Perjalanan Manusia setelah Meninggalkan Dunia yang Fana

141
Perjalanan Manusia setelah Meninggalkan Dunia yang Fana
Oleh : Siti Jubaedah 
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”

Dalam perjalanannya, manusia mengalami empat fase, yang terdiri dari dua fase kematian dan dua fase kehidupan. Kematian pertama, yakni fase sebelum kita diciptakan, bahkan sebelum orang tua kita bertemu sampai akhirnya dilahirkan. Fase kedua adalah fase kehidupan, yakni fase dari mulai dilahirkan oleh seorang ibu sampai ajal menjemput. Ini adalah fase kehidupan di dunia. Fase ketiga adalah fase kematian kembali, yakni ketika ajal datang menjemput sampai tiba waktunya manusia dibangkitkan kembali, yang sering kita sebut dengan alam barzakh. Fase keempat adalah fase kehidupan kembali yang dikenal dengan dibangkitkannya kembali manusia dari alam kubur untuk mempertanggung jawabkan semua amal perbuatannya serta menerima balasannya.

Kehidupan pertama di dunia bukanlah kehidupan sebenarnya. Ia hanya bersifat sementara. Salah satu lirik nasyid berbunyi “dunia ini hanya tempat kita bersinggah”. Manusia hidup di dunia diibaratkan bagai seorang musafir yang singgah beberapa saat disuatu tempat, yang nantinya ia akan melanjutkan perjalanannya. Hidup tidak akan berakhir di dunia seperti anggapan orang atheis yang menganggap bahwa setelah meninggal, berakhirlah kehidupan manusia dan tidak ada kelanjutannya. Setelah manusia meninggalkan dunia fana ini masih ada perjalanan hidup yang akan ditempuh oleh seluruh makhluk, baik itu kafir atau mukmin, manusia maupun jin. Dunia adalah tempat mencari bekal untuk kehidupan selanjutnya.

Tentunya, kita tak tahu pasti seperti apakah keadaan kehidupan setelah kita meninggalkan dunia fana ini. Namun, banyaknya informasi dari Rasul mampu memberikan kita gambaran-gambaran akan kehidupan selanjutnya. Dalam kesempatan ini, penulis mencoba menguraikan beberapa hadits Rasul tersebut mengenai gambaran-gambaran kehidupan setelah kehidupan saat ini. Tulisan ini juga merupakan Ujian Tengah Semester mata kuliah hadits III, yang diampu oleh Dr. Agung Danarta, M. Ag. Semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit pencerahan bagi siapapun yang membacanya. Juga bagi penulis pribadi.

Perjalanan Manusia setelah Meninggalkan Dunia

Barzakh


Barzakh menurut bahasa adalah sekat yang membatasi dua benda[1], sedangkan menurut istilah adalah sekat antara dunia dan akhirat, yakni masa penantiannya manusia antara setelah meninggal dunia dan sebelum dibangkitkannya dari kubur[2]. Ringkasnya, barzakh sering kita artikan dengan alam kubur. Semua orang, tanpa terkecuali akan mengalami dan merasakan alam barzakh ini dengan segala kenikmatan maupun siksaan didalamnya[3]. Namun, pastinya, tidak ada seorang pun makhluk yang masih hidup tahu benar akan bentuk, keadaan dan segala macam yang ada di alam barzakh, baik berupa siksaan maupun nikmat. Salah satu hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, memberikan sedikit informasi tentang adanya berita tentang gambaran seseorang di akhirat kelak. Sabda Nabi:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ[4

Artinya: “Ibnu Umar r.a menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya (di akhirat nanti) pada pagi dan petang hari. Jika termasuk penghuni surga, maka ia akan menghuni surga, dan jika termasuk penghuni neraka, maka ia akan menghuni neraka. Dan dikatakan kepadanya: “Inilah tempat tinggalmu hingga Allah membangkitkanmu di hari kiamat”.

Setiap orang yang telah masuk alam barzakh, pada waktu pagi dan sore ia akan diperlihatkan tempat tinggalnya diakhirat kelak sesuai amal perbuatannya di dunia. Jika ia seorang mukmin, maka ia akan diperlihatkan surga dan sebaliknya. Menurut al-Qurthubi, hadits diatas menginformasikan akan adanya kabar gembira bagi ruh-ruh orang mu’min bahwa ia akan memperoleh balasan dan kedudukan yang tetap di alam akhirat nanti[5]. Inilah nikmat kubur yang dialami oleh orang mukmin.

