Dampak Riba Bagi Masyarakat

33
Sebagai dimaklumi
bahwa dalam ekonomi kapitalisme,  bunga bank (interest
rate) merupakan nadi dari sistem
perekonomian. Hampir tak ada sisi
dari perekonomian, yang luput dari mekanisme kredit bunga
bank (credit system). Mulai
dari transaksi lokal pada semua
struktur ekonomi negara, hingga
perdagangan internasional.
Salah satu sebab  ketertarikan pasar terhadap bunga bank adalah
kepastian hasil. Sedangkan setiap usaha
tidak bisa dipastikan harus berhasil sejumlah sekian, karena pada kenyataannya,
setiap usaha pasti berhadapan dengan
resiko yang mengandung kemungkinan
rugi, untung, dan pulang modal.
Keuntungan pun bisa besar, sedang
dan kecil. Namun, selama berabad-abad, ekonomi dunia telah didominasi  sistem bunga, sehingga telah mengkristal dalam setiap aktivitas bisnis masyarakat dunia.
Karena mengkristalnya sistem bunga
tersebut, terbentuklah dinamika yang khas dalam perekonomian konvensional, terutama pada sektor moneternya. Bahkan
kini pasar moneter konvensional tidak
lagi terbatas pada pasar modal, uang
dan obligasi, tapi bertambah dengan munculnya
pasar derivatif, yang merupakan turunan dari ketiga pasar
tersebut. Kesemuanya tetap menggunakan
bunga bank sebagai harga dari produk- produknya. Maka
tak heran jika perkembangan di pasar
moneter konvensional begitu
spektakuler.Menurut data dari sebuah
NGO asal Amerika Serikat, volume
transaksi yang terjadi di pasar uang
(currency speculation dan derivative
market) dunia berjumlah
US$ 1,5
triliun hanya dalam sehari, sedangkan volume transaksi yang terjadi dalam perdagangan dunia di sektor riil US$ 6
triliun setiap tahun. Bayangkan
dengan empat hari transaksi di pasar
uang, nilainya sudah menyamai transaksi di sektor riil selama
setahun. Dampak perkembangan yang
begitu besar pada sektor moneter
jelas menghambat perkembangan
sektor riil. Jika diasumsikan money
supply (uang beredar) tetap, maka
sistem kredit dengan bunganya yang
ada pada pasar-pasar moneter akan menyedot uang beredar. Sehingga bukan hanya ketidakstabilan moneter yang terjadi,
tetapi juga kemerosotan sektor riil. Secara global kemerosotan ini akan berpengaruh pada returns yang diperebutkan pada sektor moneter.
Sehingga jika ini terus yang menjadi kecenderungannya, maka
wajar sebagian pakar memprediksi
terjadinya krisis ekonomi yang
besar,
tidak hanya di negara-negara dunia
ketiga, tetapi juga negara-negara maju (negara pemilik modal).

http://muhakbarilyas.blogspot.com/2012/10/pengganti-bunga-sistem-bagi-hasil.html
Syari’ah Islam dengan tegas  meyakini bahwa bunga bank yang bersifat pre-determined akan mengeksploitasi perekonomian,
cenderung terjadi misalokasi sumber daya
dan penumpukan kekayaan dan kekuasaan pada segelintir orang. Hal ini akan membawa pada ketidakadilan,
ketidakefisienan, dan ketidakstabilan perekonomian.
Seperti dikemukakan Umer Chapra (1996), bungalah yang telah menyebabkan semakin jauh jarak antara pembangunan dan tujuan yang akan
dicapai. Bunga juga merusak tujuan-tujuan yang ingin didapat, pertumbuhan ekonomi, produktivitas dan stabilitas ekonomi.Bahkan Roy Davies dan Glyn
Davies, dalam bukunya A
History of Money from Ancient Times to the Present Day (1996) mengatakan bahwa bunga telah memberi andil besar dalam lebih dari 20 krisis yang terjadi sepanjang abad 20.

