Perhatikan diri kita, masih pantaskah kita???

23
Rasulullah
saw telah bersabda,”Allah telah mewahyukan kepadaku:”Wahai saudara para
Rasul, wahai saudara para pemberi peringatan! Berilah berita peringatan kepada
kaummu, agar mereka jangan memasuki satu rumahpun dari rumah-rumahKu (masjid),
kecuali dengan hati yang bersih, lidah yang benar, tangan yang suci, dan
kemaluan yang bersih.  Janganlah mereka
memasuki salah satu rumahKu (masjid) padahal mereka masih tersangkut barang
aniayaan hak orang lain.  Sesungguhnya Aku
tidak memberi rahmat, selama ia berdiri di hadapanKu melakukan shalat hingga ia
mengembalikan barang aniayaan itu kepada pemiliknya.  Apabila ia telah mengembalikannya, Aku akan
jadi alat pendengarannya yang dengan alat itu ia mendengar, dan Aku akan
menjadi alat penglihatannya yang dengannya ia akan melihat, dan ia akan menjadi
salah seorang kekasih dan orang pilihanKu, dan akan menjadi tetanggaKu bersama
para Nabi, para shiddiqin, dan para syhuhada yang ditempatkan di dalam surga.
[Hadits
Qudsiy riwayat Abu Na’im, Hakim, al-Dailami, dan Ibnu Asakir dari Hudzaifah
ra]
          Khalifah
Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah memberikan pesan kepada kaum muslim:”Wahai
sekalian manusia! Janganlah kalian menganggap kecil dosa-dosa itu.  Selidiki dan usahakanlah untuk mengikis habis
dosa-dosa yang pernah dilakukan dengan jalan melakukan taubat…..Telah sia-sia
dan merugi orang-orang yang keluar dari rahmat Allah yang meliputi segela
sesuatu.  Mereka telah diharamkan masuk
ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi. 
Ketahuilah, perasaan aman pada hari kiamat hanya dimiliki oleh
orang-orang yang takut akan Rabbnya; yaitu orang yang suka menjual barangnya
yang sedikit untuk ditukarkan dengan barang yang lebih banyak, orang yang suka
menukar yang fana’ (dunia) dengan yang kekal abadi (akherat).”

           Lalu, apakah kita masih pantas memasuki rumah
Allah dan mendapatkan rahmat di sisi Allah swt, sementara itu, tangan dan hati
kita masih berlumuran dosa dan kedzaliman. Pantaskah kita duduk di hadapanNya, sedangkan farji dan pandangan kita
tidak pernah dijaga. Masihkah kita
berharap menjadi kekasih Allah, padahal, kita masih suka menganiaya dan
memusuhi kekasih-kekasihNya?  

Pantaskah
kita menjadi tamu Allah swt, padahal kita masih menanggung barang-barang
aniayaan milik orang lain, tidak pernah henti-hentinya membebani rakyat dengan
beban-beban berat, dan menguras harta dan peluh mereka? 
  

Pantaskah kita bermunajat
memohon ampunan Allah, sementara itu kita getol menyudutkan bahkan merencanakan
makar untuk memenjarakan dan menyakiti pembela-pembela agama Allah yang selalu
merindukan tertegaknya al-Quran dan Sunnah?
Pantaskah kita berharap
surganya Allah swt sementara itu kita gemar memburu dan memerangi kaum mukhlish
yang selalu mendekatkan diri kepada Allah swt, dengan alasan terorisme, makar
dan seribu alasan lainnya?  Bukankah
Allah swt telah menyatakan melalui lisan Nabi Mohammad saw,Barangsiapa
memusuhi kekasihKu, Aku telah mendeklarasikan perang kepadanya…”
[Hadits
Qudsiy, HR. Bukhari]

Betapa angkuh dan sombongnya diri kita! 
Kita selalu membenci dan memusuhi orang yang dicintai Allah swt, namun
masih berharap mendapat kecintaan dan rahmat dari Allah swt.   Betapa banyak kekasih Allah swt yang
distigma dengan cap-cap buruk, bahkan diperlakukan tidak manusiawi.  Apakah kita tidak mengetahui atau pura-pura
tidak tahu, bahwa tidak ada perbuatan yang lebih hina dibandingkan memerangi
dan memusuhi kekasih-kekasih Allah swt. 
Lantas, masih pantaskah kita menyandang gelar muslim dan mukmin, namun,
kita enggan untuk tunduk dengan aturan Allah; bahkan memproduk aturan-aturan yang
bertentangan dengan aturan Allah?    Bila
tidak pantas, lalu apa gelar apa yang paling pantas bagi kita?   

SHARE