Hasil perternakan;
Zakat Hasil 
pendapatan  dan  jasa; 
Zakat Rikaz.
Bahkan Sjechul Hadi Permono menambahkan dengan
gaji pegawai/karyawan dan lain sebagainya, hasil praktek dokter termasuk kategori  butir (f) hasil pendapatan dan jasa.
Demikianlah daftar macam-macam zakat
yang ditetapkan dalam agama Islam atau hukum Islam, sehingga jelas harta atau
barang yang apa saja yang harus dikeluarkan zakatnya. Dengan pengeluaran zakat
itu, harta yang dimiliki akan terbebas dari hak-hak orang yang berhak dan
dikeluarkan juga untuk membersihkan harta yang dimilikinya.
Sedang ketentuan
alokasi pendayagunaan atau pendistribusian zakat telah tertuang secara rinci
dalam al-Quran surat at-Taubah :60, yang terkenal dengan ashnaf delapan. Kita
dapat menetapkan dasar pemikiran dalam melakukan kebijaksanaan pendistribusian
zakat sebagai berikut:
artinya sesungguhnya
zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-
orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan
Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. al-Taubah: 60).
a. Allah SWT telah
menetapkan 8 ashnaf (golongan) harus diberi semuanya, Allah  hanya 
menetapkan  zakat  dibagikan 
kepada  8 ashnaf,  tidak 
boleh keluar dari itu.
b.Allah  SWT 
tidak  menetapkan  perbandingan 
yang  tetap  antara 
bagian masing-masing 8 pokok alokasi (ashnaf).
c. Allah SWT tidak
menetapkan zakat harus dibagikan dengan segera setelah masa   pengumpulan  
zakat,   tidak   ada  
ketentuan   bahwa   semua  
hasil pungutan zakat (baik sedikit maupun banyak) harus dibagikan semuanya. 
Pernyataan surat al-An’am (6) ayat 141: “…Dan tunaikanlah hak (kewajibannya) di
hari memetik hasilnya….”.Pernyataan ini hanya menegaskan kesegaraan
mengeluarkan zakat, yakni dari muzakki (orang yang wajib mengeluarkan zakat)
kepada amil, bukan kesegeraan distribusi dari amil kepada mustahiq al-zakah.
d. Allah  SWT 
tidak  menetapkan bahwa yang  diserahterimakan  itu 
harus berupa in cash (uang tunai) atau in kind (natura).
e. Dari yang 
tersirat  dalam  surat 
(59) al-Hayr  ayat 7,
“…..supaya  jangan hanya   beredar  
di   lingkungan orang-orang yang
mampu di antara kamu…”, pembagian zakat harus bersifat   edukatif, produktif danekonomis, sehingga
pada akhirnya penerima zakat menjadi tidak memerlukan zakat lagi, bahkan
menjadi wajib.
Itulah pokok-pokok
pikiran yang dapat dijadikan pijakan untuk menformulasikan kembali kebijaksanan
pendistribusian zakat.
Pengertian mustahiq
al-zakah (orang-orang yang berhak menerima zakat), sebagaimana yang ditegaskan
dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 60 mencakup 8 kategori. Pengertian tersebut
dapat diperluas jangkauannya sesuai dengan tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan,
teknologi, perkembangan ekonomi dan sosial budaya, secara empiris, asalkan tidak
menyimpang dariarti bahasa al-Quran dan
jiwa serta cita-cita syari’ah.
Pendistribusian Macam-macam Zakat hanya ke Delapan Golongan
Fakir adalah orang yang
mempunyai harta kurang dari nishab, sekalipun dia sehat dan mempunyai pekerjaan
(Hanafi), sedangkan menurut Imamiyah dan Maliki menyebutkan bahwa orang fakir
adalah orang yang tidak mempunyai bekal untuk berbelanja selama satu tahun dan
jugatidak  mempunyai bekal  untuk 
menghidupi keluarganya. Orang 
yang  mempunyai rumah  dan peralatannya atau binatang ternak, tetapi
tidak mencukupi kebutuhan keluarganya selama satutahun, ia boleh menerima
zakat.
Miskin adalah orang
yang keadaan ekonominya lebih buruk dari orang fakir (Imamiyah, Hanafi dan
Maliki).
Amil adalah orang-orang yang bertugas untuk
meminta sedekah, menurut kesepakatansemua mazhab.
Muallafah Qulubuhum,
mencakup dua golongan umat Islam dan golongan non-muslim. Mereka itu ada empat kategori:
1. Mereka yang
dijinakkan hatinya agar cenderung menolong kaum muslimin.
2. Mereka yang
dijinakkan hatinya agar cenderung untuk membela umat Islam.
3. Mereka yang
dijinakkan hatinya agar ingin masuk Islam.
4. Mereka yang
dijinakkan hatinya dengan diberi zakat agar kaum dan sukunya (pengikutnya)
tertarik masuk Islam.
Riqab adalah orang yang
membeli budak dari harta zakatnya untuk memerdekakkannya.
Al-Gharim  adalah 
orang-orang  yang  mempunyai 
hutang  yang  dipergunakan 
untuk perbuatan yang bukan maksiat. Dan zakat diberikan agar mereka
dapat membayar hutang mereka, menurut kesepakatan para ulama mazhab.
