Manhaj Pengembangan Pemikiran Islam

83
A. Asumsi Dasar Pengembangan
Pemikiran Islam
Pengembangan pemikiran Islam
dibangun dan dikembangkan berdasarkan anggapan dasar atau paradigma tertentu.
Di atas asumsi inilah berbagai perspektif dan metodologi pemikiran keislaman
ditegakkan. Demikian pula asumsi dasar penting bagi Muhammadiyah sebagai
fondasi bagi pengembangan pemikiran keislaman untuk praksis sosial. Karena itu,
pembahasan asumsi mengenai hakekat pandangan keagamaan – posisi Islam, sumber,
fungsi dan metodologi pemikiran Islam — sangat signfikan untuk menentukan cara
kerja epistimologi pemikiran keislaman, baik pendekatan maupun metode yang
dipergunakan.
Posisi Islam dan pemikiran
Islam
.
Membedakan antara Islam dan pemikiran Islam sangat penting di sini. Pemikiran
Islam bukanlah wilayah yang terbebas dari intervensi historisitas (kepentingan)
kemanusiaan. Kita mengenal perubahan dalam pemikiran Islam sejalan dengan
perbedaan ruang dan waktu. Pemikiran Islam tidak bercita-cita untuk mencampuri
nash-nash wahyu yang tidak berubah (al-nushushu al-mutanahiyah) melalui
tindakan pengubahan baik penambahan dan pengurangan atau bahkan pengapusan.
Bagaimanapun kita sepakat bahwa Islam (obyektif) sebagai wahyu adalah petunjuk
universal bagi umat manusia. Pemikiran Islam juga tidak diarahkan untuk
mengkaji Islam subyektif yang ada dalam kesadaran atau keimanan setiap para
pemeluknya. Karena dalam wilayah ini, Allah secara jelas menyakatan kebebasan
bagi manusia untuk iman atau kufur, untuk muslim atau bukan (freedom of
religion; qs. Al-Baqarah 256; Al-Kafirun 1-6). Pemikiran Islam lebih diarahkan
untuk mengkaji dan menelaah persoalan-persoalan dalam realitas keseharian unat
muslim yang “lekang dan lapuk oleh ruang dan waktu” (al-waqai’ ghairu
mutanahiyah).
Dengan meletakkan Islam dalam
tajdid wa al-iftikar, setiap muslim tidak perlu lagi khawatir bahwa pembaharuan
ekspresi, interpretasi dan pemaknaan Islam yang ditawarkan kepada komunitas
dalam locus dan tempus tertentu, tidak memiliki pretensi untuk mengganggu
apalagi merusak Islam sebagai wahyu ataupun keimanan secvara langsung ataupun
tidak. Tajdid wa al-iftikar merupakan program pembaharuan terencana dan
terstruktur yang diletakkan di atas bangunan refleksi motivitas dan
historisitas dan aplikasinya pada realitas kehidupan nyata Islam dalam kontek
sosial-kemasyarakatan dalam arti luas. Dengan program ini pula dimaksudkan agar
Islam benar-benar menjadi rahmatan lil alamin; sebuah proses menafsurkan
universalitas Islam melalui kemampuan membumikannya pada wilayah-wilayah
partikularitas dengan segala keunikannya. Ini berarti pula bahwa pemikiran
Islam menerima kontribusi dari semua lapisan baik dalam masyarakat muslim
(insider) maupun non muslim (outsider).
Sumber pemikiran Islam. Setiap disiplin keilmuan dibangun dan dikembangkan melalui
kajian-kajian atas sumber pengetahuannya. Sumber pemikiran Islam adalah wahyu,
akal, ilham atau intusi dan realitas.
