Makna dan Hukum Isti’adzah di dalam kitab Aysar at-Tafasir

97
Tongkronnganislami.net -Salah satu doa, atau kalimat yang pada umumnya dihafal
dan sering diucapkan oleh umat Islam adalah kalimat “أعوذ بالله من الشيطان الرجيم (Audzu billah minasysyaithanirrajim). Semenjak
kecil, akan kita dapati anak-anak muslim, baik itu di tpa mesjid, atau pun di
sekolahnya akan diajarkan dan disuruh menghafal kalimat ini.
Ketika membaca
al-Qur’an, kalimat ini merupakan kalimat yang mengawali lantunan kalam Ilahi. Dalam
bacaan shalat, kalimat ini pun juga menjadi bagian bacaan yang diajarkan oleh
Rasulullah. Tak pelak lagi, kalimat tersebut tidak akan terlepas dari kehidupan
umat Islam baik itu dari kegiatan ibadah mereka, maupun dari kehidupan
sehari-hari. Kalimat ini, dalam Istilahnya disebut dengan kalimat isti’adzah.
Meskipun hampir seluruh umat Islam di dunia mengetahui,
menghafal dan mengucapkan kalimat isti’adzah, tetapi tidak sedikit dari mereka
yang belum mengerti hakikat, nilai dan konsep dari kalimat tersebut. Pertanyaan
pokok yang bisa menjadi indikator akan ketidaktahuan tersebut di antaranya, apa
makna perkata dari kalimat istiadzah?, doa apa yang kita panjatkan ketika
ber-isti’adzah? Dan kapan saja kita dianjurkan untuk beristiadzah? Jika beberapa
pertanyaan itu diajukan kepada orang Islam, besar kemungkinan banyak yang tidak
bisa menjawabnya. Sebab mayoritas muslim hanya tahu terjemahan dari kalimat
isti’adzah tersebut, yaitu “aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan
yang terkutuk”
. Padahal, sebagai kalimat yang mengandung unsur tauhid dan
keberpasrahan kepada Allah, lafal ini tentunya memiliki makna yang sangat
mendalam. Apa makna berlindung pada lafal اعوذ
?
Allah dalam dimensi seperti apa ketika kita meminta perlindungan dengan kalimat
isti’adzah? Seperti apakah syaitan yang kita minta Allah melindungi diri kita? Bagaimana
maksud terkutut pada kata الرجيم?
Untuk itu kiranya menjadi hal yang penting memahami
konsep isti’adzah ini, dalam rangka lebih menyadari nilai yang terkandung di
dalamnya dan bisa menempatkan bacaan ini dengan tepat. Pentingnya konsep Isti’adzah
salah satunya dilihat dari banyaknya penjelasan yang diberikan oleh ulama,
khususnya yang bergerak di bidang tafsir. Dengan begitu banyak pula prespektif
atau sudut pandang yang dihadirkan oleh para mufassir dalam hal ini.

Pentingnya Isti'adzah dalam Aktivitas

 

Pada tulisan ini, pembahasan konsep kalimat isti’adzah
hanya akan merujuk kepada satu kitab tafsir aysar at-tafasir karya
syaikh Abu Bakar al-Jaza’iry. Hal ini bertujuan agar mudah difahami sehingga
dapat diamalkan.
 
