Meneladani Akhlak Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

Akhlak Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

Tongkrongan Islami – Kepribadian menggambarkan keimanan seseorang. Kita bisa mengetahui keimanan seseorang melihat dari tingkah laku kesehariannya. Rasulullah sendiri telah menetapkan tujuan pertama dari bi’tsahnya, dan cara yang terang dalam dakwahnya, yaitu dengan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, :

  انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق

Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan budi pekerti luhur.”(HR. Bukhari, Abu Daud, dan Hakim)[2]

Pada tulisan ini akan dijelaskan hubungan keimanan dengan keteladanan(uswah).  Namun disini saya lebih memfokuskan masalah keteladanan mengaitkannya dengan akhlak Rasulullah. Karena Rasulullah-lah orang yang berakhlak mulia yang wajib kita tiru perbuatannya.

Hadits tentang akhlak Rasulullah SAW sebagai suri tauladan yang baik

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ سَمِعْتُ مَسْرُوقًا قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍوحِينَ قَدِمَ مَعَ مُعَاوِيَةَ إِلَى الْكُوفَةِ فَذَكَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا

“Diriwayatkan dari Hafsh bin ‘Umar, dari Syu’bah, dari Sulaiman, aku mendengar Abu Wa’il,juga aku telah mendengar dari Masruq berkata, ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, dan dari Qutaibah, dari Jarir, dari Al-‘A’masy, dari Syaqiq bin Salamah, dari Masruq berkata: kami telah bertemu dengan ‘Abdillah bin ‘Amr dan ketika berangkat dengan Mu’awiyah ke Kufah, kemudian dia menyebut Rasulullah s.a.w.dan berkata: “Rasulullah s.a.w.sama sekali bukanlah orang yang keji dan bukan pula orang yang jahat; dan dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda: “sesungguhnya orang paling baik di antara kamu sekalian adalah yang paling baik budi pekertinya.”

Rasulullah s.a.w.adalah sosok manusia yang patut kita teladani. Kepribadiannya amatlah luhur. Beliaulah figur ummat.pembawa syafa’at hingga akhir kiamat. Tak bisa dipungkiri, dengan memakan waktu yang cukup singkat beliau bisa membawa agama Islam jaya.

Itu semua tidak lain hanya dikarenakan beliau mempunyai kegigihan serta semangat yang tinggi dalam menjalankan tugas dari Allah, juga beliau mempunyai akhlak yang terpuji. Beliaulah sosok manusia sempurna dan dicintai Allah. Dia juga berkehendak agar setiap mukmin menjalani kehidupannya dengan meneladani beliau. Allah s.w.t.berfirman :

ﻟﻘﺪ ﻜﺎﻦ ﻟﻜﻢ ﻓﻲ ﺮﺴﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺴﻮﺓ ﺤﺳﻧﺔ ﻠﻤﻦ ﻛﺎﻦ ﻴﺮﺠﻮ ﺍﻠﻠﻪ ﻮﺍﻠﻴﻮﻢ ﺍﻵﺨﺮ ﻮﺬﻜﺮ ﺍﻠﻠﻪ ﺨﻴﺮﺍ ﻜﺛﻴﺮﺍ

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suru tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap(rahmat)Allah dan (kedatangan)hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.”(QS. Al-Ahzab :21)

Ketika Ummul Mukminin ‘Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah s.a.w., ia menjawab :

ﻜﺎﻦ ﺨﻠﻘﻪ ﺍﻠﻘﺮﺍﻦ

Akhlak Beliau adalah Al-Qur’an.“(H.R. Ahmad)

Masa kanak-kanak Muhammad s.a.w.dihabiskannya di alam pedesaan yang berudara bersih, yaitu di desa Bani Sa’idah. Alam dan pendidikan desa telah memberikan kesan mendalam dalam watak dan kepribadiannya. Tubuhnya menjadi sehat dan kuat, akhlaknya baik dan lidahnya fasih.