Fungsi Pemikiran Islam. Pemikiran Islam dibangun
dan dikembangkan untuk mendukung universalitas Islam sebagai petunjuk bagi
manusia menuju kesalehan individual dan kesalehan sosial. Kesalehan individual
lebih berkaitan dengan persoalan-persoalan praktek-praktek keagamaan dalam kehidupan
sehari-hari. Sementara kesalehan sosial berhubungan erat dengan
persoalan-persoalan moralitas publik (public morality). Dalam wilayah kesalehan
individual, pemikiran Islam berupaya memberikan kontribusi berupa
petunjuk-petunjuk praktis keagamaan (religious practical guidance), ibadah mahdlan dan masalah-masalah
yang menyangkut moralitas pribadi (private morality). Sedangkan dalam
wilayah kesalehan sosial, pemikiran Islam merespon wacana kontemporer, seperti
masalah sosial-keagamaan, sosial budaya, sosial ekonomi, globalisasi dan
lokalisasi, iptek, lingkungan hidup, etika dan rekayasa genetika serta
bioteknologi, isu-isu keadilan hukum, ekonomi, demokratisasi, HAM, civil society, kekerasan sosial
dan agama, geneder, dan pluralisme agama, sekaligus merumuskan dan melaksanakan
terapannya dalam praksis sosial.
Metodologi Pemikiran Islam. Dalam Islam dikenal ada dua
macam kebenaran, yaitu kebenaran
ikhbary
 dan kebenaran nazary. Yang pertama
adalam kebenaran wahyu yang datang langsung dari Allah swt.. Karena itu
bersifat suci dan bukan obyek kajian dalam pemikiran Islam. Yang kedua adalah
kebenaran yang diperoleh secara ta’aquly. Namun tak dapat dipungkiri bahwa
Islam tidak berada dalam ruang hampa. Nash-nash atau wahyu yang diintepretasi
selalu berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan pengarang, pembaca
maupun audiensnya. Ada rentang waktu –dulu, kini, mendatang — di hadapan ketiga
pihak di atas. Inilah yang disebut dengan lingkaran hermeneutis (hermeneutical
circle
); suatu perubahan terus menerus dalam melakukan interpretasi
terhadap kitab suci (al-nushushu al-mutanahiyah) yang dipandu oleh
perubahan-perubaan berkesinambungan dalam realitas masa kini, baik individu
maupun masyarakat. Dalam kontek yang terus berubah ini, kebutuhan akan cara pembacaan
baru atas teks-teks dan realitas itu menjadi tak terelakkan. Dengan memahami
lingkaran hermeneutis semacam ini, muslim tidak perlu mengulang-ngulang tradisi
lama (turath) yang memang sudah usang untuk kepentingan kekinian dan
kedisinian, tapi juga bukan berarti menerima apa adanya modernitas (hadathah).
Kewajiban muslim adalah melalukan pembacaan atas teks-teks wahyu dan realitas
itu secara produktif (al-qira’ah al-muntijah, bukan al-qira’ah al-mutakarrirah).
Dengan memperhatikan
tuntutan-tuntutan perkembangan, kontinuitas dan perubahan (al-istimrar wa
al-istihalah) dalam realitas kontemporer, perlu diupayakan perubahan paradigma.
Perubahan paradigma tidak berarti semua tradisi ditinggalkan, tetapi patut
dipahami sebagai upaya modifikasi tradisi pemikiran Islam dalam ukuran tertentu
sesuai dengan problem sosial yang ada; dan atau merubah secara total tradisi
dengan sesuatu yang sama sekali baru. Yang pertama dalam rangka menjaga
kontinuitas dalam pemikiran keislaman atau melakukan pengembangan, sementara
yang kedua adalah untuk memproduksi pemikiran keislaman yang sama sekali baru.
Perubahan paradigma mengandaikan metodologi –pendekatan dan metode– baru untuk
merespon problem-problem di atas sekaligus aplikasinya dalam praksis sosial.
Dengan demikian, pemikiran Islam berpegang pada adagium al-muhafazatu ala al-qadim al-salih ma’a
al-akhdh wa al-ijad bi al-jadid al-aslah
.
