Cara Sopan Berterimah Kasih Kepada Sang Pemberi

25
Bersyukuratas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang
muslim.   Seorang hamba yang tidak pernah
bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, sejatinya adalah orang-orang
sombong yang pantas dimasukkan ke nerakanya Allah swt.  Allah swt telah memerintahkan hamba-hambaNya
untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya.   Allah swt berfirman, artinya:
Karena
itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah
kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.”
[al-Baqarah:152]
Ali
Ashshabuni dalam Shafwaat al-Tafaasir menyatakan, “Ingatlah kalian kepadaKu
dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi
pahala dan ampunan.  Sedangkan firman
Allah swt,” bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu”,
bermakna: “Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan
kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat.   Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as pernah
bertanya kepada Tuhannya:”Ya Rabb, bagaimana saya bersyukur kepada Engkau?  Rabbnya menjawab:”Ingatlah Aku dan janganlah
kamu lupakan Aku.  Jika kamu mengingat Aku
sungguh kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu
telah mengingkari nikmatKu”.[Mukhtashar Tafsir Ibnu I/142]
Di ayat yang lain Allah swt
menyatakan, artinya:
Hai orang-orang yang beriman, makanlah
diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah
kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.”[al-Baqarah:172]
‘Ulama-‘ulama tafsir
menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “jika kalian benar-benar menyembah
kepadaNya, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmatNya yang tidak bisa dihitung
itu dengan ibadah dan janganlah menyembah selain diriNya.”
Atas dasar itu, bersyukur atas
nikmat Allah merupakan kewajiban seorang muslim.   Namun, seorang muslim harus memahami
bagaimana cara merefleksikan rasa syukur secara benar.  Betapa banyak orang merefleksikan rasa
syukurnya
dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu
sendiri.   Misalnya, ada orang yang mewujudkan
rasa syukurnya dengan cara mabuk-mabukkan, pesta pora, pergi ke tempat-tempat
maksiyat, bernyanyi-nyanyi hingga melupakan kewajibannya, dan seterusnya.   Adapula yang merefleksikan rasa syukurnya
dengan cara menyediakan sesaji dan persembahan kepada pohon dan tempat-tempat
keramat.  Refleksi syukur seperti ini
jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam.
Untuk
itu, para ulama telah menggariskan tata cara bersyukur yang benar.  Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa
syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada
Allah swt dan meninggalkan maksiyat.  Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam ‘Ali Al-Shabuni.
Ibadah
dan taat kepada Allah swt serta meninggalkan larangan-larangan Allah merupakan
perwujudan rasa syukur yang sebenarnya.
Seorang yang selalu taat kepada Allah swt, menjalan seluruh
aturan-aturanNya dan sunnah Nabinya pada hakekatnya ia adalah orang-orang yang
senantiasa bersyukur kepada Allah swt.
Sebaliknya, setiap orang yang menampik dan menolak dengan keras syari’at
Islam, tunduk dan patuh kepada aturan-aturan kufur, termasuk orang-orang yang
ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka.
Allah
swt telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa, orang-orang yang mau bersyukur
atas nikmat
yang diberikanNya sangatlah sedikit.  Kebanyakan manusia ingkar terhadap nikmat yang
diberikan Allah kepada mereka.   Allah
swt berfirman, artinya:
Sesungguhnya
Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan
tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.”[Yunus:60]
Apakah kamu tidak
memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedangkan
mereka beribu-ribu jumlahnya karena takut mati; maka Allah berfirman kepada
mereka,”Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka.  Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap
manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”[al-Baqarah:243]
Ayat-ayat
di atas menunjukkan dengan jelas bahwa, kebanyakan manusia tidak mau bersyukur
atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka.   Tatkala mendapatkan kenikmatan mereka sering
melupakan Allah swt.  Akan tetapi,
tatkala mendapatkan kesusahan mereka mereka ingat dan bersyukur kepada
Allah.   Namun, setelah terlepas dari
penderitaan mereka kembali ingkar kepada Allah swt.   Allah telah menyatakan dengan sangat jelas,
artinya:
Katakanlah: “Siapakah yang
dapat menyelamatkan kamu dari bencara di darat dan di laut yang kamu berdo’a
kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan
mengetakan):”Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini,
tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.”   Katakanlah:”Allah menyelamatkan kamu
daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali
mempersekutukanNya.”[al-An’aam:63-64]


Ketika manusia ditimpa dengan berbagai macam
kesusahan mereka segara berdoa dan berjanji untuk bersyukur kepada Allah jika
bencana itu dilepaskan dari mereka.  Akan
tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari bencana mereka lupa bersyukur
bahkan kembali mempersekutukan Allah swt. Betapa banyak orang menangis, meratap dan merengek-rengek meminta kepada
Allah swt agar dihindarkan dari kesusahan hidup; mulai kelaparan, kekeringan,
bencana alam dan lain-lain.Mereka rela
berpayah-payah memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kerendahan
hati.  Akan tetapi, ketika Allah
menghindarkan mereka dari kesusahan mereka kembali menerapkan aturan-aturan
kufur, bahkan menandingi aturan-aturan Allah swt. Bukankah hal ini termasuk telah menyekutukan
Allah swt?    Bukankah refleksi syukur
sebenarnya harus diwujudkan dalam bentuk menerapkan syari’at Islam dan selalu
berdzikir kepada Allah swt?  



SHARE