Menurut ahli sunnah, hadits ini merupakan salah satu dalil akan adanya siksa dan nikmat kubur, berbeda dengan pandangan mu’tazilah, sebagian besar khawarij, dan sebagian orang-orang murji’ah, mereka tidak meyakini akan adanya siksa dan nikmat kubur[6]. Ibn Hajr dalam kitabnya Fath al-Bārī mengutip perkataannya al-Qurthubi, bahwa yang mengalami akan diperlihatkannya tempat tinggal di akhirat kelak hanyalah ruhnya saja[7]. Sedangkan golongan ahli al-sunnah meyakini bahwa yang akan mengalami dan merasakan nikmat ataupun siksa kubur adalah jasad manusia setelah ruhnya dikembalikan[8].

Ibn Tīn menyatakan bahwa yang dimaksud dengan waktu pagi dan petang adalah hanya satu kali pagi dan petang selama masa penantiannya sampai hari dibangkitkannya kembali manusia. Menurut sebagian orang, yang dimaksud dengan pagi dan petang adalah pada setiap pagi dan petang selama di alam barzakh. Sedangkan menurut al-Qurthubi, yang dimaksud dengan pagi dan petang adalah waktu pagi dan petang sebagaimana di dunia, mayit di alam barzakh tidak mengenal adanya waktu pagi dan petang, karena waktu pagi dan petang adalah bagian dari kehidupan[9].

Kiamat


Dunia ini sifatnya fana, tidak ada satupun makhluk didalamnya yang kekal. Kiamat adalah akhir dari dunia ini dan awal kehidupan di akhirat. Hari kiamat diawali dengan leburnya alam semesta ini, seluruh makhluk hidup akan mati tanpa terkecuali. Saking dasyatnya hari itu, seseorang tidak akan ingat siapa-siapa lagi selain dirinya sendiri. Allah menggambarkannya dalam surat al-Hajj ayat 2:


Artinya: “(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu Lihat manusia dalam Keadaan mabuk, Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”.

Hadits Nabi yang berbicara tentang gambaran kiamat:

حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ ذِرَاعًا وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ[10

Artinya: Rasulullah saw pernah bersabda: “Pada hari kiamat manusia akan berkeringat sampai-sampai keringat mereka mengalir sebanyak tujuh puluh hasta, dan menenggelamkan mereka hingga mencapai telinga mereka.” (H.R. al-Bukhari)

Hadits diatas menginformasikan bahwa manusia pada hari kiamat berada dalam keadaan yang berbeda-beda sesuai dengan amal yang mereka perbuat didunia. Menurut hadits tersebut, manusia pada hari kiamat akan berkeringat terus dan keringat tersebut akan membanjirinya, ada yang hanya sampai pada mata kakinya, lututnya, telinganya, bahkan sampai menenggelamkannya. 

Dalam kitabnya, Fath al-Bārī, Ibn Hajr menyebutkan riwayat yang menjelaskan saking berat dan panasnya hari kiamat tersebut, karena matahari berada tepat diatas kepala manusia, sampai-sampai orang kafir ditenggelamkan oleh keringatnya sendiri. Sedangkan orang-orang mukmin, mereka hanya duduk-duduk diatas kursi yang terbuat dari emas dan dinaungi oleh amalnya sendiri. Pada waktu itu, tidak ada yang bisa menaungi manusia selain hanya amalnya sendiri.

Inilah gambaran betapa beratnya kesusahan yang terjadi pada hari kiamat tersebut. Amal kita sendirilah yang dapat menyelamatkan kita.