Dengan rekayasa epistemologis
semacam ini, terbuka kesempatan bagi munculnya wacana keislaman dalam
Muhammadiyah dengan karakteristik antara lain : produktif atau bukan sekedar
pengulangan tradisi lama untuk memecahkan masalah baru; fleksible dalam arti
pemikiran Islam termodifikasi secara luwes, tidak kaku dan terbuka atas kritik
dan pengembangan; imaginatif dalam arti membuka horison pemahaman dan
pendalaman baru melalui istkhsaf; kreatif dalam melahirkan wilayah-wilayah baru
(yang selama ini “tak terpikirkan” dan “belum terpikirkan”) untuk dipikirkan;
dan akibatnya wacana keislaman kontemporer benar-benar berada dalam pergumulan
sejarah yang efektif (effective history) dan tidak ahistoris.
B. Prinsip Pengembangan
Pemikiran Islam
Manhaj peengembangan
pemikiran Islam dikembangkan atas dasar prinsip-prinsip yang menjadi orientasi
utamanya, yaitu :
1.     Prinsip al-mura’ah (konservasi) yaitu upaya pelestarian
nilai-nilai dasar yang termuat dalam wahyu untuk menyelesaikan permasalahan
yang muncul. Pelestarian ini dapat dilakukan dengan cara pemurnian
(purification) ajaran Islam. Ruang lingkup pelestarian adalah bidang aqidah dan
ibadah mahdhah.
2.     Prinsip al-tahdithi (inovasi) yaitu upaya penyempurnaan
ajaran Islam guna memenuhi tuntutan spiritual masyarakat Islam sesuai dengan
perkembangan sosialnya. Penyempurnaan ini dilakukan dengan cara reaktualisasi,
reinterpretasi, dan revitalisasi ajaran Islam.
3.     Prinsip al-ibtikari (kreasi) yaitu penciptaan rumusan
pemikiran Islam secara kreatif, konstraktif dalam menyahuti permasalahan
aktual. Kreasi ini dilakukan dengan menerima nilai-nilai luar Islam dengan
penyesuaian seperlunya (adaptatif). Atau dengan penyerapan nilai dan elemen
luaran dengan penyaringan secukupnya (selektif).
C. Kerangka Merodologi
Pengembangan Pemikiran Islam
Pada dasarnya metodologi
adalah alat untuk memperoleh kebenaran. Dalam rangka mencari kebenaran itulah
diprlukan pendekatan (logic of explanation dan logic of discovery),
berikut teknis-teknis operasionalnya. Sejalan dengan epistemologi yang
dikembangkan Muhammadiyah, pemikiran keislaman membutuhkan pendekatan bayani,
irfani dan burhani, sesuai dengan obyek kajiannya –apakah teks, ilham atau realitas–
berikut seluruh masalah yang menyangkut aspek tranhistoris, transkultural dan
transreligius. Pemikiran Islam Muhammadiyah merespon problem-problem
kontemporer yang sangat kompleks, berikut rumusannya untuk aplikasi dalam
praksis sosial, mempergunakan ketiga pendekatan di atas secara spiral-triadik.
1. Pendekatan Bayani
Pendekatan bayani sudah lama
dipergunakan oleh para fuqaha’, mutakallimun dan ushulliyun.Bayani adalah
pendekatan untuk : a) memahami atau menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan
makna yang dikandung dalam (atau diendaki) lafadz, dengan kata lain pendekatan
ini dipergunakan untuk mengeluarkan makna zahir dari lafz dan ‘ibarah yang
zahir pula; dan b)istinbat hukum-hukum dari al-nusus al-diniyah dan al-Qur’an
khususnya. Makna yang dikandung
dalam, dikehendaki oleh, dan diekspresikan melalui teks dapat diketahui dengan
mencermati hubungan antara makna dan lafadl. Hubungan antara makna dan lafadz
dapat dilihat dari segi : a)makna wad’i, untuk apa makna teks itu dirumuskan,
meliputi makna khas, ‘am dan mustarak; b) makna isti’mali, makna apa yang
digunakan oleh teks, meliputi makna haqiqah (sarihah dan mukniyah) dan makna
majaz (sarih dan kinayah); c) darajat al-wudhuh, sifat dan kualitas lafz,
meliputi muhkam, mufassar, nas, zahir, khafi, mushkil, mujmal, dan mutasabih;
dan d) turuqu al-dalalah, penunjukan lafz terhadap makna, meliputi dalalah
al-ibarah, dalalah al-isyarah, dalalah al-nass dan dalalah al-iqtida’ (menurut
khanafiyah), atau dalalah al-manzum dan dalalah al-mafhum baik mafhum
al-muwafaqah maupun mafhum al-mukhalafah (menurut syafi’iyyah).
