Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan

78

 

Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan – Salah satu pengalaman beragama yang berharga dan
tiada taranya bagi seorang muslim adalah berinteraksi dengan al-Qur’an, yang
bisa terungkap dan diungkapkan melalui lisan, tulisan, maupun perbuatan, baik
itu berupa pemikiran, pengalaman ataupun pengamalan, emosional ataupun
spiritual.[1]
Bagi umat Islam, al-Qur’an merupakan kitab suci
yang menjadi Manhaj al-Hayat, bahkan dalam bahasanya farid Esack, bagi orang
Islam al-Qur’an itu hidup seakan-akan mempunyai jiwa layaknya manusia.[2] Dalam
realitanya fenomena ‘Pembacaan al-Qur’an’ sebagai respons atau apresiasi umat
islam terhadap al-Qur’an sebagai Manhaj al-Hayat-nya sangatlah beragam.
terdapat berbagai model pembacaan al-Qur’an mulai yang berorientasi pada pemahaman
dan pendalaman maknanya sampai yang sekedar membaca al-Qur’an hanya sebagai
media ibadah ritual atau untuk memperoleh ketengangan jiwa.[3] Bahkan terdapat
pula model ‘pembacaan al-Qur’an’ yang bertujuan untuk mendatangkan kekuatan
magis (supranatural) atau terapi pengobatan.[4]
Dari sekian bentuk apresiasi umat Islam terhadap
kitab sucinya -‘al-Qur’an’ diatas menunjukkan satu bentuk ‘kekayaan’ peradaban
bagi umat islam itu sendiri. Yang dalam istilah Nashr Hamid Abu Zayd, al-Qur’an
kemudian sebagai Muntij al-tsaqafah (Produsen Peradaban) hal ini dilihat dari
bagaimana respon masyarakat islam sejak awal, dengan ragam bacaan yang
melahirkan ilmu Qira’at, ragam tulisan yang melahirkan ilmu Rasm al-Qur’an dan
lain sebagainya.[5]
Selanjutnya, adalah tulisan ini untuk menelisik
lebih jauh salah satu model ‘pembacaan al-Qur’an’ atau respon masyarakat yang
ada di daerah Kembang Kerang Lombok Timur mengenai salah satu tradisi yang
sudah ada dan tetap ditumbuh kembangkan dan terpelihara hingga sekarang, yakni
Pembacaan Surat Yasin dalam tradisi Tawasulan.
Lebih jauh dalam penelitian ini tidak terdapat
suatu pen-justifikasian apakah benar atau salah, namun bersifat deskripsi
tradisi semata dan lebih jauh mengeksplor bagaimana prosesi pelaksanaan tradisi
tawasulan tersebut yang terbagi dalam; pertama Deskripsi tradisi mencakup
teknis pelaksanaan, waktu pelaksanaan, pemimpin tradisi, kemudian yang kedua
dilihat dari Isi Tradisi, dan ketiga tradisi diungkap dan dilihat dari dua
landasan agama Islam al-Qur’an dan al-Hadis, terakhir untuk memudahkan pembaca
dalam mencari jawaban dalam tradisi ini dicantumkan analisis dan kesimpulan
dari penulis sendiri.Kehadiran Islam ke Nusantara tidak lepas dengan
nuansa dimana Islam itu lahir, sungguhpun demikian ia mampu beradaptasi dengan
kebudayaan lokal dimana islam itu datang. Proses persenyawaan keislaman dengan
kenusantaraan menjadikan islam yang ada di Nusantara ini lebih mudah diterima
oleh masyarakat, tidak ada resistensi, yang ada hanyalah penyambutan,
sungguhpun ada modifikasi namun tetap dalam injeksi nilai-nilai keislaman dalam
tradisi yang telah ada.

