Sahur setelah Adzan Subuh karena Ketiduran

316
Sahur setelah Adzan Subuh karena Ketiduran
Sahur setelah Adzan Subuh karena Ketiduran – Ketika puasa Ramadhan, umat Islam menyambutnya dengan antusias sehingga apapun rangkaian kegiatan yang terkait dengan Ramadhan begitu terasa ringan dijalankan. Padahal tidak demikian ketika di luar Ramadhan. Salah satu ibadah tersebut adalah santap sahur yang dilakukan sebelum terbit fajar shadiq. Anggota keluarga sibuk menyiapkan hidangan dan saling membangunkan untuk segera melaksanakan sahur agar tidak terlewat dari waktunya.
Meskipun begitu, tidak jarang kita temui atau bahkan mengalami kesiangan ketika hendak santap sahur. Hingga sebelum sahur kita sempurna, azan telah berkumandang. Lalu bagaimanakah hukumnya santap sahur yang dilakukan ketika azan sudah berkumandang? Berikut bahasan singkatnya.
Berkaitan dengan batas waktu sahur, ayat al-Qur’an dan beberapa riwayat berikut akan menjadi pokok bahasan. Allah swt berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

Ayat ini menunjukkan bahwa makan minum (sahur) masih boleh hingga jelas/terang (tabayyun) bahwa fajar sudah datang. (Yusuf Al-Qaradhawi, Fiqh ash-Shiyam, hlm. 101; Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, al-Jami’ li Ahkam ash-Shiyam, hlm. 77; Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir, 2/153). Dengan kalimat lain, yang menjadi patokan adalah bahwa fajar shadiq telah terbit, bukan semata dikumandangkannya azan Subuh. Terlebih jika muazin hanya semata berpatokan pada jadwal yang sudah tertera tanpa melihat tanda terbitnya fajar shadiq.

Adapun ciri dari fajar shadiq adalah ditunjukkan dengan adanya cahaya putih yang menyebar dan meluas di ufuk dan bukan hanya sekedar cahaya putih tipis yang memanjang/meninggi dari ufuk ke langit. Sebab Subuh secara bahasa berarti gabungan antara putih dan kemerah-merahan sehingga orang yang warna kulitnya putih dan kemerah-merahan dinamakan Asbah (أصبح) (lihat al-Mughni I/232). Secara lebih terperinci, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (lihat asy-Syarh al-Mumthi’, II/ 107-108) menjelaskan perbedaan antara fajar shadiq dan kazib sebagai berikut:

Pertama, fajar pertama (kadzib) memanjang dari ufuk ke atas sedangkan fajar sadiq menyebar di atas ufuk (Timur).

Kedua, Cahaya yang muncul ketika fajar kazib hanya sementara kemudian kembali gelap. Sedangkan fajar sadiq tidak gelap bahkan semakin bertambah terang cahayanya.

Ketiga, fajar sadiq menyatu dengan ufuk; antara cahaya fajar dengan ufuk (Timur) tidak ada kegelapan. Sementara cahaya fajar kadzib terputus/menghilang dari ufuk.

Jika anda memperhatikan ufuk (Timur) dimulai pada sepertiga malam akhir (dimulai kira-kira sejak jam 03:00 WIB), anda akan mendapati cahaya fajar kazib adalah memanjang dari bawak ufuk ke arah langit, berbentuk seperti ekor atau pasak. Sedangkan fajar shadiq cahayanya menyebar dari atas ufuk dan tidak mengalami redup. Bahkan bertambah terang hingga terbit matahari. Inilah makna dari hadits Rasulallah saw:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرُ فَجْرَانِ فَأَمَّا الْفَجْرُ الَّذِي يَكُونُ كَذَنَبِ السَّرْحَانِ فَلَا يُحِلُّ الصَّلَاةَ وَلَا يُحَرِّمُ الطَّعَامَ وَأَمَّا الَّذِي يَذْهَبُ مُسْتَطِيلًا فِي الْأُفُقِ فَإِنَّهُ يُحِلُّ الصَّلَاةَ وَيُحَرِّمُ الطَّعَامَ

“Dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban, ia berkata; Rasulallah saw bersabda: ‘Fajar itu ada dua. Fajar yang bentuknya seperti ekor serigala (fajar kazib) tidak menghalalkan (membolehkan) shalat (sunnah fajar) dan tidak mengharamkan makan dan minum (sahur). Adapun fajar yang memanjang di ufuk, maka hal ini menghalalkan shalat dan mengharamkan makan dan minum’ (H.R. al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak no. 688, ad-Daruquthni no. 1053, al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra no. 1765. Dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 4278).”

