Bentuk Perintah dan Larangan dalam Al-Qur’an dan Hadis

Bentuk Perintah dan Larangan dalam Al-Qur'an dan Hadis

Tongkrongan Islami – al-Amr (perintah) adalah permintaan untuk melakukan (thalab al-fi’l) secara superior, sedangkan an-nahy (larangan) adalah permintaan untuk meninggalkan (thalab at-tark) secara superior. Al-Amr dan an-nahy masing-masing bermakna permintaan (thalab), baik untuk melakukan ataupun meninggalkan sesuatu.

Ragam al-Amr wa an-Nahy (perintah dan larangan)

Dilihat dari bentuk al-amr wa an-nahy (perintah dan larangan) tersebut, maka bisa diklasifikasikan menjadi dua: Pertama, jelas (sharîh) dan; Kedua, tidak jelas (ghayr sharîh).

A. Perintah dan Larangan yang Sharîh

Perintah dan larangan yang Sharîh (jelas) harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut:

  1. Menggunakan Ungkapan Perintah dan Larangan (lafzh al-amr wa an-nahy).

Perintah dan larangan yang sharîh (jelas) yang menggunakan ungkapan perintah dan
larangan, atau lafazh: amar[a]-ya’mur[u]-amr[an], atau nah[â]-yanh[â]-nahy[an]. Misalnya firman Allah SWT. yang mengatakan:

  إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. (QS. an-Nisâ’ [4]: 58).

  إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. (QS. al-Mumtahanah [60]: 9).

2. Menggunakan Ungkapan yang Secara Bahasa bisa Digunakan untuk Menunjukkan
Perintah dan Larangan.

Perintah dan larangan yang sharîh (jelas) yang menggunakan ungkapan yang secara bahasa bisa digunakan untuk menunjukkan perintah dan larangan, antara lain dengan menggunakan:

a. Fi’l al-amr dan fi’l an-nahy, misalnya firman Allah SWT. yang mengatakan:

  وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. (QS. al-Mâidah [5]: 38).

} وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. al-Isrâ’ [17]: 32

b. Fi’l al-mudhâri’ yang disertai lâm al-amr, misalnya firman Allah SWT. Yang mengatakan:

} وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali ‘Imrân [3]: 104).

c. Mashdar yang berfungsi perintah, misalnya firman Allah SWT. yang mengatakan:

} فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ {

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. (QS. Muhammad [47]: 4).

d. Ism fi’l al-amr, misalnya firman Allah SWT. yang mengatakan:

} قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَذَا {

Katakanlah: “Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya
Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini.” (QS. al-An’âm [6]: 150).

B. Perintah dan Larangan yang Tidak Sharîh

Adapun perintah dan larangan yang tidak sharîh adalah perintah dan larangan yang tidak menggunakan lafazh: amar[a]-ya’mur[u]-amr[an], atau nah[â]-yanh[â]-nahy[an] dan juga
tidak menggunakan ungkapan yang secara bahasa bisa digunakan untuk menunjukkan perintah dan larangan. Namun, struktur kalimat yang dinyatakan dalam nash kadang mempunyai konotasi perintah dan larangan. Dalam hal ini, bisa diklasifikasikan menjadi dua:

1. Kalimat yang Terstruktur dalam Ungkapan Tekstual (Manthûq) dengan Konotasi

Perintah Dalam bahasa Arab, gaya ungkapan permintaan (at-thalab) –baik untuk dikerjakan maupun ditinggalkan– yang terstruktur dalam ungkapan tekstual (manthûq) dengan konotasi perintah, antara lain:

a. Menggunakan harf al-Jarr, seperti Li (untuk atau buat), Fî (di dalam) dan ‘Alâ (di atas); semuanya dengan makna aslinya, dan dinyatakan di permulaan kalimat. Misalnya, firman Allah SWT. Yang menyatakan:

} لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan. (QS. an-Nisâ’ [4]: 7).

Ini yang berkonotasi perintah, sedangkan yang berkonotasi larangan, misalnya firman
Allah SWT. yang mengatakan:

} لَيْسَ عَلَى الأَعْمَى حَرَجٌ وَلاَ عَلَى الأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلاَ عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلاَ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا

Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka). (QS. an-Nûr [24]: 61).

Ini artinya sama dengan: La tataharraj (janganlah kamu merasa berat) terhadap orang buta dan sebagainya.

b. Menggunakan harf al-‘Aradh, seperti Lawlâ (Kalau bukan), Alâ (Ingatlah) dan sebagainya. Ini berkaitan dengan konteks perintah. Misalnya firman Allah SWT. yang menyatakan:

} أَلاَ تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُمْ بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. at-Taubah [9]: 13).

c. Menggunakan pertanyaan yang ditakwilkan untuk perintah yang didasarkan pada tuntutan yang bentuk kalimat berita (mathlûb khabarî). Misalnya firman Allah SWT. yang menyatakan:

} إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ {

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. al-Mâidah [5]: 91).

d. Perintah secara kiasan yang disertai dengan hâl, dimana hâl tersebut merupakan sesuatu yang diperintahkan. Misalnya sabda Nabi saw. Yang menyatakan:

« فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَـأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ »

Maka, siapa saja yang ingin menjauhkan diri dari neraka dan masuk surga, hendaknya ia dijemput oleh kematiannya sementara dia tetap dalam keadaan beriman kepada Allah dan
Hari Akhir. (HR. Muslim dari ‘Amr bin al-‘Ash).