Dalam perkembangannya, Islam nusantara dengan
wataknya yang moderat dan apresiatif terhadap budaya lokal serta memihak warga
setempat menghadapi tantangan. Kecenderungan untuk menutup habis wawasan
nusantara dan menggantinya dengan dengan wawasan Timur tengah menjadikan wajah
Islam seperti yang berkembang di tanah air ini berjarak dengan tradisi warga
setempat, corak beragama yang ada ‘terasa’ asing dengan mayoritas masyarakat
islam tak terkecuali Indonesia.[6]
Di Indonesia sendiri terdapat berbagai macam
kebudayaan dan tradisi dalam menjalani ritualitas keberagamaan mereka
masing-masing, di Lombok misalnya, dengan tradisi waktu telu-nya yang hanya
sholat tiga kali dalam seminggu yakni hari jum’at, dan dua kali dalam satu
tahun pada waktu Idul Fitri dan Idul Adha. Tradisi ini merupakan salah satu
yang pernah ada dalam sejarah keberagamaan di Kembang kerang Lombok Timur.
Kembang Kerang adalah nama satu tempat yang
berkedudukan di Lombok yakni tepatnya jalan Segare Anak kecamatan Aikmel,
kabupaten Lombok Timur provinsi Nusa Tenggara Barat, konon penduduk asli dari
daerah ini adalah asli masyarakat Sumbawa yang memang penganut asli tradisi
waktu telu diatas.[7]
Namun dengan berjalannya waktu, tradisi waktu
telu yang dirasa menyimpang dari ajaran agama Islam ini dihilangkan dan tidak
diperagakan lagi, namun semua tradisi yang ada tidak dihapus serta merta
melainkan sebaliknya, memperthankan tradisi yang dianggap sudah baik dan
diwarnai dengan corak keislaman untuk meneruskan kembali perjuangan dakwah
keislaman yang bi al-Hikmah, wa al-mau’idzah dan bi al-Mujadalah.
Dari sisi keberagamaan nya, masyarakat Kembang
Kerang melakukan berbagai aktifitas keagamaan sebagaimana halnya dengan praktik
keberagamaan yang dilakukan oleh Nahdliyyin pada umumnya, seperti tahlilan,
ziarah kubur, maulidan begitu juga dengan tradisi tawasulan dan yasinan
merupakan salah satu tradisi yang memang sudah mengakar dari nenek moyang
mereka. Aktifitas keagmaan seperti ini sangat kental sekali ditandai dengan
adanya antusias dari masyarakat hingga sekarang.
Mayoritas masyarakat Kembang kerang adalah
berorganisasi Nahdlatul Wathan yang lebih akrab dengan sebutan NW,[8] dimana
organisasi keislaman ini sama halnya dengan organisasi keislaman semisal
Nahdlatul Ulama’, al-Washitiyah yang berpusat di Sumatera, dan Perti (Persatuan
Tarbiyah Islam) yang mendasarkan paham keagamaannya pada sumber ajaran islam,
yakni al-Qur’an, al-Sunnah (hadis), al-Ijma’, al-Qiyas. Dalam memahami serta
menafsirkan islam dari berbagai sumber tersebut, NW juga mengikuti paham
Ahlussunnah Wa al-Jama’ah, dengan memakai jalan pendekatan (mazhab).
Deskripsi Tradisi Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi TawassulanUntuk lebih detailnya, penulis dalam
mendeskripsikan tradisi yasinan ini membaginya dalam tiga poin, pertama; segi
makna yang mencakup pada pemknaan dasar dari konsep tawassulan menurut
kitab-kitab kamus dan pemikiran ulama’ tentang konsep tawasulan serta pemaknaan
masyarakat Kembang kerang umumnya mengenai yasinan . Selanjutnya waktu
pelaksanaan dan terakhir adalah prosesi pelaksanaan beserta pemaparan isi dari
tradisi yasinan dalam tradisi tawassulan tersebut.