Untuk itu pendekatan bayani
menggunakan alat bantu (instrumen) berupa ilmu-ilmu kebahasaan dan
uslub-uslubnya serta asbabu al-nuzul, dan istinbat atau istidlal sebagai
metodenya. Sementara itu, kata-kata kuncu (keywords) yang sering dijumpai dalam
pendekatan ini meliputi asl – far’ – lafz ma’na (mantuq al-fughah dan mushkilah
al-dalalah; dan nizam al-kitab dan nizal al-aql), khabar qiyas, dan otoritas
salaf (sultah al-salaf). Dalam al-qiyas al-bayani, kita dapat membedakannya
menjadi tiga macam : 1)al-qiyas berdasarkan ukuran kepantasan antara asl dan
far’ bagi hukum tertentu; yang meliputi al-qiyas al-jali; b) al-qiyas fi ma’na
al-nass; dan c) al-qiyas al-khafi; 2)al-qiyas berdasarkan ‘illat terbagi
menajdi : a)qiyas al-’illat dan b) qiyas al-dalalah; dan 3) al-qiyas al-jama’i
terhadap asl dan far’.
Dalam pendekatan bayani
dikenal ada 4 macam bayan : 1) Bayan al-i’tibar, yaitu penjelasan mengenai
keadaan, keadaan segala sesuatu, yang meliputi : a) al-qiyas al-bayani baik
al-fiqgy, al-nahwy dan al-kalamy; dan b) al-khabar yang bersifat yaqin maupun
tasdiq; 2) Bayan al-i’tiqad, yaitu penjelasan mengenai segala sesuatu yang
meliputi makna haq, makna muasyabbih fih, dan makna bathil; 3) Bayan al-ibarah
yang terdiri dari : a) al-bayan al-zahir yang tidak membutuhkan tafsir; dan b)
al-bayan al-batin yang membutuhkan tafsir, qiyas, istidlal dan khabar; dan 4)
bayan al-kitab, maksudnya media untuk menukil pendapat-pendapat dan pemikiran
dari katib khat, katib lafz, katib ‘aqd, katib hukm, dan katib tadbir.
Dalam pendekatan bayani, oleh
karena dominasi teks sedemikian kuat, maka peran akal hanya sebatas sebagai
alat pembenaran atau justifikasi atas teks yang dipahami atau diinterpretasi.
2. Pendekatan Burhani
Burhan adalah pengetahuan
yang diperoleh dari indera, percobaan dan hukum – hukum logika. Burhani atau
pendekatan rasional argumentatif adalah pendekatan yang mendasarkan diri pada
kekuatan rasio melalui instrumen logika (induksi, deduksi, abduksi, simbolik,
proses, dll.) dan metode diskursif (bathiniyyah). Pendekatan ini menjadikan
realitas maupun teks dan hubungan antara keduanya sebagai sumber kajian.
Realitas yang dimaksud mencakup realitas alam (kawniyyah), realitas sejarah
(tarikhiyyah), realitas sosial (ijtimaiyyah) dan realitas budaya (thaqafiyyah).
Dalam pendekatan ini teks dan realitas (konteks) berada dalam satu wilayah yang
saling mempengaruhi. Teks tidak berdiri sendiri, ia selalu terikat dengan
konteks yang mengelilingi dan mengadakannya sekaligus darimana teks itu dibaca
dan ditafsirkan. Didalamnya ada maqulat (kategori-kategori) meliputi
kully-juz’iy, jauhar-’arad, ma’qulat-alfaz sebagai kata kunci untuk dianalisis.
