Pengobatan Jantung Ala Ibnu Zuhr

80
Tongkronganisalmai.net,- Dunia medis mencatat penyakit jantung merupakan menyebab nomor wajhid
kematian di belahan dunia. Pada 2002, penyakit jantung telah menyebabkan
17 juta kasus kematian di dunia. Penyakit ini masih tetap menjadi
”mesin pembunuh” yang harus terus diwaspadai. Pada 2020 mendatang,
para ahli memperkirakan, kematian akibat penyakit jantung akan mencapai
20 juta kasus.

Dunia kedokteran Islam telah mengenal dan
menguasai penyakit jantung sejak 900 tahun silam. Menurut Rabie E
Abdel-Halim dan Salah R Elfaqih dalam karyanya bertajuk ”Pericardial
Pathology 900 Years Ago: A Study and Translations from an Arabic Medical
Textbook,” dunia medis Islam di era kekhalifahan sudah menguasai ilmu
pengobatan penyakit jantung.

Menurut Abdel-Halim, dokter Muslim yang sudah
mengkaji dan mengasai pengobatan penyakit jantung di zaman keemasan
Islam adalah Ibnu Zuhr (1091-1161 M). Berdasarkan hasil kajian dari
Kitab al-Taysir, karya dokter Muslim legendaris dari Andalusia itu, para
sejarawan sains menemukan fakta bahwa Ibnu Zuhr sudah menguasai
pengobatan pericarditis.


Pericarditis merupakan penyakit
peradangan pada pericardium (kantong yang mengelilingi jantung).
Pericarditis dapat menyebabkan cairan menumpuk di dalam pericardium dan
menekan jantung, membatasi kemampuan jantung untuk mengisi dan memompa
darah.

Ibnu Zuhr membahas dan mengkaji pengobatan tentang
pericarditis dalam kitab berbahasa Arab yang berjudul Kitab al-Taysir fi
al-Mudawat wal Tadbir. Kitab itu terdiri dari dua volume dalam satu
edisi. Kajian tentang pericarditis dikupas sang dokter dalam bab khusus
bertajuk Dhikru amradh al-qalb.

Dalam kitab itu, Ibnu Zuhr telah
menyebutkan adanya fenomena penumpukan cairan yang membuat kemampuan
jantung menjadi terbatas. Ibnu Zuhr menyebut cairan itu sebagai Dhikru
al-Ruttubah allati Ta’ridd fi Ghisha al-Qalb.
Dalam kitab
kedokterannya, Ibnu Zuhr meletakkan pembahasan penyakit jantung, setelah
penyakit paru-paru dan sebelum penyakit hati. Menurut Abdel-Halim dan
Elfaqih, Ibnu Zuhr membuka kajiannya tentang penyakit jantung dengan
sebuah pernyataaan, “Penyakit jantung dapat menyebabkan organ-organ lain
menderita.”

Ibnu Zuhr membahas berbagai penyakit jantung
dimulai dengan tawarrum (pembengkakan), ikhtilaj (deyutan) dan khafaqan
(debaran). Sang dokter membahas ketiganya dalam judul yang terpisah.
Setelah membahas ketiga masalah jantung itu, Ibnu Zuhr lalu membahas
tentang pericarditis.

“Pembahasan mengenai pericarditis merupakan
karya tertua dari empat manuskrip yang ditulisnya,” ujar Abdel-Halim.
Hal itu juga dibahas oleh Al-Khoori M dalam karyanya Kitab Al-Taysir Fi
Al-Mudawat wa-‘l-Tadbir by Marwan Ibn Zuhr.

Menurut Halim dan
Elfaqih, masalah pericarditis diterjemahkan dari halaman 183 dan 184
dari Kitab al-Taysir. Berikut penjelasan Ibnu Zuhr tentang pericarditis,
”Kumpulan cairan dapat menutupi jantung: Di jantung, dapat terjadi
penumpukan cairan yang mirip urine. Cairan itu ditemukan menutupi
jantung. Kejadian ini bisa menyebabkan kematian pada pasien.”

Ibnu
Zuhr menuturkan, perawatan terhadap kondisi itu belum pernah dijelaskan
dokter mana pun sebelumnya, termasuk Galen. Ia lalu mencari solusi
untuk mengobati penyakit pericarditis itu dengan caranya sendiri.
”Pengobatan aromatik dengan cairan, tonik dan pelembab berkualitas,
mungkin bermanfaat,” tutur Ibnu Zuhr.

Selain itu, Ibnu Zuhr juga
menawarkan pengobatan lainnya dengan memakan apel atau minum susu segar
yang diperoleh dari kambing muda serta mandi dengan air yang hangat. Ia
juga menawarkan pengobatan dengan menggunakan sirup “Rayhan” atau sirup
dari Cendana. Sang dokter juga menginstruksikan pasiennya untuk secara
teratur menghirup aroma segar.

”Jika dokter menunda (perawatan)
bahkan untuk waktu yang singkat, pasien akan mati karena jantung
merupakan salah satu organ vital,” tuturnya. Sejatinya, Ibnu Zuhr tidak
hanya menjelaskan jenis-jenis pericarditis yang serius, namun juga
secara akurat memotret temuannya mengenai penyakit dalam fibrinous
pericarditis.

