Seputar Ukhuwah Islamiyah

53
Muqaddimah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengan beberapa
tujuan besar. Diantara tujuan diutusnya beliau adalah untuk memenangkan Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ
الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى
الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan
membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkannya di atas segala agama
meskipun orang-orang musyrik membenci.” (QS. At Taubah [9]: 33 dan Ash Shaff [61]: 9)

Memperjuangkan Islam hingga mencapai kemenangannya dan mengungguli
semua agama yang ada tentulah membutuhkan kekuatan dan diantara bentuk kekuatan
yang dibutuhkan selain kekuatan iman adalah kekuatan rijal dalam jumlah
dan kualitas serta kekuatan persaudaraan dan persatuan diantara mereka.

Bangsa Arab – yang di tengah-tengah mereka diutus Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam – sebelum Islam menjadi agama mereka adalah
bangsa yang tidak pernah diperhitungkan dan dikhawatirkan ancamannya oleh
bangsa-bangsa lain di masa itu. Itu disebabkan karena bangsa Arab adalah bangsa
yang berpecah belah yang disibukkan dengan peperangan dan permusuhan diantara
mereka yang menyebabkan lemahnya mereka.

Setelah Islam mewarnai kehidupan mereka tiba-tiba mereka menjadi
bangsa yang kuat. Surat-surat yang dikirimkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam kepada raja-raja besar di zaman itu pada awalnya mengagetkan mereka,
bagaimana mungkin bangsa yang lemah mengajak mereka untuk mengikuti agamanya
dan tunduk kepada pemimpinnya? Mereka tidak menyangka bahwa bangsa Arab yang
telah memeluk Islam kini menjadi bangsa yang kuat dengan iman mereka dan dengan
ukhuwah serta persatuan diantara mereka hingga pada gilirannya pusat-pusat
kekuasaan besar di dunia ketika itu – Persia di timur dan Romawi di barat
–  tumbang dan jatuh ke tangan kaum
muslimin. Negeri Persia dikuasai kaum muslimin di zaman kekhalifahan Umar bin
Khattab radliyallahu ‘anhu dan 
Konstantinopel ibu kota kerajaan Romawi jatuh ke tangan kaum Muslimin
pada abad ke 8 Hijriyah di tangan Muhammad Al Fatih. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:

وَأَطِيعُوا
اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan
janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan
hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar.” (QS. Al Anfaal [8]: 46)
Ukhuwah
Islamiyah
1. Asas
Ukhuwah

Dasar dari ukhuwah adalah keimanan sebab ikatan persaudaraan yang
paling kuat adalah yang diikat
oleh iman, dia bahkan lebih kuat dari
persaudaraan yang diikat oleh darah dan nasab

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al Hujuraat [49]: 10).
Iman akan sempurna jika dibangun di atas pondasi saling mencintai
karena Allah, dengan demikian ukhuwah yang kuat adalah ukhuwah yang didasari atas
dasar saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ
تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا
فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidak akan
sempurna iman kalian sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan
kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai ? Sebarkanlah
salam diantara kalian.” (HR. Muslim, Kitab Iman Bab Penjelasan bahwa
sesungguhnya tdiak akan masuk surge kecuali orang-orang yang beriman, mencintai
orang-orang beriman merupakan bagian dari keimanan dan menebarkan salam
merupakan salah satu sebab untuk mewujudkan hal tersebut, no. 54).

2. Keutuman
ukhuwah dan mahabbah fillah

Syarat
sempurnanya iman. Dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari
kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk
dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mendapatkan
cinta Allah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى
فَأَرْصَدَ اللَّهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَقَالَ لَهُ أَيْنَ تَذْهَبُ
قَالَ أَزُورُ أَخًا لِي فِي اللَّهِ فِي قَرْيَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ هَلْ لَهُ
عَلَيْكَ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ وَلَكِنَّنِي أَحْبَبْتُهُ فِي
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ أَنَّ اللَّهَ
قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bahwasanya seorang laki-laki menziarahi (mengunjungi) saudaranya di
kampung lain lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk mengikutinya di
jalannya. Ketika malaikat itu mendatanginya dia berakata: “Mau kemana engkau?”
Orang itu menjawab: “Saya ingin menziarahi saudaraku fillah di kampung fulan.”
Malaikat berkata: “Apakah karena satu kebaikan yang ingin kau balas?” Orang itu
berkata: “Tidak, akan tetapi aku mencintainya karena Allah Azza wa Jalla.”
Malaikat berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah  kepadamu untuk menyampaikan bahwasanya Allah
mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karenaNya.” (HR. Muslim, Bab
Keutamaan cinta karena Allah, no 2567).
Berada di
atas mimbar-mimbar cahaya yang diinginkan oleh para Nabi dan syuhada. Dari
Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
الْمُتَحَابُّونَ
فِي جَلاَلِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ النَّبِيُّونَ
وَالشُّهَدَاءُ

