Sanksi atas Tindakan Tajassus (Spionase)

73
          Apabila tajassus dilakukan kafir harbiy baik hakiki, maupun hukman, maka sanksinya adalah bunuh, bila diketahui bahwa ia adalah mata-mata,
atau telah terbukti bahwa ia adalah mata-mata.
Ketentuan ini didasarkan pada sebuah riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari dari Salamah bin al-Akwa’.  Salamah bin al-Akwa’ berkata, “Seorang
mata-mata dari orang-orang musyrik mendatangi Rasulullah saw, sedangkan orang
itu sedang safar. Lalu, orang itu duduk bersama dengan para shahabat Nabi saw,
dan ia berbincang-bincang dengan para shahabat.
Kemudian orang itu pergi. Nabi saw berkata, “Cari dan bunuhlah dia!”
Lalu, aku [Salamah bin al-Akwa’] berhasil mendapatkannya lebih dahulu dari para
shahabat yang laih, dan aku membunuhnya.”
Imam Muslim juga meriwayatkan dengan pengertian senada
namun dengan lafadz berbeda.  Sedangkan
dalam riwayat Abu Na’iim dalam al-Mustakhraj, dari jalan Yahya al-Hamaniy, dari
Abu al-‘Umais, “Ketahuilah, bahwa dia adalah mata-mata”.  Hadits ini menunjukkan dengan jelas, bahwa
Rasulullah saw telah menetapkan, bahwa ia adalah mata-mata, kemudian beliau saw
berkata, “Cari, dan bunuhlah dia.”  Ini menunjukkan, bahwa thalab dari Rasul
adalah thalab yang pasti, sehingga sanksi bagi kafir harbiy yang mematai-matai
kaum muslimin, adalah dibunuh tanpa perlu komentar.   Ketentuan ini berlaku umum untuk semua kafir
harbiy, baik kafir mu’ahid, musta’min, atau bukan mu’ahid dan musta’min. [idem,
hal.215]
          Bila tajassus dilakukan oleh kafir dzimmiy, maka sanksi yang dijatuhkan
kepadanya perlu dilihat.  Jika pada saat
ia menjadi kafir dzimmiy disyaratkan untuk tidak menjadi mata-mata, dan bila ia
melakukan spionase dibunuh, maka sanksi bila kafir dzimmiy tadi melakukan
tindak tajassus, maka hukumnya dibunuh sesuai dengan syarat tadi.  Namun bila saat ia menjadi kafir dzimmiy
tidak disyaratkan apa-apa, maka khalifah boleh menetapkan sanksi bunuh terhadapnya,
atau tidak, bila ia melakukan tajassus.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Nabi saw telah
memerintahkan untuk membunuh seorang kafir dzimmiy, yakni mata-matanya Abu
Sofyan [Furat bin Hayyan], kemudian sekelompok orang Anshor mendatangi Furat
bin Hayyan, lalu dia [Furat bin Hayyan] berkata, “Saya muslim!”. Kemudian para shahabat
berkata, “Dia telah bersumpah menjadi seorang muslim.”  Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya
ada seseorang dari kalian yang menolak keimanan mereka, dan sebagian dari
mereka itu adalah Furat bin Hayyan
.”
Hadits ini menunjukkan dengan jelas, bahwa Rasulullah saw memerintahkan
para shahabat untuk membunuh kafir dzimmiy yang melakukan tindak spionase
(tajassus).  Namun demikian, hal ini
hanya berhukum jaiz (boleh) bagi imam, tidak wajib seperti sanksi terhadap
kafir harbiy bila menjadi mata-mata. Dalil yang menyatakan bahwa sanksi bunuh
terhadap kafir dzimmiy jaiz (boleh) dan tidak wajib, adalah, hadits di atas
tidak memiliki qarinah yang bersifat jaazim (qarinah yang pasti).