Menurut DeBono DP dalam karyanya berjudul Diseases
of the Cardiovascular System,” penjelasan Ibnu Zuhr tentang cairan yang
menutup pericardium seperti ”air urine” sangat sesuai dengan temuan
kedokteran modern. “Ini, juga, menunjukkan bahwa ia telah melihat dan
mengamati kumpulan cairan yang belum pernah diperoleh kecuali oleh
pericardiocentesis atau bedah mayat.”

Ibnu Zuhr tampaknya telah
melakukan bedah jantung, karena mampu menjelaskan tentang “zat padat
yang terkumpul di dalam jantung yang menutupi lapisan atas dari lapisan
membran”. Abdel-Halim dalam karyanya berjudul Pediatric Urology 1000
Years Ago mengungkapkan, Kitab al-Taysir Ibnu Zuhr mengikuti skema
al-Razi (Rhazes, 841-926 M) dalam mengklasifikasi penyakit menurut organ
terpengaruh.

Setiap bab dimulai dengan definisi kolektif dan
klasifikasi utama penyakit yang diikuti dengan ringkasan dari organ yang
normal dan abnormal, menganalisis struktur asal dari gangguan penyakit.
kemudian membahas gambar klinis, diferensial diagnosa dan prognosa.

“Selain
itu, ia mengkritisi tinjauan pandangan orang dahulu dari pengalamannya
sendiri,” jelas Neuburger M dalam karyanya History of Medicine. Dalam
penjelasannya, Ibnu Zuhr menyatakan bahwa jantung merupakan sebuah organ
vital yang pokok dan utama. Dunia Islam telah menyumbangkan begitu
banyak penemuan bagi dunia kedokteran modern.

Jejak Hidup Sang Dokter

Abu
Marwan Abdal-Malik Ibnu Zuhr. Itulah nama lengkap Avenzoar atau Ibnu
Zuhr yang terlahir di Seville, Spanyol, pada tahun 1091 M. Dia dikenal
sebagai dokter, apoteker, ahli bedah, sarjana Islam, dan seorang guru.
Beberapa sejarawan menyebut Ibnu Zuhr sebagai orang Yahudi, namun Bapak
Sejarah Sains, George Sarton memastikan bahwa sang dokter adalah seorang
Muslim.

Ia menimba ilmu kedokteran di Universitas Cordoba. Ibnu
Zuhr merupakan keturunan dari keluarga Bani Zuhr yang melahirkan lima
generasi dokter, termasuk dua di antaranya wanita. Ibnu Zuhrpertama kali
belajar praktik kedokteran dari ayahnya bernama Abu’l-Ala Zuhr (wafat
tahun 1131 M). Kakeknya juga adalah seorang dokter yang termasyhur di
Andalusia.

Setelah merampungkan studinya, sastra, hukum, dan
doktrin, Ibnu Zuhr mulai mendalami ilmu kedokteran secara khusus, Ibnu
Zuhr lalu mendedikasikan dirinya untuk penguasa Dinasti Al-
Murabitunpenguasa Spanyol Islam setelah padamnya Kekhalifah an Umayyah.
Hubungannya dengan penguasa Dinasti Murabitun memburuk ketika Ali Ibnu
Yussuf Ibnu Tachfine berkuasa.

Ibnu Zuhr lalu dipenjara selama 10
tahun di Marrakech. Setelah kekuasaan dinasti itu berakhir, Ibnu Zuhr
kembali ke Andalusia dan mengabdi pada Abd al-Mu’minpenguasa pertama
Dinasti Al-Muwahidun. Ia adalah teman, murid, dan guru seorang dokter
serta filsuf terkemuka Ibnu Rushd. Di era kekuasaan Dinasti Muwahidun,
Ibnu Zuhr menulis karya-karyanya. Ia tutup usia pada 1161 M di tanah
kelahirannya, Seville. Meski begitu, ia tetap dikenang dan namanya masih
tetap abadi.

Ibnu Zuhr mewariskan beberapa kitab kedokteran
penting bagi peradaban manusia modern, seperti: Kitab at-Taysirfi
al-mudawat wa at-tadbir (Perawatan dan Diet). Ini adalah ensiklopedia
kedokteran yang membuktikan bakat dan keahlian Ibnu Zuhr. Dia lalu
menawarkan kepada temannya, Ibnu Rushd, untuk mengumpulkan bukunya dalam
Generalities in Medicine.

Kedua buku itu saling melengkapi satu
sama lain. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada 1490 M
dan masih digunakan sebagai referensi hingga abad ke-17 M. Salinan buku
kompilasi antara karya Ibnu Zuhr dan Ibnu Rushd itu masih tersimpan di
banyak perpustakaan, seperti di Perpustakaan Umum Rabat,
perpustakaan-perpustakaan di Paris, Oxford di Inggris, dan Florence di
Italia.

Kitab al-Iktisad fi Islah an-Nufus wa al-Ajsad (Curing
souls and bodies) adalah rangkuman berbagai penyakit, perawatannya,
pencegahan, kesehatan, dan psikoterapi. Salinan kitab ini masih
tersimpan di Perpustakaan Istana di Rabat.

Kitab al-Aghdia wa
al-adwya (Nutrition and Medication). Dalam kitab ini, Ibnu Zuhr
menjelaskan beragam jenis makanan bergizi, obat-obatan, serta dampaknya
bagi kesehatan risalah. Dua salinannya masih tersimpan dengan baik di
Perpustakaan Istana di Rabat. Lewat karya-karyanya itulah pemikiran Ibnu
Zuhr hingga kini tak pernah mati.

SHARE