“Orang yang saling mencintai dalam keagunganKu
bagi mereka mimbar-mimbar (tempat-tempat yang tinggi) dari cahaya. Para Nabi
dan para syuhada sangat menginginkan (keadaan seperti) mereka.” (HR. Tirmidzi,
no. 2390 dan dishahihkan oleh Al Albani).

Mendapat
naungan Allah di hari kiamat.

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ
الْمُتَحَابُّونَ بِجَلالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لا ظِلَّ إِلاَّ
ظِلِّي

“Sesungguhnya Allah berfirman pad hari kiamat:
Mana orang yang saling mencintai karena keagunganKu? Pada hari ini Aku akan
menaungi mereka dengan naunganKu  di hari
yang tidak ada naungan kecuali naunganKu.” (HR. Muslim, no. 2566).

Juga hadits tentang 7 golongan yang mendapakan naungan Allah pada
hari kiamat yang salah satunya adalah “dua orang yang saling mencintai karena
Allah, mereka bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah.”

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ
اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ وَشَابٌّ
نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ
تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ
امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ
بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ
ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

(HR. Bukhari, no 1423  dan
Muslim, no. 1031. Lafadz Bukhari).

Ikatan
iman yang paling kuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى الإِيمَانِ: الْمُوَالاةُ فِي
اللَّهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللَّهِ، وَالْحُبُّ فِي اللَّهِ، وَالْبُغْضُ فِي
اللَّهِ.
“Ikatan iman yang paling kuat adalah saling memberikan loyalitas
karena Allah dan memusuhi karena Allah dan cinta karena Allah dan benci karena
Allah.” (HR. Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah al Ahaadits
ash Shohiha, no. 998 dan 1728).
3. Tahapan –
tahapan dalam merajut ukhuwah yang kuat

Untuk melahirkan ukhuwah yang kuat diperlukan langkah-langkah
berikut: dimulai dengan
perkenalan dari perkenalan akan terjadi interaksi dan
pergaulan. Sering berinteraksi akan melahirkan
saling memahami akan karakter
dan sifat masing-masing sehingga masing-masing berinteraksi
dengan saudaranya
dengan memperhatikan karakter dan sifat yang terdapat pada diri saudaranya
tersebut. Pergaulan dan muamalah hasanah akan melahirkan ta-aluf (ikatan hati)
dan jika hati telah
dekat dan bersatu akan melahirkan kerjasama dan saling
menolong bahkan sampai pada tingkat rela
berkorban untuk saudaranya.