Makna Tradisi Secara etimologis wasilah merupakan isim masdar
dari kata Washala. yang menurut terjemahan harfiyahnya diartikan dengan
perantara, jalan, sebab yang mendekatkan diri kepada yang lain.[9] sedangkan
tawassul adalah isim mashdar dari kata tawasshala. Namun menurut al-Raghib
al-Asfahani, al-Washilah artinya pencapaian sesuatu dengan penuh keinginan.[10]
Adapun menurut penelitian yang dilakukan oleh Nashirudin al-Bani, kata tawassul
berasal dari bahasa Arab asli, dan disebutkan didalam al-Qur’an, hadis,
pembicaraan orang Arab, Syair dan nasr (prosa), yang artinya mendekat
(taqarrub) kepada yang dituju dan mencapainya dengan keinginan yang keras.[11]
Dengan demikian yang dimaksud dengan tawassul
adalah upaya dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan wasilah
(perantara, jalan), mengamalkan amal perbuatan shaleh, mulia serta melakukan
sesuatu yang sesuai dengan apa yang diridhai-Nya.
Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan

 

“Tawasulan” dalam masyarakat Kembang Kerang
Lombok Timur dalam kegiatannya dimaknai sebagai “wadah” pengiriman
bacaan-bacaan ayat-ayat dan do’a-do’a tertentu yang di khususkan untuk
seseorang yang sudah meninggal (baru maupun sudah lama). Kemudian, dalam
praktiknya penduduknya yakin akan apa yang mereka sampaikan (bacakan) kepada
mayyit akan sampai pahalanya sesuai dengan niat masing-masing pentawassul,[12]
Selanjutnya, yasinan disini pada umumnya dipahami
dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama didepan maqam kerabat ataupun
keluarga yang lain dengan tujuan Si al-marhum dapat diringankan beban siksanya
dan sekaligus sebagai ‘ajang’ do’a kepada al-marhum.
Dengan pemahaman masyarakat diatas, tidak heran
jika tradisi tawassul ini dijadikan wadah untuk mengingat keluarga yang sudah
meninggal, mendo’akan, dan juga sebagai tanda bakti mereka kepada leluhur atau
orang tua dan para ulama yang sudah tiada. Dalam prakteknya dalam tawassulan
yang dibaca adalah beberapa ayat suci al-Qur’an, terutama surat Yasin.
Waktu Pelaksanaan Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan

 

 

