WACANA JILBAB DALAM ISLAM

46

            Ada dua
istilah yang digunakan dalam al-Quran yang digunakan untuk penutup kepala yaitu
khumur dan jalabib, keduanya dalam bentuk jamak dan generik. Kata khumur (QS
an-Nur: 31) bentuk jamak dari kata khimar dan jalabib (QS al-Ahzab: 59) bentuk
jamak dari kata jilbab.
            Al-Qur’an dan al-Hadis tidak pernah
secara khusus menyinggung bentuk pakaian penutup muka. Bahkan, dalam al-hadis,
muka termasuk dalam pengecualian dan dalam suasana ihram tidak boleh ditutupi.
Lagi pula, ayat-ayat yang berbicara tentang penutup kepala tidak satu pun
disangkutpautkan dengan unsur mitologi dan strata sosial. Dua ayat tersebut di
atas merupakan tanggapan terhadap kejadian khusus yang terjadi pada masa Nabi.
Penerapan ayat seperti ini menimbulkan perbedaan pendapat dikalangan ulama usul
fiqh, apakah yang dijadikan pengangan, apakah lafaznya yang bersifat umum
ataukah sebab turunnya yang bersifat khusus.
            Dua ayat tersebut dalam konteks
keamanan dan kenyamanan kaum perempuan. Bandingkan dengan tradisi chador dalam
tradisi Sasania-Persia, dianggap sebagai pengganti kemah menstrual (menstrual
hut), tempat pengasingan perempuan menstruasi di luar perkampungan. Sedangkan
dalam tradisi Yunani, jilbab dianggap sebagai indentitas kelas sosial tertentu.
            Ayat khimar turun untuk menanggapi model
pakaian perempuan yang ketika itu menggunakan penutup kepala (muqani’), tetapi
tidak menjangkau bagian dada, sehingga bagian dada dan leher tetap kelihatan.
Menurut Muhammad Sa’id al-‘Asymawi, Surat al-Nur/24:31 turun untuk memberikan
pembedaan antara perempuan mukmin dan perempuan selainnya, tidak dimaksudkan
untuk menjadi format abadi (uridu fihi wadl’ al-tamyiz, wa laisa hukman
muabbadan).
            Ayat jilbab juga turun berkenaan
seorang perempuan terhormat yang bermaksud membuang hajat di belakang rumah di
malam hari tanpa menggunakan jilbab, maka datanglah laki-laki iseng mengganggu
karena dikira budak. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya surat al-Ahzab/33:33.
Menurut Al-‘Asymawi dan Muhammad Syahrur, terkait dengan alasan dan motivasi
tertentu (illat); karenanya berlaku kaidah: Suatu hukum terkait dengan illat,
di mana ada illat di situ ada hukum. Jika illat berubah, maka hukum pun
berubah.
            Ayat hijab, sangat terkait dengan
keterbatasan tempat tinggal Nabi bersama beberapa istrinya dan semakin besarnya
jumlah sahabat yang berkepentingan dengannya. Untuk mencegah terjadinya hal-hal
yang tidak diinginkan (perlu diingat, ayat hijab ini turun setelah kejadian
tuduhan palsu/hadis al-ifk terhadap ‘Aisyah), Umar mengusulkan agar dibuat
sekat (Arab: hijab) antara ruang tamu dan ruang privat Nabi. Tetapi, tidak lama
kemudian turunlah ayat hijab.
            Sedangkan,
hadis yang berhubungan langsung dengan penggunaan jilbab hanya ditemukan dalam
dua hadis ahad, hadis yang diriwayatkan perorangan, bukan secara kolektif dan
massif (masyhur atau mutawatir). Hadis pertama bersumber dari Aisyah,
Rasulullah bersabda, “Tidak diperkenankan seorang perempuan yang beriman
kepada Allah dan Rasulnya jika sudah sampai usia balig menampakkan (anggota
badannya) selain muka dan kedua tangannya sampai di sini,” sambil
menunjukkan setengah hasta.
            Hadis kedua dari Abu Daud yang
diterima dari Aisyah, yang menceritakan ketika Asma binti Abi Bakr masuk ke
rumah kediaman Rasulullah SAW, lalu Rasulullah mengatakan kepadanya,
“Wahai Asma, sesungguhnya perempuan jika sampai usia balig, tidak boleh
dipandang kecuali yang ini,” sambil Rasulullah menunjukkan wajah dan
telapak tangannya.