 

Dalam  ekonomi
syari’ah, dikotomi sektor moneter
dan riil tidak dikenal. Sektor moneter
dalam definisi ekonomi Islam
adalah mekanisme pembiayaan transaksi atau produksi di pasar
riil, sehingga jika menggunakan istilah konvensional, maka karakteristik perekonomian
Islam adalah perekonomian
riil, khususnya perdagangan. Inilah yang
dianjurkan Islam,”Allah menghalalkan
jual beli (perdagangan) dan mengharamkan riba”(QS.2:275). Jual beli
atau perdagangan adalah kegiatan bisnis sektor riel.
Dalam ekonomi syari’ah sistem bagi hasillah (profit and loss
sharing) yang kemudian menjadi
jantung dari sektor ‘moneter’ Islam,
bukan bunga. Karena sesungguhnya, bagi hasil sebenarnya sesuai
dengan iklim usaha yang memiliki
kefitrahan untung atau rugi. Tidak
seperti karakteristik bunga yang memaksa
agar hasil usaha selalu positif. Jadi
penerapan sistem bagi hasil pada
hakikatnya menjaga prinsip keadilan tetap berjalan dalam perekonomian.
Karena memang kestabilan ekonomi
bersumber dari prinsip keadilan yang dipraktikkan dalam perekonomian.
Jadi, solusi ekonomi Islam terhadap bunga (riba) dalam sistim
pinjam meminjam dana yang
digunakan untuk berbisnis adalah “Sistim Bagi Hasil”
(Profit-Loss Sharing), baik melalui skim mudharabah atau musyarakah.
Dalam kasus pertanian bisa dalam bentuk muzara’ah.  Selain dalam
bentuk bagi hasil, solusi Islam
untuk menggantikan bunga juga dapat memakai produk jual beli (bai’), seperti ba’i murabahah, salam dan istishna’. Secara umum, sistim bagi hasil ini ada yang disebut dengan mudharabah, yaitu bentuk usaha bisnis yang
dilakukan oleh dua pihak dimana dalam menjalankan
usaha bisnis ini satu pihak bertindak
sebagai pemodal dan pihak lainnya bertindak sebagai pelaksana bisnis
(enterpreneur).
Sementara itu, musyarakah
dimaksudkan sebagai suatu bentuk usaha bisnis/syarikat yang modalnya di biayai
oleh semua partai yang terlibat
dalam bisnis tersebut. Kedua bentuk bisnis ini, jauh lebih berkeadilan
dibandingkan dengan bentuk bisnis dalam
ekonomi konvensional, sebab apapun
keuntungan atau resiko yang terjadi
terhadap bisnis ini, ke semua partai yang terlibat dalam bisnis ini memiliki
hak yang sama terhadap hasil usaha
yang diperoleh.
Bila bisnis mereka berhasil, maka semua pihak akan menerima
keuntungan dan sebaliknya, bila
bisnis mereka bankrut maka kerugianpun harus ditanggung bersama. Jumlah pembagian keuntungan yang
akan diperoleh mereka dalam mudharabah
adalah berdasarkan penjanjian bersama, katakanlah 60% untuk pembagi modal
dan sisanya, 40% untuk mereka yang
memenej
bisnis.
Namun, bila usaha mudharabah mengalami kerugian, maka pelaksana tidak bertanggung jawab atas kehilangan modal yang
diberikan pemodalnya. Ini tidak berarti para pelaksana tidak
mengalami kerugian apapun, sebab ianya
juga dirugikan atas jasa dan jerih
payahnya yang disumbangkan untuk memajukan bisnis mereka. Dengan kata lain, pemodal rugi atas modalnya, dan
pelaksana rugi atas usaha dan jerih
payahnya.
Bila kita melihat dalam sistim
ekonomi ribawi (bunga), peminjam sudah ditentukan besarnya jumlah bunga yang
harus dibayarkan ke bank dengan tidak mempertimbangkan apakah dana yang
dipinjam itu berhasil dibisniskan
atau tidak. Dengan kata lain, berhasil atau
tidak bisnis para peminjam modal, peminjam
harus membayar pinjaman
plus bunganya. Sedangkan dalam ekonomi
Islam baik dalam bentuk usaha mudharabah mahupun musyarakah, jumlah pembagian
hasil yang diterima belumlah
diketahui secara pasti sebelum usaha itu berhasil atau gagal.
