Tata Cara Niat Sholat Jumat Yang benar

104
Pengertian Shalat Jum’at dan Dasar Hukumnya
Pengertian shalat Jum’at menurut etimologi berarti
perkumpulan, perhimpunan, persahabatan, kerukunan dan persatuan disamping juga
berarti pekan dan segenggam. Shalat Jum’at secara terminologi adalah shalat
fardhu dua rakaat yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim, setiap hari Jum’at
diwaktu dhuhur yang diawali dengan dua khutbah dan dilakukan dengan berjamaah.

Shalat Jum’at adalah salat fardhu yang diwajibkan bagi seluruh muslim laki-laki. Disebut shalat Jumat karena dilakukan setiap hari Jum’at dan waktu pelaksanaannya pada waktu dhuhur tiba. Karenanya, shalat Jum’at sekaligus menjadi pengganti salat Dzuhur. Dalam arti, orang yang sudah melakukan solat Jum’at bukan hanya tidak perlu lagi melakukan sholat dhuhur, tapi tidak boleh menambah dengan shalat dhuhur..
Walaupun sebagai pengganti salat dzuhur, salat Jum’at memiliki tata cara yang khas. Diawali dengan khutbah dan diakhiri dengan salat dua rakaat yang dilakukan secara berjamaah.
Dasar hukum shalat Jum’at dalam Al-Quran
Menurut Ulama Fiqh landasan hukum diwajibkannya
shalat  Jum’at  bagi
setiap  pribadi  muslim
adalah  firman  Allah SWT. dalam surat al- Jum’ah ayat 9-10,
yang berbunyi :
hukum Sholat Jumat Yang benar

Artinya “Hai
orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan   shalat
Jum’at   maka   bersegeralah   kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan
jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila
telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan
carilah karunia dari Allah. Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung
”.

Pada kata “ﷲﺍﺮﻛﺫﱃﺍﻮﻌﺳﺎﻓ
“ Allah swt menggunakan lafadz amar (perintah) untuk segera menunaikan shalat
Jum’at. Lafadz perintah  dalam  ilmu
ushul  fiqh  menunjukkan
kepada  hukum wajib. Hal ini
diperkuat lagi dengan larangan Allah untuk melakukan  aktivitas
apapun  jika  waktu
shalat  Jum’at  sudah masuk. Seperti segera meninggalkan jual
beli sebagaimana tercantum dalam surat tersebut.
Dasar hukum shalat Jum’at dalam al-Hadits
Dasar hukum shalat Jum’at dari hadits Rasulullah di
antaranya hadits riwayat Imam Abu Daud yang berbunyi : 

Hadis Sholat Jumat Yang benar

Artinya: Dari
Thorik bin Syihab, Rosullah saw bersabda: Shalat Jum’at wajib dilaksanakan
dengan berjamaah bagi setiaporang muslim kecuali empat macam orang, yaitu hamba
yang   dimiliki, wanita, anak-anak dan orang
sakit
”.

Berdasarkan dalil-dalil di atas ulama fiqh sepakat
menyatakan bahwa shalat Jum’at hukumnya fardlu ain (kewajiban bagi setiap
pribadi muslim) kecuali bagi hamba yang dimiliki, wanita, anak-anak, orang
sakit dan tidak adanya uzur yang menghalangi dilaksanakannya shalat Jum’at
seperti adanya hujan yang sangat lebat.
 