Karena burhani menjadikan
realitas dan teks sebagai sumber kajian, maka dalam pendekatan ini ada dua ilmu
penting, yaitu ilmu al-lisan dan ilmu al-mantiq. Yang pertama membicarakan
lafz-lafz, kaifiyyah, susunan, dan rangkaiannya dalam ibarat-ibarat yang dapat
digunakan untuk menyampaikan makna, serta cara merangkainya dalam diri manusia.
Tujuannya adalah untuk menjaga lafz al-dalalah yang dipahami dan menetapkan
aturan-aturan mengenai lafz tersebut. Sedangkan yang terakhir membahas masalah
mufradat dan susunan yang dengannya kita dapat menyampaikan segala sesuatu yang
bersifat inserawi dan hubungan yang tetap diantara segala sesuatu tersebut,
atau apa yang mungkin untuk mengeluarkan gambaran-gambaran dan hukum-hukum
darinya. Tujuannya adalah untuk menetapkan aturan-aturan yang digunakan untuk
menentukan cara kerja akal, atau cara mencapai kebenaran yang mungkin diperoleh
darinya. ‘Ilmu al-mantiq juga merupakan alat (manahij al-adillah) yang
menyamaikan kita pada pengetahuan tentang maujud baik yang wajib atau mumkin,
dan maujud fi al-adhhan (rasionalisme) atau maujud fi al-a’yan (empirisme).
Ilmu ini terbagi menjadi tiga; mantiq mafhum (mabhath al-tasawwur), mantiq
al-hukm (mabhath al-qadaya), dan mantiq al-istidlal (mabhath al-qiyas). Dalam
perkembangan modern, ilmu mantiq biasanya hanya terbagi dua, yaitu nazariyah al-hukm
dan azariyah al-istidlal.
Dalam tradisi burhani juga
kita mengenal ada sebutan falsafat al-ula (metafisika) dan falsafat al-thani.
Falsafat al-ula membahas hal-hal yang berkaitan dengan wujud al-’arady, wujud
al-jawahir (jawahir ula atau ashkhas dan jawahir thaniyah atau al-naw’), maddah
dan surah, dan asbab yang terjadi pada a) maddah, surah, fa’il dan ghayah; dan
b) ittifaq (sebab-sebab yang berlaku pada allam semesta) dan hazz (sebab-sebab
yang berlaku pada manusia). Sedangkan falsafat al-thaniyah atau disebut juga
ilmu al-tabi’ah, mengakaji masalah : 1) hukum-hukum yang berlaku secara alami
baik pada lam semesta (al-sunnah al-alamiyah) maupun manusia (al-sunnah
al-insaniyah); dan 2) taghayyur, yaitu gerak baik azali (harakah qadimah)
maupun gerak maujud (harakahhadithah yang bersifat plural (mutanawwi’ah). Gerak
itu dapat terjadi pada jauhar (substansi: kawn dan fasad), jumlah )berkembang
atau berkurang), perubahan (istihalah), dan tempat (sebelum dan sesudah).
Dalam perkembangan keilmuan
modern, falsafat al-ula (metafisika) dimaknai sebagai pemikiran atau penalaran
yang bersifat abstrak dan mendalam (abstract and profound reasoning). Sementara
itu, pembahasan mengenai hukum-hukum yang berlaku pad manusia berkembang
menjadi ilmu-ilmu sosial (social science, al-’ulum al-ijtima’iyyah) dan
humaniora (humanities, al-’ulum al-insaniyyah). Dua ilmu terakhir ini mengkaji
interaksi pemikiran, kebudayaan, peradaban, nilai-nilai, keiwaan, dan
sebagainya.
Oleh karena itu, untuk
memahami realitas kehidupan sosial-keagamaan dan sosial-keislaman, menjadi
lebih memadai apabila dipergunakan pendekatan-pendekatan sosiologi
(sosiulujiyyah), antropologi (antrufulujiyyah), kebudayaan (thaqafiyyah) dan
sejarah (tarikhiyyah), seperti yang menjadi ketetapan Munas Tarjih dan Pengembangan
Pemikiran Islam XXIV di Malang.
