Bentuk Umum dan Khusus dalam Al-Qur’an dan Hadis

Bentuk Umum dan Khusus dalam Al-Qur’an dan Hadis

Tongkrongan Islami – Lafazh umum adalah lafazh tunggal dengan satu makna, yang di bawahnya mengalir dua atau lebih ujud derivat (fard), dimana masing-masing ujud derivat tersebut tidak berbeda dengan yang lain dari aspek dalâlah, kecuali jika ada takhshîsh.

Disebut lafazh tunggal (lafzh mufrad), bukan hanya lafazh, sehingga lafazh ganda (lafzh murakkab) dipisahkan dari lafazh umum. Sebab, jika lafazh tersebut berbentuk ganda, yang di bawahnya mengalir dua atau lebih ujud derivat (fard), maka lafazh tersebut tidak disebut lafazh umum, tetapi lafazh kulli.

Demikian juga disebut “dengan satu makna” agar lafazh musytarak (yang mempunyai makna ganda) terpisahkan dari lafazh umum. Sebab, lafazh musytarak tersebut masuk dalam lafazh mujmal (global). Dan dinyatakan “masing-masing ujud derivat tersebut tidak berbeda dengan yang lain dari aspek dalâlah” agar lafazh manqûl, majâz dan kinâyah terenyahkan dari lafazd tersebut.

Lafazh Umum dan Khusus

Lafazh umum bisa diidentifikasi melalui tiga cara: Pertama, dibuktikan secara kebahasaan,
yang diperoleh melalui peletakan lafazh dalam konteks bahasa Arab; Kedua, dibuktikan secara konvensional, yang diperoleh melalui penggunaan pemilik bahasa, buka melalui asal peletakan lafazhnya; Ketiga, dibuktikan melalui akal, yang diperoleh melalui penggalian, bukan akal murni.

Dengan demikian, pengindentifikasian lafazh umum tersebut bisa dilakukan melalui dua cara: Pertama, melalui proses penukilan, baik melalui peletakan bahasanya maupun penggunaan lafazh oleh pemilik bahasanya; Kedua, melalui penggalian.

Lafazh umum yang teridentifikasi melalui peletakan bahasanya, ada dua macam: Pertama, umum dengan sendirinya, atau berdasarkan peletakan lafazh dalam bahasa Arabnya; Kedua, umum karena adanya qarînah. Yang terakhir ini, qarînah-nya bisa berbentuk kalimat negatif (an-nafy) atau positif (al-itsbât).

Sementara lafazh umum yang teridentifikasi melalui penggunaan lafazh oleh pemilik bahasa, atau melalui kovensi, seperti lafazh: ummahât (ibu-ibu) dalam kalimat: Hurrimah ‘alaykum ummatukum (telah diharamkan kepadamu ibu-ibu kamu).

Lafazh: ummahât tidak hanya berkonotasi zatnya, tetapi juga seluruhnya, baik tubuh, kecantikan dan sebagainya yang melekat pada ibu. Sedangkan lafazh umum yang teridentifikasi melalui proses penggalian, atau melalui akal, bisa ditetapkan berdasarkan ketentuan hukum yang jatuh setelah sifat disertai huruf Fa’ at-ta’qîb (akibat) atau at-tasbîb (sebab-akibat).

Misalnya, lafazh: as-sâriq[u] wa as-sâriqat[u] yang jatuh sebelum hukum potong tangan: faqtha’û. Maka, lafazh: as-sâriq[u] wa as-sâriqat[u]  tersebut bisa diidentifikasi sebagai lafazh umum secara istinbâti.

A. Shîghat Umum

Shîghat lafazh umum berdasarkan peletakan bahasanya, baik yang mempunyai konotasi umum dengan sendirinya maupun disertai qarînah bisa dideskripsikan sebagai berikut:

1) Plural yang Disertai dengan Partikel “Al”

Partikel”al” yang menyertai lafazh yang berbentuk plural (jam’), baik plural tanpa gender, seperti Jamak Taksîr, misalnya: ar-rijâl, ataupun plural yang bergender, seperti Jamak Mudzakkar Sâlim (laki-laki plural), misalnya: al-muslimûn atau Jamak Mu’annats Sâlim (perempuan plural), misalnya: al-muslimât umumnya adalah partikel “al” yang berkonotasi genus yang disebut “Al”  al-Jinsiyyah atau yang  berkonotasi penyedotan seluruh genus yang biasanya disebut “Al” al-Istighrâqiyyah. Contoh firman Allah SWT. yang menyatakan:

  لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. (QS. an-Nisâ’ [4]: 7).

