Sengaja Mencicipi Makanan Saat Puasa, Bagaimana Hukumnya?

199

Hukum Mencicipi Makanan Saat Puasa – Sebagai bulan yang penuh berkah, Ramadhan dijadikan ajang perlombaan bagi kaum muslimin untuk melakukan amal shaleh. Bentuknya pun beragam, mulai dari berinfaq, membaca al-Qur’an, ‘itikaf di masjid, dan sebagainya.

Salah satu amal yang -mungkin- sudah menjadi tradisi di kalangan kaum muslimin adalah berbagi makanan kepada sesama. Baik untuk keperluan sahur, berbuka bersama di masjid, berbagi dengan para du’afa dan anak yatim, atau mengundang sanak kerabat untuk sama berbuka di rumah. Sebab berbuka adalah momen yang membahagiakan bagi orang yang berpuasa. Rasulallah saw bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya (HR. al-Bukhari no. 1904, 5927, dan Muslim no. 1151).”

Namun sebagian kaum Muslimin -terutama orang yang bertugas menyajikan hidangan- merasa perlu untuk mencicipi masakan yang sedang dibuat guna memastikan rasa dan komposisi bumbu. Hal ini juga dirasa penting bagi umat Islam yang berjualan makanan untuk keperluan berbuka puasa. Akan tetapi sebagian dari mereka merasa bingung terkait dengan hukum dan ketentuan mencicipi makanan bagi orang yang berpuasa.

Lalu bagaimana hukum mencicipi makanan bagi orang yang puasa?

Hukum Mencicipi Makanan Saat Puasa
Mencicipi Makanan Saat Puasa

Di kalangan fukaha, tidak ada perselisihan tentang sahnya puasa seseorang yang mencicipi makanan. Sebagian lainnya mensyaratkan adanya hajat/keperluan terhadap hal tersebut. Namun syarat adanya hajat adalah sebagai kehati-hatian semata agar orang yang berpuasa dapat secara maksimal menjaga diri dari hal yang berpotensi membatalkan puasanya. Suatu riwayat dari Ibnu ‘Abbas menyatakan:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ جَابِرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَا بَأْسَ أَنْ يَذُوقَ الْخَلَّ أَوِ الشَّيْءَ مَا لَمْ يَدْخُلْ حَلْقَهُ وَهُوَ صَائِمٌ

“Waqi’ telah menceritakan kepada kami, dari Israil, dari Jabir, dari ‘Atho, dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata: ‘Tidak mengapa seseorang yang sedang berpuasa mencicipi cuka atau sesuatu (makanan) selama tidak masuk ke kerongkongannya (H.R. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, no. 9277. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab al-Irwa’ no 937).”

Penulis kitab Umdah al-Qaari mengutip pendapat/penjelasan lain dari Ibnu ‘Abbas: 

وَقَالَ ابْن عَبَّاس لَا بَأْس أَن تمضغ الصائمة لصبيها الطَّعَام وَهُوَ قَول الْحسن الْبَصْرِيّ وَالنَّخَعِيّ

“Ibnu ‘Abbas berkata: ‘Tidak mengapa seorang wanita yang sedang berpuasa mengunyah makanan untuk anak bayinya. Imam al-Hasan al-Bashri dan Imam an-Nakha’I juga berpendapat demikian (‘Umdah al-Qaari Syarh Shahih al-Bukhari, XI: 12).”

Berdasarkan keterangan di atas, mencicipi makanan adalah dibolehkan selama tidak masuk ke tenggorokan. Bahkan dalam riwayat yang lain, Ibnu ‘Abbas tidak menganggap sebagai sebuah perkara yang membatalkan puasa apabila ada seorang ibu yang mengunyah makanan untuk anak bayinya. Meskipun demikian, Imam Malik tidak menyukai apabila seorang yang berpuasa mencicipi makanan. 

وقال مالك أكرهه ولا يفطر إن لم يدخل حلقه

“Imam Malik berkata: ‘Aku tidak menyukainya (orang berpuasa mencicipi makanan –pent), namun puasanya tidak batal jika (makanan) tidak masuk ke kerongkongannya (at-Taudlih Li Syarh al-Jami’ ash-Shahih, XIII: 201).”

Oleh karenanya, seseorang yang hendak mencicipi makanan harus berhati-hati agar tidak masuk ke dalam tenggorokannya. Dengan kata lain, ia hanya boleh mencicipi sebatas lidah dan atau mulutnya kemudian mengeluarkannya kembali. Jika ia khawatir terhadap puasanya, maka tidak dianjurkan untuk melakukan hal ini.

Lalu bagaimana jika makanan yang ia rasa tertelan secara tidak sengaja karena suatu sebab -misal karena kaget atau lupa-? Apakah hal ini membatalkan puasanya? Suatu riwayat dari Ibnu ‘Abbas menerangkan:

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Dari ‘Ubaid bin ‘Umair, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi saw bersabda: ‘Sesungguhnya Allah memaafkan kesalahan (yang tanpa sengaja) dan (kesalahan karena) lupa dari umatku serta kesalahan yang terpaksa dilakukan [Dirwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 2045), al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra (VII/356-357), al-Hakim (II/198). Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab al-Irwa’ (no. 82)].”

Dalam riwayat yang lain, Rasulallah saw bersabda:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah beliau berkata; Rasulallah saw bersabda: ‘Siapa saja yang lupa ketika puasa kemudian makan atau minum maka hendaknya dia sempurnakan puasanya, karena Allah lah yang telah memberinya makan atau minum (Muttafaq ‘Alaih).”

Baca Juga:

Hukum Keluar Mani Karena Mimpi Ketika Puasa Ramadhan
Hukum Menggunakan Pasta Gigi Di Siang Hari Saat Puasa Ramadhan
Begini Jadinya saat Berbohong Ketika Puasa, Sebaiknya Hindari!

Kedua riwayat diatas menerangkan bahwa orang lupa saat puasa -baik wajib atau puasa sunnah- tidak wajib meng-qadla (mengganti di hari yang lain) menurut pendapat mayoritas ulama. Hal ini juga berdasarkan keumuman dalil dimaafkannya orang yang lupa dalam pelaksanaan syari’at, dan dalam kasus puasa ia tidak diwajibkan untuk mengqadla-nya pada hari yang lain. Wallahu ‘alam bi ash-shawab.

SHARE