4.   Tingkatan-tingkatan
ukhuwah

Kelapangan
dada terhadap saudara, diantara bentuk kelapangan dada:
Tidak ada
iri dan dengki terhadap saudara. Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا
يجتمعان في قلب عبد الإيمان والحسد
“Tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba
iman dan kedengkian.” (HR. Ahmad, Al Hakim dan Nasai. Hadits ini disahihkan
oleh Al Albani dalam Shahih al Jaami’ ash Shoghir, no. 7620).
–  
Memaafkan
kesalahan-kesalahan saudara
Dalam peristiwa haditsah al-ifk Misthah radliyallahu ‘anhu termasuk
salah seorang dari kaum mu’minin yang termakan fitnah yang ditiupkan oleh orang-orang
munafik. Dia seorang muhajir dan ahli Badar sebagaimana juga miskin sehingga
kehidupannya ditangung oleh Abu Bakar radliyallahu ‘anhu. Ketika Allah
menurunkan ayat yang menjelaskan kesucian Aisyah radliyallahu ‘anhu dari segala
fitnah tersebut, Abu Bakar bersumpah untuk memutuskan bentuannya kepada Misthah
yang ikut termakan fitnah terhadap putrinya, maka Allah menurunkan ayat tentang
itu:
وَلا يَأْتَلِ
أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ
وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ
أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan
di antara kamu bersumpah bahwa mereka 
tidak akan memberi  kepada kaum
kerabat, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan
Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak
ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang” (QS. 24:22) maka Abu Bakar pun langsung membatalkan sumpahnya dengan
membayar kaffarah sumpah.
–  
Tidak ada
dendam.
ú  Murid-murid Imam Ahmad pernah berkata kepadanya:
“Bolehkah kami mengambil hadits dari Abu Manshur Ath Thusi?” berkata Ahmad:
“Kalau bukan darinya dari siapa lagi kalian akan mengambil hadits?” Mereka
berkata: “Sesungguhnya dia telah berbicara tentang (keburukan) anda.” Berkata
Ahmad: “Dia adalah seorang yang shaleh namun kita menjadi ujian baginya.”
ú  Pernah terjadi sesuatu antara Hasan bin Hasan
bin Ali bin Abi Thalib dengan Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib sehingga
Hasan bin Hasan mendatangi Ali bin Husain di majelisnya dihadapan
murid-muridnya dan menghujatnya. Ali bin Husain hanya diam mendengar hujatan
saudaranya terhadapnya hingga dia menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya
lalu pergi. Tak lama kemudian Ali bin Husain mendatangi Hasan bin Hasan di
rumahnya dan berkata: “Jika semua yang engkau katakan tadi benar adanya semoga
Allah mengampuniku dan jika semua yang engkau katakan tadi tidak benar semoga
Allah mengampunimu.” Maka Hasan bin Hasan mengejar Ali bin Husain dan meminta
maaf kepadanya.
2)     
Suka untuk
saudaranya apa yang dia suka untuk dirinya, perwujudannya:
–  
Membantu
saudara, ada dua tingkatan:
ú   Memberikan bantuan ketika diminta dan mampu
untuk membantu disertai dengan wajah yang cerah (tidak menunjukkan rasa berat).
ú   Memberikan bantuan tanpa diminta.
–  
Memberikan
nasehat, disebutkan dalam perkataan hikmah “saudaramu adalah orang yang berkata
benar kepadamu (jika engkau benar dia katakan benar dan jika engkau salah dia
katakan salah) bukan orang yang selalu membenarkan segala tindakanmu.”
–  
Mendoakan.
Dari Abu Darda radliyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ
الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا
لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya dalam keadaan tidak diketahuinya
dikabulkan, di sisi kepalanya ada malaikat yang diwakilkan, setiap kali dia
doakan saudaranya maka malaikat itu mengucapkan “amin, dan untukmu seperti itu
pula”. (HR. Muslim, no. 2733).
–  
Menjaga
kehormatannya yaitu dengan tidak mengghibahnya, memfitnahnya bahkan jika ada
orang yang mencela saudaranya dia akan membelanya. Dalam perjalanan ke perang
Tabuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari Ka’ab bin Malik,
فَقَالَ وَهُوَ
جَالِسٌ فِي الْقَوْمِ بِتَبُوكَ: “مَا فَعَلَ كَعْبٌ؟” فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ
بَنِي سَلِمَةَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ حَبَسَهُ بُرْدَاهُ وَنَظَرُهُ فِي عِطْفِهِ”.
فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ: “بِئْسَ مَا قُلْتَ، وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ
مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ إِلاَّ خَيْرًا”، فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
maka seorang laki-laki dari Bani Salimah berkata: “Berat atasnya
pakaiannya ya Rasulullah.” (maksudnya dia tidak mampu meninggalkan kenikmatan
di Madinah untuk pergi berjihad). Mendengar itu Mu’adz bin Jabal berkata orang
