Makalah Pengertian dan Ruang Lingkup Ulumul Quran

1322
Makalah Pengertian dan Ruang Lingkup Ulumul Quran

A. Latar
Belakang

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad saw. Sebagai risalah yang universal. Dan merupakan sebuah petunjuk bagi semua manusia yang lengkap dan komprehensif. Al-Qur’an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah swt., dan ia adalah kitab yang senantiasa dipelihara oleh Allah sampai hari akhir nanti.[1]

Baca Juga artikel lainnya

Makalah Metode Hermeneutik dalam Pensyarahan Hadis
Mengenal Hukum wadh’i Dalam Ushul Fiqih  
Ketentuan Umum Zakat Fitrah Menurut Al-Qur’an dan Hadis
Pengertian Dakwah

Kita tidak bisa memahami
al-Qur’an dengan baik hanya bermodalkan al-Qur’an terjemahan. Untuk memahami
al-Qur’an dengan benar perlu didukung oleh ilmu-ilmu yang berbicara khusus
tentang persoalan al-Qur’an dari segi asbab al-nuzul, cara pengumpulan
al-Quran, cara membaca (ilmu qira’at), ayat-ayat muhkam dan mutasyabih, I’rab
al-Qur’an, kisah-kisah dalam al-Qur’an, tafsir al-Qur’an dan lain sebagainya.
Semua itu dibahas tuntas dalam Ulumul Qur’an.
Ulumul Qur’an adalah
salah satu jalan yang bisa membawa kita dalam memahami al-Qur’an. Kita juga
perlu mengetahui pengertian Ulumul Qur’an, pokok pembahasan dan perkembangan
Ulumul Qur’an serta siapa saja tokoh-tokoh penting yang berperang dalam
mendongkrak munculnya ilmu ini.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar
belakang tersebut di atas, penulis merumuskan beberapa persoalan sebagai
berikut:
1. Bagaimana pengertian
Ulumul Qur’an?
2. Bagaimana ruang
lingkup dan pembahasan Ulumul Qur’an?
3. Bagaimana
perkembangan Ulumul Qur’an dari masa ke masa?
C. Pembahasan
A. Pengertian Ulumul
Qur’an
Ulumul Qur’an terdiri
atas dua kata: ulum dan al-Qur’an. Ulum (علوم) adalah jamak dari kata tunggal
ilm (علم), yang secara harfiah berarti ilmu. Sedangkan al-Qur’an adalah nama
bagi kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Dengan demikian, maka
secara harfiah kata ‘ulumul qur’an’ dapat diartikan sebagai ilmu-ilmu
al-Qur’an.
1. Pengertian Ulum
Kata ulum (علوم)
merupakan bentuk plural dari dari kata tunggal ilm (علم). Kata ilm adalah
bentuk masdar (kata kerja yang dibendakan). Secara etimologis berarti al-fahmu
(paham), al-ma’rifah (tahu) dan al-yaqin (yakin).[2] Ketiga istilah tersebut
mengandung pengertian yang berbeda dan bisa dikaji lebih mendalam buku-buku
perbedaan kosakata bahasa Arab, seperti kitab al furuq al-lugawiyyah karya Abu
Hilal al-Askari.
2. Secara terminologis,
ilmu mempunyai definisi-definisi yang berbeda sesuai dengan latar belakang
pendefinisi tersebut.[3] Para filosof mengartikan bahwasanya ilmu adalah konsep
yang muncul dalam akal maupun keterkaitan jiwa dengan sesuatu menurut cara
pengungkapannya. Para Teologis berpendapat bahwa ilmu adalah sifat yang bisa
membedakan sesuatu tanpa kontradiksi. Sedangkan orang-orang bijak mengartikan
ilmu sebagai gambaran sesuatu yang dihasilkan dari akal.[4]
Adapun menurut syara’,
ilmu adalah mengetahui dan memahami Ayat-ayat Allah dan lafalnya berkenaan
dengan hamba dan mahluk-makhluknnya. Dari situlah Imam Ghazali berpendapat
bahwasanya ilmu sebagai objek yang wajib dipelajari oleh orang Islam adalah
konsep tentang ibadah, akidah, tradisi dan etika Islam secara lahir dan
batin.[5]
Al-Qur’an menggunakan
kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara lain
firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah/2: 31-32 “proses pencapaian pengetahuan dan
objek pengetahuan” [6]. Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita kepada
pembicaraan tentang sumber-sumber ilmu disamping klasifikasi dan ragam
disiplinnya.[7] 
2. Pengertian Al-Qur’an
Kata al-Qur’an merupakan
bentuk Mashdar (kata kerja yang dibendakan), dengan mengikuti standar Fu’lan,
sebagaimana lafadz Gufran, Rujhan dan Syukran. Lafadz Qur’an adalah lafadz
Mahmuz, yang salah satu bagiannya berupa huruf hamzah, yaitu pada bagian akhir,
karenanya disebut Mahmuz Lam, dari lafadz:
Qara’a-Yaqra'[u]-Qirâ’at[an]-Qur’ân[an], dengan konotasi
Tala-Yatlu-Tilawat[an]: membaca-bacaan. Kemudian lafadz tersebut mengalami
konversi dalam peristilahan syariat, dari konotasi harfiah ini, sehingga
dijadikan sebagai nama untuk bacaan tertentu, yang dalam istilah orang Arab
disebut: Tasmiyyah al-maf’ul bi al-mas{dar, menyebut obyek dengan Masdarnya.