            Menurut al-‘Asymawi, kedua hadis
tersebut termasuk hadis ahad, bukan mutawatir atau masyhur. Berdasar dengan
hadis ahad memang kontroversial di kalangan ulama Usul Fiqh. Salah satu hadis
tersebut di-mursal-kan (jaringan penutur terputus sampai pada tabaqat sahabat)
oleh Abu Daud, karena bersumber dari Khalid ibn Darik yang bukan hanya tidak
berjumpa (mu’asarah) tetapi juga tidak ketemu (liqa’) dengan Aisyah.[1] Di samping itu,
hadis ini mulai populer pada abad ketiga Hijriah., dipopulerkan oleh Khalid ibn
Darik, yang kemudian dimonumentalkan dalam Sunan Abu Daud. Kalau sekiranya
hadis ini direpresentasikan pada umat Islam, maka sejak awal jilbab menjadi
tradisi kolektif keseharian (sunnah mutawatirah bi al-fi’l), bukannya dengan
kualifikasi hadis ahad-mursal. Tradisi jilbab di kalangan sahabat dan tabi’in,
menurut al-‘Asymawi, lebih merupakan keharusan budaya daripada keharusan agama.
            Muhammad Syahrur
dalam bukunya Al-Kitab wa al-Qur’an juga pernah menyatakan hijab hanya termasuk
dalam urusan harga diri, bukan urusan halal atau haram.[2]
Pada awal abad ke-19 Qasim Amin dalam Tahrir al-Mar’ah sudah mempersoalkan hal
ini. Namun perlu ditegaskan, meskipun pemikir itu berpandangan kritis terhadap
jilbab, tetapi mereka tetap mengidealkan penggunaan jilbab bagi perempuan. Inti
wacana mereka adalah bagaimana jilbab tidak membungkus kreativitas dan
produktivitas perempuan, bukannya melarang atau menganjurkan pembukaan jilbab.
Ketika
gerakan para mullah mulai marak di Iran pada tahun 1970-an dan
mencapai puncaknya ketika Imam Khomeini berhasil menggusur Reza Pahlevi yang
dipopulerkan sebagai antek dunia Barat di Timur Tengah, maka Khomeini menjadi
lambang kemenangan Islam terhadap boneka Barat. Simbol-simbol kekuatan
Khomeini, seperti foto Imam Khomeini dan komunitas Black Veil menjadi tren di
kalangan generasi muda Islam seluruh dunia. Semenjak itu jilbab mulai menghiasi
kampus dunia Islam, tidak terkecuali Indonesia. Identitas jilbab seolah
sebagai lambang kemenangan.
Perkembangan
berikutnya, ketika perang dingin blok Timur dan blok Barat usai berbarengan
dengan semakin pesatnya kekuatan pengaruh globalisasi, maka timbul kecemasan
lebih kompleks dari kalangan umat Islam. Islam dan berbagai pranatanya
berhadapan langsung dengan dunia Barat. Apa yang dilukiskan Huntington benturan Barat-Islam akan terjadi
pada pasca benturan Timur-Barat, menunjukkan adanya tanda kebenaran, terutama
setelah peristiwa 11
September 2001.
Sebagian
umat Islam percaya bahwa untuk mengembalikan kekuatan Islam seperti zaman
kejayaan dulu, umat Islam harus kembali kepada formalisme keagamaan dan sejarah
masa lampaunya. Semangat mengembalikan simbol dan identitas Islam masa lalu
terus dipompakan, termasuk di antaranya penggunaan jilbab bagi kaum perempuan
dan pemeliharaan kumis dan jenggot bagi laki-laki.
Kadar proteksi dan ideologi di balik fenomena jilbab di Indonesia
tidak terlalu menonjol. Fenomena yang lebih menonjol ialah jilbab sebagai tren,
mode, dan privacy sebagai akumulasi pembengkakan kualitas pendidikan agama dan
dakwah di dalam masyarakat. Lagi pula, bukankah salah satu ciri budaya bangsa
dalam potret perempuan masa lalu adalah kerudung? Tidak perlu over estimate
atau fobia bahwa fenomena jilbab merupakan bagian dari jaringan ideologi
tertentu yang menakutkan. Jilbab tidak perlu dikesankan seperti “imigran
gelap” yang selalu dimata-matai, seperti yang pernah terjadi pada masa
lalu yaitu fenomena jilbab dicurigai sebagai bagian dari ekspor Revolusi Iran.
Sepanjang fenomena jilbab tumbuh di atas kesadaran sebagai sebuah pilihan dan
sebagai ekspresi pencarian jati diri seorang perempuan muslimah, tidak ada
unsur paksaan dan tekanan, itu sah-sah saja. Tidakkah manusiawi jika seseorang
menentukan pilihannya secara sadar?
Pada masa sekarang, jilbab yang dicitrakan sebagai sebuah
indentitas muslimah yang baik mengalami semacam distorsi yang bergeser dari
aturan yang melingkupinya. Kaidah atau aturan berbusana semakin jauh dari etika
islam. Jilbab yang semula merupakan hal yang boleh dikatakan harus, sekarang
berubah menjadi semacam aksesoris pelengkap yang mendukung penampilan para
wanita islam. Hal ini mengkhawatirkan. Berkaitan dengan latar belakang turunnya
ayat jilbab yang meluruskan tradisi jilbab wanita pra-Islam yang melilitkan
jilbabnya kepunggungnya, agar dijumbaikan ke depan dadanya, agar tidak
memancing laki-laki iseng mengganggu, karena menganggap mereka adalah budak.
Namun hal ini kembali terjadi pada masa belakangan ini. Berapa banyak kita
menyaksikan para muslimah yang memakai jilbab dengan mencontoh kembali cara
berjilbabnya wanita jahiliyyah. Seakan-akan dengan telah memakai jilbab dengan
seadanya mereka telah memenuhi kewajiban mereka menutup aurat. Jilbab yang
berkembang belakangan disebut dengan kudung gaul atau kudung gaya selebritis. Islam secara spesifik memang
tidak menentukan bentuk dari busana muslimah, namun yang jelas menetapkan
kaidah yang jelas untuk sebuah busana agar disebut sebagai busana muslimah.
            Syarat-syarat busana muslimah
menurut Al Albani adalah: (1) Busana yang meliputi seluruh badan selain yang
dikecualikan (muka dan telapak tangan). (2) Busana (jilbab) yang tidak
merupakan bentuk perhiasan kecantikan. (3). Merupakan busana rangkap dan tidak
tipis. (4) Lebar dan tidak sempit, sehingga tampak bagian dari bentuk tubuh.
(5) Tidak berbau wangi-wangian dan tidak tipis. (6) Tidak menyerupai busana
laki-laki. (7) Tidak menyerupai busana wanita-wanita kafir. (8) Tidak merupakan
pakaian yang menyolok mata atau aneh dan menarik perhatian.[3]
            Sedangkan menurut H. RAy Sitoresmi
Prabu Ningrat, jilbab lebih merupakan produk sejarah, karena ajaran Islam
sendiri tidak memberikan corak atau model pakaian secara rinci. Karena ia lebih
merupakan mode, maka bisa berbeda atara daerah satu dengan daerah lainnya. Dan
lagi menurutnya berdasarkan dari ajaran Islam yang terkandung dalam surat
al-A’raf ayat 26, al-Ahzab ayat 59 dan an-Nur ayat 31 diketahui bahwa esensi
dari pakaian yang bernafaskan taqwa bagi wanita mukminah mengandung unsur
sebagai berikut, (a) menjauhkan wanita dari gangguan laki-laki jahat dan nakal,
(b) menjadi pembeda antara wanita yang berakhlaq terpuji dengan wanita yang
berakhlaq tercela, (c) menghindari timbulnya fitnah seksual bagi kaum laki-laki
dan (d) memelihara kesucian agama dari wainta yang bersangkutan. Pakaian yang
memenui empat prinsip ini seharusnya memiliki syarat-syarat sebagai berikut,
yaitu, menutupi seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan, bahan yang
digunakan tidak terlalu tipis sehingga tembus pandang atau transparant dan
berpotongan tidak ketat hingga dapat menimbulkan semangat erotis bagi yang
memandangnya.[4]
            Berkaitan dengan fungsi jilbab yang
disyari’atkan dalam Islam ini adalah menutup aurat wanita yang diwajibkan
menutupnya. Sampai seberapa ukuran tubuh yang harus ditutup dengan jilbab akan
sangat tergantung dengan pemahaman ulama terhadap nas-nas al-Qur’an dan Sunnah
yang bersifat zanni (dapat ditafsirkan), dan pendapat para fuqaha’ dalam
ijtihad mereka tentang batas aurat wanita sebagaimana yang digariskan dalam
surat an-Nur ayat 31:”wala yubdina zinatahunna illa ma zahara
minha…”
Perbedaan pendapat ulama tentang aurat tersebut adalah sebagai
berikut:

