PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM IBN SINA

26
1.Hakikat Manusia
Bebicara tentang pendidikan, tentu tidak terlepas
dari kajian tentang hakikat manusia. Pandangan
seseorang terhadap manusia akan berpengaruh terhadap konsep-konsep pendidikan
yang ia kemukakan. Demikian halnya Ibn Sina, juga memiliki pandangan tentang
hakikat manusia. Bahkan dalam kajian filsafat, pembahasan tentang Ibn Sina
tidak pernah terlepas dari pemikirannya tentang manusia, khususnya tentang
konsep jiwa.
Secara garis besar, manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani.
Keduanya mesti dipelihara dalam kelangusungan hidup di dunia ini. Namun dalam
kajian filsafat, unsur rohani atau jiwa mendapat perhatian lebih karena
dianggap sebagai hakikat manusia yang sesungguhnya. Demikian halnya dengan Ibn Sina,
meskipun ia sebagai seorang dokter yang mengkaji tentang organ tubuh manusia
secara jasmani, tetapi ia juga memiliki pemikiran yang unik tentang jiwa.
Sebagaimana Al-Farabi, ia juga menganut paham pancaran (emanasi).
Dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua dan
langit pertama; demikian seterusnya sehingga tercapai akal kesepuluh dan bumi.
Dari akal kesepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada di
bawah bulan. Akal Pertama adalah malaikat tertinggi dan akal kesepuluh adalah
Jibril.16 Berlainan dengan al Farabi, Ibnu Sina berpendapat bahwa akal pertama
mempunyai dua sifat yaitu:

1. sifat wajib
wujudnya, sebagai pancaran dari Allah (Wajib al Wujud li ghairihi), dan
2. sifat mungkin
wujudnya jika ditinjau dari hakikat dirinya (Mumkin al Maujud li Dzatihi).
Dengan demikian,
ada tiga obyek pemikirannya yaitu Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan
dirinya sebagai mungkin wujudnya. Dari pemikiran tentang Tuhan timbul
akal-akal, dari pemikiran tentang dirinya sebagai wujudnya timbul jiwa-jiwa dan
dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul langit-langit.
Jiwa manusia, sebagaimana jiwa-jiwa lain dan segala apa yang
terdapat di bawah bulan, memancar dari akal kesepuluh. Sebagaimana Aristoteles,
Ibnu Sina membagi Jiwa dalam tiga bagian, yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan, hewan dan
manusia. Hanya saja Ibn Sina menguraikan lebih rinci, dan tentunya sesuai
dengan ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an. Adapun pembagian jiwa tersebut
adalah:
1. Jiwa
tumbuh-tumbuhan (Nabatiyyah) adalah daya yang terdapat dalam diri semua makhluk
yang hidup atau yang bernyawa (tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia). Daya ini
terbagi tiga macam, yaitu ghaziyab (makan); munmiyab (tumbuh); muwallidah
(mereproduksi). Daya jiwa nabatiyah ini adalah jiwa terendah dari dua jiwa yang
lain.
2. Jiwa binatang
(Hayawaniyyah), daya jiwa ini terdapat pada hewan dan manusia, tidak pada
tumbuh-tumbuhan. Daya jiwa hayawaniyah terdiri dari dua macam, yakni:
a. Daya jiwa
hayawaniyah muhrikah (menggerakkan) terbagi atas dua macam:
1)     
Muhrikah
bā’itsah, ialah daya keinginan kecondongan yang mendorong lahirnya gerakan.
Bā’itsah ini mempunyai dua macam yakni bā’itsah syahwiyah (kekuatan atau daya
keinginan yang membangkitkan gerakan, untuk memperoleh kebutuhan) dan bā’itsah
ghadlabiyah (daya keinginan yang membangkitkan gerakan untuk menghindari segala
sesuatu yang memudlaratkan).
2)     
Muhrikah
fā’ilah, ialah daya penggerak yang terdapat dalam urat-urat syaraf sampai
bagian luar badan sehingga otot-otot melakukan gerakan sesuai dengan tuntutan daya-daya
keinginan.
b. Daya jiwa
hayawaniyah Mudrikab (menanggap), dengan dua bagian:
1)     
Mudrikah
dari luar ialah jiwa menangkap dari penginderaan terhadap rangsangan-rangsangan
yang datang dari luar.
2)     
Mudrikah
dari dalam ialah daya jiwa hayawaniyah yang menangkap rangsangan yang datang
dari dalam jiwa atau dalam dirinya sendiri. Daya ini terbagi atas lima macam,
yaitu: (a) Indra bersama (al-hiss al-musytarak), yaitu menerima segala apa yang
ditangkap oleh indra luar; (b) Indra al-khayyal, yang menyimpan segala apa yang
diterima oleh indra bersama; (c) Imajinasi (al-mutakhayyilat) yang menyusun apa
yang disimpan dalam khayydl. (d) Indra wahmiyah (estimasi) yang dapat menangkap
hal-hal yang abstrak yang terlepas dari materinya, seperti keharusan lari bagi
kambing ketika melihat serigala. (e) Indra pemeliharaan (rekoleksi) yang
menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh indra estimasi.
3. Jiwa manusia
(insaniyah), yang disebut juga al-nafs al-nathiqat, mempunyai dua daya, yaitu:

a. daya praktis
{al-‘amilat), hubungannya dengan jasad. Daya jiwa al-‘amilah disebut juga
al-‘aqlul ‘amali (akal atau intelegensia praktis), yakni daya jiwa insani yang
punya kekuasaan atas badan manusia yang dengan daya jiwa inilah manusia
melaksanakan perbuatan-perbuatan yang mengandung pertimbangan dan pemikiran
yang membedakan dia, dari seluruh binatang. Jika daya ini membirnbing daya-daya
jiwa hayawaniyah serta dipengaruhi juga oleh aqlun nazhari (pikir teoritis)
maka manusia akan hidup di atas keutarnaan, tetapi jika sebaliknya manusia akan
hidup dalam kehinaan.

b. daya teoretis
{al-‘alimat) hubungannya dengan hal-hal yang abstrak. Daya jiwa al-‘alimah
disebut juga “aqlun nazhari”. (akal intelegensia teoretis), daya jiwa
ini menemukan konsep-konsep umum yang di-tajrid-kan dari materi. Daya teoretis
ini mempunyai beberapa tingkatan akal, yaitu.

1) Aqlun bil
quwwab, yaitu intelegensia yang berkembang disebabkan proses interaksi dengan
lingkungannya baik melalui proses belajar mengajar ataupun
pengalaman-pengalaman. Aqlun bil quwwah ini dibagi tiga:

a) Al-Aqlu
al-hayulani (akal material), yang semata-mata mempunyai potensi untuk berpikir
dan belum dilatih walaupun sedikitpun.
b) Al-‘Aqlu
al-malakat, yaitu jiwa yang memperoleh perkara-perkara badihiyah (kebenaran
aksioma) dengan ilharn ilahi tanpa melalui proses belajar, dia tidak pula lewat
pengalaman indrawi. Contoh, keseluruhan lebih besar dari bagiannya, dua yang
berlawanan tidak akan berkumpul.
c) Al-Aqlu bi
al-fi’l, (akal aktual), yaitu bilamana jiwa memperoleh ilmu pengetahuan teoritis,
namun dia tidak dalam keadaan sedang empelajarinya, tapi ilmu sudah siap
padanya, kapan saja dia kehendaki dapat diketahuinya.