Tidak jauh berbeda dengan masyarakat
pendahulunya, pembacaan yasinan dalam acara tawassulan ini masih dilaksanakan
sebagaimana biasanya. Dalam praktiknya berbeda dengan tahlilan pada umumnya
yang dilaksanakan masyarakat pada malam hari yang dimulai pada hari pertama
sampai hari kesembilan dan atau ketujuh.[13]
Yasinan di Kembang kerang biasanya dilaksanakan
pada Pagi hari (sebelum matahari belum terbit) yang dimulai pagi pertama sampai
pagi kesembilan setelah meniggalnya sesorang dari anggota keluarga atau dari
kerabat yang lain.[14] Selain dilakukan beberapa saat setelah wafatnya, tradisi
yasinan ini juga dilakukan pada waktu yang lain seperti menjelang dan sesudah
Idul fitri. Hal ini dimaksudkan untuk mengingat kembali keluarga yang sudah
meninggal (almarhum) dan juga mendo’akannya supaya diberikan selamat dan ampunan
dari Allah Swt.[15]
Kemudian dalam pelaksanaannya, Yasinan ini
terbagi dalam empat tahap yakni: Pertama: semenjak si Mayyit meninggal (hari
pertama di liang lahat) sampai hari kesembilan dan ini dinamakan istilah
“Nyiwak”. Kedua: dilaksanakan pada hari ke empat puluh, kegiatan ini dinamakan
Tawasulan Metang Dase. Ketiga dilaksanakan pada hari ke seratus, kegiatan ini
dinamakan Tawasulan Nyeratus, dan terakhir dilaksanakan pada hari ke seribu,
kegiatan ini dinamakan Tawasulan Nyeribu.[16]
Menarik untuk diungkap, dalam perayaannya yasinan
ini tidak hanya dilakukan ketika ada salah seorang dari keluarga yang baru
meninggal dengan tujuan “pengiriman pahala” dan do’a bagi mayyit, tapi
tawasulan ini juga dilakukan ketika seseorang yang punya keinginan atau hajatan
semisal akan merantau study keluar negeri atau kerja sebagai TKI dan
sejenisnya, maka hal ini dilakukan dimakam keluarga pendahulu yang sudah
meninggalkan, dan makam para wali atau penghulu agama, Kyai, dengan tujuan
tawasulan atau sebagai jalan do’a hajat kepada Allah SWT (bukan do’a kepada si
mayit), dengan tujuan agar selamat dan sukses dalam tujuan.
Teknis Pelaksanaan dan Isi Tradisi Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan
Sebagaimana dalam pembahasan awal, dalam
pelaksanaannya, kegiatan yasinan ini dilaksanakan ketika matahari belum terbit
(setelah subuh), yang memang merupakan tradisi yang sudah ada serta menurut
sebagian mereka karena waktu ini waktu masih belum terbebani dengan segala
aktifitas keseharian keluarga.
Selanjutnya, dalam pelaksanaannya yasinan ini
tidak memakan waktu yang terlalu lama karena hanya sebatas yasinan dan do’a.
gambaran pelaksanaannya terbagi dalam beberapa sesi, pertama; pembacaan
washilah al-Fatihah oleh pemimpin acara, dalam hal ini seperti biasanya
dihususkan pertama kepada kanjeng Nabi Muhammad Saw, kemudian secara berurutan
kepada keluarga-keluarga yang telah mendahului, dan terakhir adalah wasilah untuk
al-marhum hususnya-mayit.
Kedua, setelah wasilah selesai, kesemua dari
peserta yasinan dengan alunan sama dan dengan bacaan murattal membaca yasinan
secara bersama-sama hingga seselsai. Dan terakhir sebagai penutup dalam acara
ini juga dikumandangkan do’a terhususkan untuk mayit.
Sebagaimana pemaparan diatas kegiatan dalam
tradisi ini diisi dengan beberapa prosesi acara yang berlangsung dengan khidmat
dan penuh pengharapan atas keharibaan Allah Swt. Sedangkan dilihat dari sisi
bacaan, ada beberapa bacaan yang dilantunkan dalam acara ini dimana kesemuanya
merupakan surat-surat atau ayat yang dianggap memilki fadhilah masing-masing.
Isi atau bacaan dalam tradisi ini antaranya yakni, Surat Yasin, kemudian surat
al-Ikhlas dan surat al-Mu’awwidzatain (Q.S al-Falaq dan al-Nas), dengan surat
al-Fatihah, surat al-Baqarah ayat 1-5 dilanjutkan dengan ayat kursi dan
diakhiri dengan 2 ayat akhir surat al-baqarah dan diakhiri dengan
tahlilan.[17]
Setelah beberapa ayat diatas selesai dibacakan
didekat makam, maka dilanjutkan dengan bacaan beberapa shalawat kepada Nabi SAW
semisal shalawat Nariyah, al-Thibb Sholawat Nahdlatain, dan sebagainya dan ini
semua terkumpul dalam bacaan yang disebut dengan “Hizib Nahdlatul Wathan”,.
Terlepas dari berapa dan apa yang dibacakan dalam tradisi ini namun kesemuanya
dikenal dengan istilah Yasinan.
Dari beberapa hasil wawancara dengan masyarakat,
secara literal dasar teologis yang mereka pakai yang didasarkan dalam al-Qur’an
masih belum didapat, namun pertanyaan mengapa dalam pelaksanaannya harus
membaca beberapa ayat al-Qur’an terutama surat Yasin mereka dalam hal ini
didasari dengan beberapa hadis yang secara literal menganjurkan untuk
membacakan surat Yasin dan surat yang lainnya bagi seorang mayit, sebagaimana
dalam hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Abu Daud dari Ma’qil bin
Yasar:
اقرؤا سورة يس على موتاكم
Bacakanlah surat Yasin bagi orang yang telah
mendahului kamu
.”
Dengan ini terlihat jelas, Dalam pandangan
masyarakat, surat yasin dianggap memiliki kelebihan dibandingkan dengan
ayat-ayat yang lainnya. Selain hadis diatas, dalam melaksanakan suatu tradisi
yang ada dalam masyarakat lombok pada umumnya, sebenarnya lebih dipengaruhi
oleh pemahaman agama dari tokoh sentral seperti Tuan Guru (indonesia; Kiyai).
Analisis Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan
Gambaran yasinan dalam tradisi tawassulan dengan
segala bentuknya yang di peragakan masyarakat kembang kerang diatas
memperlihatkan serta menunjukkan satu dari beberapa bentuk ekspresi terhadap
al-Qur’an. Dengan yasinan yang mereka ‘pelihara’ dan kembangkan ini diharapkan
keluarga yang telah mendahuluinya minimal diringankan siksanya dengan
‘bantuan’do’a dan yasinan yang mereka panjatkan.
Secara teologis, keyakinan seperti ini memang
tidaklah berseberangan dengan syari’at islam baik al-Qur’an dan al-Hadis. Dalam
al-Qur’an sendiri Allah telah menggambarkannya dalam surat al-Hasyr ayat 10:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ
لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا
غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

