Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud

Meskipun dalam pensyarahan hadis al-‘Aini banyak menggunakan metode Tahlili dan Muqarin, namun kadang juga beliau menggunakan metode Ijmali, adapun contoh yang terpaparkan di atas adalah salah satu hadis yang beliau syarahi dengan menggunkan metode Ijmali.

Selain itu juga pada hadis di atas beliau memaparkan juga hadis lain yang isi dan redaksinya selaras dengan hadis yang disyarahi (Baca: Hadis dengan tanda ص yang kedua). Dalam mensyarahi hadis al-‘Aini kadangkala lebih banyak membahas perihal rawi ketimbang makna kandungan hadisnya (Baca Syarah hadis di atas), meski demikian ini tidak terjadi pada kesemuanya hadis yang beliau syarahi.

Syarh Aunul Ma’bud

(باب في من نام عن صلاة أو نسيها )

( عن أبي هريرة ) هو عبد الرحمن بن صخر على الأصح من بين نيف وثلاثين قولا وقد رأى النبي في كمه هرة فقال ياأبا هريرة فاشتهر به والأوجه في وجه عدم انصراف هريرة في أبي هريرة هو أن هريرة صارت علما لتلك الهرة   قاله على القارىء في شرح الشفاء ( حين قفل ) أي رجع إلى المدينة ( حتى إذا أدركنا ) بفتح الكاف ( الكرى ) بفتحتين هو النعاس وقيل النوم ( عرس ) قال الخطابي معناه نزل للنوم والاستراحة والتعريس النزول لغير إقامة ( اكلأ ) أي احفظ واحرس ( لنا الليل ) أي آخره لادراك الصبح ( فغلبت بلالا عيناه ) هذا عبارة عن النوم أي نام من غير اختيار ( وهو مستند إلى راحلته ) جملة حالية تفيد عدم اضطجاعه عند غلبة نومه ( حتى ضربتهم الشمس ) أي أصابتهم ووقع عليهم حرها ( أولهم استيقاظا ) قال الطيبي في  يحفظ لنا الليل ويحرس ( فاستيقظ ) أي انتبه ( فقال افعلوا كما كنتم تفعلون ) وفي رواية لمسلم وأحمد فصنع كما كان يصنع كل يوم فيه إشارة إلى أن صفة قضاء الفائتة كصفة أدائها فيؤخذ منه أنه يجهر في الصبح المقضية بعد طلوع الشمس

 قال المنذري والحديث أخرجه النسائي

Berdasarkan uraian kitab ‘Aunul Ma’bud pada pemahasan awal, dari sana bisa diambil rujukan bagaimana model pensyarahannya dan membandingkannya dengan pensyarahan yang dilakukan oleh al-‘Aini. Berbeda dengan al-‘Aini, dalam mensyarahi hadis Abu Tayyib tidak memaparkan terlebih dahulu redaksi lengkap hadis, namun beliau langsung menyebutkan  rawi pertama dan sekilas biografinya dilanjutkan dengan pensyarahan hadis yang kadangkala pensyarahannya perlafadz hadis namum kadangkala juga dari rentetan beberapa lafadz, dengan sedikit menyinggung aspek nahwiyah baik dari segi cara membacanya (harakat huruf) atau selainnya. Selain itu Abu Tayyib juga mencantumkan Tashih oleh al-Mundziri berkenaan dengan informasi rawi lain yang meriwayatkan hadis tersebut, dan kadang kala juga mencantumkan ta’liq oleh Ibn al-Qayyim.

Dari pemaparan kedua contoh di atas yang kebetulan keduanya menggunakan metode Ijmali, dapat diketahui perbedaan kedua corak pensyarahan hadis tersebut. Dan untuk lebih jelas mengetahu perbedaan corak pensyarahan ‘Aunul Ma’bud dan Syarh al-Aini bisa dilihat pada tabel berikut:

Model Pensyarahan Aunul Ma’bud Syarah al-‘Aini
Penyebutan redaksi lengkap hadis pada awal pensyarahan  

 

 

Oke

Tashih al Mundziri Oke
Hadis dalam Sunan Abu Daud disyarahi keseluruhan Oke
Ta’liq Ibn al-Qayyim Oke
Pensyarahan kadang perlafadz kadang serangkaian lafadz  

Oke

 

Oke

Pemaparan biografi singkat rawi Oke Oke
Pemaparan biografi  rawi pertama (sahabat) pada awal syarah Oke

 

Awal syarah mengggunakan tanda ش Oke
Penyebutan rentetan sanad hadis Oke
Awal hadis mengunakan tanda ص Oke
Pendapat pribadinya, ditandai dengan simbol ‘صح’  