Frasa: falta’tihi maniyyah (hendaknya ia dijemput oleh kematiannya) adalah perintah kiasan, yang disertai dengan hâl, yaitu: wahuwa yu’min[u] bi-Llâh[i] wa al-yawm al-âkhir[i] (sementara dia tetap dalam keadaan beriman kepada Allah dan Hari Akhir). Artinya, pertahankanlah keimanan kalian, hingga kematian menjemput kalian. Hal yang sama bisa berlaku dalam konteks larangan. Misalnya firman Allah SWT. yang menyatakan:

} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ {

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali ‘Imrân [3]: 102).

Artinya: Janganlah kamu meninggalkan Islam, dan tetaplah berpegang teguh dengannya hingga kematian menjemputmu, sementara kamu tetap seperti itu.

e. Menggunakan khabar (kalimat berita) yang berimplikasi jawaban pasti, maka kalimat berita tersebut mempunyai konotasi perintah dan tuntutan. Misalnya, firman Allah SWT. yang menyatakan:

} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ~ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ~ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ {

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surge `Adn. (QS. as-Shaff [61]: 10-13).

Frasa: Tu’minûna bi-Llâh[i] wa Rasûlih[i] (Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya) dan
seterusnya –yang merupakan kalimat berita, bukan perintah– telah dijawab oleh Allah dengan frasa: Yaghfir lakum (maka, Dia akan mengampuni kamu) mempunyai konotasi perintah, maka kalimat tersebut mempunyai konotasi perintah.

Artinya, sama dengan: Berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, dan berjihadlah di jalan Allah dan seterusnya.

f. Menggunakan kalimat bersyarat (jumlah syarthiyyah) dalam bentuk kalimat berita, dengan jawaban yang berisi pujian atau celaan untuk aktivitasnya, maka kalimat tersebut mempunyai konotasi perintah atau larangan melakukan aktivitas tadi. Misalnya, firman Allah SWT. yang mempunyai konotasi perintah:

} إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَفْقَهُونَ

Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. al-Anfâl [8]: 65).

Frasa: Inyakun minkum shâbirûna (jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu)
adalah kalimat bersyarat dalam bentuk kalimat berita, bukan perintah. Namun, adanya jawaban yang memuji orang-orang yang sabar: yaghlibûna (maka, mereka akan bisa mengalahkan) tadi menunjukkan, bahwa sabar atau keteguhan –yang menjadi aktivitas orang yang sabar– dalam menghadapi musuh itu diperintahkan.

Sedangkan yang berkonotasi larangan, seperti firman Allah yang menyatakan:

} وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. an-Nisâ’ [4]: 112).

2. Kalimat yang Terstruktur dalam Ungkapan Kontekstual (Mafhûm) dengan Konotasi
Perintah

Gaya ungkapan permintaan (at-thalab) yang terstruktur dalam ungkapan kontekstual (mafhûm) dengan konotasi perintah atau larangan tersebut biasanya dinyatakan oleh dalâlah iqtidhâ’, yang ­nota bene merupakan salah satu bentuk mafhûm dengan konotasi perintah. Antara lain:

a. Jika ungkapan penyampai (mutakallim)-nya menuntut harus benar. Misalnya, firman Allah SWT. yang menyatakan:

} وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ

Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. (QS. al-Baqarah [2]: 228).

Struktur kalimat di atas adalah struktur kalimat berita. Dalam kalimat berita, isi kalimatnya
bisa mempunyai dua kemungkinan, benar dan salah. Namun, struktur surat al-Baqarah: 228 di atas, kandungan makna beritanya adalah benar, karena itu frasa: yatarabbashna tersebut mempunyai konotasi: layatarabbashna (hendaklah menahan diri), yang berarti perintah. Tidak lagi berkonotas berita, yang bisa benar dan salah. Sama dengan mafhûm dari struktur kalimat berikut ini, yang mempunyai konotasi larangan:

 وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً

Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (QS. an-Nisâ’ [4]: 141).

b. Jika dituntut oleh apa yang secara syar’i absah terjadi. Ini bisa dilakukan dengan gaya berdo’a, namun dengan kalimat berita (khabariyyah), bukan perintah atau larangan (insyâ’iyyah), baik menggunakan kata kerja masa lampau (mâdhî), kekinian dan futuristik (mudhâri’), atau kata jadian (mashdar). Misalnya do’a:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Semoga Allah memberikan keselamatan, rahmat dan berkat-Nya kepadamu.

Lafazh: as-salâm, rahmah dan barakâtuh adalah kata jadian (mashdar) dari bentuk dasar masing-masing. Masing-masing lafazh tersebut digunakan dalam konteks do’a, sehingga mempunyai konotasi permintaan (perintah dan larangan).