Tidak itu saja, kehidupan desa telah membuat beliau menjadi orang yang bertanggung jawab, dan tabah dalam mengahadapi segala penderitaan. Ia semakin terkenal sebagai seorang pemuda hasyimi yang luhur, seorang bangsa Quraisy yang mempunyai kedudukan tinggi, keturunan orang yang terhormat dan disegani di kota Makkah, namun tidak sombong dan tidak pula membanggakan diri.

Beliau sangat baik terhadap keluarganya, akhlaknya begitu mulia. Ali karramallahu wajhahu berkata :”Beliau selalu mendengarkan dengan baik orang yang berbicara kepadanya. Kata-katanya lembut dan menyenagkan. Kadang-kadang beliau tertawa lebar, sehingga gigi taringnya terlihat jelas. Kalau sedang marah, tak pernah kehilangan kontrol, hamya alis matanya bertaut jika sedang marah.

Dia adalah manusia yang paling luhur hatinya, palinh murah, berani,jujur, budi pekertinya begitu mulia dan lembut, bergaul dengannya sungguh menyenangkan. Siapa yang melihatnya tiba-tiba timbul rasa hormatnya, dan siapa yang bergaul akrab otomatis akan mencintainya.

Beruntung sekali pada isteri-isteri beliau yang mempunyai suami seperti Nabi Muhammad s.a.w. mereka orang yang sangat mujur mendapatkan suami yang luhur sifatnya serta akhlaknya. Siapa yang tidak akan berbahagia hidup serumah dan seatap dengan seorang suami yang berperangai lembut dan penuh semangat seperti yang dimiliki Nabi Muhammad s.a.w.

Di kalangan para sahabatnya, Rasulullah adalah teladan tertinggi tentang budi pekerti yang diserukan oleh beliau. Budi pekerti itulah yang ditanamkan oleh beliau dalam jiwa para sahabatnya. Beliau mendahulukan contoh perilaku yang terpuji, sebelum menanamkannya dengan ucapan, kebijaksanaan dan peringatan.

‘Abdullah bin ‘Amr mengatakan :Rasulullah bukan seorang yang buruk dan berperilaku tidak senonoh. Rasulullah bersabda :

ﺍﻦ ﻤﻥ ﺨﻴﺎﺮﻜﻢ ﺍﺤﺴﻨﻜﻢ ﺨﻠﻘﺎ

Orang-orang yang terbaik diantara kalian adalah mereka yang terbaik budi pekertinya.”

“Anas bin Malik mengatakan :”Aku melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Demi Allah, Beliau sama sekali tidak pernah membentak dengan ucapan “husy”, dan tidak pernah pula Beliau menegur “Mengapa engkau berbuat begitu?”, atau kenapa engakau tidak berbuat begitu?”.(H.R. Muslim)

Al-Qur’an merupakan gambaran nyata akan perilaku Rasulullah sebagai manusia terbaik dari sisi akhlak maupun penampilan fisik. Beliau memberi kepada orang yang memboikotnya, memaafkan orang yang menganiayanya, menjalin ikatan dengan orang yang memutuskannya, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya.

Semua itu merupakan dasar-dasar akhlak (baca: pengertian akhlak), kita harus mengikuti beliau dalam setiap tingkah lakunya, kecuali apa yang telah Allah khususkan baginya. Karena keistimewaan tersebut tidak dapat diberikan kepada selain beliau, seperti kenabian, wahyu, nikah lebih dari empat istri, diharamkan menikahi isteri-isteri beliau setelah beliau wafat, dan lain sebagainya.

