Tujuan dan Dasar Pendidikan Islam

78
A. Pendahuluan
Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar
dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya
memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun
institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun
institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang
beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya
manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.
Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan
nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan
kondisi sebaliknya yang terjadi. Saat ini, banyak institusi pendidikan telah
berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis.
Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja
untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri,
perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap
sebagai sebuah investasi. Gelar dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan
secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai
keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik
yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan
menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab. Pendidikan yang
bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma
pendidikan Barat yang sekular.

 Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak
berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan.
Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya
dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan
nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada
kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya
moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi
pendidikan yang pragmatis. Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih
komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang
semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang
pragmatis.
Dalam makalah ini penulis berusaha menggali dan
mendeskripsikan tujuan dan sasaran pedidikan dalam Islam secara induktif dengan
melihat dalil-dalil naqli yang sudah ada dalam al-Qur’an maupun al-Hadits, juga
memadukannya dalam konteks kebutuhan dari masyarakat secara umum dalam
pendidikan, sehingga diharapkan tujuan dan sasaran pendidikan dalam Islam dapat
diaplikasikan pada wacana dan realita kekinian.
B. Pembahasan
B.1.
Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam
Memang tidak diragukan bahwa ide mengenai prinsip-prinsip dasar
pendidikan banyak tertuang dalam ayat-ayat al Qur’an dan hadits nabi. Dalam hal
ini akan dikemukakan ayat ayat atau hadits hadits yang dapat mewakili dan
mengandung ide tentang prinsip prinsip dasar tersebut, dengan asumsi dasar,
seperti dikatakan an Nahlawi bahwa pendidikan sejati atau maha pendidikan itu
adalah Allah yang telah menciptakan fitrah manusia dengan segala potensi dan
kelebihan serta menetapkan hukum hukum pertumbuhan, perkembangan, dan interaksinya,
sekaligus jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuannya. Prinsip prinsip
tersebut adalah sebagai berikut:[1]
Pertama, Prinsip Integrasi. Suatu prinsip yang seharusnya dianut adalah
bahwa dunia ini merupakan jembatan menuju kampung akhirat. Karena itu,
mempersiapkan diri secara utuh merupakan hal yang tidak dapat dielakkan agar
masa kehidupan di dunia ini benar benar bermanfaat untuk bekal yang akan dibawa
ke akhirat. Perilaku yang terdidik dan nikmat Tuhan apapun yang didapat dalam
kehidupan harus diabdikan untuk mencapai kelayakan kelayakan itu terutama
dengan mematuhi keinginan Tuhan. Allah Swt Berfirman, “Dan carilah pada apa
yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan
janganlah kanu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi…” (QS. Al
Qoshosh: 77). Ayat ini menunjukkan kepada prinsip integritas di mana diri dan
segala yang ada padanya dikembangkan pada satu arah, yakni kebajikan dalam
rangka pengabdian kepada Tuhan.
Kedua, Prinsip Keseimbangan. Karena ada prinsip integrasi, prinsip
keseimbangan merupakan kemestian, sehingga dalam pengembangan dan pembinaan
manusia tidak ada kepincangan dan kesenjangan. Keseimbangan antara material dan
spiritual, unsur jasmani dan rohani. Pada banyak ayat al-Qur’an Allah menyebutkan
iman dan amal secara bersamaan. Tidak kurang dari enam puluh tujuh ayat yang
menyebutkan iman dan amal secara besamaan, secara implisit menggambarkan
kesatuan yang tidak terpisahkan. Diantaranya adalah QS. Al ‘Ashr: 1-3, “Demi
masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan
beramal sholeh.” .
Ketiga, Prinsip Persamaan. Prinsip ini berakar dari konsep dasar tentang
manusia yang mempunyai kesatuan asal yang tidak membedakan derajat, baik antara
jenis kelamin, kedudukan sosial, bangsa, maupun suku, ras, atau warna kulit.
Sehingga budak sekalipun mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan. Nabi
Muhammad Saw bersabda:
“Siapapun di
antara seorang laki laki yang mempunyai seorang budak perempuan, lalu diajar
dan didiknya dengan ilmu dan pendidikan yang baik kemudian dimerdekakannya lalu
dikawininya, maka (laki laki) itu mendapat dua pahala” (HR. Bukhori).
Keempat, Prinsip Pendidikan Seumur Hidup. Sesungguhnya prinsip ini
bersumber dari pandangan mengenai kebutuhan dasar manusia dalam kaitan
keterbatasan manusia di mana manusia dalam sepanjang hidupnya dihadapkan pada
berbagai tantangan dan godaan yang dapat menjerumuskandirinya sendiri ke jurang
kehinaan. Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk
mengakui dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, disamping selalu
memperbaiki kualitas dirinya. Sebagaimana firman Allah, “Maka siapa yang
bertaubat sesuadah kedzaliman dan memperbaiki (dirinya) maka Allah menerima
taubatnya….” (QS. Al Maidah: 39).