Disamping bentuk ungkapan di atas, juga bisa digunakan ungkapan lain, dengan menggunakan makna hukum dalam bentuk kalimat berita, seperti lafazh: Kutib[a], Ahall[a], Harram[a] dan sebagainya. Misalnya firman Allah SWT. yang menyatakan:

} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِـكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. al-Baqarah [2]: 183).

Atau firman Allah:

} حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan. (QS. an-Nisâ’ [4]: 23).

c. Jika dituntut oleh keabsahan pelaksanaan hukum syara’ agar hukum tersebut bisa dilaksanakan. Misalnya firman Allah yang menyatakan:

} وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang sama. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. (QS. al-Anfâl [8]: 58).

Agar hukum di atas bisa diimplementasikan dengan benar, maka negara Khilafah harus mempunyai mata-mata yang bertugas memata-matai aktivitas musuh, sehingga kejujuran dan pengkhianatan mereka bisa dibuktikan. Maka, adanya mata-mata yang memata-matai musuh tadi menjadi tuntutan yang dituntut oleh keabsahan pelaksanaan hukum di atas.

d. Jika dituntut oleh apa yang secara rasional (berdasarkan analisis bahasa) absah terjadi. Ini bisa dengan menggunakan mashdar untuk menjawab kalimat bersyarat, dengan indikasi perintah. Misalnya:

} فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَارَجَعْتُمْ

Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. (QS. al-Baqarah [2]: 196).

Faman lam yajid (tetapi jika ia tidak menemukan [binatang korban atau tidak mampu]) adalah kalimat bersyarat, yang dijawab dengan mashdar: Fashiyâm (maka, wajib berpuasa), yang menurut analisis bahasa sama dengan: Fa ‘alaykum as-siyâm. Namun, frasa: ‘alaykum disembunyikan. Jadi, frasa: Fashiyâm tersebut mempunyai konotasi perintah, sekalipun tidak berbentuk kata perintah. Karena, frasa tersebut strukturnya berbentuk mashdar yang menjadi jawaban kata bersyarat.

Konotasi Makna al-Amr wa an-Nahy

Permintaan (thalab) –baik untuk dikerjakan (al-amr) maupun ditinggalkan (an-nahy)– mempunyai dua konotasi, riil (at-thalab ‘alâ wajh al-haqîqah) dan tidak (at-thalab ‘alâ wajh ghayr al-haqîqah).

A. Konotasi Makna Perintah dan Larangan yang Tidak Riil

Perintah dan larangan yang tidak riil adalah permintaan yang: Pertama, tidak dimaksud untuk dikerjakan; Kedua, di luar kemampuan pihak yang diseru (al-mukhâthab); Ketiga, disandarkan kepada pihak yang diseru (al-mukhâthab) sebagai pihak yang tidak terbebani hukum (ghayr al-mukallaf) dengan sandaran yang tidak riil. Inilah yang dimaksud dengan permintaan (thalab) –baik untuk dikerjakan (al-amr) maupun ditinggalkan (an-nahy)—yang tidak riil (at-thalab ‘alâ wajh ghayr al-haqîqah).

Untuk memudahkan pembagian, dalam hal ini bisa diklasifikasikan menjadi dua: Pertama, permintaan yang menuntut dikerjakan (thalab al-fi’l) atau perintah (al-amr); Kedua, permintaan yang menuntut ditinggalkan (thalab at-tark) atau larangan (an-nahy).

1. Perintah (al-amr) yang Tidak Riil

Shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang tidak riil (‘alâ wajh ghayr al-haqîqah)
bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Taswiyyah: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang statusnya sama jika dikerjakan atau ditinggalkan. Contohnya:

} اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لاَ تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ

Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu. (QS. at-Thûr [52]: 16).

b. Ihânah: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang bertujuan untuk menghina pihak yang diperintahkan. Contohnya:

} قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ

Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu dengan kemarahanmu itu”. (QS. Ali ‘Imrân [3]: 119).

c. Istihzâ’ wa Sukhriyyah: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang bertujuan membanggakan diri dan merendahkan pihak yang diperintahkan. Contohnya:

} ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ

Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia. (QS. ad-Dukhân [44]: 49).

d. Tahdîd: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang bertujuan untuk mengancam pihak yang diperintahkan. Contohnya:

} قُلْ يَاقَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ

Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah dengan segala kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula . Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. (QS. al-An’âm [6]: 135).

e. Ta’jîz: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang mempunyai konotasi melemahkan pihak yang diperintahkan. Contohnya:

} وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. al-Baqarah [2]: 23).

f. Taskhîr: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang mempunyai konotasi menyihir pihak yang diperintahkan. Contohnya:

} قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا

Katakanlah: “Jadilah kalian batu atau besi.” (QS. al-Isrâ’ [17]: 50).

g. Tahaddî: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang bertujuan untuk menantang pihak yang diperintahkan. Contohnya:

} فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ

“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,”
lalu heran terdiamlah orang kafir itu. (QS. al-Baqarah [2]: 258).

h. Imtinân: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah)  yang mempunyai konotasi mengungkit karunia atau nikmat. Contoh:

 } كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ

Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu. (QS. al-An’âm [6]: 142).

i. Ikrâm bi al-ma’mûr: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang mempunyai konotasi memuliakan pihak yang diperintahkan. Contohnya:

} ادْخُلُوهَا بِسَلاَمٍ ءَامِنِينَ

(Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”. (QS. al-Hijr [15]: 46).

j. Ihtiqâr: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang berkonotasi penghinaan kepada pihak yang diperintahkan. Contoh:

} قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ

Berkatalah Musa kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu Lemparkan”. (QS. as-Syu’arâ’ [26]: 43).

k. At-Takwîn: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang mempunyai konotasi penciptaan. Contohnya:

} إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (QS. Yasin [36]: 82).

l. Khabar: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang mempunyai konotasi kalimat berita. Contohnya:

} وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. (QS. al-Baqarah [2]: 233).

m. Du’â’: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang mempunyai konotasi meminta kepada pihak yang lebih tinggi. Contohnya:

} رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahîm [14]: 41).

n. Tamanni: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang merupakan harapan yang mustahil teriilisir. Contohnya:

« ألاَ أَيُّهَا اللَّيْلُ الطَّوِيْلُ أَلاَ انْجِلْي

Duhai malam yang panjang, berhentilah!

o. Tarajjî: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang merupakan harapan yang mungkin diriilisir. Contohnya:

أمْطِرِيْ أيَّتُهَا السَّمَاءُ فَقَدْ جَفَّ الضَّرْعُ

Hujanlah wahai langit, sebab tetek lembu itu telah kering!

2. Larangan (al-nahy) yang Tidak Riil

Shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang tidak riil (‘alâ wajh ghayr al-haqîqah) bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Taswiyyah: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang statusnya sama jika dikerjakan atau ditinggalkan. Contohnya:

} اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لاَ تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ

Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panash apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu. (QS. at-Thûr [52]: 16).

b. Tahqîr: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang bertujuan untuk meremehkan pihak yang dilarang. Contohnya:

} وَلاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada
golongan-golongan dari mereka. (QS. Thâha [20]: 131).

c. Bayân al-‘âqibah: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang mempunyai
konotasi menjelaskan akibat. Contohnya:

} وَلاَ تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. (QS. Ibrâhîm [14]: 42).

d. Al-Ya’s: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang mempunyai konotasi keputusasaan pihak yang dilarang. Contohnya:

} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لاَ تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ إِنَّمَا تُجْ وْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan. (QS. at-Tahrîm [66]: 7).

e. Tasliyyah: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang mempunyai konotasi menghibur pihak yang dilarang. Contohnya:

} وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللَّهِ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu
bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (QS. an-Nahl [16]: 127).

f. Irsyâd: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang mempunyai konotasi membimbing pihak yang dilarang. Contohnya:

} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu. (QS. al-Mâidah [5]: 101).

g. Syafaqah: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang mempunyai konotasi empati atau simpati.  Contohnya sabda Nabi saw. yang mengatakan:

« لاَ  تَتَّخِذُوا الدَّوَابَّ كَرَاسِيَّ فَرُبَّ مَرْكُوبَةٍ عَلَيْهَا هِيَ أَكْثَرُ ذِكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى مِنْ رَاكِبِهَا »

Janganlah kamu menjadikan hewan tunggangan sebagai kursi (tempat duduk); Bisa jadi yang ditunggangi lebih banyak dzikirnya kepada Allah ketimbang yang menungganginya. (HR. Ahmad).

B. Konotasi Makna Perintah dan Larangan yang Riil

Sedangkan perintah dan larangan yang riil adalah permintaan (thalab) yang merupakan kebalikan perintah dan larangan di atas. Pertama, ia dimaksud untuk dikerjakan; Kedua, dalam kemampuan pihak yang diseru (al-mukhâthab); Ketiga, disandarkan kepada pihak yang diseru (al-mukhâthab) sebagai pihak yang terbebani hukum (al-mukallaf) dengan sandaran secara riil.

Inilah yang dimaksud dengan permintaan (thalab) –baik untuk dikerjakan (al-amr) maupun ditinggalkan (an-nahy)– yang riil (at-thalab ‘alâ wajh al-haqîqah). Karena itu, konteks perintah dan larangan tersebut berkaitan dengan seruan tanggungjawab hukum (khithâb at-taklîf).

Dan karena konteks perintah serta larangan yang riil tersebut berkaitan dengan hukum syara’ –sebagai seruan pembuat syariat– baik dalam konteks tuntutan untuk dikerjakan (thalab al-fi’l) maupun ditinggalkan (thalab at-tark), maka konotasi makna perintah dan larangan tersebut tidak akan terlepas dari lima hal: wajib, mandûb, haram, makruh dan mubah. Untuk memudahkan klasifikasinya, maka dalam hal ini bisa diklasifikasikan menjadi dua bentuk: Pertama, shîghat al-amr; Kedua, shîghat an-nahy.