Pendekatan sosiologis
digunakan dalam pemikiran Islam untuk memahami realitas sosial-keagamaan dari
sudut pandang interaksi antara anggota masyarakat. Dengan metode ini, konteks
sosial suatu prilaku keberagaan dapat didekati secara lebih tepat, dan dengan
metode ini pula kita bisa melakukan reka cipta masyarakat utama. Pendekatan
antropologi bermanfaat untuk mendekati maslah-masalah kemanusiaan dalam rangka
melakukan reka cipta budaya Islam. Tentu saja untuk melakukan reka cipta budaya
Islam juga dibutuhkan pendekatan kebudayaan (thaqafiyyah) yang erat kaitannya
dengan dimensi pemikiran, ajaran-ajarn, dan konsep-konsep, nilai-nilai dan
pandangan dunia Islam yang hidup dan berkembang dalam masyarakat muslim. Agar upaya
reka cipta masyarakat muslim dapat mendekati ideal masyarakat utama dalam
Muhammadiyah, strategi ini pula menghendaki kesinambungan historis. Untuk itu,
dibutuhkan juga pendekatan sejarah (tarikhiyyah). Hal ini agar konteks sejarah
masa lalu, kini dan kan datang berada dalam satu kaitan yang kuat dan kesatuan
yang utuh (kontinuitas dan perubahan). Ini bermanfaat agar pembahuruan
pemikiran Islam Muhammadiyah tidak kehilangan jejak historis. Ada kesinambungan
historis antara bangunan pemikiran lama yang baik dengan lahirnya pemikiran
keislaman baru yang lebih memadai dan up to date.
Oleh karena itu, dalam
burhani, keempat pendekatan — tarikhiyyah, sosiulujiyyah, thaqafiyyah dan
antrufulujiyyah — berada dalam posisi yang saling berhubungan secara dialektik
dan saling membentuk jaringan keilmuan.
3. Pendekatan ‘Irfani
‘Irfan mengandung beberapa
pengertian antara lain : ‘ilmu atau ma’rifah; metode ilham dan kashf yang telah
dikenal jauh sebelum Islam; dan al-ghanus atau gnosis. Ketika irfan diadopsi ke
dalam Islam, para ahl al-’irfan mempermudahnya menjadi pembicaraannya mengenai
1) al-naql dan al-tawzif; dan upaya menyingkap wacana qur’ani dan memperluas
‘ibarahnya untuk memperbanyak makna. Jadi pendekatan irgani adalah suatu
pendekatan yang dipergunakan dalam kajian pemikiran Islam oleh para
mutasawwifun dan ‘arifun untuk mengeluarkan makna batin dari batin lafz dan
‘ibarah; ia juga merupakan istinbat al-ma’rifah al-qalbiyyah dari Al-Qur’an.
Pendekatan irfani adalah
pendekatan pemahaman yang bertumpu pada instrumen pengalam batin, dhawq, qalb,
wijdan, basirah dan intuisi. Sedangkan metode yang dipergunakan meliputi manhaj
kashfi dan manhaj iktishafi. Manhaj kashfi disebut juga manhaj ma’rifah ‘irfani
yang tidak menggunakan indera atau akal, tetapi kashf dengan riyadah dan
mujahadah. Manhaj iktishafi disebut juga al-mumathilah (analogi), yaitu metode
untuk menyingkap dan mmenemukan rahasia pengetahuan melalui analogi-analogi.
Analogi dalam manhaj ini mencakup : a) analogi berdasarkan angka atau jumlah
seperti 1/2 = 2/4 = 4/8, dst; b) tamthil yang meliputi silogisme dan induksi;
dan c) surah dan ashkal. Dengan demikian, al-mumathilah adalah manhaj iktishafi
dan bukan manhaj kashfi. Pendekatan ‘irfani juga menolak atau menghindari
mitologi. Kaum ‘irfaniyyun tidak berurusan dengan mitologi, bahkan justru
membersihkannya dari persoalan-persoalan agama dan dengan irfani pula mereka
lebih mengupayakan menangkap haqiqah yang terletak di balik shari’ah, dan yang
batin (al-dalalah al-isharah wa al-ramziyah) di balik yang zahir (al-dalalah
al-lughawiyyah). Dengan memperhatikan dua metode di atas, kita mengetahui bahwa
sumber pengetahuan dalam irfani mencakup ilham/intuisi dan teks (yang dicari
makna batinnya melalui ta’wil).