2) al-Aqlu
al-Mustafad, yaitu akal yang muncul bilamana konsepsi rasional hadir pada akal
itu, sedang dia dalam keadaan mengkajinya atau mempelajarinya. Perbedaan antara
al-aql bi al-fi’li dengan al-aql al-mustafad adalah, umpamanya, seorang seniman
pelukis, daya jiwanya pada waktu dia tidak dalam keadaan melukis, dan daya
jiwanya pada waktu dia tenggelam dalam melukis (mustafad). Jadi, akal seperti
inilah yang dapat berhubungan dan menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal
aktif.
Dari tingkatan
jiwa di atas, jiwa al-insaniyah adalah yang tertinggi. Sementara dalam jiwa
al-insaniyah juga terdapat beberapa tingkatan akal, dari yang bersifat materil
(hayulani) hingga kepada yang abstrak (mustafad). Untuk meningkatkan kualitas
jiwa dan akal manusia, diperlukan latihan-latihan berupa penelitian dan
pendidikan. Dari konsep ini, terlihat jelas peran penting pendidikan bagi
pengembangan diri manusia.
Ia juga
menjelaskan bahwa sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga jiwa
itu yang berpengaruh pada dirinya, jika yang lebih berpengaruh jiwa binatang
maka orang itu akan menyerupai sifat-sifat binatang. Sebaliknya jika jiwa manusia
telah mempunyai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka ia akan
memperoleh kesenangan abadi di akhirat. Sebaliknya, jika ia berpisah dengan
badan dalam keadaan tidak sempurna akibat terpengaruh oleh godaan hawa nafsu,
maka ia akan sengsara selama-lamanya di akhirat.
Kemudian Ibn
Sina juga membedakan antara jiwa dengan jasad. Berbeda dengan definisi yang
dikemukakan oleh Aristoteles, “jiwa adalah kesempurnaan awal bagi jasad
alami yang organis”, Ibn Sina mengganggap definisi itu tidak membedakan
secara tegas antara jasad dengan jiwa. Bahkan pandangan Aristoteles
mengisyaratkan adanya hubungan yang bersifat esensial antara keduanya dimana
jiwa akan fana dengan binasanya jasad. Bagi Ibn Sina, jiwa adalah “jauhar
dari rohani”. Ini menunjukkan bahwa jiwa adalah substansi dari rohani,
tidak tersusun dari materi-materi sebagaimana jasad. Kesatuan antara keduanya
bersifat accident, hancurnya jasad tidak membawa kepada hancurnya roh (jiwa).
Akan tetapi jiwa yang kekal adalah jiwa insaniyah dimana kelak akan mendapat
pembalasana di akhirat, sementara jiwa tumbuh-tumbuhan dan hewan akan hancur
bersama hancurnya jasad. Dengan demikian, jiwa memiliki kedudukan amat penting
dari pada jasad. Hal ini berimplikasi kepada konsepnya tentang pendidikan yang
mengutamakan pendidikan jiwa.
Meskipun
demikian, antara jasad dengan jiwa juga memiliki hubungan yang erat dimana
antara keduanya saling mempengaruhi dan membantu. Jasad adalah tempat bagi
jiwa. Dengan kata lain jasad adalah syarat mutlak bagi adanya jiwa. Karenanya,
manusia juga harus memelihara jasad sehingga dibutuhkan pula adanya pendidikan
jasmani yang baik.
2. Tujuan
Pendidikan
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, Ibn Sina memandang bahwa
manusia itu memiliki unsur jasmani dan jiwa (roh). Kemudian di dalam jiwa
manusia terdapat beberapa tingkatan akal. Jadi, secara garis besar substansi
manusia itu ada tiga, yaitu akal (intellect), jiwa (nafs), dan badan (jism).
Berangkat dari pandangan tersebut, Ibn Sina
mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah “pendidikan harus diarahkan
pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah
perkembangannya yang sempuma, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi
pekerti.” Tampaknya tujuan ini bersifat universal.
Selain itu tujuan pendidikan menurut Ibn Sina
harus diarahkan pada upaya mempersiapkan sese¬orang agar dapat hidup di
masyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang
dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang
dimilikinya.
Khusus mengenai pendidikan yang bersifat jasmani,
Ibn Sina berpendapat hendaklah tujuan pendidikan tidak melupakan pembinaan
fisik dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti olahraga, makan,
minum, tidur dan menjaga kebersihan. Sedangkan tujuan
pendidikan yang bersifat keterampilan ditujukan pada pendidikan bidang
perkayuan, penyablonan dan sebagainya, sehingga akan muncul tenaga-tenaga
pekerja yang profesional yang mampu mengerjakan pekerjaan secara profesional.
Dengan demikian, adanya pendidikan jasmani diharapkan seorang anak
akan terbina pertumbuhan fisiknya dan cerdas otaknya. Sedangkan dengan
pendidikan budi pekerti diharapkan seorang anak memiiiki kebiasaan bersopan
santun dalam pergaulan hidup sehari-hari dan sehat jiwanya. Dengan pendidikan kesenian
seorang anak diharapkan pula dapat mempertajam perasaannya dan meningkat daya
khayalnya. Begitu pula tujuan pendidikan keterampilan, diharapkan bakat dan
minat anak dapat berkembang secara optimal.
Khusus mengenai tujuan pendidikan untuk membentuk
manusia yang berkepribadian akhlak mulia, Ibn Sina juga mengemukakan bahwa
ukuran akhlak mulia tersebut dijabarkan secara luas yang meliputi segala aspek
kehidupan manusia. Aspek-aspek kehidupan yang menjadi
syarat bagi terwujudnya suatu sosok pribadi berakhlak mulia yang meliputi aspek
pribadi, sosial, dan spiritual. Ketiganya harus berfungsi secara integral dan
komprehensif. Pembentukan akhlak mulia ini juga bertujuan untuk mencapai
kebahagiaan (sa’adah). Kebahagiaan menurut Ibn Sina dapat diperoleh manusia
secara bertahap. Mula-mula kebahagiaan secara individu harus dicapai dengan
memiliki akhlak mulia. Lalu jika individu yang merupakan anggota keluarga
berakhlak mulia, maka keluarga itu pun akan bahagia pula dengan akhlak mulia.
Selanjutnya keluarga yang berakhlak mulia akan menghasilkan masyarakat yang
berakhlak mulia sehingga suatu masyarakat tersebut akan memperoleh kebahagiaan.