Mereka hanya tahu persentase pembagian hasil, tetapi mereka tidak pernah tahu berapa  jumlah pembagian
hasil sebenarnya yang akan mareka
terima sebelum usaha itu berhasil atau tidak. Dalam sistim
ini, keuntungan dan kerugian adalah menjadi
tanggung jawab bersama. Perbedaan pembagian hasil yang pre-determined
(ex-ante) dalam sistim ekonomi ribawi inilah yang menyebabkan terjadinya ketidakadilan dalam
ekonomi umat sehingga ia dilarang oleh Islam dibandingkan dengan sistim
ekonomi Islam yang pembagian hasilnya berdasarkan post-determined
(ex-post) yang jauh lebih adil dan mensejahterakan umat.
Selain  sistem
bagi hasil, Islam mensyaratkan
mekanisme zakat dalam perekonomian, serta dukungan dari istrumen sejenisnya seperti infaq, shadaqah dan wakaf. Mekanisme
zakat memastikan aktivitas ekonomi
dapat berjalan pada tingkat yang minimal,
yaitu pada tingkat pemenuhan kebutuhan primer. Sedangkan infaq,
shadaqah dan instrumen sejenis lainnya
mendorong permintaan secara agregat, karena fungsinya yang membantu
umat untuk mencapai taraf hidup di atas tingkat minimum. Selanjutnya oleh negara, infaq-shadaqah dan instrumen sejenisnya, serta pendapatan negara lainnya digunakan untuk mengentaskan
kemiskinan melalui program-programpembangunan.
Sebagai dua ketentuan
orisinil dalam sistem ekonomi
Islam, mekanisme zakat dan
pelarangan riba memiliki fungsi saling mengokohkan sistem
perekonomian. Di satu sisi zakat menjaga agar aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan tujuan pemenuhan kebutuhan hidup seluruh masyarakat
negara, di sisi lain pelarangan riba – diganti mekanisme bagi hasil –
menjaga keseimbangan, keadilan dan kestabilan segala aktivitas ekonomi di dalamnya. Dengan karakter khasnya, ekonomi
Islam diperkirakan akan lebih stabil
dibandingkan sistem konvensional..
Bagi perekonomian Indonesia, landasan konvensional sudah terbukti tidak memberikan“pelayanan” yang
baik. Jadi sudah waktunya pemerintah memikirkan untuk beralih pada perekonomian Islam dengan segala perangkatnya, dan menjadikannya sebagai sebuah kebijakan yang sistematis di semua sisi pembangunan ekonomi. Bukan menjadikan ekonomi Islam sekadar
kebijakan yang merespon pasar seperti yang dilakukan pada dunia perbankan.
Ekonomi Islam
bukan saja menjanjikan kestabilan
“moneter” tetapi juga pembangunan sektor riil yang lebih kokoh. Krisis moneter yang telah menjelma menjadi krisis multi dimensi di Indonesia ini, tak dapat diobati dengan varibel yang menjadi
sumber krisis sebelumnya, yaitu
sistem bunga dan utang, tetapi harus
oleh variabel yang jauh dari karakteristik itu. Dalam hal ini oleh ekonomi Islam
dengan sistem bagi hasilnya
dalam dunia perbankan dan lembaga
finansial lainnya
Penutup
Tak bisa dibantah, bahwa bunga (interest) telah menimbulkan
dampak buruk bagi perekonomian banyak
negara dan fakta itu terjadi di mana-mana. Bunga memainkan peranan penting dalam
mengakibatkan timbul¬nya
krisis. Sistim ekonomi ribawi telah menimbulkan
ketidakadilan dalam masyarakat terutama bagi para pemilik modal
yang pasti menerima
keuntungan tanpa menangung resiko.
Keburukan bunga juga disebabkan karena bunga menambah
biaya produksi bagi para businessman
yang menggunakan modal pinjaman.
Biaya produksi yang tinggi tentu akan memaksa
perusahaan untuk menjual produknya dengan harga yang lebih tinggi
pula. Melambungnya tingkat harga, pada gilirannya,
akan mengundang terjadinya inflasi akibat
semakin lemahnya
daya beli konsumen. Semua dampak
negatif sistim ekonomi ribawi ini
secara gradual, tapi pasti, akan mengkeroposkan
sendi-sendi ekonomi umat.