Konotasi harfiah seperti ini dinyatakan dalam firman Allah swt. dalam Q.S.
al-Qiyamah/75:16-17.
Terjemahnya: Janganlah
kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karena hendak cepat-cepat
(menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di
dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai
membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.[8]
Sebagian ulama berpendapat
bahwa kata al-Qur’an bukan lafadz Mahmuz (yang salah satu bagiannya berupa
huruf hamzah) dan tidak diambil dari pecahan kata قرأ.[9] Seperti Imam Syafi’i
(150-204 H), salah seorang imam mazhab yang terkenal, mengatakan bahwa kata
al-Qur’an ditulis dan dibaca tanpa hamzah, serta tidak diambil dari pecahan
kata manapun (ghayr musytaqq). Ia adalah nama khusus yang dipakai untuk kitab
suci yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw., seperti halnya dengan nama
Injil dan Taurat, yang masing-masing diberikan kepada nabi Isa dan nabi
Musa.[10]
Para ahli bahasa, ulama
ushul dan kalam telah mendefinisikan al-Qur’an dengan definisi yang beragam.
Dalam pandangan ahli bahasa, al-Qur’an adalah nama perkataan Allah yang
memiliki mu’jizat, yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Ulama fikih dan
usul memberikan definisi al-Qur’an yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada
Muhammad saw., membacanya dinilai sebagai ibadah, dinukilkan secara mutawatir
mulai dari surah al-Fatihah sampai ke akhir surah al-Nas. Sedangkan ulama kalam
memberikan pengertian al-Qur’an sebagai kalam Allah yang berdiri sendiri, bukan
berupa huruf, bukan makhluk dan tidak dengan suara.[11]
Dari beberapa definisi
di atas bisa disimpulkan bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah yang berupa
mukjizat, diturunkan kepada Muhammad saw. dan dinukil kepada kita secara
mutawatir, serta dinilai beribadah ketika membacanya.
Batasan: kalam Allah
yang berupa mukjizat telah menafikan selain kalam Allah, seperti kata-kata
manusia, jin, malaikat, nabi atau rasul. Karena itu, hadits Qudsi ataupun
hadits Nabawi tidak termasuk di dalamnya.
Batasan: diturunkan
kepada Muhammad saw. telah mengeluarkan apa saja yang dikatakan sebagai
al-Qur’an, namun tidak mutawatir, seperti bacaan-bacaan Syaz, yang tidak
Mutawatir, yang telah diriwayatkan bahwa bacaan tersebut merupakan al-Qur’an,
namun ternyata diriwayatkan secara Ahad, maka bacaan tersebut tidak bisa
dianggap sebagai al-Qur’an.
Misalnya, bacaan Ibn
Mas’ud terhadap firman Allah swt. dalam Q.S. al-Maidah/5: 89.
…فَمَنْ لَمْ يَجِدْ
فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّام (89) ….
….Barangsiapa tidak sanggup
melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari…[12] yang
beliau tambahkan dengan: Mutatabi’at (berturut-turut),  atau bacaan beliau
terhadap firman Allah dalam Q.S. al-Nisa/4: 20.
…وَءَاتَيْتُمْ
إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلاَ تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا (20)…
…Sedang kamu telah
memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah
kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikitpun…[13] yang juga beliau
tambahkan dengan: Min Dzahab [in] (dari emas), setelah lafadz: Qint}ar[an]
(harta yang banyak). Jadi penggantian, penambahan atau yang sejenis dari
bacaan-bacaan tersebut tidak layak disebut al-Qur’an, bahkan disebut hadits
Nabawi juga tidak boleh, karena bacaan-bacaan tersebut telah dinisbatkan kepada
pembacanya. Maka, ia tidak lebih dari sekedar tafsir, atau pandangan bagi orang
yang menetapkannya.
Mengenai batasan
terakhir: dinilai beribadah ketika membacanya telah mengeluarkan hadits Qudsi,
meski ia dinisbatkan kepada Allah. Sebab, membacanya tidak bernilai ibadah,
sebagaimana yang akan dijelaskan kemudian.
3. Pengertian Ulumul
Qur’an
Adapun yang dimaksud
dengan Ulumul Qur’an dalam terminologi para ahli ilmu-ilmu al-Qur’an seperti
diformulasikan Muhammad ‘Ali al-S}abuni adalah sebagai berikut:
يقصد بعلوم القرآن
الأبحاث التى تتعلق بهذا الكتاب المجيد الخالد من حيث الترول، والجمع،
 الترتيب والتدوين ومعرفة اسباب الترول والمكي منه والمدنى ومعرفة الناسخ
والمنسوخ والمحكم والمتشابه وغير ذلك من الأبحاث الكثيرة اتى تتعلق بالقرآن العظيم
او لها صلة به[14].…
“Yang dimaksud dengan
Ulumul Qur’an ialah rangkaian pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an yang
agung lagi kekal, baik dari segi (proses) penurunan dan pengumpulan serta
tertib urutan-urutan dan pembukuannya, dari sisi pengetahuan tentang asbabun nuzul,
makiyyah-madaniyyah, nasikh-mansukhnya, muhkam mutasyabihnya, dan berbagai
pembahasan lain yang berkenaan dengan al-Qur’an.”