Dari tujuan pendidikan yang berkenaan dengan budi pekerti, kesenian,
dan perlunya keterampilan sesuai dengan bakat dan minat tentu erat kaitannya
dengan perkembangan jiwa seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan
yang bersifat spiritual mendapat penekanan yang lebih.
Menurut Hasan Langgulung, jika dilihat dari
fungsinya, salah satu fungsi tujuan pendidikan adalah sebagai alat untuk
menentukan haluan pendidikan yang terbagi pada tiga tahap, yaitu tujuan khusus
(objectivies), tujuan umum (goals), dan tujuan akhir (aims). Apabila dikaitkan dengan rumusan tujuan pendidikan Ibn Sina di atas,
maka tujuan akhir adalah “pengembangan akal”. Sebab, bagi Ibn Sina
akal (intellect) adalah puncak dari kajadian ini. Walaupun pakar-pakar
pendidikan yang terkemudian memberi definisi yang berbeda dengan Ibn Sina ini,
tetapi sebagian besar mereka setuju bahwa akal adalah satu-satunya keistimewaan
manusia dibandingkan makhluk-makhluk yang lain. Sementara tujuan yang bersifat
khusus (objectiviesi) adalah mencari kerja untuk hidup. Tujuan ini juga bisa
disebut tujuan vokasional yang termasuk dalam tujuan khusus. Hal ini dapat
dirumuskan berdasarkan tujuan pendidikan keterampilan sesuai dengan bakat minat
anak, sebagaimana yang telah disinggung di atas.
Dari beberapa tujuan yang dikemukakan di atas,
secara sederhana dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
“mengembangkan potensi peserta didik secara optimal sehingga memiliki akal
yang sempurna, akhlak yang mulia, sehat jasmani dan rohani serta memiliki
keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minatnya sehingga ia memperoleh
kebahagiaan (sa’adah) dalam hidupnya.”
Kemudian, jika dikaitkan antara tujuan-tujuan yang dikemukakan di
atas, jelaslah bahwa Ibn Sina telah merumuskan tujuan secara sistematis. Dalam
istilah Abuddin Nata, tujuan pendi¬dikan Ibn Sina bersifat hirarkis-struktural.
Artinya, di samping memiliki pendapat tentang tujuan pendidikan yang bersifat
uni¬versal (atau tujuan akhir) sebagaimana dikutip pada bagian pertama, juga
memiliki pendapat tentang tujuan pendidikan yang bersifat kurikuler atau
perbidang studi dan tujuan yang bersifat operasional (atau dalam istilah Hasan
Langgulung tujuan vokasional/tujuan khusus).
Hanya saja rumusan tujuan pendidikan Islam Ibn
Sina, selain dari falsafahnya tentang hakikat manusia, juga dipengaruhi oleh
perjalanan atau pengalaman hidupnya yang cerdas dengan pemikiran-pemikiran brilliant,
juga terjun dalam pekerjaan sebagai tabib/dokter sesuai dengan keilmuan yang
dikuasainya. Artinya, Ibn Sina menghendaki orang lain
bisa meneladani apa yang telah ia perbuat. Dengan demikian tidak berlebihan
jika dikatakan bahwa rumusan tujuan pendidikan Ibn Sina juga bersifat
teoritis-praktis.
3. Kurikulum
Kurikulum, dalam artian sempit, adalah seperangkat mata pelajaran
yang harus dikuasai oleh peserta didik untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan
demikian, ilmu apa saja yang harus dipelajari dan dikuasai oleh peserta didik
termasuk dalam kajian kurikulum.
Ibn Sina juga
menyinggung tentang beberapa ilmu yang perlu dipelajari dan dikuasai oleh
seorang anak didik. Abuddin Nata, dalam desertasinya yang membahas “Konsep
Pendidikan Ibn Sina” menyimpulkan bahwa rumusan kurikulum Ibn Sina
didasarkan kepada tingkat perkembangan usia anak didik, yaitu fase 3-5 tahun,
6-14 tahun, dan di atas 14 tahun.
a. Usia 3 sampai
5 tahun
Menurut Ibn
Sina, diusia ini perlu diberikan mata pelajaran olah raga, budi pekerti,
kebersihan, seni suara, dan kesenian.
1) Olah raga
sebagai pendidikan jasmani.
Ibn Sina memiliki pandangan yang banyak dipengaruhi oleh pandangan
psikologisnya mengenai pendidikan olah raga. Menurutnya ketentuan dalam
berolahraga harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia anak didik serta
bakat yang dimilikinya. Dengan cara demikian dapat diketahui dengan pasti mana
saja di antara anak didik yang perlu diberikan pendidikan olahraga sekedarnya
saja, dan mana saja di antara anak didik yang perlu dilatih berolahraga lebih
banyak lagi. Ia juga merinci olah raga mana saja yang memerlukan dukungan fisik
yang kuat serta keahlian; dan mana pula olahraga yang tergolong ringan, cepat,
lambat, memerlukan peralatan dan sebagainya. Menurutnya semua jenis olahraga
ini dise¬suaikan dengan kebutuhan bagi kehidupan si anak.
Pelajaran olahraga atau gerak badan tersebut diarahkan untuk membina
kesempurnaan pertumbuhan fisik si anak serta berfungsinya organ tubuh secara
optimal. Hal ini penting mengingat jasad/tubuh adalah tempat bagi jiwa yang
harus dirawat agar tetap sehat dan kuat. Mata pelajaran olah raga yang
menginginkan kesehatan jasmani memang mendapat perhatian dari Ibn Sina, apalagi
jika dihubungkan dengan keahliannnya di bidang ilmu kesehatan/kedokteran, tentu
Ibn Sina memahami begitu pentingnya pelajaran oleh raga sebagai upaya untuk
menjaga kesehatan jasmani.
2) Pelajaran
akhlak/budi pekerti
Pelajaran budi pekerti diarahkan untuk membekali si anak agar
memiliki kebiasaan sopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Pelajaran
budi pekerti ini sangat dibutuhkan dalam rangka membina kepribadian si anak
sehingga jiwanya menjadi suci, terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk yang
dapat mengakibatkan jiwanya rusak dan sukar diperbaiki kelak di usia dewasa.
Dengan demikian, Ibn Sina memandang pelajaran akhlak sangat penting ditanamkan
kepada anak sejak usia dini. Pendidikan akhlak harus dimulai dari keluarga
dengan keteladanan dan pembiasan secara berkelanjutan sehingga terbentuk
karakter atau kepribadian yang baik bagi si anak.
3) Pendidikan
kebersihan
Pendidikan kebersihan juga mendapat perhatian Ibn Sina. Pendidikan
ini diarahkan agar si anak memiliki kebiasaan mencintai kebersihan yang juga
menjadi salah satu ajaran mulia dalam Islam.
