Makna Filosofis Dibalik Kewajiban Membayar Zakat Profesi

175
Zakat Profesi – Kewajiban Membayar Zakat adalah ibadah
yang berkaitan dengan harta benda. Seseorang yang telah memenuhi syarat-syaratnya dituntut untuk
menunaikannya, bukan semata-mata atas dasar kemurahan hatinya, tetapi kalau perlu
dengan tekanan penguasa. Pensyari’atan zakat di dalam Islam menunjukkan bahwa
Islam sangat memperhatikan masalah-masalah kemasyarakatan, terutama nasib orang-orang yang lemah secara ekonominya.
Sehingga mendekatkan hubungan kasih sayang antara sesama manusia dalam
mewujudkan kata-kata bahwa Islam itu bersaudara, saling  membantu, dan tolong-menolong; yang kuat
menolong yang lemah, yang kaya membantu yang miskin (baca: pengertian zakat). 
Salah  satu 
tujuan  zakat  terpenting  adalah  mempersempit ketimpangan ekonomi dalam
masyarakat sampai batas yang seminimal mungkin.Tujuannya adalah menjadikan
perbedaan ekonomi di antara masyarakat secara adil dan seksama, sehingga yang
kaya tidak semakin kaya (dengan mengeksploitasi 
anggota masyarakat yang miskin) dan yang miskin tidak semakin miskin.
Makna  filosofi 
yang  bisa  digali 
dari  adanya  kewajiban 
zakat  profesi
kiranya mengacu
dari garis besar tujuan disyariatkannya zakat. Namun dalam kesempatan lain,
kewajiban zakat pada semua hasil kerja profesi menunjukkan tingkat apresiasi yang lebih pada sumber-sumber harta yang wajib dizakati yang muncul di masa setelah Nabi (baca: Hukum Zakat Profesi).

Pengertian filosofis
adalah sesuatu yang berhubungan dengan filsafat, sedangkan filsafat yang  dimaksud adalah ajaran hukum dan perilaku. Memahami adanya
kewajiban membayar zakat profesi, kiranya dari sudut keadilan, yang merupakan
ciri utama ajaran (hukum) Islam dan anjuran dalam berperilaku, adalah sangat
tepat.
Penetapan zakat pada
setiap harta yang dimiliki akan terasa sangat jelas, dibandingkan dengan hanya
menetapkan kewajiban zakat pada komoditas-komoditas tertentu  saja yang konvensional.  Petani yang kondisinya secara umum kurang
beruntung, tetap harus berzakat, apabila hasil pertaniannya telah mencapai  nishab. 
Karena  itu sangat adil pula apabila
zakat profesi bersifat wajib pada penghasilan yang didapatkan   para dokter, ahli hukum, konsultan
dalam  berbagai  bidang, 
dosen,  pegawai,  dan 
karyawan  yang  memiliki 
gaji tinggi, dan profesi lainnya.
Di samping itu,
kewajiban zakat atas usaha profesi merupakan investasi produktif yang menghasilkan
sumber produktif. Yang berarti bahwa al maal harus diupayakan untuk tidak
mandeg, agar fungsinya untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat 
terpenuhi. Menurut syari’at, investasi mengutamakan  hal-hal yang menyentuh kebutuhan pokok
masyarakat, yakni berkenaan dengan sandang, pangan, dan papan yang dinilai
vital dalam peningkatan kesejahteraan orang banyak.
Menurut Prof. Dr.
Quraisy Shihab, ada tiga alasan yang bisa dijadikan landasan filosofis mengapa
Allah SWT. mensyari’atkan kewajiban zakat. Dan juga  merupakan 
pemaknaan  yang  tepat 
ketika  zakat  profesi 
menjadi  wajib untuk ditunaikan.
Menurutnya tiga alasan tersebut antara lain:
1. Istikhlaf (Penugasan
sebagai Khalifah di Bumi) Allah SWT.

Istikhlaf adalah pemilik seluruh alam raya  dan segala isinya, termasuk  pemilik 
harta  benda. Seseorang yang
beruntung memperolehnya pada hakikatnya hanya menerima titipan sebagai amanat
untuk disalurkan dan dibelanjakan sesuai dengan kehendak pemiliknya (Allah SWT).
Manusia yang dititipi itu berkewajiban memenuhi ketetapan-ketetapan  yang digariskan oleh sang pemilik, baik dalam
pengembangan harta maupun dalam penggunaannya. 


