Pemikiran Ali Asraf tentang Konsep Pendidikan

45
Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam
termasuk di dalamnya hewan, tumbuhan, dan manusia. Manusia sebagai makhluk
dinamis membutuhkan sarana untuk mengembangkan diri secara dinamis dan
berkelanjutan. Tempat yang mungkin untuk mengembangkan potensi dan dinamisasi
diri adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan institusi tempat menempa
diri manusia. Karena pendidikan pada dasarnya adalah sarana untuk membimbing
manusia sebagai manusia paripurna.
Islam sebagai agama rahmat memberi peluang kepada
manusia untuk mengembangkan diri berdasarkan Al-Quran dan Hadis. Pengembangan
diri berdasarkan wahyu merupakan cita-cita Al-Quran. Pengembangan diri tersebut
merupakan bagian dari wahyu ketuhanan. Karena dalam al-Quran terdapat perintah
untuk mengubah diri, perintah untuk banyak membaca, perintah untuk berfikir.
Perintah tersebut mengindikasikan bahwa manusia diajarkan untuk mampu menempa
diri dan mengembangkan bakat yang ada dalam dirinya. Tetapi perintah untuk
berfikir, mengembangkan diri hanya tinggal konsep. Karena semua konsep tentang
pengembangan diri, konsep dasar pendidikan Islam tidak digali dan dikembangkan
untuk kemajuan pendidikan Islam.
 Memang, kalau ditilik dalam lintasan sejarah, umat
Islam mencoba untuk mengembangkan konsep-konsep pendidikan berdasarkan Al-Quran
dan Hadis, tetapi hal tersebut hanya berlangsung sebatas pemerintahan atau
tokoh pengusung konsep pendidikan tersebut. Setelah para tokoh dan pemerintahan
telah meninggal atau pereintahan tersebut telah hancur, maka konsep
pendidikannya juga ikut mengalami kemunduran.
Kemunduran tersebut tidak lepas dari kurang
pedulian umat Islam terhadap konsep pendidikan Islam. Keadaan ini makin
diperparah oleh para pakar pendidikan yang beranggapan bahwa pendidikan Barat
lebih baik dan modern. Di sisi lain, pendidikan Islam dianggap tidak modern dan
tidak mempunyai konsep yang jelas mengenai pendidikan. Konsep pendidikan Barat
dipaksakan penerapannya di dunia Islam. Keadaan ini makin memperparah keadaan
umat Islam yang telah terpola dengan konsep pendidikan Barat. Pola pendidikan
Barat menjadi semacam pendangkalan keislaman umat Islam sendiri. Bahkan ada
kecenderungan di kalangan masyarakat bahwa terjadinya korupsi, kolusi,
nepotisme serta berbagai kemungkaran adalah akibat gagalnya pendidikan Islam
dalam mendidik akhlak.
Ali Asraf sebagai tokoh pendidikan Islam mencoba
menjawab berbagai permasalahan pendidikan Islam, dalam bukunya Horison
Pendidikan Islam, Ali Asraf berusaha jujur membandingkan pendidikan modern
Barat dengan pendidikan Islam. Ali Asraf beranggapan bahwa tidaklah mungkin
seseorang akan merlihat dengan sempurna dan menemukan secara murni konsep
pendidikan Islam tanpa membandingkan dua konsep pendidikan yaitu konsep
pendidikan modern dalam hal ini diwakili oleh konsep pendidikan Barat.
Perbandingan dilakukan oleh Ali Asraf bertujuan untuk memisahkan antara konsep
pendidikan Barat dengan konsep pendidikan Islam yang sesungguhnya. Hal ini
dilakukan karena selama ini kedua konsep pendidikan tersebut berbaur menjadi
satu bagian, sehingga sulit menemukan mana konsep pendidikan Barat, dan mana
konsep pendidikan Islam.
Dalam bukunya tersebut Ali Asraf mencoba
menampilkan permasalahan yang berhubungan dengan pendidikan keagamaan,
liberalitas, termasuk juga pendidikan tradisional dan modern. Beliau membahas
tentang pentingnya pendidikan pelatihan dan pengembangan bagi para guru.