1. Perintah yang Riil

Dalam konteks perintah yang riil, shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang digunakan dalam struktur kalimat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, pada dasarnya hanya mempunyai konotasi permintaan (thalab). Namun, qarînah (indikasi)-lah bisa mengarahkan konotasi permintaan secara umum tadi menjadi wajib, mandûb dan mubah. Antara lain, sebagai berikut:

a. Wâjib

Shîghat al-amr yang mempunyai konotasi permintaan untuk dikerjakan dengan permintaan secara tegas (thalab al-fi’l jâzim[an]). Contohnya firman Allah SWT. yang menyatakan:

} وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ

Dan dirikanlah shalat. (QS. an-Nur [24]: 73).

Frasa: wa aqîmû (dan dirikanlah) hanya mempunyai konotasi permintaan untuk dikerjakan, yang kemudian bisa berkonotasi wajib setelah adanya indikasi. Adapun indikasi yang menunjukkan permintaan tertentu sebagai permintaan yang tegas adalah sebagai berikut:

(1) Jika ada dalil yang menunjukkan, bahwa kalau perintah tersebut ditinggalkan akan berimplikasi pada dijatuhkannya sanksi di dunia dan siksa di akhirat. Misalnya:

} مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ~ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. (QS. al-Mudatstsir [74]: 42-43).

Merupakan siksaan di akhirat bagi orang yang meninggalkan shalat. Maka, perintah shalat adalah perintah yang harus dikerjakan dengan perintah yang tegas.

(2) Jika di dalamnya ada perbuatan atau perkataan yang dilakukan secara terus-menerus tanpa henti, kecuali karena udzur, sehingga udzur tersebut menjadi rukhshah, ampunan ataupun harus diganti. Misalnya:

} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ {

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. al-Mâidah [5]: 6).

(3) Jika ada penjelasan perintah, yang hukumnya wajib, atau konteksnya dengan wajib, atau mempunyai konotasi menjaga Islam. Misalnya:

« مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ »

Perintahkanlah anakmu shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka. (HR. Abû Dâwud dari ‘Amr bin Syu’ayb dari Kakeknya).

(4) Jika ada penjelasan untuk melaksanakan perintah dengan pilihan sejumlah hukum yang telah ditentukan. Misalnya:

} فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (QS. al-Mâidah [5]: 89).

(5) Jika ada penjelasan mengenai pengulangan perbuatan, yang seandainya tidak fardhu, pasti sudah dilarang. Seperti dua ruku’ shalat Khusûf:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْـهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ الله ﷺ، فَقَامَ رَسُولُ الله ﷺيُصَلِّي، فَأطَالَ القِيَامَ جِدّاً، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ جِدّاً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَأطَالَ القِيَامَ جِدّاً، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ جِدّاً، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ.

Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah saw., kemudian Rasulullah saw. shalat bersama orang ramai, lalu memanjangkan berdiri, kemudian ruku’ dan memanjangkan ruku’nya, kemudian berdiri dan memanjangkan berdirinya, berdiri yang lain dengan berdiri yang pertama, kemudian ruku’ lalu memanjangkan ruku’ yang tidak ama dengan ruku’ yang pertama, kemudian sujud dan memanjangkan sujudnya. (HR. Bukhâri dari Aisyah).

(6) Jika ada nash yang secara tegas menyatakan wajib. Misalnya dengan menggunakan lafazh: farîdhah. Contohnya firman Allah SWT. Yang menyatakan:

} إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ
حَكِيمٌ {

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah [9]: 60).

(7) Jika perintah tersebut diperintahkan, sekalipun sangat memberatkan orang yang diperintahkan. Misalnya firman Allah SWT. yang menyatakan:

} انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. at-Taubah [9]: 61).

(8) Jika perintah tersebut merupakan perintah yang akan menyempurnakan kewajiban, yang tanpanya kewajiban tersebut tidak akan sempurna. Misalnya firman Allah SWT. yang menyatakan:

} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu. (QS. an-Nisâ’ [4]: 59).

Perintah mentaati Allah, Rasul dan ûlî al-amr (khalifah) bukanlah perintah mentaati sesuatu yang tidak ada (al-ma’dûm). Sebab, jika yang ditaati (al-muthâ’) tidak ada, maka perintah mentaatinya juga mustahil diperintahkan. Karena itu, adanya perintah mentaati, memastikan adanya al-muthâ’, dan jika al-muthâ’ tidak ada, sementara hukum mentaatinya diperintahkan, maka mengadakan kewujudannya adalah wajib. Jadi, perintah mentaati ûlî al-amr (khalifah) juga menunjukkan adanya perintah untuk mewujudkan keberadaannya yakni mewujudkan keberadaan khalifah.

b. Mandûb:

Shîghat al-amr yang mempunyai konotasi permintaan untuk dikerjakan dengan permintaan secara tidak tegas (thalab al-fi’l ghayr jâzim). Contohnya firman Allah SWT. yang menyatakan:

} وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَءَاتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي ءَاتَاكُمْ

Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. (QS. an-Nûr [24]: 33).