Mahsyar

Setelah manusia dan segala macam makhluk serta dunia ini hancur, kemudian Allah menyuruh malaikat-Nya untuk meniupkan sangkakala untuk yang kedua kalinya, yakni untuk menghidupkan kembali seluruh manusia. Manusia pada waktu itu dibangkitkan kembali untuk kemudian dikumpulkan di padang mahsyar untuk menjalani sidang pertanggung jawaban semua amal perbuatan selama didunia dihadapan Allah. Hadits Nabi: 

764حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَعَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ اللَّيْثِيُّ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُمَا أَنَّ النَّاسَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ هَلْ تُمَارُونَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ دُونَهُ سَحَابٌ قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَهَلْ تُمَارُونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْ فَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الشَّمْسَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الْقَمَرَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الطَّوَاغِيتَ وَتَبْقَى هَذِهِ الْأُمَّةُ فِيهَا مُنَافِقُوهَا فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا فَإِذَا جَاءَ رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَيَدْعُوهُمْ فَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يَجُوزُ مِنْ الرُّسُلِ بِأُمَّتِهِ وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ إِلَّا الرُّسُلُ [11

Artinya: “Sesungguhnya manusia berkata: ” Wahai Rasulullah apakah kita bisa melihat Tuhan di hari kiamat?? Rasul menjawab: “apakah kalian berjalan di bulan pada malam lailatul qadar yang dibawahnya tidak ada awan?? Mereka menjawab: tidak ya Rasulullah, Nabi berkata:”dan apakah kalian berjalan di atas matahari yang dibawahnya tidak ada awan?? Mereka menjawab: tidak Rasul. Rasul berkata: “begitulah manusia digiring di hari kiamat, kemudian Rasul berkata: “barang siapa menyembah sesuatu, maka ikutilah sesuatu itu, dan diantara mereka ada yang menyembah matahari, ada yang menyembah bulan, dan ada pula yang menyenbah Taghut, dan umat ini akan tetap mengikuti apa yang ia sembah, dan diantara umat tersebut terdapat segolongan manusia yang mengingkari akan semua itu (menganggap bulan, matahari, dan taghut sebgai tuhan ). Kemudian Allah mendatangi umat tersebut seraya berkata:”Aku Tuhanmu, kemudian mereka menjawab:”ini adalah tempat kami sampai Tuhan kami datang menjemput, dan ketika tuhan kami menjemput pastilah kami mengenalinya. Kemudian Allah mendatangi golongan terakhir seraya berkata:”Aku Tuhanmu”, Mereka menjawab:” Engkau adalah Tuhan kami, kemudian Allah mengajak mereka dan menjadikan bagi mereka jalan diantara dua ujung Jahannam. Dan akulah (Nabi Muhammad) rasul pertama yang menjadi penolong bagi seluruh umat

Hadits diatas menjelaskan bahwa pada waktu dikumpulkannya manusia di padang mahsyar mereka akan dikumpulkan berkelompok-kelompok sesuai dengan sesembahan mereka, mereka akan menunggu sampai Tuhan-tuhan mereka datang menjemput mereka. Diantara mereka semua yang akan selamat dari api jahannam hanyalah orang-orang yang semasa hidupnya menyembah Allah SWT.

Disaat semua manusia dibangkitkan, semua manusia tidak ada yang sama dalam hal apa yang dialami dan dimiliki. Perbedaan ini begitu besar dan kontra, dan hal yang menjadi sebabnya, lagi-lagi adalah perbuatan manusia di dunia. Ini menandakan bahwa perbuatan mereka sewaktu hidup berdampak besar bagi kehidupan mereka di akhirat, dan orang-orang yang senantiasa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan menyelamatkannya dari api jahannam dengan menjadikan bagi mereka jembatan untuk melintasi jahannam, dan kemudahan melewatinya. 

Berbeda dengan orang-orang yang semasa hidupnya menyembah selain Allah, sesuatu yang mereka anggap Tuhan tidak akan bisa menyelamatkan mereka, karena sebenarnya Tuhan semesta alam ini hanyalah Allah SWT, celakalah mereka dan sebuah penyesalan di waktu itu tidak akan ada gunanya sama sekali. Dan satu-satunya Rasul yang bisa memintakan syafa’at kepada Allah untuk manusia di waktu itu hanyalah Muhammad SAW.

Neraka

Setelah manusia mempertanggung jawabkan amal-amalnya, manusia harus melewati jembatan yang bernama şirāţ al-mustaqīm. Jembatan ini terletak di atas punggung neraka jahannam. Semua orang tanpa terkecuali akan melewatinya, ada yang cepat, lambat, bahkan ada yang langsung tercebur kedalam neraka, lagi-lagi tergantung amal perbuatan ia semasa hidup di dunia. 

