Pendidikan Islam versus Organsi pemuja Kitab Kuning

52
Pendahuluan
Bentuk dan isi Pendidikan Islam berubah karena
tuntutan perkembangan zaman. Proses perubahan itu sendiri bukan suatu peristiwa
yang lancar dan mulus tanpa perselisihan pendapat. Manakala tidak tercapai
harapannya muncul kekecewaan-kekecewaan. Untuk menyelesaikan perselisihan
pendapat seringkali dijastifikasikan dengan hadis munkar yang tidak ada
asalnya: Ikhtilafu Ummati Rahmah (M.Nasiruddin 1989:80)
Kekecewaan-kekecewaan terhadap lembaga pendidikanb
Islam bermunculan bersamaan dengan kualitas alumnusnya yang sanhgat rendah.
Sistem sekolah termasuk ke pesantren untuk meningkatkan mutu kognisi dan
psikomotor alumnus pesantern. Pesantren dengan sistem sekolah ini dikenal
dengan pesantren khalaf. Manakala pesantren khalaf ini kalah bersaing dengan
sekolah-sekolah umum, maka lebih-lebih pesantren-pesantren yang bersistem
salaf, tidak akan masuk hitungan. Keadaan dan statistiknya selalu tidak lengkap
dari tahun 1873 sampai 1927 karena tidak menarik perhatian (Karel A.
Steenbrink, 1986 : 9)
Pada saat alumnus Lembaga Pendidikan
Islam setingkat SMP dan SLTA menunjukan gejala perilaku yang non islami,
kekecewaaan muncul lagi, bukan hanya atas perilaku non Islami, tetapi juga pada
ketidakmampuannya dalam bahasa Arab, meskipun kemudian dimasukkan dalam batas
toleransi. Selanjutnya pada saat
lulus dari Perguruan Tinggi Islam (Swasta) atau IAIN ternyata tidak mampu
membaca kitab kuning, maka yang muncul bukan hanya kekecewaan, tetapi suah
sampai pada upaya pencarian solusi, seperti pendirian Ma’had Ali. Dari sini
dilihat bahwa dorongan untuk peningkatan Lembaga Pendidikan Islam sering kali
bermula dari rendahnya kemampuan berbahasa Arab dan sedikit sekali karena
alasan perilaku yang non Islami.