Dari definisi Ulumul
Qur’an di atas, dapat dipahami bahwa yang menjadi objek utama dari kajian
Ulumul Qur’an adalah al-Qur’an itu sendiri.
Selain definisi di atas,
masih kita dapati pula definisi yang lain, seperti Manna‘ al-Qattan dalam
Mabah}is| fi Ulum al-Qur’an memberikan defenisi Ulumul Qur’an sebagai berikut:
العلم الذى يتناول
الأبحاث المتعلقة بالقران من حيث معرفة أسباب النزول, وجمع القران وترتيبه, ومعرفة
المكي والمدنى, والناسخ والمنسوخ, والمحكم والمتشابه, إلى غير ذلك مماله صلة
بالقران.[15]
“Ulumul Qur’an adalah
ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an
 dari sisi informasi tentang  Asbabun al-Nuzul (sebab-sebab turunnya
al-Qur’an), kodifikasi dan tertib penulisan al-Qur’an, ayat-ayat makkiyah dan
madaniyah, nasihk dan mansukh, ayat-ayat muhkam dan mutasyabih dan hal-hal lain
yang berkaitan dengan al-Qur’an”.
Al-Zarqani dalam kitab
Manahilul Irfan fi Ulum al-Qur’an merumuskan definisi Ulumul Qur’an, ialah:
عُلُوْمُ الْقُرْآنِ هُوَ
مَبَاحِثُ تَتَعلَّقَ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ مِنْ نَاحِيَةِ نُزُوْلِهِ
وَتَرْتِيْبِهِ وَجَمْعِهِ وَكَتَابَتِهِ وَقِرَاءَتِهِ وَتَفْسِيْرِهِ
وَاِعْجَازِهِ وَنَاسِخِهِ وَمَنْسُوْخِهِ وَدَفْعِ الشُّبَهِ عَنْهُ وَنَحْوِ
ذلِكَ
“Ulumul Qur’an ialah
pembahasan-pembahasan masalah yang berhubungan dengan al-Qur’an, dari segi
urutannya, urut-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya,
mukjizatnya, nasikh-mansukhnya, dan penolakan/ bantahan terhadap hal-hal yang
bias menimbulkan confused (keraguan) terhadap al-Qur’an (yang sering
dilancarkan oleh orientalis dan atheis dengan maksud untuk menodai kesucian
al-Qur’an) dan sebagainya.”
Dari definisi-definisi
Ulumul Qur’an tersebut di atas, kita dapat megambil kesimpulan bahwa Ulumul
Qur’an adalah suatu ilmu yang lengkap dan mencakup semua ilmu yang ada
hubungannya dengan al-Qur’an baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti tafsir,
maupun berupa ilmu-ilmu bahasa Arab seperti ilmu I’rab al-Qur’an.
Ulumul Qur’an berbeda
dengan ilmu yang merupakan cabang dari Ulumul Qur’an. Misalnya ilmu Tafsir yang
menitikberatkan pembahasannya pada penafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Ilmu Qira’at
menitikberatkan pembahasannya pada cara membaca lafal-lafal al-Qur’an.
Sedangkan Ulumul Qur’an membahas al-Qur’an dari segala segi yang ada
relevansinya dengan al-Qur’an. Karena itu, ilmu itu diberi nama Ulumul Qur’an
dengan bentuk jamak, bukan Ulumul Qur’an dengan bentuk mufrad.
B. Ruang Lingkup dan
Pembahasan Ulumul Qur’an
Ruang lingkup dan
pembahasan Ulumul Qur’an sangat luas. Dalam kitab al-Itqan, al-Syuyuti
menguraikan sebanyak 80 cabang ilmu.[16] Dari tiap-tiap cabang terdapat
beberapa macam cabang ilmu lagi. Kemudian al-Suyuti mengutip Abu Bakar Ibnu
al-Araby yang mengatakan bahwa Ulumul Qur’an terdiri dari 77450 ilmu. Hal ini
didasarkan kepada jumlah kata yang terdapat dalam al-Qur’an dengan dikalikan
empat. Sebab, setiap kata dalam al-Qur’an mengandung makna zahir, batin,
terbatas, dan tidak terbatas. Perhitungan ini masih dilihat dari sudut
mufradatnya. Adapun jika dilihat dari sudut hubungan kalimat-kalimatnya, maka
jumlahnya menjadi tidak terhitung.
Menurut Quraish Shihab,
materi pembahasan Ulumul Qur’an dapat dibagi dalam empat komponen: 1)
pengenalan terhadap al-Qur’an, 2) kaidah-kaidah tafsir, 3) metode-metode
tafsir, dan 4) kitab-kitab tafsir dan mufassir.[17] Sementara itu, Jalal al-Din
al-Bulqiny[18] membagi kajian ilmu al-Qur’an menjadi enam kelompok besar,
yaitu: 1) Nuzul, 2) Sanad, 3) Ada’, 4) Al-Faz, 5) Ma’nan Muta‘alliq bi
al-Ahkam, dan 6) Ma’nan muta’alliq bi al-faz. Selanjutnya 6 kelompok ini dibagi
lagi menjadi 50 persoalan seputar pembahasan Ulumul Qur’an.