Orang yang bernasib buruk akan disiksa di dalamnya. Siksaan pun bermacam-macam, ada yang ringan, sedang dan bahkan berat sekali. Seperti apakah tepatnya siksaan neraka, tentu kita tidak akan pernah mengetahuinya bagaimana jelasnya. Namun, ada satu hadits Nabi yang menjelaskan hal tersebut. Semoga saja kita bisa berkaca dari hadits Nabi tersebut seperti apakah siksa yang paling ringan di neraka? Berikut adalah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلَانِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِ الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا[12

Artinya: “Seringan-ringan siksa neraka adalah orang yang dipakaikan padanya sepasang sandal dengan dua buah pengikat dari api. Kemudian mendidihlah otaknya karena kedua sandal tersebut, sebagaimana mendidihnya air dalam belanga. Dia mengira tak seorang pun menanggung siksa yang lebih berat daripada dirinya. Padahal sesungguhnya dialah orang yang menerima siksa paling ringan diantara penghuni neraka (H.R. Muslim)

Hadits diatas menunjukkan adanya tingkatan-tingkatan siksa di neraka. Ini merupakan bentuk keadilan Allah bagi manusia, karena amal manusia tidak ada yang sama satu pun[13]. Siksa yang paling ringan menurut hadits diatas adalah memakai sepasang sandal dengan dua buah pengikat dari api, sehingga dengan memakai sandal tersebut, mendidihlah otak manusia. Orang yang mengalaminya menyangka kalau ini adalah siksa yang paling berat diantara siksa-siksa yang lain. Ini menunjukkan bahwa seringan-ringan siksa neraka tidak bisa dibandingkan dengan ringan menurut dunia.

Dalam syarh Bukhari, Fath al-Bārīnya Ibn Hajr serta dalam syarh al-Turmudzi, Tuhfat al-ahwādzi, dengan mengutip Ibn Tin dari hadits yang bersumber dari Ibn Abbas, bahwa siksa ini adalah siksa yang diberikan kepada paman Nabi Muhammad, Abu Thalib[14]. Imam muslim meriwayatkan:

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

Abu Thaliblah orang yang mendapatkan siksa paling ringan, karena perjuangannya membela Nabi namun beliau tidak pernah mengatakan syahādatain, sehingga ia meninggal dalam keadaan kafir. Dan inilah siksa yang ia terima, seringan-ringannya siksa.

Surga

Seseorang yang selamat melewati shirath al-mustaqim, ia adalah orang yang beruntung. Setelah itu, Ia akan masuk surga

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَاللَّفْظُ لِإِسْحَقَ قَالَا أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ قَالَ الثَّوْرِيُّ فَحَدَّثَنِي أَبُو إِسْحَقَ أَنَّ الْأَغَرَّ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُنَادِي مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمْ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ[15

Artinya: Nabi Muhammad SAW bersabda: “(ada petugas) yang berseru, (di sini-surga) kamu sehat, tidak pernah sakit buat selama-lamanya. Di sini kamu hidup selamanya, tidak akan mati lagi. Di sini kamu muda selamanya, tidak akan tua lagi. Di sini kamu senang selamanya, tidak akan pernah putus asa” setelah itu Nabi membacakan firman Tuhan mengenai surga itu yang berbunyi, “itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan. (HR. Muslim)

Hadits diatas menerangkan akan nikmatnya surga, didalamnya tidak ada kematian, kesusahan, kesedihan dan keputus asaan[16]. Orang yang masuk kedalamnya akan selalu bersenang-senang, inilah balasan bagi orang-orang yang selalu mentaati Allah didunia.