Kata-kata kunci yang terdapat
dalam pendekatan ‘irfani meliputi tanzil-ta’wil, haqiqi-majazi, mumathilah dan
zahir-batin. Hubungan zahir-batin terbagi menjadi 3 segi : 1)siyasi mubashar,
yaitu memalingkan makna-makna ibarat pada sebagian ayat dan lafz kepada pribadi
tertentu; 2) ideologi mazhab, yaitu memalingkan makna-makna yang disandarkan
pada mazhab atau ideologi tertentu; dan 3) metafisika, yakni memalingkan
makna-makna kepada gambaran metafisik yang berkaitan dengan al-ilah
al-mut’aliyah dan aql kully dan nafs al-kulliyah.
Pendekatan ‘irfani banyak
dimanfaatkan dalam ta’wil. Ta’wil ‘irfani terhadap Al-Qur’an bukan merupakan
istinbat, bukan ilham, bukan pula kashf. tetapi ia merupakan upaya mendekati
lafz-lafz Al-qur’an lewat pemikiran yang berasal dari dan berkaitan dengan
warisan ‘irfani yang sudah ada sebelum Islam, dengan tujuan untuk menangkap
makna batinnya.
Contoh konkrit dari
pendekatan ‘irfani lainnya adalah falsafah ishraqi yang memandang pengetahuan
diskursif (al-hikmah al-batiniyyah) harus dipadu secara kreatif harmonis dengan
pengetahuan intuitif (al-hikmah al-dhawqiyah). Dengan pemaduan tersebut
pengetahuan yang diperoleh menjadi pengetahuan yang mencerahkan, bahkan akan
mencapai al-hikmah al-haqiqah.
Pengalaman batin Rasulullah
saw. dalam menerima wahyu al-Qur’an merupakan contoh konkret dari pengetahuan
‘irfani. Namun dengan keyakinan yang kita pegangi salama ini, mungkin
pengetahuan ‘irfani yang akan dikembangkan dalam kerangka ittiba’ al-Rasul.
Dapat dikatakan, meski
pengetahuan ‘irfani bersifat subyekyif, namun semua orang dapat merasakan
kebenarannya. Artinya, setiap orang dapat melakukan dengan tingkatan dan
kadarnya sendiri-sendiri, maka validitas kebenarannya bersifat intersubyektif
dan peran akal bersifat partisipatif. Sifat intersubyektif tersebut dapat
diformulasikan dalam tahap-tahap sebagai berikut. Pertama-tama, tahapan
persiapan diri untuk memperoleh pengetahuan melalui jalan hidup tertentu yang
harus ia ikuti untuk sampai kepada kesiapan menerima “pengalaman”. Selanjutnya
tahapan pencerahan dan terakhir tahap konstruksi. tahap terakhir ini merupakan
upaya pemaparan secara simbolik di mana perlu, dalam bentuk uraian, tulisan dan
struktur yang dibangun, sehingga kebenaran yang diperolehnya dapat diakses oleh
orang lain.
Implikasi dari pengetahuan
‘irfani dalam konteks pemikiran keislaman, adalah mengahmpiri agama-agama pada
tataran substantif dan esensi spiritualitasnya, dan mengembangkannya dengan
penuh kesadaran akan adanya pengalaman keagamaan orang lain (the otherness) yang
berbeda aksidensi dan ekspresinya, namun memiliki substansi dan esensi yang
kurang lebih sama. Kedekatan kepada Tuhan yang transhistoris, transkultural,
dan dan transreligius diimbangi rasa empati dan simpati kepada orang lain
secara elegan dan setara. Termasuk di dalamnya kepekaan terhadap
problem-problem kemanusiaan, pengembanagan budaya dan peradaban yang disinari
oleh pancaran fitrah ilahiyah.
SHARE