Jumhur fuqaha’,
diantaranya mazhab-mazhab Maliki, Syafi’i, Ibn Hazm, Syi’ah Zaidiah, yang
masyhur dari Hambali dan salah satu riwayat dari mazhab Hanafi dan Syi’ah
Imamiah yang diriwayatkan dari tingkatan tabi’in seperti Ata’ dan Hasan
Basri dan tingkatan sahabat seperti ‘Ali ibn Abi Talib, A’isyah dan Ibn
Abbas berpendapat bahwa:”hanya muka dan kedua telapak tangan saja
yang bukan termasuk aurat wanita.”
Sufyan as-Sauri,
Mazin dan salah satu kalangan dari mazhab Hanafi mengatakan bahwa, muka
dan kedua talapak tangan dan telapak kaki tidak termasuk aurat bagi kaum
wanita.
Salah satu
pendapat dari kalangan mazhab Hambali dan sebagian Syi’ah Zaidah dan Zahiri
berpendapat bahwa hanya muka saja dari tubuh wanita yang tidak ternasuk
aurat.
Salah satu
riwayat dari Imam Ahmad ibn Hambal dan berpendapat Abu Bakar ibn ‘Abdu
ar-Rahman dari kalangan tabi’in mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita
tanpa pengecualian adalah aurat.[5]