Maka orang yang sering sakit di dunia tidak akan sakit lagi di akhirat, jika ia termasuk ahli surga. Selalu merasa senang sebab kesenangan di sana adalah kesenangan yang hakiki, sangat berbeda dengan kesenangan di dunia. Kesenangan di dunia selalu bergandengan kesusahan. Hakikat kenikmatan surga tidak bisa dijangkau oleh akal, sebab tentu lebih tinggi dari apa yang dibayangkan oleh manusia. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari Abu Hurairah mengenai kenikmatan surga yang luar biasa. 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ[17 

Artinya: “Aku menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang beramal shalih, sesuatu yang belum pernah terlihat mata, belum pernah terdengar oleh telinga, serta belum pernah terlintas dalam hati seseorang, Bacalah ayat ini sekehendak kalian:”seseorang tek mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka,yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan mata.”

Jadi, keadaan kenikmatan-kenikmatan di surga kelak tidak bisa disamakan dengan kenikmatan di dunia, sama halnya dengan siksa neraka yang paling ringan tidak bisa disamakan dengan ringannya dunia.

Baca Juga: Gambaran Masa Depan Manusia dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi


Daftar Pustaka


CD.ROM al-Mausu’ah al-Hadits al-Syarif. Global Islamic Software, 1991-1997. Shahih al-Bukhari.

————-.Shahih Muslim.

DVD. Al-Maktabah al-Syamilah. Shahih Bukhari.

—————————————. Shahih Muslim.

—————————————. Fath al-Bārī.

————————————–. Syarh Muslim an-Nawawi.

————————————-. Tuhfat al-Ahwādzī

————————————-. Al-Muntaqā Syarh al-muwaţţā’.

————————————. Lisan al-Arab.

Marzuki, A. Choiran. 1999. Qiamat, Surga dan Neraka. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Munawwir, Ahmad Warson. 2002.. Al Munawwir; Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progresif.

Catatan Kaki

[1] Ibn Mandzur, Lisan al-Arab. DVD. Al-Maktabah al-Syamilah. Kutub al-Barnamij fi Ulum Lughah wa Ma’iajim. Vol 3, hlm. 8.

[2] Ibn Mandzur, Lisan al-Arab…

[3] Disini penulis meyakini akan adanya siksa dan nikmat kubur.

[4] Hadis Riwayat Bukhari, Shahih al-Bukhari, kitab al-Janāiz, bab al-mayyitu yu’radu ‘alaihi maq’adahu bi al-ghadāti wal-‘asyiyyi, no 1290,CD. ROM. Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.

[5] ibn Hajr al-‘Asqalani, Fath al-Bārī, DVD. Al-Maktabah al-Syamilah. Kutub al-Barnamij fi syuruh al-Hadits, Vol 4, hlm. 456. Bandingkan juga dengan al-Suyuthi, syarh al-Nasa’i, Hasyiyah al-Suyuthi, DVD. Al-Maktabah al-Syamilah. Vol 3, hlm.301.

[6] Al-Nawawi, syarh muslim, DVD. Al-Maktabah al-Syamilah. Vol 9, hlm.248.

[7] ibn Hajr al-‘Asqalani, Fath al-Bārī, Vol 4, hlm. 456.
[8] Al-Nawawi, syarh muslim, Vol 9, hlm.248.

[9] ibn Hajr al-‘Asqalani, Fath al-Bārī…lihat juga Al-muntaqa, syarh muwaththa’ DVD. Al-Maktabah al-Syamilah. Vol 2, hlm.66; Tuhfatul ahwadzi, DVD. Al-Maktabah al-Syamilah , Vol 3,hlm.135. syarh al-Nasa’i, Hasyiyah al-Suyuthi, Vol 3, hlm.301.

[10] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq, Bab Qaul Allah Ta’ala Ala Yadhunn Ula’ikaAnnahum Mab’utsun al-Yaum, No. 6051.

[11] HR Bukhari, Shahih Bukhari no. 764.

[12] HR muslim, Shahih Muslim, no.314.
[13] Al-Nawawi, syarh muslim.no 314.

[14] ibn Hajr al-‘Asqalani, Fath al-Bārī…vol 11,hlm.210. bandingkan dengan syarh al-Turmudzi, Tuhfat al-ahwadzi, vol 6,hlm.400.

[15] Shahih Muslim, no. 5069.

[16] Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, vol.9.hlm, 220.

[17] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq, Bab Qaul Allah Ta’ala Ala Yadhunn Ula’ikaAnnahum Mab’utsun al-Yaum, No. 3005.Shahih Muslim, no. 5050.

SHARE