حدَّثنا محمدُ بن عيسى حدَّثنا مُلازِمُ بن عَمرو عن عبد الله بنِ النعمان حدثني قيسُ بنُ طلقٍ عن أبيهِ قال قال رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلم كُلُوا واشْرَبُوا ولا يَهيدَنكُمُ السَّاطِعُ المُصْعِدُ فَكُلوا واشْرَبُوا حتى يعترِضَ لكُمُ الأحْمَرُ

“Muhammad bin Isa telah menceritakan kepada kami, Mulazim bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin an-Nu’man, Qais bin Thalaq telah menceritakan kepadaku, dari bapaknya ia berkata,Rasulallah saw bersabda: ‘Makan dan minumlah, dan jangan (cahaya) yang meninggi menghalangi kalian. Makan dan minumlah hingga terbentang (cahaya) merah (H.R. Abu Dawud no. 2348. Dinilai Hasan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth).”

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَمْنَعَنَّكُمْ مِنْ سُحُورِكُمْ أَذَانُ بِلَالٍ وَلَا الفَجْرُ المُسْتَطِيلُ وَلَكِنِ الفَجْرُ المُسْتَطِيرُ فِي الأُفُقِ

“Dari Samurah bin Jundab, ia berkata, Rasulallah saw bersabda: ‘Janganlah sahur kalian terganggu oleh azannya Bilal dan tidak pula fajar yang memanjang (meninggi), namun fajar yang menyebar di ufuk (H.R. at-Tirmidzi no. 706).”

Dan juga pada hadits yang lain:

عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ بِلاَلًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

“Dari Aisyah, dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Bilal azan diwaktu malam, maka makan dan minumlah hingga kalian mendengar Abdullah bin Ummi Maktum mengumandangkan azan (kedua).”

Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan lafal:

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ بِلاَلًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ثُمَّ قَالَ وَكَانَ رَجُلًا أَعْمَى لاَ يُنَادِي حَتَّى يُقَالَ لَهُ أَصْبَحْتَ أَصْبَحْتَ


“Dari Salim bin Abdullah, dari bapaknya, bahwa Rasulallah saw bersabda: ‘Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan di waktu malam, maka makan dan minumlah kalian hingga mendengar kumandang azan Abdullah bin Ummi Maktum’. Kemudian Salim bin Abdullah berkata, ‘Ia (Abdullah bin Ummi Maktum) adalah seorang yang buta, tidak mengumandangkan azan sampai seseorang berkata kepadanya ‘pagi (fajar shadiq) telah tiba’.”

Kedua hadits diatas diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.

Juga terdapat keterangan dari atsar Sahabat:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنِ الْفَضْلِ بْنِ دَلْهَمٍ عَنِ الْحَسَنِ قَالَ قَالَ عُمَرُ إِذَا شَكَّ الرَّجُلَانِ فِي الْفَجْرِ فَلْيَأْكُلَا حَتَّى يَسْتَيْقِنَا

“Waqi’ menceritakan kepada kami, dari al-Fadl bin Dalham, dari al-Hasan ia berkata, Ibnu Umar berkata: ‘Jika dua orang ragu-ragu mengenai masuknya waktu shubuh, maka makanlah hingga kalian yakin waktu shubuh telah masuk’ (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, no. 9066).”