Oke

Penjelasan kaidah nahwiyah Kadang ada Lebih ditekankan
Metode Pensyarahan Mayoritas Ijmali Mayoritas Tahlili
Pendekatan Mayoritas Historis Bahasa
Kualitas hadis Kadang-kadang Kadang-kadang

 

Kelebihan dan Kekurangan Kitab ‘Aunul Ma’bud

Kelebihan dari kitab Syarah ini adalah bahwa penjelasan hadis ringkas serta bahasa yang digunakan juga sederhana sehingga mudah untuk difahami oleh kebanyakan kalangan, selain itu dalam mensyarahi hadis pengarang menyelaraskannya dengan nash-nash Al Qur’an,[11]

Adapun kekurangannya adalah dari keterangan yang global ini menjadikan keterangan hadis bersifat parsial, selain itu gaya bahasa yang digunakan dalam pensyarhan tidak jauh beda dengan gaya bahasa yang digunakan oleh hadis itu sendiri, hal ini mengharuskan bagi si pembaca agar benar-benar memahami redaksi matan hadis.

Catatan Kaki

[1] Selain itu ada juga ulama yang mengatakan bahwa Abu Tayyib wafat 19 Rabi’ul Awwal 1329 H di  Tha’un

[2] Sebut saja kitab syarah Sunan Abu Daud karya al-‘Aini yang meskipun model pensyarahannya lebih terperici (menggunakan metode tahlili) namun dalam  kitab ini tidak semua hadis dalam Sunan Abu Daud  disyarahi, ini berbeda dengan Syarah Sunan Abu Daud “’Aunul Ma’bud” yang  meskipun model pensyarahannya menggunakan metode ijmali, namun semua hadis yang ada dalam  Sunan Abu Daud tersyarahi.   Mungkin kelengkapan syarah dalam Aunul Ma’bud lah yang menyebabkannya lebih tenar dibanding kitab syarah Sunan Abu Daud yang lain.

Selain ‘Aunul Ma’bud dan Syarah al-‘Aini,  kitab syarah lain Sunan Abu Daud masih banyak dijumpai ,  yang diantaranya adalah  Ma’alim al-Sunan karya Abu Sulaiman Hamd ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Khathabi, Fath al-Wadud ‘ala Sunan Abi Daud karya Abu al-Hasan al-Sindi, Ta’liqat al-Mahmud karya Fajr al-Husain Kanjuhi, Ghayah al-Maqshud fî Halli Sunan Abi Daud karya Muhammad Syams al-Haq, dan sebagainya.

[3] Ini berbeda dengan pengecekan yang penulis lakukan melalui DVD ROM al-Maktab al-Syamilah disana tercantum bahwa No hadis terakhir adalah 5276.

[4] Lihat pada al-Fadhil al-Jalil Abu al-Tayyib Muhammad al-Syahir Syamsuddin al-Haq al-Adzim Abadi, Aunul Ma’bud, dalam DVD ROM al-Maktabah al-Syamilam.

[5] Nizar Ali, Memahami Hadis Nabi ; Metode Pendekatan,(Yogyakarta: YPI Al-Rahma), hlm. 42.

[6] Ini bisa dilihat pada contoh hadis yang kedua(menggunkan metode Muqarin) . Dan setelah melakukan penelitian terhadap syarah kitab, ternyata ungkapan ulama yang  menyatakan bahwa metode pensyarahan dalam kitab ini adalah dengan menggunakan metode ijmali ini berpijak pada jumlah mayoritas hadis yang cara pensyarahannnya dengan metode ijmali.

[7] Hadis Riwayat Abu Daud as-Sijistani, Sunan Abu Daud, Kitab al-Shaum no.2074 Bab fi Shaum al-Muharram dalam CD ROM Al-Mausu’ah al-Hadis al-Syarîf.

[8]Hadis Riwayat Abu Daud as-Sijistani, Sunan Abu Daud, Kitab al-At’imah Bab fi Akli Luhum al-Khaili no.3294 dalam CD ROM Al-Mausu’ah al-Hadis al-Syarîf.

[9] Hadis Riwayat Abu Daud as-Sijistani, Sunan Abu Daud, Kitab al-Shalat Bab Man Nama ‘an Shalat au Nasiyaha  no.371 dalam CD ROM Al-Mausu’ah al-Hadis al-Syarîf.

[11] Ini bisa dilihat pada contoh yang telah dipaparkan di atas berkenaan dengan masalah hukum memakan daging khail .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.