Unsur terpenting dalam dakwah Islam

87
Unsur terpenting dalam dakwah Islam,- Yang dimaksud unsur-unsur dakwah dalam pembahasan ini adalah bagian-bagian
yang terkait dan merupakan satu kesatuan dalam suatu penyelenggaraan dakwah islam.
Jadi, unsur-unsur dakwah tersebut adalah:
Dalam hal ini yang dimaksud dengan
subjek dakwah adalah yang melaksanakan tugas-tugas dakwah, orang itu disebut
da’i atau muballigh.29
Dalam aktivitasnya subjek dakwah
dapat secara individu ataupun bersama-sama. Hal ini tergantung kepada besar
kecilnya skala penyelenggaraan dakwah dan permasalahan-permasalahan dakwah yang
akan digarapnya. Semakin luas dan kompleks-nya permasalahan dakwah yang
dihadapi, tentunya besar pula penyelenggaraan dakwah dan mengingat keterbatasan
subjek dakwah
, baik di bidang keilmuan, pengalaman, tenaga dan biaya, maka
subjek dakwah yang terorganisir akan lebih efektif daripada yang secara
individu (perorangan) dalam rangka pencapaian tujuan dakwah. apakah dakwah itu melahirkan Perubahan sikap atau tidak?
Dalam pengertian subjek dakwah Islam yang
terorganisir, dapat dibedakan dalam tiga komponen, yaitu (1) da’i, (2)
perencana dan (3) pengelola dakwah. Sebagai seorang da’i harus mempunyai
syarat tertentu, diantaranya:
a. Menguasai isi kandungan
al-Quran dan sunah Rasul serta hal-hal yang berhubungan dengan tugas-tugas
dakwah.
b. Menguasai ilmu
pengetahuan yang ada hubungannya dengan tugas-tugas dakwah.
c. Takwa pada Allah SWT.30
Objek dakwah adalah setiap orang atau sekelompok orang yang dituju atau
menjadi sasaran suatu kegiatan dakwah. Berdasarkan pengertian tersebut maka
setiap manusia tanpa membedakan jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan,
warna kulit, dan lain sebagainya, adalah sebagai objek dakwah. Hal ini sesuai
dengan sifat keuniversalan dari agama Islam dan tugas kerisalahan Rasulullah.31
Unsur terpenting dalam dakwah Islam

Ditinjau dari segi tugas kerisalahan Rasullulah SAW, maka
objek dakwah dapat digolongkan menjadi dua kelompok, pertama, umat dakwah yaitu umat
yang belum menerima, meyakini, dan mengamalkan ajaran agama Islam. Kedua,
umat ijabah yaitu umat yang dengan secara ikhlas memeluk agama Islam dan
kepada mereka sekaligus dibebani kewajiban untuk melaksanakan dakwah.32

Mengingat keberadaan objek dakwah yang heterogen, baik
pada tingkat pendidikan, ekonomi, usia, dan lain sebagainya, maka keberagaman
tersebut hendaknya dapat dijadikan pertimbangan dalam penentuan model
penyelenggaraan dakwah, sehingga benar-benar dapat secara efektif dan berhasil
dalam menyentuh persoalan-persoalan kehidupan umat manusia sebagai objek
dakwah.
Materi dakwah adalah isi pesan yang disampaikan
oleh da’i kepada objek dakwah, yakni ajaran agama Islam sebagaimana tersebut
dalam al-Qur’an dan Hadits.
Agama Islam yang bersifat universal yang mengatur
seluruh aspek kehidupan manusia, dan bersifat abadi sampai di akhir jaman serta
mengandung ajaran-ajaran tentang tauhid, akhlak dan ibadah.33
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa materi dakwah meliputi tauhid, akhlak, dan
ibadah.
Sangat mendalam dan luasnya ajaran Islam menuntut subjek
dakwah dalam penyampaian materi dakwah sesuai dengan kondisi objektif objek dakwah,
sehingga akan terhindar dari pemborosan. Oleh karena itu, seorang da’i
hendaknya mengkaji objek dakwah dan strategi dakwah terlebih dahulu sebelum
menentukan materi dakwah sehingga terhindar dari hal-hal yang dapat menghambat
kegiatan dakwah.

Metode dakwah adalah cara-cara menyampaikan pesan
kepada objek dakwah, baik itu kepada individu, kelompok maupun masyarakat agar pesan-pesan tersebut mudah
diterima, diyakini dan diamalkan.34 Sebagaimana yang telah tertulis dalam al-Qur’an
dalam surat an-Nahl ayat 125:
اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ
رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ
 وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِيْن
   
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu
dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.”35
 
Landasan dakwah dalam al- Qur’an  ada
tiga, yaitu:
a.  Bil
hikmah
( kebijaksanaan), yaitu cara-cara penyampaian pesan-pesan dakwah
yang sesuai dengan keadaan penerima dakwah.36
Operasionalisasi metode dakwah bil hikmah dalam penyelenggaraan dakwah dapat
berbentuk: ceramah-ceramah pengajian, pemberian santunan kepada anak yatim atau
korban bencana alam, pemberian modal, pembangunan tempat-tempat ibadah dan lain
sebagainya.
b.  Mau’idah
hasanah,
yakni memberi nasehat atau mengingatkan kepada orang lain dengan
tutur kata yang baik, sehingga nasehat tersebut dapat diterima tanpa ada rasa
keterpaksaan. Penggunaan metode dakwah model ini dapat dilakukan antara lain
dengan melalui: (1) kunjungan keluarga, (2) sarasehan, (3) penataran/kursus-kursus, (4)
ceramah umum, (5) tabligh, (6) penyuluhan.37
c. Mujadalah (bertukar pikiran dengan cara yang baik), berdakwah dengan mengunakan cara
bertukar pikiran (debat). Pada masa sekarang menjadi suatu kebutuhan,
karena tingkat berfikir masyarakat sudah mengalami kemajuan. Namun demikian,
da’i hendaknya harus mengetahui kode etik (aturan main) dalam suatu pembicaraan
atau perdebataan, sehingga akan memperoleh mutiara kebenaran, bahkan terhindar
dari keinginan mencari popularitas ataupun kemenangan semata.
29 Masdar Helmy. Dakwah dalam Alam Pembangunan  (Semarang: Toha Putra, 1975), hal. 47.
30 M. Mashur Amin, Metode Dakwah Islam Dan
Beberapa Keputusan Pembangunan Tentang Aktivitas Keagamaan
( Yogya:
Sumbangsih, 1980), hal. 22-24.
31 A.Karim Zaidan, Asas al-Dakwah, diterj.
M. Asywadie Syukur dengan judul Dasar-dasar Ilmu Dakwah (Jakarta:
Media Dakwah,1979, hal. 69.
32 Op., cit., hal.  22.
33 Nasrudin Razak, Dienul Islam (Bandung:
Al-Ma’arif,1986), hal.35.
34Shalahudin Sanusi, Pembahasan Sekitar
Prinsip-Prinsip Dakwah Islam
(Semarang:  
Ramadhani, 1964), hal. 111.
35 Departemen Agama RI, Op.,cit., hal. 421.
36 Shalahudin Sanusi, Op.,cit., hal. 123.
37 Syamsuri Siddiq, Dakwah dan Teknik Berkhutbah  ( Bandung: Al-Ma’arif,1983), hal. 27.
SHARE