Perintah menulis perjanjian dengan budak serta memberikan sebagian harta kepada mereka adalah mandûb. Sebab, perintah tersebut disertai pahala, namun tidak disertai sanksi di dunia atau siksa di akhirat bagi yang meninggalkannya. Adapun indikasi yang menunjukkan permintaan tertentu sebagai permintaan yang tidak tegas adalah sebagai berikut:

(1) Jika ada dalil yang menunjukkan perintah tertentu disertai tarjîh (penguatan perintah). Misalnya hadits Nabi yang menyatakan:

« مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَتِهَا مَرَّةً »

Tidaklah seorang Muslim menghutangi Muslim yang lain dua kali hutang, kecuali yang sekali sebagai sedekahnya. (HR. Ibn Mâjjah).

(2) Jika tuntutan melaksanakan perintah disertai dengan pembenaran atau sukût terhadap pelanggaran perintah tersebut. Misalnya sabda Nabi saw. Yang menyatakan:

« يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ »

Wahai para pemuda, siapa saja di antara kamu yang mampu berumah tangga, hendaknya menikah. (HR. Bukhâri dari Ibrâhîm bin ‘Alqamah).

Namun, perintah tersebut disertai dengan pembenaran atau sukût terhadap pelanggaran dari erintah tersebut, ketika ada sahabat yang mampu menikah tetapi tidak menikah, dan dibiarkan oleh Rasul saw.

(3) Jika ada dalil yang menunjukkan perintah tertentu sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah, tanpa disertai indikasi yang menunjukkan kewajibannya. Misalnya sabda Nabi saw. yang menyatakan:

« إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ »

Sesungguhnya do’a adalah ibadah. (HR. Ibn Mâjjah).

Ibadah adalah bentuk mendekatkan diri kepada Allah, karena merupakan hubungan antara manusia dengan Rabb-nya. Maka, berdo’a hukumya adalah mandûb, bukan
wajib.

c. Mubah

Shîghat al-amr yang mempunyai konotasi memilih untuk mengerjakan atau meninggalkan apa yang diperintahkan. Contohnya firman Allah SWT. Yang menyatakan:

} كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ

Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah. (QS. al-Baqarah [2]: 60).

Perintah makan dan minum tersebut adalah permintaan untuk memilih, antara melaksanakan atau meninggalkannya. Sebab, izin makan dan minum tersebut disyariatkan kepada kita sebagai hak kita, bukan sebagai kewajiban. Mengenai indikasi yang menunjukkan ibâhah adalah sebagai berikut:

(1) Jika ada dalil yang menjelaskan bahwa Rasul telah melakukan perbuatan dan meninggalkannya pada waktu yang lain. Misalnya:

Bahwa ada jenazah telah melintasi Ibn ‘Abbâs dan Hasan bin ‘Ali; salah satunya berdiri, sedangkan yang lain duduk. Yang berdiri berkata kepada yang duduk: ‘Tidakkah Rasulullah saw. berdiri? Yang duduk berkata: Benar, dan beliau juga duduk. (HR. at-Thabari).

(2) Jika ada ampunan terhadap perbuatan yang dinyatakan dalam hukum umum, bukan karena udzur apapun. Misalnya ketika Rasul ditanya tentang hukum keju dan minyak samin, beliau menyatakan:

« الْحَلاَلُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ »

Perkara halal (mubah) adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya, dan haram adalah perkara yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya, sedangkan apa yang didiamkan adalah apa yang dimaafkan. (HR. Abû Dâwud).

(3) Jika perbuatan haram atau dilarang dengan larangan yang tegas, kemudian dihalalkan kembali setelah sebabnya hilang. Maka, penghalalan tersebut berarti mubah. Misalnya sabda Nabi saw. yang menyatakan:

} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ~ فَإِذَا
قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. (QS. al-Jumu’ah [62]: 9-10).

(4) Jika perbuatan Jibiliyyah yang dilakukan berkaitan dengan karakteristik jasmani. Misalnya, firman Allah SWT. yang menyatakan:

} هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. (QS. al-Mulk [67]: 15)

2. Larangan yang Riil

Dalam konteks larangan yang riil, shîghat al-nahy yang digunakan dalam struktur kalimat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, pada dasarnya juga hanya mempunyai konotasi permintaan (thalab). Namun, qarînah-lah bisa mengarahkan konotasi permintaan secara umum tadi menjadi haram, makrûh dan mubah. Antara lain, sebagai berikut:

a. Harâm

Shîghat al-nahy yang mempunyai konotasi permintaan untuk ditinggalkan dengan permintaan secara tegas (thalab al-tark jâzim[an]). Contohnya sabda Nabi saw. Yang menyatakan:

« وَلاَ تَسْرِقُوا وَلاَ تَزْنُوا »

Dan hendaknya kamu tidak mencuri dan berzina. (HR. Bukhâri dari ‘Ubâdah bin Shâmit).
adalah larangan yang berkonotasi haram, karena disertai indikasi yang memastikan larangan tersebut, yaitu adanya sanksi di dunia bagi orang yang melanggarnya. Mengenai indikasi lain yang menunjukkan permintaan tertentu sebagai permintaan yang tegas adalah sebagai berikut:

(1) Jika ada nash yang menjelaskan, bahwa Allah membenci dan memurkai perbuatan tersebut. Misalnya:

} وَلاَ تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ ءَابَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلاً

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (QS. an-Nisâ’ [4]: 22).