 

Artinya: Dan orang-orang yang datang sesudah
mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah
kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan
janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.”
[18]

Secara literal dalam ayat ini Allah SWT
menyanjung orang-orang yang beriman karena mereka memohonkan ampun (istighfar)
untuk orang-orang beriman sebelum mereka. Ini menunjukkan bahwa orang yang
telah meninggal dapat manfaat dari istighfar orang yang masih hidup.
Kemudian, dengan melihat adanya motivasi mereka
dalam melaksanakan tradisi ini adalah untuk beribadah dan sekaligus berbuat
baik dan berbakti kepada kerabat, menurut masyarakat-Nya merupakan ‘model’
aktualisasi dari hadis Rasulullah Saw dalam pernyataannya yang menerangkan
‘keberlangsungan’ amal sesorang meskipun sudah meninggal dunia. Selengkapnya
sebagaimana yang terekam dalam redaksi hadis Nabi : [19]

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَال:
َ إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ
جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: apabila seseorang meninggal maka
teputuslah amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, Ilmu yang
bermanfaat, dan Anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.
Dengan adanya dua dalil diatas al-Qur’an dan
al-Hadis, dapat dipahami dalam memaknai dan memeperagakan tradisi yang sudah
ada masyrakat kembang kerang tidak serta merta melakoni tanpa landasan
teologis, selain mereka ittiba’ dengan ulama’ pendahulu lebih jauh mereka juga
mengkaji berbagai sumber hukum yang berkenaan denganya sebagaimana dalam
pemaparan diatas.Kemudian, dengan melihat ulang tradisi serta motiv dari terlaksananya yasinan
diatas menurut penulis terdapat beberapa hikmah yang selanjutnya menjadi alasan
penulis untuk –paling tidak tradisi semacam ini tetap dipertahankan namun
dengan catatan tetap berada dalam garis dan asas-asas keislaman. Dengan adanya
acara semacam ini menurut penulis ‘menyimpan’ nilai-nilai sosial dan keagamaan,
diantaranya; Pertama; ikut Berbagi rasa antar sesama, satu hal yang sangat
penting untuk dibangun dalam kehidupan bermasyarakat adalah adanya rasa saling
memilki, rasa berbagi antar sesama, dengan kedua asa ini suasana kehidupna
kehidupan dalam bermasyarakat akan semakin mudah terjalin. Mengenai hal ini
Rasulullah Saw dalam hadisnya pernah menggambarkan gambaran muslim yang satu
dengan muslim yang lain bagaikan satu anggota tubuh. Kedua; dengan adanya
yasinan ini baik didekat makam secara langsung maupun di tempat lainnya secara
tidak langsung memicu kepada pelakunya untuk selalu megingat mati, satu perkara
yang tidak bisa menghindar darinya melainkan dicari mati, nilai seperti ini
selaras dengan hadis Rasulullah Saw dahulu Aku Melarang Kamu untuk berziarah
kubur, maka sekarang ziarah karena dengan nya kamu bisa mengingat mati.