Zakat merupakan salah
satu ketetapan Tuhan menyangkut harta, bahkan shadaqah dan infaq pun demikian. Karena Allah SWT. menjadikan harta benda sebagai sarana kehidupan untuk umat manusia seluruhnya, maka harta tersebut harus
diarahkan guna kepentingan bersama. Allah melarang manusia memberikan  harta benda kepada siapapun  yang diduga keras akan menyia- nyiakannya,
walaupun harta itu “milik” (atas nama) orang yang menyia-
nyiakannya., karena tindakan penyia-nyiaan akan merugikan semua pihak.
Sejak semula Tuhan telah
menetapkan bahwa harta hendaknya digunakan guna kepentingan bersama, bahkan
agaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa “pada mulanya”
masyarakatlah  yang berwenang menggunakan
harta tersebut secara keseluruhan, kemudian Allah menganugerahkan sebagian dari
harta tersebut kepada pribadi-pribadi yang mengusahakan perolehannya sesuai
dengan kebutuhan masing-masing.
2 .  Solidaritas Sosial
Manusia adalah makhluk
sosial.Kebersamaan antara individu dalam suatu  wilayah membentuk   masyarakat yan walaupun berbeda sifatnya
dengan individu-individu tersebut, namun manusia tidak dapat dipisahkan
darinya.
Manusia tidak dapat
hidup tanpa adanya masyarakat,karena sekian banyak pengetahuan diperoleh manusia melalui masyarakatnya, seperti bahasa, adat
istiadat, sopan santun, dan lain-lain. Demikian juga dalam bidang material,
betapapun seseorang memiliki kepandaian,  
namun  hasil-hasil material  yang 
diperolehnya adalah berkat bantuan pihak-pihak lain, baik secara
langsung dan disadari, maupun tidak langsung.
Seorang petani  dapat berhasil karena adanya irigasi, alat-alat,
makanan, pakaian, stabilitas keamanan yang kesemuanya tidak mungkin dapat
diwujudkan secara mandiri. Demikian pula bagi seorang pedagang, siapakah yang
menjual atau membeli dari dan kepadanya? Dari segi lain, harus disadari bahwa
produksi apapun bentuknya, pada hakikatnya merupakan pemanfaatan materi-materi yang
diciptakan dan dimiliki Tuhan. Dalam berproduksi, manusia hanya mengadakan
perubahan, penyesuaian, perakitan satu bahan dengan bahan lain yang telah
diciptakan Allah SWT.
Manusia mengelola,
tetapi Tuhan yang menciptakan dan memilikinya. Dengan  demikian wajar jika Allah
memerintahkan  untuk  mengeluarkan sebagian kecil dari harta yang
diamanatkannya kepada seseorang itu demi kepentingan orang lain.
3.  Persaudaraan
 
Manusia  berasal dari satu keturunan,  antara seorang  dengan 
lainnya terdapat pertalian darah, dekat atau jauh. Pertalian darah
tersebut akan menjadi lebih kokoh dengan adanya persamaan-persamaan  lain, yaitu agama, kebangsaan, lokasi,
domisili, dan sebagainya.
Disadari oleh manusia
semua bahwa hubungan persaudaraan menuntut bukan  sekedar 
hubungan  take  and 
give  (memberi  dan 
menerima),  atau pertukaran
manfaat. Tetapi melebihi itu semua, yakni memberi tanpa menanti imbalan, atau
membantu tanpa dimintai bantuan.
Kebersamaan dan
persaudaraan inilah yang mengantarkan kepada kesadaran  menyisihkan 
sebagian  harta kekayaan khususnya kepada  mereka yang membutuhkan, baik dalam bentuk dalam 
kewajiban  membayar  zakat, maupun shadaqah dan infaq.
Kewajiban membayar zakat profesi adalah sesuai  dengan
tuntunan Islam yang menanamkan
nilai-nilai  kebaikan, kemauan
berkorban, belas kasihan, dan suka memberi dalam jiwa seorang Muslim. Sesuai
pula dengan prinsip kemanusiaan 
yang  memang harus ada dalam
masyarakat; ikut merasakan beban orang
lain dan menanamkannya dalam keyakinan beragama juga, sebagai pokok sifat
kepribadiaannya.
Daftar Rujukan

Quraish Shihab,
Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1999, Cet. XIX.

Pius A. Partanto dam M.
Dahlan al-Bary, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya : Arkola.
Demikianlah Artikel Makna Filosofis Kewajiban Membayar Zakat Profesi, Mudahan bermanfaat
 
SHARE