(2) Jika perbuatan yang dilarang tersebut dinyatakan sebagai perbuatan syaitan. Misalnya:

} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nashib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. al-Mâidah [5]: 90).

(3) Jika ada nash yang menyatakan adanya laknat Allah atau Rasul-Nya terhadap orang yang melakukannya. Misalnya:

« لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ »

Allah melaknat orang yang mentato dan yang minta ditato, juga orang yang mencukur alis. (HR. Bukhâri dari ‘Abdullâh).

(4) Jika ada nash yang secara tegas menyatakan wajib. Misalnya dengan menggunakan lafazh: hurima atau harram[a]. Contohnya sabda Nabi saw. yang menyatakan:

« إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الأُمَّهَاتِ وَوَأْدَ الْبَنَاتِ »

Sesungguhnya Allah mengharamkan kepadamu durhaka kepada ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan. (HR. Bukhâri dari al-Mughîrah).

b. Makrûh

Shîghat al-nahy yang mempunyai konotasi permintaan untuk ditinggalkan
dengan permintaan secara tidak tegas (thalab al-tark ghayr jâzim). Contohnya sabda Nabi saw. yang menyatakan:

« نَهَى رَسُولُ اللَّهِ r عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ »

Rasulullah saw. melarang pekerjaan tukang bekam (cantuk). (HR. Ibn Mâjjah dari ‘Uqbah bin ‘Amr).

Larangan ini tidak mengindikasikan keharaman, selain tarjîh (penguatan) untuk meninggalkan larangan tersebut. Adapun indikasi yang menunjukkan permintaan tertentu sebagai permintaan yang tidak tegas adalah sebagai berikut:

(1) Jika ada larangan disertai dengan pembenaran atau sukût terhadap dilanggarnya larangan tersebut. Misalnya hadits Nabi yang menyatakan:

« يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ بِأَرْضِنَا أَعْنَابًا نَعْتَصِرُهَا فَنَشْرَبُ مِنْهَا قَالَ لاَ فَرَاجَعْتُهُ قُلْتُ إِنَّا نَسْتَشْفِي بِهِ لِلْمَرِيضِ قَالَ إِنَّ ذَلِكَ لَيْسَ بِشِفَاءٍ
وَلَكِنَّهُ دَاءٌ »

Ya Rasulullah, sesungguhnya di negeri kami terdapat banyak anggur yang kami biasa peras, kemudian kami meminumnya. Beliau (Nabi) bersabda: ‘Jangan.’ Kemudian kami mengulanginya.

Kami bertanya: Sesungguhnya kami menggunakannya untuk obat oran sakit. Beliau (Nabi) menjawab: ‘Sesungguhnya itu bukan obat, nemun penyakit.’ (HR. Ibn Mâjjah dari Suwayd al-Hadhramî).

Sementara larangan berobat dengan perkara haram, dibenarkan dalam kasus lain:

« أَنَّ نَاسًا اجْتَوَوْا فِي الْمَدِينَةِ فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ r أَنْ يَلْحَقُوا بِرَاعِيهِ يَعْنِي الإِبِلَ فَيَشْرَبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا »

Orang-orang di Madinah telah disierang sakit perut, kemudian mereka diperintahkan oleh Nabi saw. untuk menyertakan penggembalanya, yaitu (penggembala) unta, kemudian mereka meminum susu dan air kencingnya. (HR. Bukhâri dari Anash).

(2) Jika larangan tidak disertai adanya pengharaman (tahrîm). Misalnya sabda Nabi saw. yang menyatakan:

« أَنَّ نَفَرًا أَتَوُا النَّبِيَّ r فَوَجَدَ مِنْهُمْ رِيحِ الْكُرَّاثِ فَقَالَ أَلَمْ أَكُنْ نَهَيْتُكُمْ عَنْ أَكْلِ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى
مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ الإِنْسَانُ »

Beberapa orang telah datang kepada Nabi saw. kemudian beliau mencium bau bawang perai, seraya bersabda: ‘Tidakkah saya telah melarang kalian untuk memakan buah pohon ini, sebab malaikat juga akan tidak senang dengan apa yang membuat manusia tidak senang. (HR. Ibn Mâjjah dari Jâbir).

c. Mubah

Shîghat al-nahy yang mempunyai konotasi memilih untuk mengerjakan atau meninggalkan apa yang diperintahkan. Contohnya firman Allah SWT. yang menyatakan:

} أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا {

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. (QS. al-Mâidah [5]: 96).