Senada dengan pandangan
al-Bulqiny, Hasby al-Shiddieqi berpendapat dari segala macam pembahasan Ulumul
Qur’an itu kembali ke beberapa pokok pembahasan saja seperti:
1. Nuzul. Ayat-ayat yang
menunjukan tempat dan waktu turunya ayat al-Qur’an misalnya makkiyah,
madaniyah, hadhariah, safariyah, nahariyah, lailiyah, syita’iyah, shaifiyah,
dan firasyiah.
2. Sanad. Sanad yang
mutawattir, ahad, syadz, bentuk-bentuk qira’at nabi, para periwayat dan para
penghapal al-Qur’an, dan cara tahammul (penerimaan riwayat).
3. Ada’ al-Qira’ah.
Menyangkut waqaf, ibtida’, imalah, madd, takhfif hamzah, idgham.
4. Pembahasan yang
menyangkut lafadz Al-Qur’an, yaitu tentang gharib, mu’rab, majaz, musytarak,
muradif, isti’arah, dan tasybih.
5. Pembahasan makna
al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, yaitu ayat yang bermakna Am dan tetap
dalam keumumanya, Am yang dimaksudkan khusus, Am yang dikhususkan oleh sunnah,
nash, zahir, mujmal, mufashal, mantuq, mafhum, mutlaq, muqayyad, muhkam,
mutasyabih, musykil, nasikh mansukh, muqaddam, mu’akhar, ma’mul pada waktu
tertentu, dan ma’mul oleh seorang saja.
6. Pembahasan makna
al-Qur’an yang berhubungan dengan lafadz, yaitu fasl, wasl, i’jaz, itnab,
musawah, dan qasr.
C. Perkembangan Ulumul
Qur’an
1. Masa Pra Kodifikasi
(Qabl al-Tadwin)
Pada masa ini sebenarnya
sudah timbul benih kemunculan Ulumul Qur’an yang dirasakan semenjak Nabi masih
ada. Hal ini ditandai dengan gairah semangat yang terpancar dari sahabat dalam
mempelajari sekaligus mengamalkan al-Qur’an dengan memahami ayat-ayat yang
terkandung di dalamnya.
Jika mereka menemukan
kesulitan dalam memahami ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakannya
langsung kepada nabi. Misalnya ketika mereka menanyakan firman Allah dalam Q.S.
al-An’am/6: 82 tentang pengertian z}ulm. Nabi menjawabnya dengan berdasarkan
Q.S. Luqman/31: 13 bahwa z}ulm itu adalah syirk. Dengan demikian, sangat wajar
jika ilmu-ilmu al-Qur’an pada masa nabi Muhammad belum dibukukan mengingat
kondisinya belum membutuhkan disebabkan kemampuan para sahabat yang cukup mapan
dalam menghapal memahami al-Qur’an.
Perkembangan al-Qur’an
pada massa ini hanya sebatas dari mulut ke mulut, belum ada pembukuan teks
al-Qur’an karena ditakutkan tercampurnya al-Qur’an dengan sesuatu selain
al-Qur’an. Di samping itu Rasulullah saw.  juga merekomendasikan untuk
tidak menulis al-Qur’an .
2. Masa Persiapan
Kodifikasi 
Pada masa pemerintahan
Usman bin Affan, Islam telah tersebar luas. Orang-orang Arab yang turut serta
dalam ekspansi wilayah berasimilasi dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal
bahasa Arab. Sehingga dikhawatirkan Arabisitas bangsa itu akan lebur dan
al-Qur’an itu akan menjadi kabur bagi kaum muslimin bila ia tidak dihimpun
dalam sebuah mushaf sehingga mengakibatkan kerusakan yang besar di dunia ini
akibat salah dari penginterpretasian dalam pemaknaan Al-Qur’an.
Maka Usman berinisiatif
untuk melakukan penyeragaman tulisan al-Qur’an dengan menyalin sebuah Mushaf
al-Imam (induk) yang disalin dari naskah-naskah aslinya. Keberhasilan Utsman
dalam menyalin Mushaf al-Imam ini berarti ia telah menjadi peletak pertama bagi
tumbuh dan berkembangnya Ulum al-Qur’an yang kemudian popular pada hari ini
dengan istilah Ilmu Rasm al-Qur’an atau Ilmu Rasm Ustmani.
Pada masa pemerintahan Ali
terjadi banyak penyimpangan dalam membaca bahasa Arab sehingga beliau khawatir
akan kekeliruan dalam membaca terlebih memahami Al-Qur’an. Oleh karena itu, Ali
memerintahkan Abu al-Aswad al-Dualy (w.691.H.) untuk menyusun kaidah-kaidah
bahasa Arab dalam upaya memelihara bahasa al-Qur’an. Tindakan Ali ini kemudian
dianggap sebagai perintis lahirnya Ilm al-Nahw dan Ilm I’rab al-Qur’an.

