Asas-asas Pemikiran Islam

Asas-asas Pemikiran Islam

Tongkrongan Islami – Membedakan antara Islam dan pemikiran Islam sangat penting di sini. Pemikiran Islam bukanlah wilayah yang terbebas dari intervensi historisitas (kepentingan) kemanusiaan. Kita mengenal perubahan dalam pemikiran Islam sejalan dengan perbedaan ruang dan waktu.

Pemikiran Islam tidak bercita-cita untuk mencampuri nash-nash wahyu yang tidak berubah (al-nushushu al-mutanahiyah) melalui tindakan pengubahan baik penambahan dan pengurangan atau bahkan pengapusan.

Bagaimanapun kita sepakat bahwa Islam (obyektif) sebagai wahyu adalah petunjuk universal bagi umat manusia. Pemikiran Islam juga tidak diarahkan untuk mengkaji Islam subyektif yang ada dalam kesadaran atau keimanan setiap para pemeluknya. Karena dalam wilayah ini, Allah secara jelas menyakatan kebebasan bagi manusia untuk iman atau kufur, untuk muslim atau bukan (freedom of religion; qs. Al-Baqarah 256; Al-Kafirun 1-6).

Pemikiran Islam lebih diarahkan untuk mengkaji dan menelaah persoalan-persoalan dalam realitas keseharian unat muslim yang “lekang dan lapuk oleh ruang dan waktu” (al-waqai’ ghairu mutanahiyah).

Dengan meletakkan Islam dalam tajdid wa al-iftikar, setiap muslim tidak perlu lagi khawatir bahwa pembaharuan ekspresi, interpretasi dan pemaknaan Islam yang ditawarkan kepada komunitas dalam locus dan tempus tertentu, tidak memiliki pretensi untuk mengganggu apalagi merusak Islam sebagai wahyu ataupun keimanan secvara langsung ataupun tidak.

Tajdid wa al-iftikar merupakan program pembaharuan terencana dan terstruktur yang diletakkan di atas bangunan refleksi motivitas dan historisitas dan aplikasinya pada realitas kehidupan nyata Islam dalam kontek sosial-kemasyarakatan dalam arti luas.

Dengan program ini pula dimaksudkan agar Islam benar-benar menjadi rahmatan lil alamin; sebuah proses menafsurkan universalitas Islam melalui kemampuan membumikannya pada wilayah-wilayah partikularitas dengan segala keunikannya. Ini berarti pula bahwa pemikiran Islam menerima kontribusi dari semua lapisan baik dalam masyarakat muslim (insider) maupun non muslim (outsider).

Baca Juga: Manhaj Pengembangan Pemikiran Islam

Sumber pemikiran Islam. Setiap disiplin keilmuan dibangun dan dikembangkan melalui kajian-kajian atas sumber pengetahuannya. Sumber pemikiran Islam adalah wahyu, akal, ilham atau intusi dan realitas.

Asas-Asas Pemikiran Islam

Asas dapat diartikan sebagai dasar, penopang bahkan bisa dikatakan pondasi. Dari defenisi singkat ini, bisa dikatakan asas pemikiran islam merupakan sesuatu yang wajib diadakan, sehingga tanpa keduanya maka bukan termasuk di dalamnya. Pemikiran Islam dibangun di atas dua asas yakni akal dan syara’

Asas Pertama: Akal

Islam telah memberi seruan kepada akal manusia. Allah telah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan alam semesta dan memperhatikan apa-apa yang ada di dalanmya secara mendalam sehingga dapat mencapai kepada keimanan akan adanya al Khaliq yang menciptakannya.

Allah SWT berfirman: “Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (TQS. Adz Dzaariyaat [51]: 21)

“Maka perhatikanlah manusia itu, dari apa dia diciptakan” (TQS. Ath Thaariq [86]: 5)

“Apakah mereka tidak memperhatikan pada kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah” (TQS. Al A’raaf: 185)

Cara seperti ini akan menghantarkan kepada keyakinan akan adanya al Khaliq Yang Maha Kuasa. Dengan demikian akal merupakan jalan bagi manusia untuk meyakini keberadaan al Khaliq, untuk meyakini Al Quran sebagai hakamullah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Dengan demikian maka akal merupakan asas bagi aqidah Islam. Sehingga aqidah Islam merupakan aqidah aqliyyah (aqidah yang diperoleh dengan memfungsikan akal, penerj.) yang merupakan asas bagi pemikiran Islam. Dengan demikian maka aqidah Islam dibangun berdasarkan akal.

Asas Kedua: Syara’

Sesungguhnya pemikiran Islam, dengan seluruh bagiannya, bersumber dari syara’ yang datang dengan jalan wahyu yaitu Al Quran dan As sunnah dan apa-apa yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As sunnah yakni ijma’ sahabat dan qiyas.

Dengan demikian, maka syara’ merupakan asas pemikiran Islam, dimana pemikiran Islam tidak akan keluar dari syara’ selama-lamanya. Agar suatu pemikiran dianggap sebagai pemikiran Islam maka haruslah digali dari dalil-dalil syara.

Misalnya jihad, syura, dan iman kepada adanya jin. Semuanya merupakan pemikiran Islam yang datang dari dalil-dalil kitabullah dan sunnah Rasul. Adapun penjajahan, teori Darwin, ataupun pemikiran sosialisme bukanlah pemikiran Islam, bahkan pemikiran Islam telah menjelaskan kelemahan dari ketiga bentuk pemikiran ini.

Pemikiran Islam akan hilang kekhasannya jika terpisah—secara keseluruhan atau sebagian—dari wahyu. Allah telah melarang kita untuk melakukan pemisahan ini. Firman Allah: “Barang siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya dan dia pada hari akhirat termasuk orangyang merugi” (TQS. Ali lmran [3]: 85)

Juga tidak akan diterima pemikiran yang tambal sulam seperti yang dilakukan sebagian orang yang mengambil perekonomian dari Marxis atau Kapitalisme dan akhlaq atau social kemasyarakatan dari pemikiran Barat—bahkan mereka terpesona dengan setiap yang baru dan asing—kemudian menggabungkannya dengan pemikiran Islam.

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.