Kelima, Prinsip Keutamaan. Dengan prinsip ini ditegaskan bahwa pendidikan
bukanlah hanya proses mekanik melainkan merupakan proses yang mempunyai ruh
dimana segala kegiatannya diwarnai dan ditujukan kepada keutamaan-keutamaan.
Keutamaan-keutamaan tersebut terdiri dari nilai nilai moral. Nilai moral yang
paling tinggi adalah tauhid. Sedangkan nilai moral yang paling buruk dan rendah adalah syirik. Dengan
prinsip keutamaan ini, pendidik bukan hanya bertugas menyediakan kondisi
belajar bagi subjek didik, tetapi lebih dari itu turut membentuk kepribadiannya
dengan perlakuan dan keteladanan yang ditunjukkan oleh pendidik tersebut. Nabi
Saw bersabda, “Hargailah anak anakmu dan baikkanlah budi pekerti mereka,” (HR. Nasa’i).
B.2.
Mekanisme Pendidikan Islam
Mengenai mekanisme dalam menjalankan pendidikan
Islam Dalam karyanya Tahdzibul Akhlak, Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa syariat
agama memiliki peran penting dalam meluruskan akhlak remaja, yang membiasakan
mereka untuk melakukan perbuatan yang baik, sekaligus mempersiapkan diri mereka
untuk menerima kearifan, mengupayakan kebajikan dan mencapai kebahagiaan
melalui berpikir dan penalaran yang akurat. Orang tua
memiliki kewajiban untuk mendidik mereka agar mentaati syariat ini, agar
berbuat baik. Hal ini dapat dijalankan melalui al-mau’izhah (nasehat), al-
dharb (dipukul) kalau perlu, al-taubikh (dihardik), diberi janji yang
menyenangkan atau tahdzir (diancam) dengan al-‘uqubah (hukuman).[2] (konsep
uqubah dalam Islam)
Akan tetapi, Berbeda dengan beberapa pandangan
teori di atas, Ibnu Khaldun justru berpandangan sebaliknya. Ia mengatakan bahwa
kekerasan dalam bentuk apapun seharusnya tidak dilakukan dalam dunia
pendidikan. Karena dalam pandangan Ibnu Khaldun, penggunaan kekerasan dalam
pengajaran dapat membahayakan anak didik, apalagi pada anak kecil, kekerasan
merupakan bagian dari sifat-sifat buruk. Disamping itu, Ia juga menambahkan
bahwa perbuatan yang lahir dari hukuman tidak murni berasal dari keinginan dan
kesadaran anak didik. Itu artinya pendidikan dengan metode ini juga sekaligus
akan membiasakan seseorang untuk berbohong dikarenakan takut dengan hukuman.[3]
 B.3. Tujuan dan Sasaran
Pendidikan Islam
Salah satu aspek penting dan mendasar dalam
pendidikan adalah aspek tujuan. Merumuskan tujuan pendidikan merupakan syarat
mutlak dalam mendefiniskan pendidikan itu sendiri yang paling tidak didasarkan
atas konsep dasar mengenai manusia, alam, dan ilmu serta dengan pertimbangan
prinsip prinsip dasarnya. Hal tersebut disebabkan pendidikan adalah upaya yang
paling utama, bahkan satu satunya untuk membentuk manusia menurut apa yang
dikehendakinya. Karena itu
menurut para ahli pendidikan, tujuan pendidikan pada hakekatnya merupakan
rumusan-rumusan dari berbagai harapan ataupun keinginan manusia.[4]
Maka dari itu berdasarkan definisinya, Rupert C. Lodge dalam
philosophy of education menyatakan bahwa dalam pengertian yang luas pendidikan
itu menyangkut seluruh pengalaman. Sehingga dengan kata lain, kehidupan adalah
pendidikan dan pendidikan adalah kehidupan itu. Sedangkan Joe Pack merumuskan
pendidikan sebagai “the art or process of imparting or acquiring knomledge and
habit through instructional as study”. Dalam definisi ini tekanan kegiatan
pendidikan diletakkan pada pengajaran (instruction), sedangkan segi kepribadian
yang dibina adalah aspek kognitif dan kebiasaan. Theodore Meyer Greene
mengajukan definisi pendidikan yang sangat umum. Menurutnya pendidikan adalah
usaha manusia untuk menyiapkan dirinya untuk suatu kehidupan yang bermakna.