Baca juga: Format Susunan Makalah yang Baik dan Benar

Setelah berakhirnya masa
pemerintahan Khulafa Rasyidin, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh penguasa
Bani Umayyah. Upaya pengembangan dan pemeliharaan Ulumul Qur’an dikalangan
sahabat dan tabi’in semakin marak, khususnya melalui periwayatan sebagai awal
dari usaha pengkodifikasian.
3.  Masa Kodifikasi
Ulumul Qur’an
Pada Abad III H, para
ulama mulai menyusun beberapa Ilmu al-Qur’an, ialah :
a. Ali bin Al-Madini (w.
243 H ) menyusun Ilmu Asbabun al-Nuzul.
b. Abu Ubaid Al-Qasim
bin Salman (w. 224 H) menyusun Ilmu Nasikh wa al- Mansukh dan Ilmu Qira’at.
c. Muhammad bin Ayyub
al-Dhirris (w. 294 H) menyusun Ilmu al-Makki wa al-Madani.
d. Muhammad bin Khalaf
Al-Marzubzn (wafat tahun 309 H ) menyusun kitab al-Hawi fi Ulum al-Qur’an ( 27
juz ).
Pada abad IV H, mulai
disusun Ilmu Garib al-Qur’an dan beberapa kitab Ulumul Qur’an dengan memakai
istilah. Di antara Ulama yang menyusun Ilmu Garib al-Qur’an dan kitab-kitab
Ulumul Qur’an pada abad IV ini ialah :
a. Abu Bakar
Al-Sijistani (w. 330 H ) menyusun Ilmu Garib al-Qur’an.
b. Abu Bakar Muhammad
bin Al-Qasim al-Anbari (w. 328 H) menyusun kitab Ajaib Ulum al-Qur’an. Di dalam
kitab ini, ia menjelaskan atas tujuh huruf, tentang penulisan Mushaf, jumlah
bilangan surat-surat, ayat-ayat dan kata-kata dalam al-Qur’an.
c. Abul Hasan al-Asy’ari
(w. 324 H) menyusun kitab Al-Mukhtazan fi Ulum al-Qur’an.
d.  Abu Muhammad Al-Qassab Muhammad bin Ali
Al-Karakhi (w. 360 H) menyusun kitab :
e. Muhammad bin Ali
al-Adwafi (w. 338 H ) menyusun kitab al-Istigna’ fi Ulum al-Qur’an ( 20 jilid
).
Pada abad V H, mulai
disusun Ilmu I’rabil Qur’an dalam satu kitab. Di samping itu, penulisan
kitab-kitab dalam Ulumul Qur’an masih terus dilakukan oleh ulama pada masa ini.
Adapun ulama yang berjasa dalam pengembangan Ulumul Qur’an pada abad V ini,
antara lain ialah:
Pengertian dan Ruang Lingkup Ulumul Quran

a. Ali bin Ibrahim bin
Sa’id al-Khufi (w. 430 H). Selain mempelopori penyusunan Ilmu I’rab al-Qur’an,
ia juga menyusun kitab al-Burhan Fi Ulum al-Qur’an. Kitab ini selain
menafsirkan Al-Qur’an seluruhnya, juga menerangkan Ilmu-ilmu al-Qur’an yang ada
hubungannya dengan ayat-ayat al-Qur’an yang ditafsirkan. Karena itu, Ilmu-ilmu
al-Qur’an tidak tersusun secara sistematis dalam kitab ini. Sebab Ilmu-ilmu
al-Qur’an diuraikan secara terpencar-pencar, tidak terkumpul dalam bab-bab
menurut judulnya. Namun demikian, kitab ini merupakan karya ilmiah yang besar
dari seorang ulama yang telah merintis penulisan kitab tentang Ulumul Qur’an
yang agak lengkap.

b. Abu ‘Amr Al-Dani (w.
444 H ) menyusun kitab al-Tafsir Fi al-Qira‘a al-Sab’a dan kitab al-Muhkam Fi
al-Nuqati.
Pada abad VI H, di
samping terdapat ulama yang menerusakan pengembangan Ulumul Qur’an, juga
terdapat ulama yang mulai menyusun Ilmu Mubhamat al-Qur’an. Mereka itu antara
lain, ialah :
a. Abul Qasim bin
Abdurrahman Al-Suhaili (w. 581 H) menyusun kitab tentang Mubhamat al-Qur’an,
menjelaskan maksud kata-kata dalam al-Qur’an yang tidak jelas apa atau siapa
yang dimaksudkan. Misalnya kata rajulun (seorang lelaki) atau malikun (seorang
raja).
b. Ibnul Jauzi (w. 597 H
) Kitab Funun al-afnan Fi Ajaib al-Qur’an dan kitab al-Mujtaba Fi Ulum
Tata’allaqu bi al-Qur’an.