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ زَاذَانَ عَنْ مَكْحُولٍ قَالَ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَخَذَ دَلْوًا مِنْ زَمْزَمَ فَقَالَ لِلرَّجُلَيْنِ أَطَلَعَ الْفَجْرُ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لَا وَقَالَ الْآخَرُ نَعَمْ قَالَ فَشَرِبَ

“Waqi’ telah menceritakan kepada kami, dari ‘Amarah bin Zazan, dari Makhul al-Azdi, ia berkata, ‘Aku melihat Ibnu ‘Umar mengambil satu timba berisi air zam-zam, lalu beliau bertanya pada dua orang’, ‘Apakah sudah terbit fajar shubuh?’ Salah satunya menjawab, ‘Sudah terbit’. Yang lainnya menjawab, ‘Belum’. Akhirnya beliau tetap meminum air zam-zam tersebut. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, no. 9060).”

Atsar di atas tercantum dalam kitab ­al-Muhalla (VI/234) karya Ibnu Hazm.

Kesimpulan dari beberapa riwayat yang telah dipaparkan adalah bahwa batas waktu sahur adalah hingga terbit fajar shadiq dan bukan berpatokan pada azan subuh semata. Namun jika seseorang tidak mengetahui (dengan pasti) kapan terbitnya fajar shadiq, maka lebih baik ia menahan diri dari makan dan minum ketika kumandang azan subuh diperdengarkan. Hal ini supaya ia tidak terjatuh pada hal yang dapat membatalkan puasa karena melanjutkan makan dan minum setelah lewat dari waktunya. Namun bagi orang yang yakin bahwa fajar shadiq belum terbit, maka ia masih boleh makan dan minum. Dan bagi orang yang tahu mempunyai kewajiban untuk menyampaikannnya kepada kaum muslimin agar mereka mendapatkan apa yang menjadi hak mereka.

Meski demikian, terdapat riwayat lain yang (seolah) bertentangan dengan beberapa riwayat sebelumnya. Riwayat tersebut adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulallah saw bersabda: ‘Jika salah satu dari kalian mendengar azan sedang di tangannya masih terdapat makanan dan atau minuman, maka jangan meletakkannya hingga ia menyelesaikan hajat (makan dan minum)nya’ (H.R. Abu Dawud no. 2350, Ahmad no. 9474, ad-Daruqutniy no. 2182).”

Dilihat sekilas, riwayat ini tidak mempertimbangkan azan subuh maupun fajar sadiq yang telah muncul sehingga nampak bertentangan dengan beberapa riwayat sebelumnya. Lantas bagaimana ulama memaknai riwayat ini?

Imam an-Nawawi (lihat al-Majmu’ VI/333) mengatakan bahwa azan yang dimaksud dalam hadits Abu Hurairah ini adalah azan sebelum fajar (shadiq) sebagaimana yang terjadi di zaman Rasulallah saw. Hal ini tidak diselisihi oleh seorang pun. Oleh karena itu, apabila seseorang tetap melanjutkan santap sahur sedangkan fajar shadiq telah terbit maka puasanya batal. Kompromi ini sebagai jalan tengah agar hadits Abu Hurairah dengan hadits dari Aisyah ra dapat diamalkan secara serempak. Berkaitan dengan hal ini, imam Ibnu Hazm mengatakan:

هذا كله على أنه لم يكن يتبين لهم الفجر بعد فبهذا تنفق السنن مع القرآن

“Riwayat yang ada menjelaskan bahwa (bolehnya makan dan minum) adalah bagi orang yang belum yakin akan masuknya waktu fajar (shadiq). Dari sini tidaklah ada pertentangan antara hadits yang ada dengan ayat Al Qur’an (yang hanya membolehkan makan sampai waktu fajar) (al-Muhalla, IV/367).”

Baca Juga:

Kesimpulannya, batas waktu santap sahur adalah ketika telah terbit fajar shadiq dan bukan hanya karena dikumandangkan azan Subuh semata. Seseorang yang mengetahui fajar shadiq belum terbit atau ragu-ragu akan terbitnya, masih dibolehkan untuk melanjutkan makan dan minum. Namun yang lebih berhati-hati adalah menahan diri dari santap sahur jika sudah mendengar kumandang azan Subuh.

Wallahhu a’lam bi ash-shawab.
SHARE