Krisis ekonomi tentunya tidak terlepas dari pengadopsian sistim
ekonomi ribawi seperti disebutkan di
atas.
Sistem ekonomi
ribawi juga menjadi penyebab utama tidak stabilnya nilai uang (currency)
sebuah negara. Karena uang senantiasa akan berpindah dari negara yang tingkat bunga riel yang rendah ke negara yang tingkat bunga riel yang lebih tinggi akibat para spekulator ingin memperoleh keuntungan
besar dengan menyimpan
uangnya dimana tingkat bunga riel relatif tinggi.
Di Indonesia, bunga bank memainkan peran penting dalam merusak
perekonomian bangsa Indonesia. Bunga
telah menguras dana APBN
dalam jumlah besar.  Bunga semakin
memerosokkan
Indonesia ke dalam jeratan hutang yang membahayakan.
Bunga juga telah membuat harga
BBM, TDL dan telephon naik. Bunga juga
secara tidak langsung telah memaksa
negara menjual asset-asset negara
strategis. Bunga telah menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat Indonesia secara luas dan berkepanjangan. Oleh karena iktu tepatlah Allah dalam Al-Quran mengatakan bahwa
pelaku riba pasti masuk neraka yang mereka
kekal di dalamnya selama-lamanya (2:275). Dari kenyataan dampak
bunga yang demikian hebat, tepatlah sabda Nabi Muhammad Saw yang menyatakan
bahwa riba adalah dosa besar
yang kadarnya lebih dari 33 kali berzina atau menzinai ibu kandung sendiri.
Sebagai solusi dari sistem ekonomi
ribawi adalah ekonomi syari’ah yang
membawa
keadilan dan kesejahteraan bersama dunia dan akhirat.
Daftar
Pustaka
A. M. Sadeq. “Factor Pricing and Income Distribution from An
Islamic Perspective” yang
dipublikasikan dalam Journal of Islamic Economics,
198
Adiwarman Karim,
Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, Jakarta, Gema Insani Press, 2001
Afzalur Rahman, Doktrin
Ekonomi Islam,  terjemahan
Soeroyo dan Nastangin, Yogyakarta, Dana
Bhakti Waqaf, Jilid 2, 1996
————————-, Muhammad A Trader,
London, The Muslim Schools Trust,
1982, Edisi Indonesia Muhammad sebagai Pedagang, Jakarta, Swarna Bumi, 1997
Anwar Iqbal  Quraisy,  Islam
and the Theory of Intrest, (Lahore:Sheikh Muhammad
Ashraf, 1946).
——————————, Economic and Social System of Islam, (Lahore : Islamic Book Service, 1979)
Irfan Mahmud
Ra’na, Economic Sistem
Under Umar the Great, Pakistan, M.Asraf, 1977
Karnaen Perwata Atmaja dan M.Syafi’I Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam, Yogyakarta, Dana Bhakti Waqaf, 1992.
Muhammad Ali Ash-Shobuni,
Jarimah ar-Riba, Akhtar al-Jaraim ad-Diniyyat wa al- Ijtima’iyat, Kairo, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1997
M.Abdul Mannan, Islamic Economiys, Theory and Practice, terj. M.Nastangin,
Teori dan
Praktek Ekonomi Islam, Yogyakarta, Dana Bakti Waqaf, 1997
Masudul Alam Al-Khudury,
Money in Islam, London and New York, USA,
Rotledge, 1997
Monzer Kahf, The Islamic  Economy, Analytical
of The Functioning of The Islamic
Economic System,
Edisi Indonesia, Ekonomi Islam,
Pustaka pelajar,  1995
Ash-Shiddiqy,  Kemitraan
Usaha dan Bagi Hasil  dalam
Hukum Islam, Jogyakarta, Dana
Bhakti Primayasa,
Umer Chapra, Toward
A Justr Monetary System, terjemahan Lukman hakim, Al-Quran menuju sistem Moneter yang Adil, Yogyakarta,
Dana Bkhati Waqaf,  1997
Watt, Montgomery W,
Muhammad A Prophet
and The State  Man , London, 1982
SHARE