Buku-buku teks hendaknya disusun sesuai cara-cara Islam, buku-buku untuk pendidikan
Islam hendaknya di tulis dengan cara islami, dalam arti materi yang ada di
dalamnya memuat berbagai nuansa keislaman, apapun jenis buku pelajarannya.
Menurut Ali Asraf pendidikan adalah sebuah
aktivitas yang memiliki maksud tertentu, diarahkan untuk mengembangkan individu
sepenuhnya. Lebih lanjut Ali Asraf menyatakan bahwa konsep pendidikan Islam
tidak dapat dipahami tanpa terlebih dahulu memahmai penafsiran Islam tentang
pengembangan individu sepenuhnya. Manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Dalam
Al-Quran Allah menjelaskan tentang nama-nama benda, mengajarkan norma-norma
kepada mansuia pilihan yaitu para Nabi. Norma norma dan prinsip-prinsip serta
metode-metod etentang pembelajaran dan pengetahuan telah Allah turunkan melalui
wahyu. Firman Allah merupakan sumber hukum untuk dipatuhi manusia.
Pendidikan bertujuan menimbulkan pertumbuhan
seimbang kepribadian manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri,
perasaan dan kepekaan tubuh manusia. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya
menyediakan jalan untuk pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya, seperti
spiritual, intelektual, imaginative, fisikal, ilmiah, linguistik, baik secara
individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencapai
kebaikan dan kesempurnaan. Menurut Ali Asraf tujuan terakhir pendidikan muslim
adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individual,
masyarakat dan kemanusiaan.
Di antaranya konsep Islam tentang manusia dan
metafisika pendidikan, adalah pertama, konsep Islam tentang manusia mempunyai
keluasan dan jarak yang tidak dimiliki konsep tentang manusia manapun. Karena
manusia dapat menjadi khalifatullah dengan menanamkan atau mewujudkan dalam
dirinya sifat-sifat Tuhan. Karena itu, sifat-sifat tersebut mempunyai dimensi
tidak terbatas, kemajuan moral, spiritual dan intelektual manusia juga tidak
terbatas. kedua, karena pengetahuan adalah sumber kemauan dan pengembangan,
Islam tidak meletakkan rintangan apa pun terhadap pencapaian pengetahuan.
Ketiga, jangkauan penguasaan harus seutuhnya dengan memiliki keahlian
intelektual karena isolasi seseorang tidak dapat mempertahankan pertumbuhan
seimbang. Keempat aspek spiritual moral, intelektual, imajinatif, emosional dan
fisikal dari kepribadian seseorang tetap diamati dalam membentuk inter-relasi
di antara disiplin-disiplin itu. Pertumbuhan pikiran dan kemampuan seorang anak
hendaknya dipertimbangkan untuk merencanakan berbagai subyek dan mata pelajaran
dalam tahapan bertingkat. Sehingga dengan demikian inter-relasi dapat
dipertahankan. Kelima, perkembangan pribadi dilihat dalam kontek hubungan
manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam.
Ali Asraf berpendapat bahwa pendidikan Islam
adalah pendidikan yang melatih sensibilitas murid-murid sedemikian rupa,
sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah dan
keputusan dan pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan mereka diatur
oleh nilai-nilai etika Islam yang dirasakannya. Sikap tersebut terjadi karena
berasal dari keyakinan ikhlas dari Tuhan.
Seorang pelajar yang mendapatkan pendidikan Islam
tumbuh sebagai pribadi yang mencintai perdamaian, dapat hidup selaras, stabil,
berbudi dan yakin sepenuhnya akan kemurahan Tuhan yang tak terbatas.
Konsep nilai-nilai Islam mempunyai obyektifitas
dan universalitas, dan bukan kesadaran yang bersifat subyektif individu,
kelompok maupun ras. Agama
sebagai penyedia norma bagi manusia mempunyai kesempatan untuk pendidikan.