4) Pendidikan seni
suara dan kesenian
Pendidikan seni suara dan ke¬senian diperlukan agar si anak memiliki
ketajaman perasaan dalam mencintai serta meningkatkan daya khayalnya. Jiwa seni
perlu dimiliki sebagai salah satu upaya untuk memperhalus budi yang pada
gilirannya akan melahirkan akhlak yang suka keindahan. Mengenai pelajaran
kebersihan, Ibn Sina mengatakan, bahwa pelajaran hidup bersih dimulai dari
sejak anak bangun tidur, ketika hendak makan, sampai ketika hendak tidur
kembali. Dengan cara demikian, dapat diketahui mana saja anak yang telah dapat
menerapkan hidup sehat, dan mana saja anak yang berpenampilan kotor dan kurang
sehat.
Dari keempat pelajaran yang perlu diberikan kepada anak di usia 3 –
5 tahun, menunjukkan bahwa Ibn Sina telah memandang penting pendidikan di usia
dini. Hal ini relevan dengan konsep pendidikan modern yang dikenal dalam Sistem
Pendidikan Nasional dengan istilah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) lalu Taman
Kanak-kanak (TK).
Hemat penulis,
jika dilihat dari pelajaran yang perlu diterapkan di usia ini, tampaknya lebih
menekankan pada aspek apektif. Pentingnya pendidikan kebersihan, seni suara,
dan kesenian pada dasarnya bagian dari upaya pembinaan akhlak anak. Hal ini
penting mengingat setiap pengalaman yang dilalui oleh anak di usia dini akan
jelas berbekas dalam kepribadiannya kelak ketika dewasa.
b. Usia 6 sampai
14 tahun
Selanjutnya kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14
tahun menu¬rut Ibn Sina adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal
Al-Qur’an, pelajaran agama, pelajaran sya’ir, dan pelajaran olahraga.
1) Pelajaran
al-Qur’an dan pelajaran agama
Pelajaran al-Qur’an adalah pelajaran pertama dan yang paling utama
diberikan kepada anak yang sudah mulai berfungsi rasionalitasnya. Pelajaran
membaca dan menghafal al-Qur’an menurut Ibn Sina berguna di samping untuk
mendukung pelaksanaan ibadah yang memerlukan bacaan ayat-ayat al-Qur’an, juga
untuk mendu¬kung keberhasilan dalam mempelajari agama Islam seperti pela¬jaran
tafsir al-Qur’an, fiqih, tauhid, akhlak dan pelajaran agama lain-nya yang
sumber utamanya adalah al-Qur’an. Efektivitas menghafal al-Qur’an di usia ini
juga telah dibuktikan oleh Ibn Sina sendiri dimana ia telah hafal seluruhnya
pada usia 10 tahun.
Selain itu pelajaran membaca dan menghafal
al-Qur’an juga mendukung keberhasilan dalam mempelajari bahasa Arab, karena
dengan menguasai al-Qur’an berarti ia telah menguasai ribuan kosa kata bahasa
Arab atau bahasa al-Qur’an. Dengan begitu pelajaran
membaca al-Qur’an tampak bersifat strategis dan mendasar, baik dilihat dari
segi pembinaan sebagai pribadi Muslim, maupun dari segi pembentukan ilmuwan
Muslim, sebagaimana yang diperlihatkan Ibn Sina sendiri. Sementara pelajaran
agama harus lebih banyak diajarkan di usia ini, sebab pada usia ini anak telah
mempu berpikir secara rasional sehingga dapat memahami dasar-dasar ajaran agama
yang harus ia jalankan selaku seorang muslim.
2) Pelajaran
keterampilan
Pelajaran keterampilan diperlukan untuk mempersiapkan anak mampu
mencari penghidupannya kelak. Dalam pendidikan modern pelajaran ini dikenal
dengan vokasional. Pentingnya pendidikan tersebut dinyatakan oleh Ibn Sina,
seperti yang dikutip Hasan Langgulung:
“Setelah
kanak-kanak diajar membaca al-Qur’an, menghafal dasar-dasar bahasa, barulah
dilihat kepada pekerjaan yang akan dikerjakannya dan ia dibimbing ke arah itu,
setelah gurunya tahu bahwa bukan semua pekerjaan yang diinginkannya bisa
dibuatnya tetapi adalah yang sesuai dengan tabiatnya. jika ia ingin menjadi
jurutulis (barnagkali sekarang boleh disebut kerani atau administrator) maka
haruslah ia diajar surat menyurat, pidato, diskusi, dan perdebatan dan
lain-lain lagi. Begitu juga ia perlu belajar berhitung dan mempelajari tulisan
indah. Kalau dikehendaki yang lain maka ia disalurkan ke situ.”
3) Pelajaran
sya’ir
Pelajaran sya’ir tetap dibutuhkan di usia ini sebagai lanjutan dari
pelajaran seni pada tingkat sebelumnya. Anak perlu menghafal sya’ir-sya’ir yang
mengandung nilai-nilai pendidikan akan sangat berguna dalam menuntun
perilakunya, di samping petunjuk al-Qur’an dan Sunnah. Pelajaran ini dimulai
dengan menceritakan syair-syair yangmenceritakan anak-anak yang glamour, sebab
lebih mudah dihafal dan mudah menceritakannya serta bait-baitnya lebih pendek.
Kemudian Ibn Sina menolak ungkapan “seni adalah untuk seni”, ia berpendapat
bahwa seni dalam syair merupakan sarana pendidikan akhlak.
4) Pelajaran
olah raga
Pelajaran olah raga harus disesuaikan dengan tingkat usia ini. Dari
sekian banyak olahraga, menurut Ibn Sina yang perlu dimasukkan ke dalam
kurikulum atau rancangan mata pelajaran ada¬lah olahraga adu kekuatan, gulat,
meloncat, jalan cepat, memanah, berjalan dengan satu kaki dan mengendarai unta.
Tentu semua ini berdasarkan kebutuhan si anak dan disuasaikan dengan tingkat
perkembangannya.
Jika di usia 3-5
tahun lebih ditekankan pada aspek apektif atau pendidikan akhlak, maka di usia
6-14 tahun telah diberikan pelajaran yang menyentuh aspek kognitif. Bahkan di
usia ini telah diajarkan al-Qur’an dengan membaca, menghafal bahkan memahami
tata bahasanya. Dengan demikian, aspek apektif dan psikomotor sudah banyak
mendapat sentuhan. Hal ini beralasan mengingat di usia ini otak peserta didik
telah berkembang dan mulai mampu memahami persoalan yang abstrak.
c. Usia 14 tahun
ke atas
Di usia 14 tahun ke atas, Ibn Sina memandang mata pelajaran yang
harus diberikan kepada anak berbeda dengan usia sebelumnya. Mata pelajaran yang
dapat diberikan kepada anak usia 14 tahun ke atas, amat banyak jumlahnya, namun
pela¬jaran tersebut perlu dipilih sesuai dengan bakat dan minat si anak. Ini menunjukkan
perlu adanya pertimbangan dengan kesiapan anak didik. Dengan cara demikian, si
anak akan memiliki kesiapan untuk menerima pelajaran tersebut dengan baik. Ibn
Sina menganjurkan kepada para pendidik agar memilih jenis pelajaran yang
berkaitan dengan keahlian tertentu yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh
muridnya. Jadi, di usia ini telah diarahkan untuk menguasai suatu bidang ilmu
tertentu (takhashshush/spesialisasi).