Pada abad VII H,
Ilmu-ilmu al-Qur’an terus berkembang dengan mulai tersusunnya Ilmu Majaz
al-Qur’an dan tersusun pula Ilmu Qira’at. Di antara ulama Abad VII yang besar
perhatiannya terdapat Ilmu al-Qur’an, ialah :
a. Ibnu Abd al-Salam
yang terkenal dengan nama al-Izz (w. 660 H) adalah pelopor penulisan Ilmu Majaz
al-Qur’an dalam satu kitab.
b. Alamudin Al-Sakhawi
(w. 643 H ) menyusun Ilmu Qira’at dalam kitabnya Jamal al-Qurra’ Wa Kamal
al-Iqra’.
c. Abu Syamah (w. 655 H
) menyusun kitab al-Mursyid al-Wajiz Fi Ma Yata’ allaqu bi al-Qur’an.
Pada Abad VII H,
muncullah beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru tentang Al-Qur’an masih
tetap berjalan terus. Di antara mereka ialah :
a. Ibnu Abil Isba’
menyusun Ilmu Bada’i al-Qur’an, suatu ilmu yang membahas macam-macam badi’
(keindahan bahasa dan kandungan Al-Qur’an) dalam Al-Qur’an.
b. Ibnu Qayyim (w. 752 H
) menyusun Ilmu Aqsam al-Qur’an, suatu ilmu yang membahas tentang sumpah-sumpah
yang terdapat dalam al-Qur’an.
c. Najmudin Al-Thufi (w.
716 H) menyusun Ilmu Hujaj al-Qur’an atau Ilmu Jadal al-Qur’an, suatu Ilmu yang
membahas tentang bukti-bukti/dalil-dalil (argumentasi-argumentasi) yang dipakai
oleh al-Qur’an untuk menetapkan sesuatu.
d. Abul Hasan
Al-Mawardi menyusun Ilmu Ams}al al-Qur’an, suatu ilmu yang membahas tentang
perumpamaan-perumpamaan yang terdapat di dalam al-Qur’an.
e. Badruddin Al-Zarkasyi
(w. 794 H) menyusun kitab al-Burhani Fi Ulum al-Qur’an. Kitab ini telah
diterbitkan oleh Muhammad Abdul Fadl Ibrahim (4 juz).
Pada abad IX dan
permulaan abad X H, makin banyak karangan-karangan yang ditulis oleh ulama
tentang Ilmu-ilmu al-Qur’an dan pada masa ini perkembangan Ulumul Qur’an
mencapai kesempurnaannya. Di antara ulama yang menyusun Ulumul Qur’an pada masa
ini ialah :
a. Jalaludin al-Bulqini
(w. 824 H ) menyusun kitab Mawaqi’ al-Ulum Min Mawaqi’ al-Nujum. Al-Bulqini ini
dipandang oleh al-Suyuti sebagai ulama yamg mempelopori penyusunan kitab Ulumul
Qur’an yang lengkap, sebab di dalamnya telah disusun sejumlah 50 macam Ilmu
al-Qur’an.
b. Muhammad bin Sulaiman
Al-Kafiyaji (w. 879 H ) menyusun kitab al-Taisir Fi Qawa’id al-Tafsir. 
c. Al-Suyuti (w. 911 H)
menyusun kitab al-Tahbir Fi Ulum al-Tafsir. Penyusunan kitab ini selesai pada
tahun 872 H dan merupakan kitab Ulum al-Qur’an yang paling lengkap karena
memuat 102 macam ilmu-ilmu al-Qur’an. Namun Imam al-Suyuti masih belum puas
atas karya ilmiahnya yang hebat itu. Kemudian ia menyusun kitab al-Itqan Fi
Ulum al-Qur’an (2 juz) yang membahas sejumlah 80 macam ilmu-ilmu al-Qur’an
secara sistematis dan padat isinya. Kitab al-Itqan ini belum ada yang
menandingi mutunya dan kitab ini diakui sebagai kitab standar dalam mata
pelajaran Ulumul Qur’an.
Setelah Al-Suyuti wafat,
perkembangan Ilmu-ilmu al-Qur’an seolah-olah telah mencapai puncaknya dan
berhenti dengan berhentinya kegiatan ulama dalam mengembangkan Ilmu-ilmu
Al-Qur’an, dan keadaan semacam itu berjalan sejak wafatnya Iman Al-Suyuti (911
H) sampai akhir abad XIII H.
Keadaan Ilmu-Ilmu
Al-Qur’an pada abad XIV H ini, maka bangkit kembali perhatian ulama menyusun
kitab-kitab yang membahas al-Qur’an dari berbagai segi dan macam Ilmu
al-Qur’an.
Di antaranya mereka
adalah:
a. Thahir Al-Jazairi
menyusun kitab al-Tibyan Fi Ulum al-Qur’an yang selesai pada tahun 1335 H.
b. Jamaludin al-Qaim (w.
