Review Nilai Kepemimpinan Ahmad Dahlan Dalam Film Sang Pengcerah

78
Ahmad Dahlan adalah
sosok pemimpin yang demokratik. Ini dapat terlihat dari kebiwaan Ahmad Dahlan
yang tegas, sabar dan semua langkah yang dilakukan oleh ahmad dahlan sangat
terorganisir.
Di
dalam film sang pencerah diceritakan bahwa Ahmad Dahlan yang bernama asli
Muhammad Darwis tumbuh besar di daerah Kauman, Yogyakarta. Ketika masih remaja
ia gelisah melihat  praktik
beragama di daerahnya. Hal inilah yang menyebabkan ia pergi beribadah di tanah
suci yang usianya masih 15 tahun kala itu. Ditanah suci ia melakukan ibadah dan
mempelajari islam secara mendalam guna menghapuskan ritual keagamaan yang
terjadi di daerahnya. Inilah awal kemunculan Ahmad Dahlan sebagai seorang
pemimpin.
ada
bebarapa faktor yang menunjukkan bahwa Ahmad Dahlan sebagai seorang pemimpin
antara lain sebagai berikut:
Ahmad
Dahlan dalam menghadapi semua rintangan dan hambatan  tidak langsung
melampiaskan kemarahanya tapi ia hanya dapat bersabar dan mencari solusi lain.
Hal ini terlihat ketika sanggar Ahmad Dahlan dirobohkan.
Memurnikan
Ajaran Islam yang melenceng dari tuntunan islam. Pemikiran yang dibawah oleh
Ahmad Dahlan memabawa arah baru pada masyarakat Kauman. pemikiran tersebut
diperoleh dari para pembaharu Islam, semisal Jamaluddin al-Afgani dan Muhammad
Abduh. Hal ini tampak pada adegan ketika K. H. Ahmad Dahlan berusaha meluruskan
arah kiblat Masjid Besar Jogjakarta yang malah mendapatkan tentangan dari para
ulama di daerha itu.
Memurnikan
ajaran islam ini dapat
kita jumpai ketika ia berkhutbah di mesjid agung kraton ia dengan
terang-terangan membantah ritual keagamaan yang berlangsung pada masyrakat
kauman. Hal ini terlihat dalam ucapanya bahwa “islam tidak mengekang, tidak
membuat rumit dengan upaca-upcara sesaji”.
Ahmad Dahlan lebih mementinkan praktek
daripada teori. Hal ini terlihat ketika Ahmad Dahlan mengajarkan surat Al-Maun
berkali-kali, hingga ada muridnya yang bertanya., Kira-kira pertannyaanya
begini “paangapunten kiyai, sudah empat kali kita pengajian tapi hanya membahas
surat ini padahal ada 114 surah kiyai. Ahmad Dahlan hanya menjawab sudahkan
kamu mengamalkan isinya??.
Sehabis pengajian itu muridnya langsung mengamalkan isi surah tersbut. Bahkan
ahmad dahlan sebagai pemimpin langsung terjun dalam mengmalkan surah tersebut.
Ahmad Dahlan adalah pendidik sejati.
Hal ini terlihat ketika didatangi oleh muridnya. Muridnya bertanya “kira-kira
kita mau ngaji apa kiyai”?? pada waktu itu KH Ahmad Dahlan malah bertanyak
balik, “kalian mau belajar apa” lalu murinya bertanya “agama itu apa?” Lalu ia
menjelaskan agama dengan menganalogikan bahwa agama seperti musik yang tenang
dan menetranmakan bagi pendengarnya.
Dalam adegan lain Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah
sebagai wujud kepedulianya terhadap pendidikan di lingkungannya. ia tidak hanya
mengajarkan ilmu agama saja tapi mengajarkan ilmu umum juga seprti bahasa
inggris dan menyanyi bahkan dalam madrasahnya, ia memadukan antara metode
belajar klasik dan metode belajar modern yang menggunakan bangku dan alat tulis
yang justru hal inilah yang menyebabkan ia disebut sebagai korang kafir.  Bahkan ada seorang kiyai yang datang
menegur. Akan tetapi hal itu tidak mengurangi langkah Ahmad Dahlan dalam
mengajar.
Dalam
dunia pendidikan juga ia dapat menjadikan kondisi seburuk apapun sebagai bagian
dari pendidikan. Hal ini terlihat ketika ada murid yang kentut ketika ia sedang
mengajar. Ahmad Dahlan pada saat itu tidak serta merta marah, malah ia
menjlaskan keagungan Allah melalui kentut tersebut.
Ahmad
Dahlan berpartisipasi dalam organisasi Budi Utomo. Dalam organisasi ini ia
belajar bagaimana berorganisasi dengan baik. Hingga ia mengutip pendapat Ali
bin Abi Tholib yang berbunyi “kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan
oleh kebatilan yang terorganisir secara rapi”.
Jika Ada hal Lain yang belum disebut, sudi kiranya jika pembaca memberikan
masukan… isnyaallah kami akan menambah postinganya. Terimah kasih
SHARE