 Kegagalan persaingan pada ranah kognisi untuk
tingkat menengah tidak begitu kelihatan, karena masih bisa ditampung di PT-PT
Islam. Pada gilirannya PT_PT Islam termasuk IAIN berada dalam posisi dilema;
sebagai Lembaga Dakwah Islamiah atau Lembaga Pendidikan favorit dan elit yang
berdaya saing dengan PT Umum sesuai dengan perkembangan zaman. Pendidikan
Islam: Adoptif, Inovatif Pendidikan Islam dan sifatnya yang terbuka akan
senantiasa terus berkembang bahkan cepat mengadopsi sistem-sistem pendidikan
yang lebih baik.
Pendidikan Islam dengan model pesantren adalah
hasil adopsi dari Hindu (Amir Hamzah, 1968: 40; Aboebakar, 1957: 43;
Poerbakawatja, 1970: 13-21) Manakala dirasakan perlu adanya perbaikan, maka
pesantren mengadopsi sistem dari Barat sampai lahir beberapa PT Islamn dalam
pondok pesantren. Adapun bentuk Pendidikan Islam mendatang adalah tergantung
pada inovasi yang sudah mapan sesuai perkembangan zaman serta wawasan ahli
pendidikan Islam.
Bila pesantren yang diisi dengan PT_PT Islam
ternyata para alumnusnya kalah bersaing dengan alumnus PT_PT Umum meski sama
sistemnya, tentu saja ada yang menghambat.
Pertama:
Ditinjau dari antropologi kultural, sosiologi dan ekonomi, maka fungsi
pendidikan itu ada tiga :
1. Menumbuhkan kreativitas subyek didik
2. Menjaga lestarinya nilai-nilaia insani dan ilahi, dan
3. Menyiapkan tenaga kerja produktif (Noeng Muhajir 1987:
19-20)
Pada PT-PT Islam yang menonjol adalah fungsi kedua :
menjaga lestarinya nilai-nilai ilahi. Mempertahankan nilai-nilai ilahi dan
insani adalah karakter aktivitas yang tidak sejalan dengan pengembangan
kreativitas. Karena itu ada keterkejutan ketika melihat kreasi alumnus dari
PT-PT Umum yang dilipatgandakan oleh tenaga kerja trampil yang produktif.
Pemikiran filsafat dari tokoh-tokoh PT
Islam akan tetap mengacu bukan pada kreativitas tetapi justru utnuk memantapkan
kelestarian nilai-nilai ilahi dan insani, dan menjelaskan pada subyek didik,
mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dikreasi. Dari sini dapat dipahami ,mengapa alumnus PT-PT Umum, tampilannya
sering muncul dari segi ekonomi. Realitas berbicara bahwa pelestarian itu
mengeluarkan biaya lebih banyak dari pada menghasilkannya, setidak-tidaknya
mengekang lahirnya kreativitas yang mahal harganya.
Kedua:
Perguruan Tinggi slam dengan fungsi kedua ini yang akan teru diserang.
Kepiawaian alumnusnyadalam berfilsafat akan diuji pada taraf yang paling dasar.
Bagaimana mereka melafalkan basmalah atau salam. Manakala tidak faseh maka
kehebatannya menguap walaupun uraian tentang keilmuan/keislamannya begitu hebat
(Imam Suprayogo, 1986:49). Benteng akhir untuk menunjukkan keberhasilannya
adalah kemampuannya membaca kitab kuning.
Kefasehan lafalnya dalam bahasa Arab serta
kemampuannya membaca kitab kuning dianngap alat untuk eksistensi diri ketika
kembali ke masyarakat. Alumnus macam ini tidak dituntut untuk memiliki
kreativitas bidang tehnologi. Mereka dimaklumi. Tetapi ketidakmampuannya
membaca kitab kuning menimbulkan kekecewaan “senior” yang memuja
kitab kuning. Pada kasus ii timbul gugatan terhadap sistem pendidikan Islam,
khusu IAIN dan PT-PT Islam yang hanya membuka fakultas sosial keagamaan.

Gambaran tersebut di atas menjadikan sisi lainnya tampak
jelas. Sebagai kebalikannya, PT Islam yang membuka jurusan eksak dan teknik
merasa aman dari gugatan membaca membaca kitab kuning. Alumnusnya dimaklumi
tidak mengkaji keislaman dan kitab kuning. Mereka mampu bersaing dengan PT-PT
umum lainnya, bahkan sangat membanggakan. Mereka belum tentu fasih bersalam
apalagi membaca kitab kuning. Mereka mendapat banyak toleransi, sehingga
kualitasnya tidak dijadikan alasan untuk mempertanyakan sistem pendidikan
Islam, justru menjadi kebanggan. Meskipun, demikian dewasa ini belum banyak
yang memanfaatkan jurusan ini.

Yang menarik dari sekilas pandangan
tadi adalah tidak disadarinya bahwa keinginan untuk kembali ke salaf, yang
jelas- jelas tergeser dan tergusur roda zaman, seolah-olah menjadi satu-
satunya jalan menuju sorga.Kewaspadaan pada berbagai sisi tentu diperlukan,
karena tanpa kearifan, kekecewaan-kekecewaan yang tidak logis justru menghambat
lajunya pendidikan Islam.
Ketidaklogisan kekecewaan itu dilihat dari dua sebab :

Belum difahami relitas perkembangan zaman. Seperti adanya
kampus PT di pesantre itu bermula dari surau-surau kecil. Mustahil
berbalik dari kampus kemudian mendirikan suirau-surau kecil. (Masih banyak
keinginan untuk menunjukan kesalafan dan kesufian melalui kesederhanaan
material yang kelewat batas).

Belum difahami bahwa obsesi pada kemampuan membaca kitab kuning
itu adalah terjebak pada arogansi (pemuja) kitab kuning.