Kesimpulan

 

 

Kembang kerang dan masyarakatnya mencatat satu
bentuk fenomena interaksi dengan al-Qur’an yang dari makna, tujuan, prosesi
pelaksanaan dan tentunya mediator-nya berbeda dengan tradisi-tradisi didaerah
nusantara yang lain. Dengan tradisi tawassulan yang nantinya dimodifikasi
dengan beberapa ayat dari al-Qur’an semisal Yasinan dan yang lainnya,
menunjukkan apresiatif serta respon mereka yang tinggi terhadap nilai dan pemahaman
mereka terhadap al-Qur’an.
Singkat menurut penulis, dengan melihat prinsip
keberagamaan yang “ditanam” dalam wilayah Kembang kerang menunjukkan sikap
ke-Islaman yang senantiasa bersikap “lunak” terhadap beragam nilai dan tradisi
yang sudah membudaya dan menyatu dalam masyarakat, yang paling substansial
menurut mereka adalah bagaimana agar tradisi itu sesuai dengan islam. Biarlah
“kulitnya” masih diwarnai tradisi versi lama, asal “isinya” sudah islam, dengan
demikian upaya mempribumikan islam atau lebih husus lagi upaya
meng-indonesia-kan islam sebetulnya sudah lama dipraktekkan masyarakat Kembang
kerang.
Akhirnya, dari pemaparan tradisi yasinan diatas
mulai dari perkembangan keislaman di daerah kembang kerang sampai pada
pelestarian pemetaan proses acara yasinan ini menunjukkan bahwa interaksi
dengan al-Qur’an tidak hanya sekedar sebagai ‘media’ bacaan dan ‘media’
pemahaman, melainkan juga sebagai ‘media’ bakti tauladan kepada orang tua dan
kerabat terdekat serta ‘media’ berbagi rasa antar sesama.dan fenomena jenis ini
telah tunjukkan oleh masyarakat Kembang kerang sendiri.
G. Penutup
Kiranya demikianlah sedikit ulasan dari hasil
penelitian singkat mengenai seputar fenomena ‘pembacaan Surat Yasin dalam
Tradisi Tawassulan’, namun dengan segala kekurangan yang ada, penulis mengakui
makalah ini masih jauh untuk dikatakan sempurna, namun hanyalah awal dari
kesempurnaan itu sendiri, untuk itu diharapkan adanya penelitian lebih lanjut
dengan tema dan atau tradisi yang serupa guna memperluas khazanah keislaman
yang ber’wawasan’ Nusantara. Akhirnya kritik dan saran penulis harapkan dari
para pembaca untuk perbaikan selanjutnya.H. Senarai Bacaan