Allah s.w.t.berfirman :

ﻓﺑﻤﺎ ﺮﺤﻤﺔ ﻤﻦ ﺍﻠﻠﻪ ﻠﻧﺖ ﻠﻬﻢ ﻮﻠﻮ ﻜﻧﺖ ﻒﻈﺎ ﻏﻠﯿﻈ ﺍﻠﻘﻠﺐ ﻻﻨﻔﺿﻮﺍ ﻤﻦ ﺤﻮﻠﻚ  ﻓﺎﻋﻒ ﻋﻨﻬﻢ ﻮﺍﺴﺘﻐﻔﺮﻠﻬﻢ ﻮﺷﺎﻮﺮﻫﻢ ﻓﻲ ﺍﻷﻤﺮ ﻓﺈﺬﺍ ﻋﺯﻤﺖ ﻓﺘﻮﻜﻝ ﻋﻟﻲ ﺍﻟﻟﻪ ﺇﻦ ﺍﻟﻟﻪ ﻴﺤﺐ ﺍﻟﻤﺘﻮﻜﻠﻴﻦ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu bersikap lemah membut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”(QS. Ali Imran :159)

Akhlak Rasulullah SAW terhadap tetangga

Orang yang suka menjerumuskan tetangga dan menuduhkan hal-hal buruk kepadanya, agama telah menetapkan hukumnya bertetangga dengan ketetapan yang amat berat. Mengenai hal itu Rasulullah s.a.w.bersabda :

ﻮﺍﷲﻻﻴﺆﻤﻦ ﻮﺍﷲﻻﻴﺆﻤﻦ ﻮﺍﷲﻻﻴﺆﻤﻦ ﻗﻴﻝ ﻤﻦ ﻴﺎ ﺮﺴﻮﻝ ﺍﷲ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺬﻱ ﻻﻴﺄﻤﻦﺠﺎﺮﻩﺒﻭﺍﺌﻘﻪ

“Demi Allah, ia tidak beriman. Demi Allah, ia tidak beriman. Demi Allah, ia tidak beriman. Seorang sahabat bertanya :”siapakah wahai Rasul Allah?”, Beliau menjawab :”Orang yang tetangganya tidak merasa aman karena perbuatan jahatnya.”(H.R. Bukhari)

Kita dianjurkan untuk menjaga perasaan hati tetangga kita. Kita tidak boleh menyakitinya. Karena tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita dalam lingkungan sosial. Kita tidak lepas dari bantuan mereka. Ketika kita jauh dari keluarga dan ketika itu juga kita sangat membutuhkan pertolongan, maka tetanggalah orang yang paling pertama membantu kita.

Akhlak Rasulullah SAW terhadap isteri

Rasulullah s.a.w.bersabda :”orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang baik akhlaknya dan paling lembut terhadap keluarganya.”(H.R. Bukhari)

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada isterinya.”(H.R. Tirmidzi)

Para suami sepatutnya benar-benar menyadari bahwa dalam pandangan Islam sebaik-baik lelaki adalah lelaki yang paling lemah lembut dan paling baik sikapnya kepada isteri, keluarga serta anak-anaknya.

Jadi, jika seorang suami bersikap kebengisan, garang atau kasar, walaupun mempunyai pangkat dan jabatan yang tinggi, memiliki ilmu yang banyak, menyandang gelaran dari anugerah sultan, sebenarnya belum menjadi lelaki yang baik.

Memang, boleh jadi karena satu dan lain hal. Isteri terkadang membuat jengkel atau sulit mentaati suami. Namun, sebenarnya yang paling penting untuk dipikirkan adalah kepribadian sang suami itu sendiri. Mengapa?, karena seorang suami akan sulut untuk mengubah isteri atau anak-anaknya ke arah yang lebih baik, jika si suami sendiri belum mengubah perilakunya menjadi lebih baik. Padahal dalam Al-Qur’an surat at-Tahrim :6, dikatakan :

ﻗﻮﺍ ﺃﻨﻔﺴﻜﻢ ﻮﺃﻫﻠﻴﻜﻢ ﻧﺎﺮﺍ

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.”