Makna kalimat Isti’adzah
Untuk memahami makna kalimat isti’dzah, setidaknya kita
dapat membaginya menjadi empat bagian. (1), أعوذ (2),  بالله(3)   من الشيطانdan (4) الرجيم
·
أعوذ secara harfiah bermakna “aku berlindung”. Bagi Abu Bakar
al-Jazairy, makna lafal tersebut setidaknya mencakup dua wilayah. Pertama wilayah
استجير  meminta perlindungan. Kedua wilayah اتحصن  membentengi diri. yang menjadi pertanyaan,
kenapa setelah meminta perlindungan kita harus lagi meminta agar Allah
membentengi diri kita? Sebab hakikatnya fitrah manusia adalah kebaikan, mereka
terlahir dengan unsur kebaikan yang telah ditanamkan Allah, tidak ada unsur
kejahatannya. Sehingga manusia pada umumnya melakukan kejahatan dikarenakan dua
hal, karena kotornya hati mereka sehingga diri mereka membiasakan berlaku jahat
dengan melakukan perbuatan tersebut berulang-ulang kali atau karena pada suatu
kondisi, manusia tersebut terjebak dalam keadaan mudah untuk melakukan
kejahatan sehingga setan memanfaatkan hawan nafsu untuk mendorong pelakunya
mengambil kesempatan berbuat jahat tersebut.Dengan begitu maka, lafal audzu yang
diucapkan seseorang berarti = meminta dihindari dari dua keadaan itu. Keadaan pertama
ia meminta Allah untuk melindungi dirinya dari berlaku jahat dan jangan sampai
kejahatan yang mulanya adalah murni bisikan syaitan namun kemudian menjadi
kebiasaan dirinya disebabkan ia telah berulang kali melakukannya. Di sinilah
konteks wilayah meminta perlindungan.Keadaan kedua, ia meminta Allah untuk
membentengi dirinya dari bisikan syaitan yang memanfaatkan keadaanya untuk
mengambil momentum berbuat maksiat. Dengan benteng tersebut, ia mengharapkan
agar lebih kuat untuk menolak berbuat kejahataan di tengah mudahnya melakukan
kejahatan tersebut. Di sinilah konteks wilayah meminta dibentengi diri.

بالله secara harfiah bermakna kepada Allah. Bagi Abu
Bakar al-Jaza’iry, ketika seseorang beristi’adzah, meminta perlindungan kepada
Allah, maka layaknya hamba tersebut faham akan sifat Allah yang Ia mintai
perlindungan. Jangan sampai Allah hanya menjadi simbol nama tuhan belaka yang
itu nantinya akan mengurangi dari mendalami ungkapan doa yang ia sebut.

Di dalam konteks beristi’dzah, setidaknya
Allah memiliki tiga kriteria. Pertama adalah al-Qadir ala kulli syain
(Maha mampu untuk menentukan segala sesuatu). Artinya orang yang meminta
perlindungan kepada Allah, karena orang itu percaya bahwa Allahlah satu-satunya
zat yang bisa menentukan segala sesuatu, termasuk diantaranya adalah memastikan
bahwa hamba tersebut akan senantiasa terlindungi dan terbentengi dari syaitan
dan peluang berbuat jahat.

Kedua Allah sebagai al-Alim bi kulli Syain
(Maha Mengetahui Segala Sesuatu). Artinya kita beristiadzah meminta
perlindungan Allah, dengan kepercayaan bahwa Allah adalah zat yang mengetahu
keadaan kita, keadaan terbaik kita, yang dengan begitu Allah mampu menggiring kita
kepada keadaan terbaik, dan menghindari keadaan yang bisa membentuk kepribadian
kita menjadi pribadi yang tidak baik.

من الشيطان  makna as-Syaitan dalam konteks
istiadzah, menurut Abu Bakar al-jazairy adalah Iblis La’anahu Allah
(Iblis yang dilaknat oleh Allah). Syarh atau penjelasan yang singkat ini
setidaknya membantu kita memetakan secara sederhana konsep syaitan. Kata iblis
dipergunakan dalam al-Qur’an kepada sekelompok jin yang tidak mau mengikuti
perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam. Sehingga Iblis adalah bagian dari
jin yang telah durhaka kepada Allah. Sementara lafal Syaitan adalah iblis yang
telah durhaka dan telah menggoda manusia untuk ikut ingkar kepada Allah. Dengan
begitu, Allah melaknatnya. Dengan kata lain, syaitan adalah gelar kepada Iblis
yang telah dilaknat oleh Allah karena menggoda manusia agar masuk di dalam
keingkaran.

Sehingga, dimensi syaitan tidaklah ditujukan
kepada iblis saja, tetapi juga kepada makhluk lain, termasuk manusia yang
mencoba untuk durhaka dan menggoda manusia untuk ikut ingkar kepada Allah. Hal ini
mendapatkan pembuktian dari surat an-Nas di mana kita juga meminta perlindungan
kepada Rajanya manusia, Allah dari makhluk yang suka membisiki kejahatan (Yuwaswisu
fi Shudur an-Nas
). Dan dikatakan pada ayat terakhir, makhluk yang seperti
itu terdapat pada golongan jin yaitu iblis, juga pada kelompok manusia sendiri
yang memiliki sifat atau gelar syaitan.