Walhasil, hadits di atas
thalab-nya (tuntutannya) menjadi tidak pasti (ghairu jaazim).  Ada qarinah yang menunjukkan bahwa thalab
pada hadits itu tidak pasti (ghairu jaazim) yakni, nash hadits di atas
menunjukkan bahwa Rasulullah saw tidak langsung membunuh Furat bin Hayyan,
sekedar mengetahui bahwa ia adalah mata-mata, padahal kafir harbiy yang
disebutkan dalam hadits Salamah bin al-Akwa’, Rasulullah saw langsung
memerintah untuk membunuhnya sekedar setelah ditetapkan bahwa ia adalah mata-mata.   Rasulullah saw bersabda kepada kaum
muslimin, “Cari dan bunuhlah dia!”  Dalil ini menunjukkan, bahwa beliau tidak
langsung membunuhnya, padahal Rasulullah saw mengetahuinya bahwa ia adalah
kafir dzimmiy, dan ini tampak jelas dari lafadz hadits, “dan dia
adalah [kafir] dzimmiy, dan seorang mata-mata
”, yakni bahwa dia [Furat bin
Hayyan] telah diketahui oleh beliau saw.
Ini juga tampak jelas dari ucapan Rasulullah saw, “dan sebagian
dari mereka itu adalah Furat bin Hayyan
.”
Atas dasar itu, Rasulullah saw telah berkata kepada kafir harbiy yang
melakukan tindak tajassus, “Cari dan bunuhlah dia!”.
Sedangkan untuk Furat bin Hayyan beliau saw sekedar memerintahkan
untuk membunuhnya, namun tidak memerintahkan kaum muslimin untuk
mencarinya.  Ini menunjukkan dengan
jelas, ada perbedaan antara kedua riwayat tersebut; riwayat Salamah bin Akwa’
dengan Furat bin Hayyan.  Terhadap kafir
harbiy, maka tuntutan untuk membunuh bila mereka melakukan tindak spionase,
adalah tuntutan yang pasti (thalab jaazim), sedangkan tuntutan untuk membunuh kafir
dzimmiy, bukanlah tuntutan yang pasti (ghairu jaazim).  Ini menunjukkan bahwa membunuh mata-mata dari
kalangan kafir dzimmiy, atau tidak, hukumnya adalah jaiz (mubah)..
          Adapun bila seorang muslim memata-matai kaum muslimin dan kafir dzimmiy
untuk kepentingan musuh, maka ia tidak dibunuh.
Sebab, Rasulullah saw telah memerintah untuk membunuh kafir dzimiiy
[bila mereka melakukan tindak spionase], namun ketika ia menjadi muslim, maka hukuman
bunuh itu dibatalkan.  Rasulullah saw
telah memerintahkan untuk membunuh Furat bin Hayyan, seorang kafir dzimmiy
sekaligus sebagai mata-mata, namun ketika para shahabat berkata, Wahai Rasulullah, dia telah bersumpah menjadi seorang
muslim
.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya ada seseorang
dari kalian yang menolak keimanan mereka, dan sebagian dari mereka itu adalah
Furat bin Hayyan
.”  Walhasil, ‘illat dibatalkannya hukum bunuh, karena ia telah
menjadi seorang muslim.
Imam Bukhari meriwayatkan, “Dari ‘Ali
bin Abi Thalib ra berkata, “Rasulullah saw mengutusku, juga Zubeir, dan Miqdad
bin al-Aswad. Rasulullah saw bersabda, “Pergilah sampai ke kebun Khakh, dan
disana ada sekedup, dan didalamnya ada wanita yang membawa surat, maka ambillah
surat itu.  Kemudian kami berangkat dengan
menaiki kuda, hingga sampailah kami di kebun itu, kami menjumpai sekedup.  Kami berkata, “Keluarkan suratnya!”  Wanita itu menjawab, “Saya tidak memiliki
surat.”  Kami berkata, “Sungguh, engkau
keluarkan suratnya, atau kami akan singkap baju kamu!” Kemudian wanita itu
mengeluarkan surat itu dari gelung rambutnya.
Kemudian kamu memberikan surat itu kepada Rasulullah saw.  Ketika di dalamnya tertulis, “Dari Hathib bin
Abiy Balta’ah kepada penduduk Mekah. Dan ia mengabarkan sebagian perintah
Rasulullah saw.  Rasulullah saw berkata,
“Apa ini,  wahai Hathib?” Hathib berkata,
“Jangan tergesa-gesa terhadapku, Wahai Rasulullah!” Sesungguhnya aku [berbuat
semacam ini] untuk keluargaku di Mekah.