a. RI Al-Qur’an dan Terjemahannya
b. Abdul Mustaqim dkk, Metodologi Penelitian
al-Qur’an, ed Sahiron Syamsuddin (Yogyakarta: TH Press. 2007)
c. Farid esack, Samudera al-Qur’an Terj Nuril
Hidayah (Yogyakarta: Diva Press, 2002)
d. Zuhri Humaidi dalam Majalah Tashwirul Afkar,
Jurnal Refleksi Pemikiran keagamaan dan Kebudayaan Islam Nusantara edisi No 26
tahun 2008 (Jakarta: LAKPESDAM NU)
e. Muhammad Yunus, Kamus Arab-Indonesia (Jakarta:
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Penafsiran Al-Qur’an, 1973)
f. Al-Raghib al-Asfahani, Mu’ja’m Mufradat
al-fadz al-Qur’an (Beirut:Dar al-Fiqri)
g. Nashirudin al-Bani Tawassul, Tej Ainur Rafiq
(Jakarta:Pustaka kautsar, 1996)
h. H. Sabaruddin , Mengenal Islam Di Pulau Lombok
(Mataram: Nurul Qolam). 2001
Wawancara:
a. Bpk, Sdr. Syamsul Wathoni, warga Kembang Kerang pada tanggal 17 nopember
2009
b. Sdr. Hulaimi, Santri Pondok Pesantren Dar
al-Qur’an wa al-Hadis, Kembang Kerang-Lombok Timur. Pada tanggal 15 dan 27
November 2009.
c. H.Sabaruddin, Tokoh Masyarakat setempat.
[1]
Muhammad Chirzin, Metodologi Penelitian al-Qur’an, ed Sahiron Syamsuddin
(Yogyakarta: TH Press. 2007) cetakan I hlm 10
[2][2]
Lebih lanjut, Menurut Farid esack, al-Qur’an itu hidup dapat ditunjukkan dari
beberapa keyakinan dari umat islam itu sendiri bahwa diantaranya: al-Qur’an
mengawasi kita dan akan memberi kesaksian kelak di hari pembalasan, Selain
keyakinan akan memberikan kesaksian pada hari kiamat, Umat islam juga percaya
akan kemukjizatan dan kekuatan yang ditimbulkan dari al-Qur’an sebagai contoh,
banyak dinegara-negara atau tempat-tempat memakai suatu ayat yang terdapat
dalam al-Qur’an sebagai jimat untuk menjauhkan diri dari segala macam penyakit,
penolak bala’, sementara ada juga yang memakai beberapa ayat yang ditempelkan
baik itu ditemboknya semisal ayat kursi yang mereka sebut sebagai ayat
singgasana. Baca Farid esack, Samudera al-Qur’an Terj Nuril Hidayah
(Yogyakarta: Diva Press, 2002) cetakan I hlm 41-42
[3]
Abdul Mustaqim, Metodologi Penelitian al-Qur’an, ed Sahiron Syamsuddin
(Yogyakarta: TH Press. 2007) cetakan I hlm 65.
[4]
Ibid….hlm 66
[5]
Abdul Mustaqim, Metodologi Penelitian al-Qur’an, ed Sahiron Syamsuddin
(Yogyakarta: TH Press. 2007) cetakan I hlm 65.
[6]
Zuhri Humaidi dalam Majalah Tashwirul Afkar, Jurnal Refleksi Pemikiran keagamaan
dan Kebudayaan Islam Nusantara edisi No 26 tahun 2008 (Jakarta: LAKPESDAM NU)
hlm 126
[7]
Hasil wawancara dengan Bpk Syamsul Wathoni Santri Pondok Pesantren Dar
al-Kamal, Kembang Kerang-Lombok Timur pada Tanggal 15 November 2009.
[8]
Nahdlatul Wathan yang lebih akrab dengan sebutan NW adalah merupakan satu
organisasi terbesar di daerah Nusa Tenggara Barat, Organisasi ini berdiri
sekitar tahun 1936an atau sepuluh tahun setelah berdirinya organisasi Nahdlatul
Ulama’. Organisasi ini dipelopori dan sekaligus sebagai pendirinya oleh salah
satu pemuka agama pada zamannya yakni Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Zainuddin
Abdul Majid, ulama lulusan Madrasah Saulatiyah Makkah Al Mukarromah. Organisasi
ini lahir sebagai organisasi dengan manajemen modern pertama di NTB, dari
namanya, NW lahir dengan semangat ikut mencerdaskan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Lihat Drs Muhammad Ilyas dalam NW Menyebar Islam berwawasan
Nusantara majalah al-Afkar Islam Nusantara, edisi No 26 tahun 2008 (Jakarta:
LAKPESDAM NU) hlm 127
[9]
Muhammad Yunus, Kamus Arab-Indonesia (Jakarta: Yayasan Penyelenggara
Penterjemah Penafsiran Al-Qur’an, 1973), hlm. 499
[10]
Al-Raghib al-Asfahani, Mu’ja’m Mufradat al-fadz al-Qur’an (Beirut:Dar al-Fiqri)
hlm 560-561
[11]
Nashirudin al-Bani Tawassul, Tej Ainur Rafiq (Jakarta:Pustaka kautsar, 1996),
hlm 20[12]
Hasil wawancara dengan Bpk Syamsul Wathoni Santri Pondok Pesantren Dar
al-Kamal, Kembang Kerang-Lombok Timur pada Tanggal 21 November 2009.