tersebut: “Alangkah buruk apa yang engkau katakan, kami tidak mengetahui
darinya kecuali kebaikan (mungkin  dia
terhalang udzur). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam.” (HR
Bukhari, no. 4418 dan 2769).
3)     
Mengutamakan
saudaranya di atas dirinya sendiri.
وَالَّذِينَ
تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ
وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ
وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah
dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka
(Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka
(Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin), atas diri mereka sendiri
, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan
siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang
beruntung.” (QS. Al Hasyr [59]: 9).
–  
Bukhari
(3798,4889), Muslim (2054) dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman (3203) meriwayatkan
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ، قَالَ: أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَصَابَنِي جَهْدٌ، فَأَرْسَلَ إِلَى نِسَائِهِ فَلَمْ
يَجِدْ عِنْدَهُنَّ شَيْئًا، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
” أَلا رَجُلٌ يُضَيِّفُهُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ رَحِمَهُ اللهُ”، فَقَامَ
رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ، فَقَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ، فَذَهَبَ إِلَى أَهْلِهِ،
فَقَالَ لامْرَأَتِهِ: ضَيْفُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا
تَدَّخِرِيهِ شَيْئًا، قَالَتْ: وَاللهِ مَا عِنْدِي إِلاّ قُوتُ الصِّبْيَةِ، قَالَ:
فَإِذَا أَرَادَ الصِّبْيَةُ الْعَشَاءَ فَنَوِّمِيهِمْ وَتَعَالَيْ، فَأَطْفِئِي السِّرَاجَ،
وَنَطْوِي بُطُونَنَا اللَّيْلَةَ، فَفَعَلَتْ ثُمَّ غَدَا الرَّجُلُ عَلَى رَسُولِ
اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “لَقَدْ عَجِبَ اللهُ – أوْ
ضَحِكَ اللهُ – مِنْ فُلانٍ وَفُلانَةٍ، فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَيُؤْثِرُونَ
عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ} [الحشر: 9] “
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallalahu
‘alaihi wa sallam pernah kedatangan tamu yang kelaparan pada suatu malam maka
beliau bertanya kepada istri-istri beliau kalau-kalau diantara mereka ada yang
mempunyai makanan, ketika beliau tahu bahwa tidak ada seorang pun diantara
istri beliau yang mempunyai makanan beliau menawarkan kepada para sahabat untuk
melayanai tamu beliau tersebut. Abu Thalhah lalu menawarkan dirinya, diapun
segera ke rumahnya dan munyampaikannya kepada istrinya, istrinya berkata bahwa
mereka hanya punya makanan untuk anak-anak mereka malam itu. Abu Thalhah lalu
menyuruh istrinya untuk menidurkan anak-anaknya ketika waktu makan malam tiba
dan mematikan pelitanya lalu mengajak tamu Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa
sallam makan dalam kegelapan sementara Abu Thalhah dan istrinya  sendiri 
tidak makan. Keesokan harinya Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Sungguh Allah kagum dengan apa yang dilakukan fulan dan fulanah
(semalam).” Dan Allah menurunkan ayat: “dan mereka mengutamakan saudara mereka
di atas diri mereka sendiri meskipun mereka sendiri dalam keadaan sempit” (QS.
Al Hasyr [59]: 9).
–  
Setelah
perang Yarmuk selesai berkecamuk tergeletak 3000 prajurit muslim diantara
mereka ada yang terluka dan ada pula yang syahid. Diantara yang terluka
terdapat Al Harits bin Hisyam, ‘Ikrimah bin Abi Jahl dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah.
Maka Al Harits meminta air untuk minum, ketika air dibawakan kepadanya dia
melihat ‘Ikrimah memandang kepadanya maka diapun berisyarat agar itu diberikan
kepada ‘Ikrimah, ketika air dibawa kepada Ikrimah dia melihat ‘Ayyasy memandang
kepadanya maka diapun berisyarat agar air itu dibawa kepada ‘Ayyasy, ketika air
itu dibawakan kepada ‘Ayyasy ternyata dia telah meninggal sebelum sempat
meneguknya dan ternyata al Harits dan ‘Ikrimah pun juga telah meninggal dunia.
Tidak seorangpun diantara mereka yang meminum air tersebut sampai mereka syahid
karena mengutamakan saudaranya.
5.     
Kesimpulan
Saling mencintai karena Allah akan melahirkan ukhuwah (persaudaraan)
di jalan |Allah lalu ukhuwah dan persatuan akan melahirkan kekuatan untuk
selanjutnya mendapatkan janji Allah di dunia yaitu kemenangan sehingga
tercapailah salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam yaitu menjadikan Islam sebagai agama tertinggi di atas seluruh agama,
nilai dan ajaran yang ada di muka bumi ini.
SHARE

2 COMMENTS