Dengan demikian, perlindungan kita terhadap
syaitan pada lafal isti’adzah tidak terbatas pada iblis saja, tetapi juga
manusia yang berlaku seperti syaitan

الرجيم yang
biasa kita artikan “terkutuk”. Adapun Abu Bakar al-Jaza’iry mengartikannya
dengan almub’ad wa al-Matrud min rahmatin wa khairin (yang dijauhkan dan
ditolak dari rahmat dan kebaikan). Hal ini mengindikasikan bahwa predikat
syaitan akan membuat pelakunya tidak akan diliputi rahmat dan kebaikan dari Allah.
Sehingga sangat logis ketika kita meminta perlindungan dari syaitan, sebab
syaitan akan menjauhkan kita dari rahmat dan kebaikan

Makna Umum kalimat al-Isti’adzah
Berdasarkan pemaparan kata per-kata di atas, setidaknya
dapat kita simpulkan bahwa, lafal isti’adzah yang dimaksudkan atau dibaca
memiliki konsep permintaan kepada Allah untuk dilindungi dan dibentengi dari
syaitan baik itu jin atau pun manusia yang dapat menjauhkan kita dari rahmat
dan kebaikan. Ketika lafal isti’adzah itu kita baca sebelum membaca al-Qur’an,
berarti kita meminta agar jangan sampai syaitan membuat kita salah di dalam
membaca al-Qur’an.
Dalam konteks yang lebih umum, dengan lafal isti’adzah
kita meminta agar Allah menjauhkan upaya syaitan menyesatkan diri kita, baik
itu ketersesatan dalam mengamalkan al-Qur’an juga ketersesatan dengan
menjadikan al-Qur’an hanya sebatas bacaan kita, tanpa memfungsikannya sebagai
sumber petunjuk.
 
Hukum Membaca al-Isti’adzah
Pentingnya fungsi kalimat audzu billah hi
minsysyaithanirrajim
, sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, menjadikan
kalimat ini sangat dianjurkan kepada seluruh umat muslim membacanya. Setidaknya
ada tiga keadaan di mana seorang muslim sangat dianjurkan (sunnah muakkadah)
membaca isti’dzah menurut abu Bakar al-jaza’iry
 
Pertama, ketika mau menyebut atau membaca ayat al-Qur’an.
Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, agar syaitan tidak
membuat kita salah membaca al-Qur’an, atau salah menempatkan konteks al-Qur’an
sehingga tidak sesuai yang dimaksud di dalam syariat Islam, seperti
memanfaatkan ayat al-Qur’an untuk membenarkan ketuhanan agama lain sebagaimana
yang sering dilakukan oleh para missionaris. Juga agar kita tidak salah
mengamalkan al-Qur’an
 
Kedua, ketika hendak atau sedang marah. Anjuran ini
bertujuan agar kemarahan kita menjadi reda dan kita tidak melakukan hal-hal
yang berlebihan. Sebab seseorang marah salah satunya disebabkan syaitan yang
memanfaatkan kondisi jiwanya yang sedang kesal dan kecewa. Untuk itu, beristi’adzah
menjadikan kondisi jiwa yang tidak stabil itu tidak sampai berbuah perbuatan
yang berakibat negatif
 
Ketiga, di saat seseorang dalam kondisi mudah
melakukan perbuatan jahat sehingga dikhawatirkan ia lebih cenderung kepada
melakukan perbuatan tersebut. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan
sebelumnya, karena lahirnya perbuatan jahat seseorang juga didukung dari
keadaan yang bisa memicunya berbuat jahat. Apalagi dengan bisikan syaitan yang
memanfaatkan hawa nafsu seseorang. Keadaan seperti ini merupakan keadaan yang
sering terjadi kepada manusia pada umumnya. dan juga menjadi keadaan yang sulit
dihindari, seperti seseorang yang berada pada kondisi masyarakat yang gemar
melakukan maksiat atau pada kondisi kerja di mana orang-orangnya sudah terbiasa
melakukan korupsi. Tentu sangat sulit menghindari untuk tidak ikut dalam
perbuatan yang mayoritas orang melakukannya. Beristighfar dan beristi’adzah
adalah upaya doa seorang hamba agar Allah membentengi dan melindungi dirinya
untuk ikut arus atas keadaan tersebut.
Dengan
begitu, semoga kita lebih bisa khusyu lagi ketika membaca isti’adzah, dan mampu
mengucapkannya di keadaan-keadaan yang tepat. Wallahu musta’an wallahu ala
kulli syain qadir
SHARE