Artinya, yang menjadi keutamaan seharusnya adalah menjaga diri dan keluarga. Pokoknya kalau kita ingin berbuat sesuatu, sesudah kita memperbaiki diri, selamatkan keluarga. Banyak pemimpin yang jatuh gara-gara keluarganya. Kemungkinan akibat dari isterinya, dari anak-anaknya, ataupun sebaliknya.

Ironisnya, kadang-kadang suami lebih banyak menuntut dan menyalahkan isteri apabila ada hal-hal yang dianggapnya tidak baik. Misalnya, ketika sang anak malas belajar ataupun beribadah, suami sibuk menyalahkan isteri.

Isteri dianggap tidak mampu memperhatikan anak, tidak mampu mendidik,dsb. Padahal persoalan mendidik anak bukan semata-mata tanggung jawab isteri. Tidak sedikit rumah tangga yang menganggap pendidikan anak hanya pekerjaan ibu, sementara suami lebih sibuk mencari nafkah. Padahal sosok ibu hanya sebahagian dari pada potensi rumah tangga.

Keteladanan orang tua terhadap anak

Sering kali kita mendengar orang mengatakan “si Fulan adalah murid teladan”. Dari sini dapat diartikan bahwa Fulan adalah anak yang harus ditiru atau dijadikan sebagai contoh. Teladan menunjukkan makna yang positif.

Keteladanan merupakan salah satu proses untuk membentuk akhlak seseorang. Melalui keteladanan(Qudwah,Uswah). Orang tua dan guru yang biasa memberikan keteladanan mengenai perilaku baik, maka biasanya akan ditiru oleh anak-anaknya dan muridnya dalam mengembangkan perilaku mereka.

Tidaklah berlebihan jika Imam Al-Ghazali pernah mengibaratkan bahwa orang tua itu seperti cermin bagi anak-anaknya. Artinya, perilaku orang tua biasanya akan ditiru oleh anak-anaknya. Karena dalam diri anak-anak terdapat kecendrungan suka meniru (hubbu altaqlid).[3]

Oleh sebab itu, keteladanan moral orang tua sangat penting bagi pendidikan moral anak. Bahkan hal itu jauh lebih bermakna daripada sekedar nasihat lisan(indoktrinasi). Jangan berharap anak akan bersifat sabar, jika kita sebagai orang tua memberi contoh sikap yang selalu marah-marah. Keteladanan yang baik merupakan kiat yang mujarab dalam mengembangkan perilaku moral bagi anak.

Baca Juga: Akhlak Kepada Orang Tua

Hubungan antara iman dan keteladanan

Keteladanan yang buruk merupakan budi pekerti yang rendah. Budi pekerti rendah merupakan iman yang lemah. Iman adalah satu kekuatan yang sanggup menjaga manusia dari perbuatan-perbuatan rendah dan nista. Juga merupakan kekuatan yang mendorong manusia ke arah perbuatan mulia dan terpuji.

Dari titik tolak itulah seruan Allah yang memerintahkan manusia supaya mendambakan kebajikan dan menghindari kejahatan, menjadikan hal itu sebagai tuntutan iman yang bersemayam di lubuk hati. Betapa banyak firman Allah yang menjelaskan masalah itu di dalam Al-Qur’an. Diantaranya :

ﻴﺎﺃﻴﻬﺎﺍﻟﺬﻴﻦ ﺁﻤﻧﻮﺍﺍﺘﻘﻮﺍ ﺍﻟﻟﻪ ﻮﻜﻮﻧﻮﺍ ﻤﻊ ﺍﻟﺼﺎﺪﻘﻴﻦ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar.”(At-Taubah :119)

Rasulullah s.a.w.juga telah menjelaskan, bahwa iman yang kuat pasti melahirkan budi pekerti yang kuat pula . Dan sebaliknya rusaknya budi pekerti pasti akibat dari lemahnya iman, atau karena hilangnya iman disebabkan oleh terlampau besarnya perbuatan kejahatan dan kebodohan seseorang.

Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya. Sedangkan mukmin yang berakhlak mulia menyamai derajat orang yang berpuasa dan mendirikan shalat. Dan manusia terbaik adalah yang terbaik akhlaknya, begitu pula mukmin yang terbaik adalah yang terbaik akhlaknya.

Dari sini bisa diambil kesimpulan, bahwa berusaha mendapatkan akhlak yang mulia lebih baik daripada berusaha meraih emas dan perak. Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah s.a.w.bersabda :

ﺍﻠﻧﺎﺲ ﻤﻌﺎﺪﻦ ﻜﻤﻌﺎﺪﻦ ﺍﻠﻔﺿﺔ ﻮﺍﻠﺬﻫﺐ ﺨﻴﺎﺮﻜﻢ ﻓﻲ ﺍﻠﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﺨﻴﺎﺮﻜﻢ ﻓﻲﺍﻹﺴﻻﻢ ﺇﺫﺍ ﻓﻘﻬﻮﺍ ﻮﺍﻷﺮﻮﺍﺡ ﺠﻨﻮﺪ ﻤﺠﻨﺪﺓ ﻓﻤﺎ ﺗﻌﺎﺮﻑ ﻤﻨﻬﺎ ﺍﺌﺗﻟﻒ ﻮﻤﺎ ﺗﻨﺎﻜﺮ ﻤﻨﻬﺎ ﺍﺨﺗﻟﻒ

“Manusia itu barang tambang seperti tambang perak dan emas, orang terbaik diantara kalian waktu jahiliyah merekalah yang terbaik dalam Islam jika ia memahami Islam. Arwah merupakan bala tentara yang dikumpulkan, maka yang saling mengenal di antara mereka akan bersatu, dan yang tidak saling mengenal akan berselisih.”

Kesimpulan

Untuk meneladani seseorang hendaklah kita mengetahui banyak tentang kepribadian dirinya. KIta bisa membaca beberap sifat yang dimiliki Nabi muhammad SAW hingga beliau dijuliki fathonah, tabligh, amanah, dan siddiq.

Manusia yang paling sempurna dan paling baik budi pekertinya dan yang paling patut untuk dijadikan suri tauladan adalah nabi Muhammad s.a.w. Beliaulah yang mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap kepada sesama dan kepada tetangga serta kepada orang tua serta kepada makhluk Allah yang lainnya.

Hubungan iman dengan keteladanan sangat erat kaitannya.Orang mukmin yang berakhlak mulia adalah yang sempurna imannya. Begitu pula dengan orang yang bersuri tauladan yang baik menggambarkan kesempurnaan imannya.

Baca Juga: Akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai Pemimpin Ummat

 

Daftar Pustaka

Azzindani, Abdul Majid Aziz. 1996. Jalan Menuju Iman. Jakarta: Gema Insani Press.

Mustaqim, Abdul. 2007. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta: Kreasi Kencana.

Shabir, Muslich. 1981. Terjemah Riyadlus Shalihin 1. Jakarta: Toha Putra Semarang.

Thahir, Muhammad dan Abu Laila. 1995. Akhlak Seorang Muslim. Bandung: PT. Al-Ma’arif

Zainu, Muhammad Jamil. 1995. Teladan Utama itu Muhammad Rasulullah: Akhlak Nabawiah dan sifat-sifat keutamaannya. Surabaya: Risalah Gusti.

Al-Masri, Nasy’at. 1996. Nabi Suami Teladan. Jakarta: Gema Insani Press.

 

Catatan Kaki

[1] Abdul Majid Aziz Azzindani, Jalan menuju iman,( Gema Insani Press, Jakarta, 1996), hal.62

[2] Abdurrahman Ibn Abu Bakar al-Suyuthi, Al-jami’ Al-Saghir,( Mesir al-Maktabah al-Tijariyah, 1352 H) jilid 1, hal.348

[3] Abdul Mustaqim, Akhlak Tasawuf, Kreasi Kencana, Yogyakarta, 2007, hal.9

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.