           
 [1]  Al-‘Asymawi, Kritik atas
Jilbab
, hlm. 66.
[2]  Muhammad Syahrur,  al-Kitab wa al-Qur’an: Qiraah Mu’asirah,
(Damaskus: al- Ahalli li at-Tiba’ah wa an-Nasyr wa at-Tawzi’, 1990), hlm. 607.
[3]  Lihat al-Albani, Jilbab Wanita Muslimah, cet.
ke-10, (Yogyakarta: Media Hidayat, 2002).
[4]. H. RAy Sitoresmi Prabuninggrat, Sosok Wanita Muslimah, cet.
ke-2, (Yogyakarta: PT. Duta Wacana, 1997), hlm. 39-40.
[5]. Abdul Aziz Dahlan (ed),  Ensiklopedi
Islam
, cet. ke-1 (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve,1993), III: 318.   
terimah kasih sudah berkunjung… slam kenala dar ane
SHARE

2 COMMENTS

  1. Selamatkan Bhinneka Tunggal Ika…..

    Seperti halnya pakaian lainnya, Jilbab adalah gaya berpakaian yang dilatarbelakangi budaya budaya daerah Arab yang selanjutnya di tentukan sebagai pakaian perempuan muslim.

    Karena wanita2 muslim Indonesia dulu (sebelum akhir thn 80-an), menggunakan kerudung/selendang yg dipadukan pakaian adat nasional sesuai daerah-nya masing2 tanpa mengurangi nilai keimanan-nya.

    Sementara budaya2 lain memiliki cara berpakaian sendiri. Ketika Tren Jilbab melanda suatu daerah (dengan sebab apapun, termasuk agama kemungkinan tidak akan “sempurna” seperti yang ada dan terjadi di arab).

    Memaksakan utk memakai atau tidak memakai Jilbab sama tidak bijaknya. Budaya material ARAB – BARAT – ASIA, silih berganti melanda Indonesia.

    Keprihatinnan kita adalah pakaian2 asli adat tradisional kita janganlah dihapuskan…

    • ARAB ???? apa maksudnya lha wannita ynani dulu memakai stola atau dakkos tujuan sebagai identitas sebagai wanita terhormat apaitu nggak sama dengan jilbab terus suster katolik memakai kerudung biaranya apa itu budaya arab
      jangan sewot soal bhinneka deh klo pemikian feminis nggilani