Di antara mata pelajaran tersebut dapat dibagi ke dalam mata
pelajaran yang bersifat teoritis dan praktis. Tampaknya pembagian ini
dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles yang juga membagi ilmu secara teoritis
dan praktis. Akan tetapi, Ibn Sina banyak menambahkan ilmu-ilmu lain ke dalam
kelompok ilmu yang bersifat teoritis dan praktis yang tentunya berdasarkan
kepada ajaran Islam. Adapun ilmu-ilmu pada masing-masing kelompok tersebut
adalah:
1) ilmu yang
bersifat teoritis meliputi:
a) ilmu tabi’i,
yang disebutnya dengan ilmu yang paling bawah, yaitu mencakup ilmu kedokteran,
astrologi, ilmu firasat, ilmu sihir (tilsam), ilmu tafsir mimpi, ilmu
niranjiyat, dan ilmu kimia;
b) ilmu
matematika yang disebutnya dengan ilmu pertengahan, mencakup tentang ruang,
bayang dan gerak, memikul beban, timbangan, pandangan dan cermin, dan ilmu
memindahkan air;
c) ilmu
ketuhanan, disebutnya ilmu paling tinggi, yaitu menuntut derajat kebebasannya
dari materi, yang mencakup ilmu tentang cara-cara turunnya wahyu, hakikat jiwa
pembawa wahyu, mu’jizat, berita gaib, ilham, dan ilmu tentang kekekalan ruh
setelah berpisah dengan badan.
2) ilmu yang
bersifat praktis, meliputi:
a) ilmu akhlak
yang mengkaji tentang cara-cara pengurusan tingkah laku seseorang;
b) ilmu
pengurusan rumah tangga, yaitu ilmu yang mengkaji hubungan antara suami dan
istri, anak-anak, pengaturan keuangan dalam kehidupan rumah tangga;
c) ilmu politik
yang mengkaji tentang bagaimana hubungan antara rakyat dan pemerintah, kota
dengan kota, serta bangsa dan bangsa. Ibn Sina juga menambahkan dalam ilmu
politik ini tentang wujud kenabian dimana manusia perlu kepadanya, terutama
dalam kehidupan bermasyarakat yang menginginkan tegaknya keadilan dengan
menetapkan undang-undang dan syariat.
Pembagian ilmu
praktikal ini juga hampir sama dengan pembagian Aristoteles. Tetapi Ibn Sina
memberikian syari’at sebagai landasan yang amat penting dalam falsafah
praktikal. Setelah pembagian ini ia menyatakan, “Semua itu hanya dapat
terlaksana dengan pemikiran akal dan petunjuk syariat, sedangkan secara
terperinci dengan syariat Ilahi”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Ibn
Sina memandang penting antara akal dan wahyu dalam dalam kehidupan manusia.
Dengan demikian, pendidikan juga harus menyusun kurikulum yang mendidik manusia
agar memiliki akal sempurna berlandaskan kepada wahyu Ilahi.
Lebih rinci, Hasan Langgulung menulis klasifikasi ilmu menurut Ibn
Sina sebagai berikut:
ILMU
Tidak Kekal
Kekal Abadi (Hikmat)
Sebagai Tujuan
Sebagai Alat: Logik
Teoritikal:
Praktikal:
– Ilmu Tabi’i –
Ilm Akhlak
– Ilmu
Matematika – Ilmu Administrasi Rumah
– Ilmu
Metafisika (Ketuhanan) – Ilmu Administrasi Kota
– Ilmu Kully
(Universal) – Ilmu Nabi (Syariat)
Gambar:
Klasifikasi Ilmu Menurut Ibn Sina
Dari uraian pemikiran Ibn Sina tentang kurikulum di atas, dapat dipahami
bahwa konsep kurikulum yang ditawarkannya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
pertama, dalam penyusunan
kurikulum hendaklah mempertimbangkan aspek psikologis anak. Oleh karena itu, mengenal psikologi anak amat penting dilakukan yang
dalam kajian pendidikan modern mencakup tugas perkembangan pada setiap fase
perkembangan, mengenal bakat minat, serta persoalan-persoalan yang dihadapi
masing-masing tingkat perkembangan. Dengan begitu maka mata pelajaran yang
diberikan sesuai dengan kebutuhan dan akan mudah dikuasai oleh anak didik.
Kedua, kurikulum yang diterapkan harus mampu mengembangkan potensi anak
secara optimal dan harus seimbang antara jasmani, intelektual, dan akhlaknya.
Namun masing-masing unsur tersebut mendapat penekanan lebih pada masing-masing
tingkat usia. Di usia dini, pendidikan akhlak harus lebih ditekankan. Pada usia
remaja diseimbangkan antara apektif, psikomotor dan kognitif. Sedangkan di usia
14 tahun ke atas ditekankan pada pendalaman materi sesuai dengan keahlian yang
ia mampu dan sukai. Artinya, diperlukan spesifikasi keilmuan sehingga ia ahli di
bidang tertentu.
Ketiga, kurikulum yang ditawarkan Ibn Sina bersifat pragmatis-fungsional,
yakni dengan melihat segi kegunaan dari ilmu dan keterampilan yang dipelajari
sesuai dengan tuntutan masyarakat, atau berorientasi pasar (marketing
oriented). Dengan cara demikian, setiap lulusan pendidikan akan siap
difungsikan dalam berbagai lapangan pekerjaan yang ada di masyarakat.
Keempat, kurikulum yang disusun harus berlandaskan kepada ajaran dasar
dalam Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah sehingga anak didik akan memiliki iman,
ilmu, dan amal secara integral. Hal ini dapat dilihat dari pelajaran membaca
dan menghafal al-Qur’an yang ditawarkan oleh Ibn Sina sejak usia kanak-kanak.
Kelima, kurikulum yang ditawarkan adalah kurikulum berbasis akhlak dan
bercorak integralistik. Pentingnya pendidikan seni dan syair merupakan bukti
bahwa Ibn Sina memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan akhlak.
Sedangkan perhatian Ibn Sina terhadap pendidikan al-Qur’an sejak dini
membuktikan bahwa ia memahami bahwa semua ilmu berasal dari Allah dan harus
terintegrasi antara iman, ilmu dan amal.