Alfred North Whitehead menyusun definisi pendidikan yang menekankan segi
ketrampilan menggunakan pengetahuan.[5]
Untuk itu, pengertian pendidikan secara umum, yang
kemudian dihubungkan dengan Islam -sebagai suatu sistem keagamaan- menimbulkan
pengertian pengertian baru yang secara implisit menjelaskan karakteristik
karakteristik yang dimilikinya. Pengertian pendidikan
dengan seluruh totalitasnya, dalam konteks Islam inheren salam konotasi istilah
“tarbiyah”, “ta’lim” dan “ta’dib” yang harus dipahami secara bersama-sama.
Ketiga istilah itu mengandung makna yang amat dalam menyangkut manusia dan
masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling
berkaitan satu sama lain. Istilah
istilah itu sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam; informal,
formal, dan nonformal.[6]
Ghozali melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan
pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu sesuai
dengan filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan
maksud di balik itu membentuk individu-individu yang tertandai dengan
sifat-sifat utama dan takwa. Dengan
ini pula keutamaan itu akan merata dalam masyarakat.[7]
Hujair AH. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan
visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya sebenarnya pendidikan Islam telah
memiki visi dan misi yang ideal, yaitu “Rohmatan Lil ‘Alamin”. Selain itu,
sebenarnya konsep dasar filosofis pendidikan Islam lebih mendalam dan
menyangkut persoalan hidup multi dimensional, yaitu pendidikan yang tidak
terpisahkan dari tugas kekhalifahan manusia, atau lebih khusus lagi sebagai
penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kehidupan dunia yang
makmur, dinamis, harmonis dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam
al Qur’an. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang ideal, sebab visi dan
misinya adalah “Rohmatan Lil ‘Alamin”, yaitu untuk membangun kehidupan dunia
yang yang makmur, demokratis, adil, damai, taat hukum, dinamis, dan
harmonis.[8]
Munzir Hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas
dari tujuan hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan
hidup, atau keinginan-keinginan lainnya. Bila dilihat dari ayat-ayat al Qur’an
ataupun hadits yang mengisyaratkan tujuan hidup manusia yang sekaligus menjadi
tujuan pendidikan, terdapat beberapa macam tujuan, termasuk tujuan yang
bersifat teleologik itu sebagai berbau mistik dan takhayul dapat dipahami
karena mereka menganut konsep konsep ontologi positivistik yang mendasar
kebenaran hanya kepada empiris sensual, yakni sesuatu yang teramati dan
terukur.[9]
Qodri Azizy menyebutkan batasan tentang definisi pendidikan agama
Islam dalam dua hal, yaitu; a) mendidik peserta didik untuk berperilaku sesuai
dengan nilai-nilai atau akhlak Islam; b) mendidik peserta didik untuk
mempelajari materi ajaran Islam. Sehingga pengertian pendidikan agama Islam
merupakan usaha secara sadar dalam memberikan bimbingan kepada anak didik untuk
berperilaku sesuai dengan ajaran Islam dan memberikan pelajaran dengan
materi-materi tentang pengetahuan Islam.[10]
 C. Kesimpulan
Dari beberapa
uraian yang telah penulis kemukakan dari beberapa pendapat para tokoh
pendidikian Islam bahwa pendidikan pada dasarnya memiliki beberapa tujuan.
Tujuan yang terpenting adalah pembentukan akhlak objek didikan sehingga semua
tujuan pendidikan dapat dicapai dengan landasan moral dan etika Islam, yang
tentunya memiliki tujuan kemashlahatan di dalam mencapai tujuan tersebut.
Mengenai mekanisme pelaksanaanya, hal ini tentunya memerlukan kajian yang lebih
mendalam sehingga nantinya implementasi dari teori tersebut dapat
dipertanggungjawabkan dan dipandang relevan dengan kondisi yang terikat dengan
faktor-faktor tertentu.
*Disusun Guna
Memenuhi Tugas Dalam Mata Kuliah Ushul at-Tarbiyyah Yang Diampu Oleh Supriyanto
Pasir, MA. Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (Oleh Khorirur Rijal
Luthfi dan Mohammad Agus Khoirul Wafa)
Daftar Pustaka
Azizy, Ahmad Qodri A. 2000. Islam dan Permaslahan Sosial; Mencari Jalan Keluar, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Azra. Azyumardi. 2002. Pendidikan Islam;
Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru.
Jakarta:
Logos Wacana Ilmu
Hitami, Munzir. 2004. Menggagas Kembali Pendidikan Islam.
Yogyakarta: Infinite Press
Khaldun, Ibnu. 2001. Muqaddimah Ibnu Khaldun. Jakarta:
Pustaka Firdaus
Miskawaih, Ibnu. Tanpa tahun. Tahzib al-Akhlaq, Mesir:
al-Mathbah al-Husainiyyah
Sanaky, Hujair AH. 2003. Paradigma Pendidikan Islam; Membangun
Masyarakat Indonesia.
Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI
Tafsir, Ahmad. 2002. Metodologi Pengajaran Agama Islam.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
SHARE

1 COMMENT