Kemubahan larangan tersebut bisa dibuktikan melalui keharaman atau adanya larangan yang tegas karena kondisi tertentu, kemudian dihalalkan kembali setelah kondisinya hilang. Maka, penghalalan tersebut berarti mubah.

3. Perintah dan Larangan dalam Konteks Kesegeraan

Shîghat perintah dan larangan tidak dengan sendirinya mempunyai konotasi segera
dilaksanakan atau ditinggalkan (al-fawr). Hanya saja, setelah menganalisis penjelasan Rasulullah saw. dan apa yang telah dilakukan oleh para sahabat dengan pembenaran beliau membuktikan:

a. Perintah membutuhkan qarînah yang mempunyai konotasi segera dilaksanakan atau tidak; Jika waktu pelaksanaannya luas (muwassa’), seperti waktu shalat atau menunaikan zakat fitrah, maka bisa dilaksanakan kapan saja dalam waktu pelaksanaannya.

Jika waktunya terbatas (mudhayyaq), seperti puasa Ramadhan, maka harus dilaksanakan segera. Jika pelaksanaannya tidak terikat dengan waktu, maka bisa dilaksanakan kapan saja, contohnya seperti kafarat.

b. Larangan pada dasarnya harus ditinggalkan seketika atau segera, begitu larangannya turun, jika larangan tersebut bukan mâni’ (halangan), seperti larangan puasa dan shalat bagi wanita yang haid, maka larangan tersebut akan berhenti begitu halangannya hilang.

4. Perintah dan Larangan dalam Konteks Pengulangan (at-tikrâr)

Shîghat perintah dan larangan juga tidak dengan sendirinya mempunyai konotasi dilaksanakan atau ditinggalkannya perintah dan larangan tersebut sekali, dua kali atau lebih. Hanya saja, setelah menganalisis penjelasan Rasulullah saw. dan apa yang telah dilakukan oleh para sahabat dengan pembenaran beliau membuktikan:

a. Perintah, begitu dilaksanakan sekali, sesungguhnya telah cukup, sementara untuk mengulangnya dibutuhkan qarînah, baik dari perbuatan maupun perkataan Rasul. Para
sahabat mengetahui, bahwa  shalat fardhu harus diulang berdasarkan perbuatan Rasulullah. Demikian halnya pelaksanaan haji atau sebagian shalat yang lain, yang tidak perlu diulang, juga bisa mereka ketahui melalui perbuatan atau perkataan Rasul

b. Sebaliknya, larangan pada dasarnya harus ditinggalkan untuk selamanya, dan tidak boleh ditinggalkan sekali, kemudian dilaksanakan pada kali lain. Kecuali, jika larangan tersebut bergantung dengan qarînah atau nashkh.

5. Perintah dan Larangan Tidak Berkonotasi Kebalikannya

Shîghat perintah dan larangan masing-masing mempunyai bentuk yang unik, dan masing-masing tidak mempunyai konotasi selain perintah melakukan bagi shîghat al-amr (perintah), dan perintah meninggalkan bagi shîghat al-nahy (larangan).

Masing-masing mempunyai konotasi tekstualnya, dan tidak yang lain. Misalnya, ketika nash al-Qur’an memerintahkan agar mendirikan shalat (QS. Hûd [11]: 114) tidak berarti, bahwa perkara di luar shalat dilarang. Namun, jika ada larangan tersebut, maka datangnya dari dalil-dalil lain.

Demikian halnya ketika nash al-Qur’an melarang berzina (QS. al-Isrâ’ [17]: 32) tidak berarti, bahwa larangan tersebut sekaligus mengindikasikan perintah untuk menikah. Sebaliknya, perintah menikah tersebut harus dinyatakan dengan dalil-dalil lain yang bisa difahami seperti itu.

6. Pengaruh Perintah dan Larangan terhadap Akad dan Tasharruf

Larangan terhadap akad dan tasharruf bisa terjadi dalam tiga kondisi. Masing-masing adalah:

a. Larangan yang mengenai rukun akad, maka larangan tersebut akan menyebabkan batilnya akad, jika larangan tersebut tidak ditinggalkan. Jika larangan tersebut mengenai barang yang diakadkan, seperti jual-beli bangkai, maka jual-belinya batil. Demikian juga jika larangan tersebut berkaitan dengan ketidaklayakan pelaku akad tersebut, seperti gila, maka akadnya juga tidak sah.

b. Larangan yang mengenai syarat akad, bukan rukun –baik barang yang diakadkan ataupun pelaku akadnya– seperti jual-beli antara orang kampung dengan orang kota –karena adanya factor ketidaktahuan harga– maka larangan tersebut hanya merusak jual beli. Namun ketika ketidaktahuan harga tersebut telah hilang, jual-belinya menjadi sah.

Baca Juga: Bentuk Umum dan Khusus dalam Al-Qur’an dan Hadis

c. Larangan yang mengenai perkara di luar syarat dan rukun, misalnya larangan jual-beli ketika adzan Jumu’ah telah diserukan, maka jual-belinya tetap sah, namun berdosa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.