1332 H ) mengarang kitab Mah{asin al-Takwil.
c. Muhammad Abduh Adzim al-Zarqani
menyusun kitab Manahil al-Irfan Fi Ulum al-Qur’an ( 2 jilid ).
d. Muhammad Ali
Salamah mengarang kitab Manhaj al-Furqan Fi Ulum al-Qur’an.
e. T{ant{awi Jauhari
mengarang kitab al-Jawahir Fi Tafsir al-Qur’an dan kitab al-Qur’an wa al-Ulum
al-As{riyah.
f. Muhammad Shadiq
al-Rafi’i menyusun kitab I’jaz al-Qur’an.
g. Must{afa al-Maraghi
menyusun risalah tentang “Boleh menerjemahkan al-Qur’an, dan risalah ini
mendapat tanggapan dari para ulama yang pada umumnya menyetujui pendapat
Must{afa Al-Maragi, tetapi ada juga yang menolaknya, seperti Must{afa S{abri
seorang ulama besar dari Turki yang mengarang kitab dengan judul “Risalah
Tarjamah al-Qur’an”.
h. Sayyid Qutub
mengarang kitab al-Tas{wir al-Fanni Fi al-Qur’an dan kitab Fi Dzilal al-Qur’an.
i. Sayyid Muhammad
Rasyid Ridha mengarang kitab Tafsir Qur’an al-Hakim. Kitab ini selain
menafsirkan al-Qur’an secara ilmiah, juga membahas Ulumul Qur’an.
j. Dr. Muhammad Abdullah
Darraz, seorang Guru Besar Universitas al-Azhar yang diperbantukan di Perancis,
mengarang kitab Al-Naba’ Al-Adzim, Naz{rah Jadidah Fi al-Qur’an.
k. Malik bin Nabi
mengarang kitab Al-Z<ahirah al-Qur’aniyah. Kitab ini membicarakan masalah
wahyu dengan pembahasan yang sangat berharga.
l. Dr. Shubi Al-Salih,
Guru Besar Islamic Studies dan Fiqh al-Lugah pada fakultas Adab Universitas
Libanon, mengarang kitab Mabah{is Fi Ulum al-Qur’an. Kitab ini selain membahas
Ulumul Qur’an, juga menanggapi/membantah secara ilmiah pendapat-pendapat
orientalis yang dipandang salah mengenai berbagai masalah yang berhubungan
dengan al-Qur’an.
m. Muhammad Al-Mubarak,
Dekan Fakultas Syari’ah Universitas Syria, mengarang kitab al-Manhal al-Khalid.
Lahirnya istilah al-Qur’an yang Mudawwan
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian pembahasan
makalah tersebut, dapat disimpulkan beberapa poin sebagai sebagai berikut:
1. Ulumul Qur’an terdiri
atas dua kata: ulum dan al-Qur’an. Ulum (علوم) adalah plural dari kata tunggal
ilm (علم), yang secara harfiah berarti ilmu. Sedangkan al-Qur’an adalah nama
bagi kitab Allah yang di turunkan kepada nabi Muhammad saw. Dengan demikian,
maka secara harfiah kata ‘ulumul qur’an’ dapat diartikan sebagai ilmu-ilmu
al-Qur’an. Secara etimologis, Ulumul Qur’an adalah Ilmu-ilmu yang mencakup
pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an dari sisi informasi
tentang Asbabun Nuzul (sebab-sebab tuunnya Al-Qur’an), kodifikasi dan tertib
penulisan al-Qur’an, ayat-ayat makkiyah, madaniyah, nasikh dan mansukh,
al-muhkam dan mutasyabih, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Al-Qur’an.
2. Istilah Ulumul Qur’an
sebagai satu cabang ilmu belum dikenal di zaman Rasulullah saw. Setiap
persoalan yang muncul di masa itu selalu dikembalikan/ditanyakan langsung
kepada Rasulullah, sehingga Rasulullah mendapat gelar seolah-olah al-Qur’an
berjalan di atas bumi. Demikian pula zaman Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
3. Di era pemerintahan
Usman bin Affan, ketika bangsa Arab mulai mengadakan kontak dengan
bangsa-bangsa lain, mulai terlihat ada perselisihan dikalangan umat Islam,
khususnya dalam hal bacaan Al-Qur’an. Akhirnya, Usman berinisiatif untuk
melakukan penyeragaman tulisan al-Qur’an dengan menyalin sebuah Mushaf Al-Imam
(induk) yang disalin dari naskah-naskah aslinya. Keberhasilan Usman dalam
menyalin Mushaf Al-Imam ini berarti ia telah menjadi peletak pertama bagi
tumbuh dan berkembangnya ilmu al-Qur’an yang kemudian populer dengan Ilmu Rasm
Al- Qur’an atau Ilmu Rasm Usmani.
4. Al-Qur’an ketika itu
belum diberi harkat maupun tanda baca lainnya untuk memudahkan membaca
Al-Qur’an. Oleh karena itu, Ali memerintahkan Abu Al-Aswad Al-Dualy (w. 691 H.)
untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa arab dalam upaya memelihara bahasa
Al-Qur’an. Tindakan Ali ini kemudian dianggap sebagai perintis lahirnya Ilm
al-Nahw dan Ilm I’rab Al-Qur’an.