Islam sebagai agama mempunyai sasaran yang jelas, seimbang dan menyeluruh. Manusia dalam konsep Islam dianggap
sebagai wakil Tuhan yang potensial. Untuk menjadi manusia wakil Tuhan maka manusia hendaknya memiliki
kebijaksanaan. Manusia diharapkan belajar melalui eksperimen dan menyusun
rincian proses yang luas sebagaimana telah diberikan Allah kepada manusia. Dalam
kontek hubungan antara Tuhan, manusia dan alam pendidikan hendaknya mengarahkan
peserta didik untuk mengarahkan semua aktivitasnya kepada tiga hal tersebut.
Menurut Konperensi Dunia pertama tentang pendidikan Islam yang diadakan di
Mekah pada tahun 1977, dinyatakan bahwa:
“Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang
dalam kepribadian manusia secara total melalui latihan semangat, intelek,
rasional diri, perasaan dan kepekaan tumbuh. Karena itu pendidikan, pendidikan
seharusnya memberikan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya
secara spiritual, intelektual, imajinatif, fisikal, ilmiah, linguistic, baik
secara individual maupun secara kolektif di samping memotivasi semua aspek
tersebut kearah kebaikan dan kesempurnaan.”
Tetapi, pendidikan masih berkiblat kepada konsep
pendidikan Barat. Pendidikan berkiblat pada tataran praktis, metode dan
kurikulum yang mereka adopsi dan cocokkan dengan ajaran Islam, padahal konsep
Barat berbeda dengan konsep Islam, baik dari budaya. Latar belakang keyakinan,
nilai-nilai yang dihormati, jauh berbeda. Seharusnya pendidikan Islam diarahkan
berdasar tujuan pendidikan yang disepakati pada komperensi pendidikan islam
pertama di Mekah. Kalau tidak maka konsep pendidikan Barat dengan kurikulumnya
tidak akan menyatu dengan konsep pendidikan Islam, karena pada dasarnya
pendidikan Islam sangat berbeda pada beberapa prinsip.
Kurikulum tidak dapat disebut berciri Islam kalau sekiranya tidak
semua subyek diajarkan dari sudut pandang Islam. Dan buku-buku dasar yang ditulis dari sudut
pandang Islam. Dengan demikian untuk mendapatkan kurikulum yang benar-benar
berwatak Islam masyarakat Muslim membutuhkan buku-buku teks dan sebuah metode
pengajaran yang benar-benar berwatak Islam.
Pengembangan buku-buku teks, problema penyusunan
kurikulum, serta bagaimana memformulasikan konsep Islam dalam rangka islamisasi
ilmu pengetahuan. dengan berbagai permasalahannya dan pemecahannya.
Buku teks berisi bahan untuk dipelajari secara terinci oleh para
pelajar, baik di rumah, sekolah, maktab, dan universitas. Ada pengunaan yang berbeda, baik dari segi jenjang
pendidikan, perkembangan psikologis, moral dan intelektualnya. Tentunya
penyusunan tersebut mengacu kepada aspek sudut pandang teknik, moral,
intelektual, emosional atau spiritual tertentu. Di sisi lain, guru yang ingin
membuat buku ajar hendaknya menguasai dan memahami teknik penulisan, bahan
tertulis, memahami implikasi dan hubungannya terhadap konsep lainnya. Buku teks
berisi bahan untuk dipelajari secara terinci oleh pelajar di rumah, sekolah,
maktab dan universitas.
Konsep pendidikan Islam dapat secara praktis
diwujudkan melalui kurikulum, yang harus dirumuskan pertama untuk menjamin
bahwa buku-buku teks yang tepatlah yang dihasilkan. Hal
–hal yang hendaknya diperhatikan dalam menyusun kurikulum Islam adalah,
pertama, konsep Islam tentang manusia sangat luas. Kedua, pengetahuan adalah
sumber kemajuan dan perkembangan, Islam tidak membatasi pencapaian pengetahuan.
Ketiga, besarnya penilikan harus konprehensif. Keempat, aspek spiritual, moral,
intelektual, imajinatif dan fisik dan kepribadian seseorang harus perhatikan
ketika membuat interelasi antara berbagai disiplin.
