Pendapat Para Ulama Tentang Shalat Tahiyatul Masjid di Waktu Imam Berkhutbah

157
Imam Taqi al-Din, dalam
kitabnya Kifayat al-Akhyar menerangkan bahwa orang yang masuk masjid dalam
keadaan imam sedang berkhutbah, apakah ia diperbolehkan Sholat Tahiyatul Masjid?
Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Al-Qadhi ‘lyadh mengatakan: Imam
Malik, Abu Hanifah, Sufyan  As-Tsauri,  Al-Laits
dan  jumhur  Salaf
dari  golongan  Sahabat
dan Tabi’in mengatakan bahwa orang yang masuk masjid itu tidak boleh shalat tahiyatul masjid. Ketidak-bolehan sholat itu diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Utsman
dan Ali radhiallahu-‘anhum.
Dasar argumen mereka adalah
karena terdapat perintah untuk inshaat (memperhatikan atau mendengarkan  khutbah dengan  tenang).
Mereka  menta’wili Hadis-hadis
yang berhubungan dengan Sulaik. Nabi
memerintahkan supaya berdiri agar para muslimin melihatnya dan bersedekah kepada
Sulaik.Baca juga: Contoh Khutbah Jumat Singkat

Imam Syafi’i, Imam
Ahmad, Imam Ishaq dan para fuqaha dari Ulama Ahli Hadits mengatakan bahwasanya sholat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat secara ringan itu disunnatkan, dan
makruh duduk sebelum sholat dua rakaat.
Pendapat ini bersumber dari Mazhab Al-Hasan Al-Bishri dan Ulama Mutaqaddimin. Sayyid Sabiq
dalam kitabnya, Fiqh As Sunnah memaparkan bahwa sebelum Jum’at disunatkan sholat
sunnah selama imam belum memulai khutbah. Jika khatib telah memulai khutbahnya, maka sholat sunnah tersebut harus diurungkan kecuali Shalat Tahiyatul Masjid. Sholat ini boleh dilangsungkan
di tengah-tengah imam memberikan khutbah, hanya harus diringkas. Kecuali saat seseorang masuk dan khutbah hampir selesai,
maka tahiyatul mesjid tidak perlu dilakukan.
Syekh Muhammad ibn
Qasyim al-Ghazzi menjelaskan, barangsiapa masuk masjid dan imam sedang
berkhuthbah, maka hendaknya ia mengerjakan salat sunnah dua rakaat
kemudian duduk secar cepat. Pengarang kitab tersebut membuat ibarat dengan kata “masuk” memberikan pemahaman, bahwa orang yang baru datang (saat khathib sedang berkhuthbah) tidak boleh mengerjakan sholat dua rakaat baik itu salat sunnah jum’at atau
tidak. Dan dari pemahaman ini tidak jelas adanya hukum, bahwa mengerjakan sholat tahiyatul mesjid adalah haram atau makruh untuk dikerjakan. Berbeda dengan Imam Nawawi yang menerangkan di
dalam syarah kitab Muhadzdzab dengan menetapkan hukum sholat tahiytul masjid saat khatib berkhutbah adalah haram. Kesepekatan keharaman ini dinukil jiuga oleh Imam Mawardi.
Ibnu Rusyd dalam
kitabnya Bidayah al-Mujtahid memaparkan secara panjang lebar, bahwa mengenai
seseorang yang hadir di mesjid pada hari Jumat sedang imam tengah berada di
atas mimbar, kalangan fuqaha berbeda pendapat, dia mendirikan sholat sunnah atau tidak? Malik berpendapat bahwa tidak perlu mendirikan sholat sunnah. Sedangkan pendapat lain mengharuskan sholat sunnah tahiyatul masjid. Sebab timbulnya perbedaan pendapat ini bersumber dari qiyas hadis am berikut ini:
Pendapat Para Ulama Tentang Shalat Tahiyatul Masjid
Artinya :” Dari
Abu Sa’id, sesungguhnya ada seorang laki-laki masuk masjid pada hari jum’at,
padahal Rasulullah saw sedang berkhutbah diatas mimbar, lalu beliau menyuruhnya
shalat dua rakaat. ” (HR. Al- Khamsah kecuali Abu Daud).
Meski khatib tengah berdiri di atas mimbar, berdasarkan hadis ini maka seseorang diharuskan sholat dua rakaat  saat memasuki masjid. Namun, di balik itu juga ada perintah diam yang menunjukkan keharusan tidak  melakukan  sesuatu  pekerjaan  yang  bisa  mengganggu  ketenangan, sekalipun perbuatan itu adalah ibadah. ‘Amnya hadis di atas juga dikuatkan oleh pernyataan Nabi Saw.:
Pendapat Para Ulama Tentang Shalat Tahiyatul Masjid
Artinya: ” Dari
Jabir, dia berkata, ” Ada seseorang laki-laki masuk (masjid) pada hari
jum’at padahal Rasulullah saw sedang berkhutbah. Lalu beliau bertanya, ‘Sudah
shalatkah engkau? ‘ Orang itu menjawab, belum ‘. Lalu beliau berkata, shalatlah
dua rakaat
. “(HR. Al- Jama’ah)
Al-Jaziri, al-Fiqh ala al madzahib al-Arba’ah. Kitab ini pada dasarnya berisi pendapat empat madzhab, misalnya madzhab Hanafi berpendapat bahwa berpendapat ketika khutbah disampaikan adalah makasa sholat bersifat makruh tahrim. Sementara madzhab Maliki berpendapat, diharamkan berbicara ketika khutbah disampaikan  dan  ketika  imam  duduk  di  atas  mimbar  antara  dua  khutbah.
Sedangkan madzhab Syafi’i mengemukakan dimakruhkan dengan makruh tanzih berbicara di tengah-tengah khotib menunaikan khutbahnya, terutama rukun-rukunnya, meskipun ia tidak mendengar secara nyata.
Daftar Maraji
Imam Taqi al-Din Abubakar ibn Muhammad Al-Hussaini,  Kifayat Al Akhyar Fii Halli Ghayat al-Ikhtishar,  Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, juz 1, tth.
Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah,  Kairo: Maktabah Dar al-Turas, juz 1, tth.
Muhammad ibn Qasyim al-Ghazzi, Fath al-Qarib al-Mujib, Indonesia: Dar al- Ihya al-Kitab, al-Arabiah, tth.
Al-Faqih Abul Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad Ibnu Rusyd, Bidayat al Mujtahid Wa Nihayat al Muqtasid,  Beirut: Dar Al-Jiil, 1409 H/1989.
Al-Allamah Ibn Ali Ibn Muhammad Asy Syaukani, Nail al–Autar Min Asyrari Muntaqa al-Akhbar, Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia, juz 3, 1973.
Abd al-Rahman al-Jaziri,, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Beirut: Dar al- Kutub al-Ilmiah, tth.
Demikianlah artikel tentang Pendapat Para Ulama Tentang Shalat Tahiyatul Masjid di Waktu Imam Berkhutbah. Mudahan Bermanfaat
SHARE