Syarat
Wajib Sholat Jum’at Menurut Jumhur Ulama
Orang Islam yang ingin melaksanakan shalat Jum’at
harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Di dalam shalat Jum’at terdapat
beberapa syarat baik ditinjau dari segi kewajiban untuk mengerjakan  maupun
dari  segi  sahnya
perbuatan  shalat  Jum’at tersebut. Adapun  syarat-syarat
wajib  shalat  Jum’at
menurut  jumhur ulama’ adalah
sebagai berikut :
1)  Islam,
tidak wajib Jum’at atas orang selain Islam
2)  Baligh
(dewasa),  tidak wajib Jum’at atas
anak-anak
3)  Berakal,
tidak wajib Jum’at atas orang-orang bodoh atau orang gila.
4)
Laki-laki,  tidak wajib atas
perempuan
5)  Sehat,
tidak wajib Jum’at atas orang sakit
6) Bertempat dalam negeri, tidak wajib Jum’at atas
orang yang sedang dalam perjalanan.
7) Merdeka
Syarat
Sah Sholat Jumat
1)Hendaklah diadakan dalam negeri yang tetap yang
telah dijadikan wathan (tempat-tempat), baik di kota-kota maupun di tempat
kampung (desa-desa), Maka tidak sah mendirikan shalat Jum’at di ladang-ladang
yang penduduknya hanya tinggal di sana untuk sementara waktu saja.
2)Berjamaah, karena tidak pernah di masa Rasulullah
saw shalat Jum’at dilakukan sendiri-sendiri. Sekurang-kurangnya bilangan jamaah
Jum’at menurut sebagian pendapat ulama adalah empat puluh orang dewasa dari
penduduk negeri. Ulama yang lain mengatakan lebih dari empat puluh dan setengah
lagi ulama berpendapat cukup dua orang saja, karena sudah berjamaah.
3) Hendaklah dikerjakan diwaktu zhuhur.
4) Hendaklah shalat Jum’at itu didahului dua
khutbah.
 
Rukun
Shalat Jum’at
Sama halnya dengan syarat-syarat shalat Jum’at di
atas, rukun-rukun (fardlu) shalat Jum’at tidak berbeda dengan rukun- rukun
shalat maktubah yang lain. Para ulama’pun beragam dalam memformulasikan
rukun-rukun shalat   Jum’at tersebut.
Rukun ini oleh Syafi’i dibagi kepada dua klasifikasi, fi’liyah dan qauliyah.
Rukun fi’liyah merupakan sesuatu rukun yang sifatnya gerakan- gerakan tertentu
oleh mushalli. Sedangkan rukun qauliyah adalah ucapan-ucapan tertentu dalam
shalat. Adapun rukun shalat Jum’at adalah sebagai berikut:
1)  Khutbah
dua kali yang duduk diantara keduanya
2)  Shalat dua
raka’at, dengan berjama’ah
Rukun
khutbah yang harus dilakukan
Memuji
kepada  Allah  dengan
melafadkan kata-kata pujian
Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad
Berwasiat kepada hadirin untuk taqwa
Mendo’akan kepada semua orang mukmin
Membaca al-Qur’an.
Syarat-syarat  khatib
sebelum  khutbah dilaksanakan
Sudah masuk waktunya
Mendahulukan
dua  khutbah  sebelum
shalat Jum’at
Berdiri dalam khutbah
Duduk diantara kedua khutbah, serta tenang
Suci dari hadats dan najis pada pakaian, badan dan
tempat
Diucapkan dalam bahasa Arab (dalam rukun khutbah)Buka juga : Daftar Khutbah Jumat

Ketentuan
bagi yang Meninggalkan Shalat Jumat
Setelah kita memahami dasar shalat Jum’at adalah
fardu ain (kewajiban pada setiap pribadi orang Islam) maka ketentuan hukum
orang yang meninggalkan shalat jum’at adalah dianggap kafir oleh ulama fiqh.
Shalat jum’at ditetapkan berdasarkan dalil qot’i (pasti) dan shalat Jumat
merupakan shalat yang bernilai tinggi dari shalat-shalat fardu lainnya, shalat Jum’at
bukan merupakan kewajiban tersendiri dalam ajaran Islam ,oleh sebab itu shalat
Jum’at tidak bisa di laksanakan dengan niat shalat dzuhur, hal ini diperkuat
lagi dengan larangan Allah untuk melaksanakan aktivitas apapun jika waktu
shalat Jum’at sudah masuk.hal ini telah di jelaskan di
dalam al-Quran dalam surat Jum’at ayat 9-10 yang berbunyi :
Tata Cara Niat Sholat Jumat Yang benar
Artinya : “Hai
orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan
jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila
telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah
karunia dari Allah. Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung
”.
Dalam hadis juga di terangkan :
bacaan Sholat Jumat Yang benar

 

Artinya :“ Barang
siapa yang meninggalkan shalat Jum’at 3 kali dengan meremehkan, sungguh Allah
telah mencap (menutup) atas hatinya
”. (HR. Abu Daud).
Dan sabda Nabi saw : 

Tata Cara Niat Sholat Jumat Yang benar

 