[13]
Dalam acara tahlilan didesa ini, ada sedikit perbedaan yang khas dengan tempat
yang lain pada umumnya, yakni waktu tahlilan bagi anak yang belum baligh
dibedakan jumlah harinya dengan mayyit yang umurnya sudah menginjak dewasa. Hal
ini disebabkan adanya keyakinan bahwa mayyit yang umurnya masih belum menginjak
baligh dianggap belum membuat perkara dosa sebagaimana bagi yang sudah baligh
yang tanggungan syari’at sudah ditanggung sendiri. http//www. hupelita.
Com.baca.php? id=76508 diakses pada hari sabtu tanggal 21 November 2009.
[14]
Mengenai waktu pelaksanaan yang dilakukan sebelum matahari terbit ini, penulis
sampai sekarang masih belum medapatkan alasan yang memadai baik dari wawancara
yang selama ini dilakukan ataupun data sekunder yang ada.
[15]
Hasil wawancara dengan Bpk Hulaimi Santri Pondok Pesantren Dar al-Qur’an wa
al-Hadis, Kembang Kerang-Lombok Timur pada Tanggal 21 November 2009.
[16]
Hasil wawancara dengan Bpk Syamsul Wathoni pada tanggal 17 nopember 2009 yang
merupakan salah satu warga Kembang Kerang
[17]
Hasil wawancara dengan Bpk Syamsul Wathoni pada tanggal 17 nopember 2009 yang
merupakan salah satu warga Kembang Kerang
[18]
Al-Qur’an Surat al-Hasyr ayat 10
[19]
Dalam menaggapi sampainya pahala kepada orang yang telah meninggal sampai saat
ini masih bersifat debateble yang belum tuntas, masing-masing berdasarkan
argumen baik al-Qur’an dan al-Hadis. Namun menurut penulis disini lebih sepakat
kepada para ulama yang berpendapat do’a dan pahala orang yang masih hidup
sampai kepada mayit. Selain dengan surat al-Hasyr ayat10 diatas, hadis-hadis
Nabi juga banyak menyinggung tentangnya, semisal do’a bagi mayit dalam sholat
jenazah, begitu juga hadis yang menyatakan adanya do’a bagi mayit setelah
dikuburkan, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda:
“Dari Ustman bin Affan ra berkata: Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan
mayyit beliau beridiri lalu bersabda: Mohonkan ampun untuk saudaramu dan
mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya” (HR Abu
Dawud). Lihat Abu Daud, Sunan Abi Daud CD ROM Mausu’ah Maktabah al-Syamilah,
Global Islamic Software.
Penulis artikel Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan adalah Salim al-Diny 0753006. Mudahan bermanfaat.
SHARE