Pada sebab yang pertama, kekecewaan dan
kekhawatiran akan hilangnya pondok pesantren akan hilang dengan sendirinya
maakala sudah difahami realitas perubahan zaman. Adapun pada sebab kedua, maka
penyembuhannya merupakan salah satu cara untuk menjebol akar-akar hambatan
pendidikan Islam itu sendiri. Berikut ini sebagian akarnya ditampilkan.
Arogansi (Pemuja) Kitab Kuning

Upaya untuk menjadikan bahasa Arab
memasyarakat melalui pengajarannya sering kali berbenturan dengan prosesnya,
karena proses pengajaran atau belajar mengajar bahasa Arab seringkali mengacu
pada obsesi pemuja kitab kuning yaitu subyek didik dapat membaca kitab kuning,
bukan hanya para mahasiswa, tetapi sampai pada siswa tingkat SMP, dengan
harapan mereka dapat mendalami Islam. Tetapi mereka lupa bahwa Quran itu meski berbahasa Arab tetapi tidak
disebut kitab kuning. Quran berbahasa Arab dan juga buku-buku hadis yang
ditulis dengan sempurna itu tidak disebut kitab kuning. Kitab kuning adalah
buku-buku berbahasa Arab dengan tulisan yang tidak bersyakal. Sebutan ini
sengaja dipakai untuk membatasi kajian ini. Mengapa obsesi pemuja kitab kuning
berbenturan dengan upaya pemasyarakatan bahasa Arab via pengajarannya?
Ketidaktahuan sebab ini adalah salah satu akar hambatan Pendidikan Islam yang
perlu dicabut.
Salah satu ciri khas ketarbiyahan adalah
menjadikan mudah semua materi yang disampaikan pada subyek didik, termasuk
bahasa Arab. Keinginan agar subyek didik mampu membaca kitab kuning itu adalah
menjadikan bahasa Arab sulit. Hal ini bertentangan dengan upaya pengajaran itu
sendiri. Secara tidak sadar para ahli (guru/dosen) bahasa Arab telah menjadikan
upaya pemasyarakatan bahasaArab itu sendiri justru mematikannya. Mereka
terjebak pada begitu banyaknya kitab kuning.

Seorang ahli bahasa Arab mengatakan bahwa para pembaca
bahasa Asing (selain bahasa Arab) membaca agar dapat memahami apa yang dibaca,
sedangkan para pembaca bahasa Arab harus paham dulu teks yang akan dibaca
supaya betul bacaannya (Abd al-‘Alim Ibrahim, 1978:206). Jauh sebelumnya juga
ada yang mengatakan bahwa umumnya orang-orang Eropa dapat membaca dengan benar
tulisan bahasa mereka, dan akemampuan membaca yang mereka miliki menjadi sarana
untuk memahami maksud yang dikandung dalam bacaan; sedangkan para pembaca
bahasa Arab tidak bisa membaca dengan benar kecuali jika sudah paham lebih dulu
apa yang hendak dibaca (Ali Abd al-Wahid Wafi, 1962:254). Pernyataan-pernyataan
tersebut dapat direduksi bahwa teks Arab itu harus dipahami dulu agar dapat
dibaca dengan betul, paham untuk membaca bukan membaca untuk paham. Kalau sudah
paham untuk dibaca. Ini proses membaca yang tidak logis. Permasalahannya dari
mana muncul pernyataan tidak logis untuk proses membaca tulisan bahasa Arab.
MH. Bakalla menyatakan bahwa para
pembaca tulisan bahasa Arab banyak mengalami kesulitan untuk membacanya dengan
benar, karena mereka harus memikirkan teks sebelum membacanya, bahkan sering
kali harus memahami lebih dulu maksud teks agar benar bacaannya (1980: Vol. I, h. 115). Pernyataan ini muncul sebagai
gambaran aktivitas ketika membaca tulisan kitab kuning yang tidak bersyakal.
Karena untuk para pemula sekalipun, tidak pernah mengalami kesulitan yang
berarti ketika membaca Quran bersyakal.
Ketidak-pahaman terhadap sebab sulitnya membaca
kitab kuning inilah yang belum difahami oleh pemuja kitab kuning. Sampai pada
kenyataan proses membaca kitab kuning yang tidak logis ini seringkali muncul
pembelaan bahwa untuk membaca kitab kuning itu alatnya adalah Nahwu/sharaf
(Gramatika bahasa Arab). Naif sekali, karena ilmu nahwu/sharaf itu menjadi
tidak ada gunanya ketika tulisan sudah sempurna seperti Quran sekarang. Dan
pembelaan ini pula menunjukan tidak dipahaminya apa fungsi ilmu nahwu/sharaf
(Gramatika bahasa Arab). Ketidak-pahaman demi ketidak-pahaman inilah beberapa
cabang dari akar-akar hambatan pendidikan Islam, yang harus dicabut.
Ketika diingatkan agar kitab kuning
itu disempurnakan lengkap dengan syakalnya agar pengajaran bahasa Arab menjadi
efektif dan efisien, yang muncul adalah arogasi. Pemuja kitab kuning mengira bahwa itulah keistimewaan
bahasa Arab. Arogansi ini menunjukkan ketidak pahamannya akan makna istimewa.
Istimewa tidak terletak pada kesulitan, karena kesulitan tadi berasal dari
ketidak kesempurnaan. Dan ini kekurangan kitab kuning yang belum diakui
pemujanya. Oleh karena pendidikan Islam itu menjunjung cara berfikir login maka
obsesi pada yang tidak logis, dibalik arogasi akan kemampuan akan membaca kitab
kuning menjadi lawannya.
Penutup
Tarik menarik bentuk pendidikan Islam:
salaf, kholaf, sampai dengan sistem SKS dewasa ini hanya terjadi karena
kekecewaan terhadap output yang tidak bisa membaca kitab kuning, dari IAIN atau
PT-PT Islam yang hanya menyediakan jurusan sosial keagamaan. Kekecewaan serta kekhawatiran berkurangnya
sarjana atau ulama yang bisa membaca kitab kuning bermula dari ketidak
pahamannya mengapa demikian sulit membaca kitab kuning. Bila ini dibiarkan,
maka upaya pemasyarakatan bahasa Arab terhambat, bahkan terjadi pemetisan
bahasa Arab.