3. Metode
Ibn Sina juga memiliki beberapa konsep metode pembelajaran. Pada
dasarnya metode pembelajaran yang ia tawarkan memiliki perbedaan antara materi
yang satu dengan materi pelajaran yang lainnya. Artinya, pemilihan dan
penetapan metode harus mempertimbangkan dengan karekteristik dari masing-masing
materi pelajaran. Kemudian metode itu juga mempertimbangkan tingkat
perkembangan/psikologis anak didik. Hal itu bisa dilihat dari beberapa metode
yang ditawarkannya. Menurut Abuddin Nata, di antara metode yang ditawarkan Ibn
Sina adalah metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi,
magang, dan penugasan. Kemudian Ali al-Jumbulati mengemukakan pula pemikiran
Ibn Sina tentang metode dera dan hukuman.
a) Metode talqin
Metode talqin perlu digunakan dalam mengajarkan membaca al-Qur’an,
mulai de¬ngan cara memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada anak di¬dik,
sebagian demi sebagian. Setelah itu anak tersebut disuruh mendengarkan dan
mengulangi bacaan tersebut perlahan-lahan dan dilakukan berulang-ulang, hingga
akhirnya ia hafal. Metode talqin ini menurut Ibn Sina dapat pula ditempuh
dengan cara seorang guru meminta bantuan murid-murid yang sudah agak pandai
untuk membimbing teman-temannya yang masih tertinggal. Cara seperti ini dalam
ilmu pendidikan modern dikenal dengan nama tutor sebaya, sebagaimana dikenal
dalam pengajaran dengan modul.
b) Metode
demonstrasi
Menurut Ibn Sina, metode demonstrasi dapat digunakan dalam pembelajaran
yang bersifat praktik, seperti cara mengajar menulis. Menurutnya jika seorang
guru akan mempergunakan metode tersebut, maka terlebih dahulu ia mencontohkan
tulisan huruf hijaiyah di hadapan murid-muridnya. Setelah itu barulah menyuruh
para murid untuk mendengarkan ucapan huruf-huruf hijaiyah sesuai dengan
makh-rajnya dan dilanjutkan dengan mendemonstrasikan cara menulisnya.
c) Metode
pembiasaan dan keteladanan
Ibn Sina berpendapat bahwa pembiasaan adalah termasuk salah satu
metode pengajaran yang paling efektif, khususnya dalam mengajarkan akhlak. Cara
tersebut secara umum dilakukan dengan pembiasaan dan teladan yang disesuaikan
dengan perkembangan jiwa si anak. Ia mengakui adanya pengaruh “mengikuti
atau meniru” atau contoh tauladan baik dalam proses pendidikan di kalangan
anak pada usia dini terhadap kehidupan mereka, karena secara tabi’iyah anak
mempunyai kecenderungan untuk mengikuti dan meniru (mencontoh) segala yang ia
lihat dan ia rasakann serta yang didengarnya. Oleh karena itu, dalam pergaluan
pun, anak diharapkan berinteraksi dengan anak-anak yang berakhlak baik pula.
d) Metode
diskusi
Metode diskusi dapat dilakukan dengan cara penyajian pelajaran di
mana siswa di hadapkan kepada suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan yang
bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Ibn Sina
mempergunakan metode ini untuk mengajarkan pengetahuan yang bersifat rasional
dan teoretis. Pengetahuan model ini pada masa Ibn Sina berkembang pesat. Jika
pengetahuan tersebut diajarkan dengan metode ceramah, maka para siswa akan
tertinggal jauh dari perkembangan ilmu pe¬ngetahuan tersebut.
e) Metode magang
Ibn Sina telah menggunakan metode ini dalam kegiatan pengajaran yang
dilakukannya. Para murid Ibn Sina yang mempelajari ilmu kedokteran dianjurkan
agar menggabungkan teori dan praktek. Yaitu satu hari di ruang kelas untuk
mempelajari teori dan hari berikutnya mempraktek-kan teori tersebut di rumah
sakit atau balai kesehatan. Metode ini akan menimbulkan manfaat ganda, yaitu di
samping akan mempermahir siswa dalam suatu bidang ilmu, juga akan mendatangkan
keahlian dalam bekerja yang menghasilkan kesejahteraan secara ekonomis. Dalam
hal ini, guru harus mempersiapkan anak didiknya sebelum magang sehingga magang
tersebut tidak merugikan pihak lain.
f) Metode
penugasan
Metode penugasan ini pernah dilakukan oleh Ibn
Sina dengan menyusun sejumlah modul atau naskah kemudian menyampaikannya kepada
para muridnya untuk dipelajarinya. Cara ini antara lain
ia lakukan kepada salah seorang muridnya bernama Abu ar-Raihan al-Biruni dan
Abi Husain Ahmad as-Suhaili. Dalam bahasa Arab, pengajaran dengan penugasan ini
dikenal dengan istilah at-ta’lim bi al-marasil (pengajaran dengan mengirimkan
sejumlah naskah atau modul).
g) Metode
targhib dan tarhib
Targhib, atau dalam pendidikan modern dikenal istilah reward yang
berarti ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan dan merupakan salah satu
alat pendidikan dan berbentuk reinforcement yang positif, sekaligus sebagai
motivasi yang baik. Ibn Sina juga memberikan perhatian pada metode ini.
Menurutnya, memberi dorongan, memuji dan sebainya yang sesuai dengan situasi
yang ada kadangkala lebih berpengaruh dan lebih dapat mewujudkan tujuan dari
pada hukuman, sebab pujian dan dorongan dapat menghapus perasaan salah, berdosa
dan menyesal.
Namun, dalam keadaan terpaksa, metode hukuman (tarhib) dapat
dilakukan. Dalam hal ini Ali al-Jumbulati menjelaskan pemikiran Ibn Sina
tentang hukuman ini:
Jika terpaks
harus mendidik dengan hukuman, sebaiknya diberi peringatan dan ancaman lebih
dulu. Jangan meninddak anak dengan kekerasan, tetapi dengan kehalusan hati,
lalu diberi motivasi dan persuasi dan kadang-kadang dengan muka masam atau
dengan cara agar ia kembali kepada perbuatan baik, atau kadang-kadang dipuji
didorong keberaniannya untuk berbuat baik. Perbuatan demikian itu merupakan
perilaku yang mendahului tindakan khusus.
Tetapi jika sudah terpaksa memukul, cukuplah
pukulan sekali yang menimbulkan rasa sakit, karena pukulan yang cukup banyak
menyebabkan anak merasa ringan, dan memandang hukuman itu sebagai suatu yang
remeh. menghukum dengan pukulan dilakukan setelah diberi peringatan keras
(ultimatum) dan menjadikan sebagai alat penolong untuk menimbulkan pengaruh
yang positif dalam jiwa anak.
Dari beberapa metode yang diuraikan di atas, menunjukkan bahwa Ibn
Sina memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan. Paling tidak ada
empat karakteristik metode yang ditawarkan oleh Ibn Sina, yaitu: pertama,
pemilihan dan penerapan metode harus disesuaikan dengan karakteristik materi
pelajaran; kedua, metode juga diterapkan dengan mempertimbangkan psikologis
anak didik, termasuk bakat dan minat anak; ketiga, metode yang ditawarkan
tidaklah kaku, akan tetapi dapat berubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
anak didik; dan keempat, ketepatan dalam memilih dan menerapkan metode sangat
menentukan keberhasilan pembelajaran.