Ada  tiga 
pandangan  tentang  pengertian 
sabilillah:  (1)  mempunyai 
arti  perang, pertahanan  dan 
keamanan  Islam,  (2) 
mempunyai  arti  kepentingan 
keagamaan  Islam  padaumumnya dan, (3) mempunyai arti
kemaslahatan atau kepentingan umum, meliputi : pembangunanmanusia seutuhnya dan
masyarakat  pada umumnya.
Ibnu sabil adalah orang
asing yang menempuh perjalanan ke negeri lain dan sudah tidak punya harta lagi.
Zakat boleh diberikan kepadanya sesuai dengan ongkos perjalanan untuk kembali
ke negaranya.
Dalam pendistribusian
zakat semua ulama sependapat bahwa keterlibatan Imam (pemerintah) dalam
pengelolaan zakat merupakan suatu kewajiban ketatanegaraan. Dalam hal ini
banyak dalil yang cukup dan sangat jelas bahwa Islam telah menempuh berbagai
jalan dalam rangka menghapus perbudakkan.Hukum ini sudah tidak berlaku, karena
perbudakan telah tiada.
Yusuf  al-Qardawy 
dalam  Musykilat  al-Faqr 
wa  kaifa  ‘alajaha 
al- Islam   mengemukakan  sebab-sebab 
kewajiban  pemerintah  untuk 
mengelola zakat antara lain:
1. Jaminan terlaksananya
syari’at, bukanlah ada saja orang-orang yang berusaha menghindar bila tidak
diawasi oleh penguasa.
2. Pemerataan, karena
dengan keterlibatan satu, maka diharapkan seseorang tidak  akan 
memperoleh dua kali dari dua sumber, dan diharapkan pula mustahiq akan
memperoleh bagiannya.
3. Memelihara  muka para mustahiq  karena mereka tidak perlu berhadapan
langsung  dengan  para 
muzakki  dan,  mereka 
tidak  harus  pula 
datang meminta.
4. Sektor (ashnaf yang
harus menerima) zakat tidak terbatas pada individu, tetapi juga untuk
kemaslahatan umum dan sektor ini hanya dapat ditangani oleh pemerintah.
Hasil pungutan berbagai macam zakat selama belum dibagikan kepada mustahiq dapat merupakan dana yang dapat
dimanfaatkan bagi pembangunan, dengan disimpan dalam bank pemerintah berupa
depisito, sertifikat atau giro biasa. Hal demikian secara tidak langsung, di samping mempunyai daya guna terhadap 8 ashnaf, maka harta benda zakat dengan menggunakan jasa
bank pemerintah dapat memberikan manfaat umum tanpa mengurangi nilai dan
kegunaan, dapat bermanfaat untuk kepentingan
modal pembangunan, merupakan sumber dana pembangunan, yang bermanfaat
kepada program umum  dan  kemasyarakatan  di 
samping  harta  zakat 
sendiri  dapat  disimpan dengan aman tanpa resiko.
Maraji’
Undang Nomor 38 Tahun
1999, zakat profesi ditetapkan 2,5 %.
Ibrahim Anis dkk.,
Mu’jam al-Wasith I, Mesir: Dar al-Ma’arif, 1972.
Abi al-Fadhil Jamal
al-Diin Muhammad ibn Mukrim Ibn Mundzir, Lisan 
al-Arab, JilidI, Beirut: Dar Shaadar, tt.,.
al-Zuhaily, al-Fiqh
al-Islami wa ‘Adilatuh  III, Beirut: Dar
al-Fikr, tt,.
Abdul  Karim 
As-Salawy,  Zakat  Profesi 
Dalam  Perspektif  Hukum 
Dan  Etik,Semarang: Tesis Program
Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang, 2001.
Departemen Agama
RI,   Al-Quran dan Terjamahnya, Semarang:
Toha Putra, 1989, hlm. 297-298.
Didin Hafidhuddin,
Panduan Praktis tentang Zakat, Infak, Sedekah,  
Jakarta: Gema Insani Press, 1998.
Satu sho’ itu sama
dengan 2,167 kg atau 2167gram, lihat Yusuf al-Qardhawy,  HukumZakat, Terj. Salman Harun dkk., Jakarta:
PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 1999.
Abd. Rahman
al-Juzairy,  Kitab al-Fiqh ala Madzahib
al-Arba’ah  I,  Beirut: 
Dar al- Fikr, 1996, hlm. 563-564.
Depag RI,  UU No. 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan
Zakat,  Jakarta: Dirjen BimasIslam
&Urusan Haji, 2000.
Sjehul Hadi
Permono, Pendayagunaan Zakat dalam
Rangka Pembangunan Nasional, Jakarta: Firdaus, 1992.
Ibnu Hazm, al-Muhalla,
Jilid 4, Beirut: Dar al-Kutub al-Umiyah, tt.,
Al-Zarqany, Syarah
al-Zarqany II, Tk: Dar al-Fikr, tt.

Demikian Artikel Macam-Macam dan Sistem Pendistribusian Zakat, Mudahan bermanfaat.

SHARE