Pertumbuhan kemampuan dan pikiran seorang anak harus menjadi
pertimbangan untuk menyusun subyek dan rangkaian pelajaran dalam tahap-tahap
yang bertingkat. Kelima, perkembangan kepribadian seharusnya dilihat dalam
konteks hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam. Dalam, pengembangan
kurikulum perlu juga pemantapan hirarki pengetahuan, pengetahuan intelektual
hendaknya juga menjadi perhatian, termasuk keyakinan dan etika harus ditanamkan
kepada seorang anak sejak tahap awal. Penjelasan tersebut merupakan hal-hal
yang perlu menjadi perhatian dalam perencanaan kurikulum.
Rintangan kurikulum rencana pengembangan kurikulum Islam, seperti
rintangan politik, rintangan tersebut biasanya datang dari pihak pemerintah,
baik pemerintah saat itu maupun kebijakan pemerintah kolonial dan sekuler
Barat. Rintangan filosofis, dianggap berat bagi perencanaan kurikulum Islam,
sebagai contoh ketika sebuah Negara yang mayoritas muslim berusaha menyusun
sebuah perencanaan kurikulum pendidikan yang searah dengan tujuan agama, tetapi
di sisi lain, Negara itu juga menganut cita-cita yang berseberangan dengan
tujuan pendidikan Islam.
Menurut Ali Asraf kontradiksi tersebut terjadi akibat kurangnya
pemikiran dan hasrat untuk menyusun sebuah kompromi antara kebutuhan- kebutuhan
Islam dan system pendidikan modern. Berhasil tidaknya islamisasi kurikulum
Islam tergantung pada adanya konsep yang sesuai setiap cabang pengetahuan. Dari
berbagai teknik yang dikembangkan oleh Barat, ada teknik yang baik, yaitu
teknik dilakukan oleh Nabi dan para Sahabatnya, teknik tersebut adalah teknik
mempraktekkan secara langsung.
Di sisi lain, penyusunan kurikulum sering terjebak
dalam lingkarang filsafah hidup, sehingga kurikulum tidak memperhatikan
pendidikan itu sendiri, padahal seharusnya kurikulum disusun untuk pendidikan
bukan untuk falsafah pendidikan. Mungkin kalau falsafah
tersebut berdasarkan sumber yang sama ada celah untuk titik temu, tetapi
permasalahannya adalah tidak adanya titik temu dalam tingkat tujuan, isi dan
pengaturan kurikulum. Seperti pertentangan tujuan, isi dan pengaturan terjadi
Amerika Serikat. Menanggapi hal ini Ali Asraf menyatakan bahwa umat Islam
hendaknya belajar tentang psikologi anak. Selama ini penyusunan kurikulum dalam
Islam masih mengacu kepada konsep Barat yang pada dasarnya berasal dari
pengembangan keilmuan Yunani. Tradisi keilmuan Yunani diislamisasi oleh para
sarjana muslim. Menurut Ali Asraf yang perlu dilakukan adalah meniru gaya ilmuan muslim
tersebut yaitu tradisi rasionalisme akademis, dengan mengikuti prinsip mereka
dalam melakukan islamisasi.
Sebagaimana diketahui bahwa ilmuan muslim pada
waktu itu mengislamisasi segala ilmu dan menjadikan ilmu itu berwatak islam. Berbagai ilmu tersebut berwatak Islam
karena dimasukkan kedalam konsep islam. Dengan demikian menurut Ali Asraf
rasionalisme akademis dari Barat membuat kurikulum yang menjadikan seseorang
berbudi dan bukan orang yang religius.
Tetapi, tradisi pendidikan Islam membuat kurikulum
yang menjadikan seseorang menjadi religius. Tetapi disayangkan tradisi
pendidikan dewasa ini menurut Ali Asraf mengalami gangguan karena pengabaian
sebagian besar cabang pengetahuan yang diperoleh, dan karena kurangnya formula
konseptual yang dapat membantu mengasimilasikan cabang-cabang pengetahuan itu.