Artinya: Hendaklah
kaum itu menghabiskan kasih sayangnya dalam berjamaah atau menghendaki Allah menutup
hati-hati mereka, kemudian mereka termasuk orang-orang yang lalai
”.
Hadits-hadits
ini  memberi  pengertian
bahwa  apabila  seseorang tidak menghadiri jamaah Jum’at 3 kali berturut-turut sebagaimana yang dipahami dalam hadits niscaya mata hatinya
ditutup oleh Allah dan  dicap kafir  sehingga
tidak  dapat  menerima
kebaikan  bahkan  yang
diterima adalah kekafiran belaka sebagaimana firman Allah dalam surat
al-Baqarah ayat 7 :
Artinya: “Allah
telah  mengunci  mati
hati-hati  dan  pendengaran mereka dan penglihatan mereka
ditutup, dan bagi mereka siksa yang berat
”.
Dan firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 155:
Tata Cara Niat Sholat Jumat Yang benar

 

Artinya: “Bahkan sebenarnya Allah telah mengunci mata
hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali bagian
kecil saja”.
Shahabat Ibnu Abbas r.a. telah menceritakan  bahwa
Nabi Muhamad Saw. Telah bersabda :
Tata Cara Niat Sholat Jumat Yang benar 

Artinya : “Barangsiapa yang meninggalkan shalat
Jum’at tanpa uzur (halangan), niscaya ia dicatat sebagai orang munafik dalam
sebuah kitab yang tidak dapat dihapus dan tidak dapat diganti. (Riwayat Imam
Syafi’i). Menurut hadits yang diketengahkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Nasa’i,
disebutkan  :  “Barang
siapa  yang  meninggalkan
shalat Jum’at tanpa uzur, maka hendaklah ia bersedekah sebanyak satu
Dinar, apabila ia tidak menemukan satu Dinar, maka dengan setengah Dinar”.
Hadits ini menekankan untuk menghadiri shalat Jum’at
dan mengancam kepada orang yang melalaikannya karena kesibukan mencari harta. Adapun tidak menghadiri jamaah Jum’at 3 kali
berturut- turut atau lebih karena udzur tentulah tidak dimasukkan ke dalam
golongan ini.
Daftar RujukanTim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi
Islam Indonesia, Jakarta: Penerbit Djambatan, 1992.

Abdul Azis Dahlan, (et al), Ensiklopedi Hukum
Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van
Hoeve, Cet. I, 1997.
Depag RI,
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: PT Tanjung Mas Inti 1922.
Bey Arifin dan A.Syinqity Djamaludin, terj. Sunan
Abu Daud, jilid II, Semarang :CV As-Syifa 1992.
A.Chodri
Romli, Permasalahan Shalat Jum’at, Surabaya : Pustaka Progessif, 1996.
Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Jakarta:
At-Thahiriyah, 1976.
Dalam Kamus Istilah Fiqh rukun berarti asas, sendi,
atau tiang yang dalam hal ini bermakna sesuatu yang menentukan syah (apabila dilakukan) dan tidaknya (apabila
ditinggalkan) suatu pekerjaan ibadah dan sesuatu itu termasuk dalam perkataan
itu. (M. Abdul Mujieb, Dkk., Kamus Istilah Fiqih, Jakarta: Pustaka Firdaus,
Cet. I, 1994.
Bahwasannya rukun dan fardlu adalah ungkapan yang
bermakna sama (Abd al-Rahman al-Jaziri) Ungkapan ini juga
dipakai oleh Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad Husaeni dalam mengemukakan fardlu-fardlu atau
rukun-rukun shalat. (Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad Husaeni, Kifayah
al-Akhyar, Juz I, Syirkah an-Nur Asiya, t.th).
M. Rifa’i, et al. terj. Kifayatul Akhyar,
Semarang:  Toha Putra , 1993.
Moh. Rifa’i, et al.,  Kifayatul Akhyar, Semarang: Toha Putra, 1989.
Mu’ammal Hamidi, et al., Nailul Authar, Terj.
Surabaya: Bina Ilmu, 1991.
Bahrun  Abu  Bakar,
Mahkota  Pokok-pokok  Hadits
Rasulullah  Saw.,  Jilid
I,  Terj. Bandung : CV. Sinar
Baru, 1993.
SHARE