Sedangkan orang-orang yang bersama anda, yakni orang-orang Muhajirin mereka
memiliki kerabat dekat di Mekah yang bisa melindungi keluarga dan hartanya,
sedangkan aku tidak.  Maka aku melakukan
hal ini, agar mereka bisa melindungi kerabatku di Mekah.  Aku tidak melakukan ini untuk kekafiran, dan
aku tidak murtad, dan aku tidak ridlo dengan kekafiran setelah Islam.  Rasulullah saw bersabda, “Benarlah
engkau!”  ‘Umar berkata, “Wahai
Rasulullah, perintahkanlah aku untuk memenggal leher orang munafiq ini!”  Rasulullah saw bersabda, “Dia adalah orang
yang ikut di perang Badar, dan engkau tidak mengetahui bahwa Allah telah
memulyakan ahli badar, kemudian beliau saw bersabda, “Kerjakan, apa yang engkau
kehendaki, kalian telah aku maafkan!”
Hadits ini menceritakan bahwa
Hathib bin Abi Balta’ah telah memata-matai kaum muslimin, dan Rasulullah saw
tidak membunuhnya.  Ini menunjukkan,
bahwa bila seorang muslim melakukan tindak tajassus, maka ia tidak dijatuhi
sanksi bunuh.  Tidak bisa dikatakan,
bahwa hadits ini hanya khusus untuk ahli Badar, sebab, ‘illat  penafian hukuman bunuh bagi Hathib bin Abi
Balta’ah, karena ia  adalah ahli
Badar.  Tidak bisa dikatakan demikian,
sebab, walaupun nash ini berfaedah pada ta’lil (‘illat), dan walaupun redaksi
nash tersebut menunjukkan bahwa riwayat tersebut mengandung ‘illat, akan
tetapi, hadits riwayat Imam Ahmad dari Furat bin Hayyan — dimana hukuman bunuh
telah dibatalkan kepadanya karena ia masuk Islam; dan sebelumnya ia seorang
kafir dzimmiy– telah menafikan ‘illat pada hadits riwayat Imam Bukhari di
atas.  Riwayat Imam Ahmad ini  sekaligus telah menempatkan “‘illat” pada
hadits riwayat Bukhari tersebut, sebagai sifat dari sebuah fakta saja –bukan sebagai ‘illat–,  sebab, Furat bin Hayyan bukanlah
ahli Badar.
Tidak bisa dikatakan juga, bahwa hadits Furat bin Hayyan,
menurut Abu Dawud, dalam isnadnya terdapat Abu Himaam al-Dalaaliy Mohammad bin
Mujib.  Orang ini haditsnya tidak bisa
digunakan sebagai hujjah.   Selain itu,
Imam Ahmad meriwayatkan hadits itu dari jalan Sofyan
al-Tsauriy.  Tidak bisa dikatakan seperti itu,  sebab, Imam Ahmad meriwayatkan hadits ini
dari Sofyan Bisyr bin al-Sariy al-Bashariy, dan dia termasuk orang yang disepakati oleh Bukhari
dan Muslim.  Dengan demikian
hadits ini sah sebagai dalil.
Walhasil,  riwayat Imam
Ahmad tersebut diatas
bisa digunakan sebagai dalil, bahwa sanksi atas seorang muslim yang melakukan
tindak tajassus, tidaklah dibunuh.
Namun, ia diberi sanksi sebagaimana ketetapan yang dijatuhkan oleh
khalifah maupun qadliy.
Aktivitas tajassus yang dilakukan
oleh seorang muslim kepada kaum muslimin lainnya, bukan untuk kepentingan
musuh, namun sekedar memata-matai saja, maka syara’ tidak menetapkan sanksi
tertentu atas kema’shiyatan ini. Sanksi bagi seorang muslim yang mematai sesama
muslim adalah  saksi ta’ziiriyyah yang  kadarnya ditetapkan oleh seorang qadliy.[1]

 


[1]  Taqiyyuddin
al-Nabhani
, al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz II, ed.III, 1994,Daar al-Ummah, Beirut, Libanon, hal. 218.
SHARE

7 COMMENTS