Karena itu diperlukan riset-riset intensif untuk merumuskan konsep-konsep Islam
untuk semua cabang pengetahuan. Menurut Ali Asraf berhasil tidaknya islamisasi
kurikulum tergantung pada adanya konsep yang sesuai untuk setiap cabang
pengetahuan. Sehingga sekulerisasi yang mendominasi semua cabang pengetahuan
dapat digantikan oleh konsep Islam. Untuk itu perlu kerja keras para sarjana muslim untuk mewujudkan hal
tersebut.
Menurut Ali Asraf untuk merealisasikan rencana
kurikulum perlu realisasi praktis, di antara yang perlu segera dilakukan adalah
menyusun proyek jangka pendek, yang proyek tersebut dilakukan secara serentak
seperti pemikiran filosofis dan konseptualisasi harus mendahului penulisan
buku-buku teks agar para penulis buku teks menulis sesuai dengan garis-garis
yang telah ditetapkan, prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.perlu segera
dibuat kurikulum untuk tingkat sekolah menengah dan madrasah di seluruh dunia
Islam berdasarkan rekomendasi yang telah ditatapkan oleh pakar pendidikan islam
dalam komperensi. Program jangka panjang perlu
dilakukan adalah memasukkan filsafat pendidikan pada sekolah menengah, kalau
perlu pada tingkat dasar. Sedangkan untuk jangka panjang perlu membuat
buku-buku teks yang mengandung nilia- nilai Islami, merevisi buku-buku teks dan
silabus unversitas dalam semua cabangnya.. kemudian proyek jangka panjang lainya adalah
dengan melakukan analisis kurikulum berdasarkan sudut pandang Islam. Dan yang
terakhir adalah persiapan membuat antologi bahan bacaan, seperti ekonomi,
sosiologi, histriografi, agama komparatif,, sains dan teknologi, serat bacaan
lainnya. Dalam segi metodologi Ali Asraf memberi jalan keluar dengan menanyakan
bahwa metode modern yang ada dapat di islamisasikan dengan diberi nilai
relijius.
Dapat disimpulkan bahwa dalam buku Ali Asraf
tentang Horison Pendidikan Pendidikan Islam, sebagai berikut; perlunya memberi
definisi terhadap pendidikan Islam, menurut Ali Asraf Pendidikan Islam tidak
hanya berarti pengajaran teologis atau pengajaran al-Quran, hadis, dan fiqh,
seprti yang umum dipegang selama ini. Untuk membentuk pendidikan berwatak
Islam, para ahli pendidikan dan pihak yang berkompeten hendaknya menunjukkan
bagaimana prespektif total ini memberikan tanggapan seimbang mengenai manusia.
Salah satu penyebab timbulnya konflik dalam masyarakat silam adalah system
pendidikan dwi system pendidikan, yaitu pendidikan tardisional dan modern, dan
untuk memadukan atau mengintegrasikan kedua hal tersebut adalah dengan
kurilulum, silabus mata pelajaran dan buku-buku teks dibuat berdasarkn konsep
Islam.
Integrasi hendaknya didukung oleh konseptualisasi
dan latihan terhadap guru. Restrukturisasi pendidkan guru, karena guru menjadi
model bagi siswa. Untuk itu guru hendaknya mengetahui teori Islam tentang
pendidikan Islam dan diajarkan untuk menyadari akan keunggulan system
pendidikan Islam disbanding dengan pendidikan Barat. Guru hendaknya menyadari
bahwa pemikiran sekuler mendominasi setiap subyek, serta menyadarkan para guru
akan pendekatan mereka selama ini yang penuh dengan pendekatan sekuler.Untuk
itu kepada para guru hendaknya diperkaya dengan pendekatan Islam untuk
menghadap setiap cabang pengetahuan. Buku ini penting bagi mahasiswa dan dosen
serta praktisi Pendidikan Islam, terutama yang ingin memahami langkah-langkah
islamisasi pengetahuan dan penyusunan kurikulum Islami.
SHARE