Agar pendidikan Islam lebih cepat derap langkahnya, maka
diperlukan kerja keras untuk bersama-sama menjadikan kitab-kitab bahasa Arab
tidak kuning lagi. Hal ini merupakan kesadaran yang tinggi, bukan arogasi.
Barangkali sebagai gerakan untuk mudah diingat sebagai era baru penjebolan
akar-akar pengamat pendidikan Islam perlu ditawarkan slogan bahwa Pendidikan
Islam itu menggunduli kitab gundul.
*)Saidun Fidaroini, Pembantu Rektor III IAIN Sunan Ampel
dan Dosen Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Daftar Pustaka:

Aboebakar Atjeh, Haji. Sejarah Hidup K.H.A. Wahid Hasyim dan
karangan tersiar, Jakarta: t.p, 1957.
Al-Albani, Muhammad Nasiruddin,Hadits-hadits Dha’if &
Maudhu’, Bandung: Penerbit Risalah, 1986.
Bakalla, M. Hasan, Abhas al-Nadwah al-‘Alamiah al-Ula Li Ta’lim
al-‘Arabiyah li Ghair al-Natiqin biha, Riyad: University of Riyad, 1980.
Ibrahim, Abd. al-‘Alim, Al-Muwajjih al-Fanny li mudarrisi al-
Lughah al-‘Arabiyah, Kairo: Dar al-Maarif, 1978.
Muhadjir, Noeng, Ilmu pendidikan dan perubahan sosial, seatu
teori pendidikan, Yogyakarta: Rake Sarasih, 1987.
Poerbakawatja, Soegarda, Pendidikan dalam Alam Indonesia,
Merdeka, Jakarta: t.p., 1970.
Steenbrink, Karel A., Pesantren
Madrasah Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen. Jakarta: LP3ES,1986.
Suprayogo, Imam. “Urgensi Bahasa Arab dalam meretas
Khasanah Islam Klasik”, Jurnal ilmu dan pemikiran keagamaan, Malang:
F.A. Islam Unmuh Malang, I, 1996.
Wafi Ali Abd al-Wahid, Fiqh al-ughah, t.k. : Lajnah al- Bayan
al-‘Arabiy, 1962.
Wiryosukarto, Amir Hamzah, Pembaharuan Pendidikan dan
Pengajaran Islam yang diselenggarakan oleh pergerakan Muhammadiyah,
Singosari-Malang, t.p., 1968.

SHARE