Satu Visi, Seribu Konsepsi Hermeneutika

46
Oleh: Qaem Aulassyahied
Dalam studi al-Qur’an
kontemporer, Hermeneutika yang oleh Adnin Armas dikatakan merupakan
perkembangan dari biblical
critism
, kini diupayakan oleh sebagian cendekiawan Islam untuk digunakan
dalam memahami al-Qur’an. Asumsinya, ilmu tafsir sudah tidak bisa lagi membawa
fungsi al-Qur’an sebagai petunjuk universal bagi segala ruang dan waktu.
Buktinya, dengan Hermeneutika, studi bibel jauh lebih maju dibanding studi al-Qur’an.
oleh karenanya menerapkan hermeneutika pada al-Qur’an adalah sebuah keniscayaan
demi kemajuan Islam. Namun demikian, yang menjadi persoalan, Konsep
Hermeneutika seperti apa yang ingin diterapkan dalam memahami al-Qur’an?
Sebelum membahas lebih jauh pembicaraan
tersebut. Terlebih dahulu dijelaskan Hermeneutika dalam tataran umum. Secara
etimologi, kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein, yang berarti
menafsirkan. Pada sejarahnya, kata tersebut berasal dari cerita mengenai dewa
Hermes yang bertugas untuk menyampaikan wahyu tuhan dari gunung olympuske,
untuk kemudian disampaikan pada manusia dengan sebelumnya diterjemahkan ke
bahasa yang difahami manusia. Berangkat dari situ, maka hermeneutika bisa
diungkapkan sebagai upaya menyampaikan teks dengan interpretasi yang bisa
dimengerti oleh si pendengar. Berdasarkan pengertian ini pula, maka
hermeneutika secara umum terdiri dari tiga unsur: (1) pesan atau teks yang
disampaikan,  (2) orang –baik itu seorang atau sekelompok-yang menerima
pesan dan (3) perantara atau yang membawa pesan.
Satu Visi, Seribu Konsepsi Hermeneutika
Pengertian secara umum atas arti
hermeneutika ini, ternyata tidak melahirkan satu konsep baku hermeneutika yang
disepakati. Setiap orang yang mencoba menafsirkan teks dengan menggunakan
hermeneutika, ternyata melahirkan konsepsinya masing-masing. Sebagai contoh F.
Scheleiermacher yang dianggap sebagai bapak Hermeneutika. Ia merumuskan konsep
Hermeneutikanya dengan dua kritik; kritik gramatikal dan kritik psikologis.
Baginya, seseorang tidak akan memahami teks dengan benar jika tidak memahami
makna kata itu secara gramatikal, juga tidak memahami psikologi orang yang
mengucapkan teks tersebut. sementara Gadamer lebih memfokuskan diri pada status
ontologis daripada pemamahaman itu sendri. Hermeneutika, menurut pandangannya,
tidak semata-mata berkaitan dengan metode yang selalu menentukan benar salahnya
suatu penafsiran. Sehingga, bila hermeneutika Scheleirmacher lebih bersifat
epistemologis, hermenetika Gadamer bersifat ontologis. Berlainan dengan itu,
Jurgen Habermas lebih berkonsentrasi pada bagaimana membuka selubung-selubung
penyebab adanya distorsi yang tersembunyi dalam pemahaman teks. Ia berpendapat
bahwa problem pemahaman tidak pada bahasa, namun lebih pada faktor-faktor
ekstralinguistik. Sehingga konsep Hermeneutik-nya lebih banyak mencurigai teks
karena sudah menyembunyikan arti sebenarnya.
 Penjelasan di atas menjadi
titik pemahaman awal bahwa para cendekiawan muslim yang mau menerapkan
hermeneutika pada al-Qur’an, juga pasti akan melahirkan konsepsi konsepsi yang
berbeda.  Mohammad Arkoun adalah salah satu cendekiawan muslim yang
merekomendasikan penggunaan Hermeneutika dalam memahami al-Qur’an. untuk itu,
Arkoun menawarkan metode Hermeneutika yang ternyata mengikuti metodologi John
Wansbrouguh. Dalam konsepnya, memahami al-Qur’an harus dengan metode
antropologis-hostoris. Untuk itu, maka al-Qur’an terlebih dahulu harus
dipandang bukan kalam Ilahi, karena Ia menyadari jika pendekatan historisitas
digunakan maka akan menantang segala bentuk pensakralan dan penafsiran
transenden, yang olehnya dianggap  buatan teolog tradisional. Oleh
karenanya, ia membagi dua peringkat wahyu. Pertama al-Qur’an sebagaiumm
al-kitab
 yang merupakan
kitab langit, wahyu yang sempurna di mana bibel dan al-Qur’an berasal. Kedua
adalah wahyu yang disebut “edisi dunia” yang menurutnya, pada peringkat ini,
wahyu telah mengalami modifikasi, revisi dan subsitusi. Ia mencontohkan mushaf
utsmani yang tak lain hanyalah hasil sosial budaya masyarakat yang disebabkan
oleh kekuatan dan pemaksaan dari penguasa resmi ketika itu.
Berbeda dengan Arkoun, Nasr Hamid
Abu Zaid mencoba memahami al-Qur’an dengan konsep hermeneutikanya yang
didasarkan pada metode kritik sastra. Untuk menerapkan metode ini, maka
al-Qur’an juga perlu ditempatkan sebagai teks biasa. Oleh karenanya dia
berpendapat bahwa wahyu tuhan setelah melewati proses tanzil maka tidak lagi menjadi teks tuhan,
melainkan teks manusia. Sebab tuhan harus menggunakan bahasa manusia dalam
menyampaikan wahyunya agar manusia dapat mengerti. Pada akhirnya Nasr Hamid
berkesimpulan bahwa al-Qur’an terbentuk dalam realitas dan budaya selama lebih
dari 20 tahun. Ia adalah produk budaya juga sekaligus produsen budaya.
Realita di atas memberikan
kesimpulan bahwa, tidak adanya penggunaan metode yang baku dalam menafsirkan
sebuah teks adalah konsekuensi atas penggunaan hermeneutika. Akibatnya,
Hermeneutika tidak mengenal ayat yang qath’i
wurud wa dilalah
. Setiap ayat bisa ditafsirkan dengan macam tafsiran
sesuai konsep hermeneutika yang digunakan. Hal ini, jika mau dibandingkan
dengan ilmu tafsir maka tentu tidak sama. Dalam ilmu tafsir, meski
pendekatannya bisa bermacam-macam –sebut saja tafsir
bi al-ilmi, bi al-ijtima’i, bi al-adabi
– tapi terhadap ayat yang sudah qathi al-wurud wa ad-dilalah akan melahirkan tafsiran yang sama.
Contohnya tidak ada seorang mufassir muslim terkemuka sejak 1400 tahun yang
lalu hingga sekarang, berpendapat bahwa Nabi Isa as mati di tiang salib dan
tuhan Yang Esa itu terdiri dari tiga (trinitas).
Setidaknya, dari berbagai macam konsepsi
Hermeneutika yang diterapkan dalam al-Qur’an, mereka mempunyai satu visi yang
sama yaitu menjadikan al-Qur’an sebagai teks biasa sehingga penafsirannya
relatif dan bisa dibawa kemana saja sesuai kemauan penafsirnya. Akhirnya
al-Qur’an bukan lagi petunjuk Ilahi, tapi petunjuk dari si pengguna
hermeneutiknya.
SHARE