Tampaknya, karakter ini masih tetap relevan dengan tuntutan zaman
hingga saat ini. Itu artinya Ibn Sina memang memahami konsep pendidikan baik
secara teoritis maupun secara praktis sehingga pemikiran yang ia kemukakan
tidak hanya berlaku pada masanya, melainkan jauh melampaui masa tersebut.
4.Konsep Guru
Guru memiliki peran amat penting dalam pendidikan. Ibn Sina pun
menuliskan beberapa pemikirannya tentang konsep guru, terutama yang menyangkut
tentang guru yang baik. Menurutnya, guru yang baik adalah guru yang berakal
cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak,
berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main di hadapan muridnya,
tidak bermuka masam, sopan santun, bersih dan suci murni.
Kemudian Ibn Sina juga menambahkan bahwa seorang
guru itu sebaiknya dari kaum pria yang terhormat dan menonjol budi pekertinya,
cerdas, teliti, sabar, telaten dalam membimbing anak-anak, adil, hemat dalam
penggunaan waktu, gemar bergaul dengan anak-anak, tidak keras hati dan
senantiasa menghias diri. Selain itu guru juga harus
mengutamakan kepentingan ummat daripada kepentingan diri sendiri, menjauhkan
diri dari meniru sifat raja dan orang-orang yang berakhlak rendah, mengetahui
etika dalam majelis ilmu, sopan dan santun dalam berdebat, berdiskusi dan
bergaul.
Ibn Sina juga menekankan agar seorang guru tidak
hanya mengajarkan dari segi teoritis saja kepada anak didiknya, melainkan juga
melatih segi keterampilan, merubah budi pekerti dan kebebasannya dalam
berfikir. Ia juga menekankan adanya perhatian yang
seimbang antara aspek penalaran (kognitif) yang diwujudkan dalam pelajaran
bersifat pemahaman; aspek penghayatan (afektif) yang diwujudkan dalam pelajaran
bersifat perasaan; dan aspek pengamalan (psikomotorik) yang diwujudkan dalam
pelajaran praktek.
Rumusan di atas menunjukkan bahwa Ibn Sina
menginginkan seorang guru memiliki kompetensi keilmuan yang bagus,
berkepribadian mulia dan kharismatik sehingga dihormati dan menjadi idola bagi
anak didiknya. Hal ini penting, sebab jika guru tidak
memiliki wawasan yang luas tentang materi pelajaran yang diasuhnya dan kurang
memiliki kharismatik, tentulah anak didik kurang menyukainya. Jika hal itu
terjadi, maka ilmu akan sulit didapat, meskipun diketahui tetapi keberkahannya
jelas berkurang.
D.Rekomendasi;
Aktualisasi Pemikiran Ibn Sina dalam Pelaksanaan Pendikan Islam di Indonesia
Dari beberapa pemikiran Ibn Sina tentang
pendidikan Islam yang telah diuraikan di atas, ada beberapa pemikirannya yang
menurut penulis tetap relevan untuk diaktualisasikan dalam pelaksanaan
pendidikan Islam di Indonesia dewasa ini. Bahkan
aktualisasi pemikiran Ibn Sina ini bisa menjadi pendidikan alternatif dalam
mewujudkan pendidikan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman. Adapun yang
perlu mendapat perhatian dari pemikiran Ibn Sina tersebut adalah sebagai
berikut.
Pertama, pentingnya pendidikan akhlak. Sebagaimana yang diuraikan di atas,
pendidikan akhlak menjadi salah satu tujuan pendidikan dalam pemikiran Ibn
Sina. Pentingnya pendidikan akhlak ini juga tergambar dalam kurikulum yang ia
tawarkan, serta metode dan sikap guru yang mengutamakan keteladanan di samping
kompetensi keilmuan. Dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia, pendidikan
akhlak memang menjadi prioritas penting. Bahkan akhlak mulia menjadi salah satu
indikator penting dalam rumusan tujuan Sistem Pendidikan Nasional (pasal 3 UU
Sisdiknas Tahun 2003). Namun dalam tataran pelaksanaan pendidikan akhlak,
tampaknya belum ditemukan formulasi yang tepat dan jelas. Padahal persoalan
akhlak menjadi problema utama yang terjadi di negeri ini. Oleh karena itu,
perhatian tokoh dan praktisi pendidikan, khususnya pendidikan Islam di
Indonesia amat dibutuhkan untuk membangun karakter (caracter building) bangsa
ini ke arah yang lebih bermartarbat dan terhormat.
Dalam beberapa literatur pendidikan Islam, pendidikan akhlak memang
menjadi prioritas utama. Salah seorang penyair, Ahmad Syauqi Bey, seperi yang
dikutip oleh Ali al-Jumbulati, melukiskan dalam bait syairnya:
“Hanya saja
suatu banga itu berdiri tegak selama ia masih berakhlak. Namun jika akhlak
mereka hilang, maka bangsa itu pun lenyap pula.”
Dan tidaklah
mungkin suatu bangsa membangun suatu kaum jika akhlak mereka mengalami keruntuhan.
Perhatian itu
hendaknya terwujud dalam kebijakan pendidikan, seperi rekuitmen guru harus
mempertimbangkan kepribadiannya bukan hanya melalui tes tertulis secara
kognitif, kurikulum yang diterapkan hendaknya berbasis akhlak, sekolah-sekolah
yang melakukan kecurangan harus ditindak tegas, dan sebagainya. Selain itu
perlu pula merubah paradigma dari pemahaman akhlak hanya tugas guru agama
semata menjadi tugas semua guru, terutama guru yang beragama Islam secara
bersama bertanggung jawab menerapkan pendidikan akhlak (sesuai tuntunan Islam).
Kedua, pendidikan al-Qur’an sebagai model. Ibn Sina yang sering dikenal
dunia internasional sebagai ahli di bidang kedokteran (termasuk rumpun sains)
dan filosof, ternyata memahami benar tentang al-Qur’an. Bahkan di usia yang
masih muda, sekitar 10 tahun, ia telah menghafal seluruh al-Qur’an. Itu artinya
al-Qur’an sangat menentukan keberhasilan Ibn Sina sebagai seorang ilmuan tiada
tandingan di masanya. Tampaknya ia juga menyadari pengaruh al-Qur’an tersebut
sehingga ia menawarkan pentingnya mempelajari al-Qur’an yang dimulai sejak dini
bahkan perlu mengajarkan untuk menghafalnya di usia 6 sampai 14 tahun.
Dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia, tampaknya pendidikan
al-Qur’an kurang mendapat perhatian serius. Tingkat sekolah dasar, misalnya,
masih lebih memfokuskan belajar baca tulis al-Qur’an, sementara di tingkat
Madrasah al-Qur’an hanya menjadi salah satu pelajaran yang digabung dengan
Hadis. Untuk itu orang tua harus mengajarkan al-Qur’an sejak dini kepada
anaknya. Sementara pihak sekolah, seharusnya mengintegrasikan ayat-ayat
al-Qur’an ke seluruh mata pelajaran, khususnya bagi MTs dan Madrasah Aliyah
sebagai sekolah yang bercirikan Islam. Dalam hal ini, seluruh guru bidang studi
perlu mendapat pelatihan dan pembinaan khusus untuk dapat mengintegrasikan
ayat-ayat al-Qur’an tersebut ke dalam pelajaran yang diasuhnya. Dengan upaya
ini, diharapkan anak didik akan merasa semakin dekat dengan al-Qur’an serta
akan lahir generasi penerus Ibn Sina sebagai “ulama yang ilmuan, atau
ilmuan yang ulama”.
Ketiga, pendidikan yang berorientasi kepada jiwa (al-nafs). Salah satu
pemikiran penting Ibn Sina dalam filsafat adalah konsep jiwa. Jika ditelusuri
pemikiran pendidikan Islam Ibn Sina nampaknya akan diarahkan kepada pengembangan
potensi anak didik sehingga memiliki tingkat jiwa yang tertinggi, yaitu al-aql
al-mustafad. Penulis memahami bahwa konsep jiwa yang ditawarkannya telah
mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual sebagaimana yang
dikenal dewasa ini, bahkan melebihi dari konsep itu.
Oleh karena itu, pendidikan harus berorientasi kepada kecerdasan
jiwa tersebut. Salah satu di antaranya yang terpenting adalah perlunya
pendidikan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafsiyah). Dengan jiwa yang suci,
niscaya akan memudahkan anak didik menguasai berbagai ilmu yang dipelajarinya
serta mudah pula dibina kepribadiannya. Tegasnya, pendidikan yang berorientasi
kepada jiwa (al-nafs) dapat mencerdaskan peserta didik sekaligus membentuk
kepribadian yang berakhlak mulia. Profil peserta didik seperti sangat
dibutuhkan dalam konteks kekinian dan kedisinian.
Keempat, membangun paradigma pendidikan nondikotomik, atau pendidikan
integralistik. Dari beberapa pemikiran Ibn Sina di atas, bisa disimpulkan bahwa
pendidikan yang diinginkan bersifat integral atau nondikotomik. Integralistik
itu bisa dilihat antara jasad dan rohani, teoritis dan praktis, serta ilmu
“umum” dengan “agama”. Adanya paradigma integralistik atau
nondikotomik telah membuat Ibn Sina sebagai seorang saintis sekaligus ulama
terkemuka, paling tidak ke-ulama-annya dapat dilihat dari pemikiran filsafatnya
serta penguasaannya terhadap ilmu al-Qur’an. Akhirnya, teori-teori yang
dihasilkannya tetap berlandaskan kepada ajaran Islam.
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, paradigma semacam ini harus
terbangun. Adanya istilah “pendidikan umum” dan “pendidikan
agama” yang biasa dikenal di negeri ini kerap kali menimbulkan paradigma
dikotomik yang mempertentangkan antara satu ilmu dengan yang lain. Paradigma
semacam ini menimbulkan beberapa persoalan, seperti: ilmu yang dimiliki tidak
mengantarkan seseorang untuk dekat dengan Allah, sikap beragama hanya urusan
privasi seseorang, pembinaan akhlak hanya tugas guru agama yang banyak
berbicara tentang nilai, kecenderungan hidup pragmatis-materialistik lebih
menguat, dan sebagainya. Oleh karena itu, pemikiran Ibn Sina paradigma ini
patut diaktualisasikan dalam mewujudkan sumber daya manusia indonesia yang
berkualitas: beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta cerdas dalam menyelesaikan
berbagai persoalan sehingga menemukan kebahagiaan hakiki.
E. Penutup
Dari uraian
pemikiran pendidikan Ibn Sina di atas, penulis dapat menyimpulkan:
1. Ibn Sina
memandang manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani sebagai jauhar dari
jiwa. Namun jiwa menempati peran penting bagi manusia, sebab jiwa dianggap
kekal dan menentukan kualitas seseorang. Jiwa itu sendiri terbagi kepada tiga
tingkatan, yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan, hewan dan jiwa manusia. Manusia harus
mencapai tingkatan jiwa manusia yang memiliki akal secara aktif. Dalam hal ini
dibutuhkan pendidikan bagi manusia.
2. Kurikulum
berupa materi pelajaran yang ditawarkan Ibn Sina dimulai sejak usia dini (3 – 5
tahun), lalu usia pertengahan (6 – 14 tahun), dan usia di atas 14 tahun.
Masing-masing tingkatan usia tersebut memerlukan materi tertentu sesuai dengan
tingkat kemampuan/psikologis anak. Di usia dini lebih menekankan aspek
apektif/akhlak, di usia remaja telah memperkanalkan berbagai ilmu-ilmu dasar,
sementara di usia dewasa harus di arahkan kepada keahlian atau spesifikasi
keilmuan sesuai dengan bakat dan minatnya. Kurikulum tersebut sudah bersifat
hirarkis-sturuktural.
3. Ibn Sina juga
mengemukakan beberapa metode pembelajaran yang harus mempertimbangkan aspek
psikologis anak dan jenis materi pelajaran yang diberikan. Dalam penyajian
metode ini, seorang guru harus memperhatikan pembinaan akhlak, baik akhlak guru
sendiri sebagai teladan maupun perilaku anak didik yang harus diarahkan kepada
yang baik. Oleh karena itu seorang guru selain dituntut untuk cerdas dan
kompeten dalam bidangnya, juga dituntut memiliki akhlak yang mulia penuh
kharisma sehingga menjadi teladan dan idola bagi anak didiknya.
4.
Pemikiran-pemikiran Ibn Sina di atas membuktikan bahwa ia adalah seorang tokoh
pendidikan Islam, di samping bidang-bidang lain yang dikuasainya. Oleh karena itu di antara pemikirannya
patut dianalisis dan perlu dijadikan referensi dalam pengembangan pendidikan
Islam saat ini. Dalam hal ini, ada beberapa pemikirannya yang patut
dikembangkan dan diaktualisasikan karena dianggap relevan dengan kondisi
pendidikan Islam, khususnya di Indonesia, di antaranya: pendidikan
diselenggarakan hendaklah berbasis akhlak, pendidikan al-Qur’an harus
diterapkan selain sebagai pedoman hidup juga akan menjadi inspirasi dan
motivasi untuk meraih prestasi, pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang
berorientasi kepada pendidikan jiwa (al-tarbiyah al-nafsiyah) yang akan
diharapkan mampu melahirkan peserta didik yang cerdas, beriman dan berakhlak
mulia, serta perlu membangun paradigma pendidikan nondikotomik.

SHARE