5. Ilmu al-Qur’an terus
berkembang sejak abad II H sampai munculnya al-Suyuti pada abad IX. Pada waktu
itu, perkembangan Ilmu-ilmu al-Qur’an seolah-olah telah mencapai puncaknya dan
berhenti dengan berhentinya kegiatan ulama dalam mengembangkan Ilmu-ilmu
Al-Qur’an, dan keadaan semacam itu berjalan sejak wafatnya Iman Al-Suyuti. Setelah
wafatnya al-Suyuti sampai saat ini, ulama-ulama kontemporer terus mengembangkan
ilmu al-Qur’an
B. Kritik dan Saran
Penulis telah memberikan
gambaran umum tentang pengertian Ulumul Qur’an, ruang lingkup dan sejarah
perkembangannya dari masa ke masa. Namun tidak menutup kemungkinan, banyak
persoalan seputar terma yang diangkat yang belum tuntas, sehingga perlu
tinjauan kembali dari teman-teman, dan lebih khusus dosen pemandu untuk
memberikan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini dan
semoga menjadi bermanfaat bagi kita semua. 
DAFTAR PUSTAKA
Ismail, Muh{ammad Bakri,
Dirasat fi Ulum al-Qur‘an, Cet. II; Kairo: Dar al-Manar, 1999
Mahmud, Muni‘ Abd
al-H}alim, Ah}mad Syah}atah Ah}mad Musa, Abd al-Badi‘ Abu Hasyim Muh}ammad,
Ulum al-Qur‘an al-Karim, t.d.
Mardan, Al-Qur’an:
Sebuah Pengantar Memahami al-Qur’an Secara Utuh, Cet. I; Makassar: Alauddin
Press, 2009
al-Qattan, Manna’,
Mabahis| fi ulum al-Qur‘an, Cet. 10; Kairo: Maktabah Wahbah, 1997.
al-S}abuni, Muhammad ‘Ali,
al-Tibyan fi ulum al-Qur’an, Cet. II; Kairo: Dar al-Sabuni, 2003.
Shihab, Quraish,
“Membumikan” al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Cet.
XIX; Bandung: Mizan, 1999.
al-Suyut}i, Jalal
al-Din, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Cet.I; Beirut: Muassasah al-Risalah, 2008.
Syahatah, Abdullah, Ulum
al-Qur’an, Kairo: Dar Garib, 2002
al-Usaimin, Muhammad ibn
S}alih, Syarh Muqaddimah fi Usul al-Tafsir, Cet. I; Kairo: Dar ibn al-Jauzy,
2009.
Ushama, Thameem,
Methodologies of the Qur’anic Exegesis. Terj. Drs. Hasan Basri, MA dan Drs.
Amroeni, M.Ag, Metodologi Tafsir al-Qur’an. Cet. I; Jakarta: Riora Cipta, 2001.
al-Zarkasyi, Badr
al-Din, al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, Kairo, Dar al-Hadis, 2006.
[1]M. Quraish Shihab,
“Membumikan” Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat,
(Cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999), h. 21
[2]Muh{ammad Bakri
Ismail, Dirasat fi Ulum al-Qur‘an (Cet. II; Kairo: Dar al-Manar, 1999), h. 9.
[3]Muni‘ Abd al-H}alim
Mah}mud, Ah}mad Syah}atah Ah}mad Musa, Abd al-Badi‘ Abu Hasyim Muh}ammad, Ulum
al-Qur‘an al-Karim (t.d.), h. 49.
[4]Ibid
[5]Baca Ihya Ulumuddin
tentang konsep ilmu.
[6]Kementerian Agama RI,
al-Qur’an dan Terjemahnya, (t.t.: PT. Adhi Aksara Abadi Indonesia, 2011), h. 6
[7]M. Quraish Shihab,
Op.cit., h. 62
[8]Kementerian Agama RI,
Op.cit., h. 854.
[9]Manna’ al-Qattan,
Mabahis| fi ulum al-Qur‘an (Cet. 10; Kairo: Maktabah Wahbah, 1997), h. 15.
Lihat pula Muni‘ Abd al-H}alim Mah}mud, Ah}mad Syah}atah Ah}mad Musa, Abd
al-Badi‘ Abu Hasyim Muh}ammad, Op.cit., h. 8.
[10]Mardan, Al-Qur’an:
Sebuah Pengantar Memahami al-Qur’an Secara Utuh, (Cet. I; Makassar: Alauddin
Press, 2009), h. 25
[11]Muni‘ Abd al-H}alim
Mah}mud, Ah}mad Syah}atah Ah}mad Musa, Abd al-Badi‘ Abu Hasyim Muh}ammad,
Op.cit., h. 50-54
[12]Kementerian Agama
RI, Op.cit., h. 162.
[13]Kementerian Agama
RI, op. cit., h. 105.
[14]Muhammad ‘Ali
al-S}abuni, al-Tibyan fi ulum al-Qur’an (Cet. II; Kairo: Dar al-Sabuni, 2003),
h. 7.
[15]Manna’ al-Qattan,
Op.cit., h. 11
[16]Jalal al-Din
al-Suyut}i, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, (Cet.I; Beirut: Muassasah al-Risalah,
2008), h. 827-832.
[17]M. Quraish Shihab,
Op. cit., h. 154-155
[18]Pengarang kitab
“Mawaqi al-ulum min mawaqi al-Nujum” dan salah seorang ulama hadis dari Mesir.
Telah dipresentasikan
dalam Forum Seminar Kelas Mata Kuliah Ulumul Qur’an Semester I T. A. 2012-2013
Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam pada Program Magister UIN Alauddin Makassar
oleh Mallingkai Ilyas
SHARE