2) Singular yang Disertai dengan Partikel “Al”

Partikel “al” yang menyertai lafazh yang berbentuk singular (mufrad), umumnya adalah
partikel “Al”  al-Jinsiyyah, atau al-Istighrâqiyyah, dan bukan partikel “al” yang berkonotasi zaman terjadinya peristiwa, yang biasa disebut “Al” al-Ahdiyyah, seperti dalam lafazh: al-Ghârr, dalam surat at-Taubah: 40, yang berkonotasi gua Tsûr, bukan yang lain. Maka, lafazh al-Ghârr  tersebut tidak bisa diidentifikasi sebagai lafazh umum, karena telah mempunyai konotasi tertentu, sebagai akibat masuknya partikel “Al” al-Ahdiyyah. Mengenai partikel “Al”  al-Jinsiyyah, atau al-Istighrâqiyyah yang menyertai lafazh yang berbetuk singular, contohnya seperti firman Allah SWT.:

  الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus kali dera. (QS. an-Nûr [24]: 2).

3) Isim yang Dima’rifatkan Dengan Idhâfah

Ism al-Ma’rifat adalah kata benda yang menunjukkan makna tertentu, bisa berbentuk (1) kata ganti (ad-dhamîr), (2) nama (al-‘alam), (3) penunjuk (al-isyârah), (4) sambung (al-mawshûl), (5) kata benda yang diserati dengan partikel “al”, (6) disandarkan (mudhâf) kepada salah satu bentuk Ma’rifat sebelumnya, atau (7) obyek seruan tertentu (al-munâdâ al-maqshûdah).[1] Namun, dari sekian bentuk ism al-ma’rifat tadi yang dimaksud di sini adalah bentuk ke-6, yaitu kata benda yang di-ma’rifat-kan dengan idhâfah (disandarkan) pada salah satu bentuk ma’rifat. Misalnya, firman Allah SWT. yang menyatakan:

  يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ

Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. (QS. an-Nisâ’ [4]: 11).

4) Isim Nakirah Dalam Konteks Penafian, Syarat atau Larangan

Ism Nakirah adalah kata benda yang tidak menunjukkan makna tertentu, dan merupakan kebalikan Ma’rifat. Karena itu, ia bukan merupakan salah satu bentuk dari ketujuh bentuk ism al-Ma’rifat di atas. Misalnya, lafazh: Basyar, Fâsiq[un] dan Qawm –masing-masing dalam konteks penafian, syarat dan larangan– dalam firman Allah SWT.:

  مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ

Allah tidak akan menurunkan apapun kepada manusia. (QS. al-An’âm [6]: 91).

} إنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوْا

Jika ada orang fasik membawa berita kepadamu, maka periksalah. (QS. al-Hujurât [49]: 06).

} لاَ يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ {

Hendaknya suatu kaum tidak membanggakan diri terhadap kaum lain. (QS. al-Hujurât
[49]: 11).

5) Isim Syarat

Ism Syarat adalah kata yang digunakan untuk menyusun struktur kalimat bersyarat,
seperti: Man (siapa saja) atau Mâ (apa saja), dan lain-lain. Misalnya, lafazh: Man dan Mâ dalam firman Allah SWT.:

} فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ {

Siapa saja di antara kalian yang menyaksikan bulan (Ramadhan), maka hendaknya berpuasalah pada bulan tersebut. (QS. al-Baqarah [2]: 185).

} وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ {

Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. al-Baqarah [2]: 272).

6) Isim Istifhâm

Ism Istifhâm adalah kata yang digunakan untuk menyusun struktur kalimat bertanya, seperti: Man (siapakah) atau Mâdzâ (apakah), dan lain-lain. Misalnya, lafazh: Man dan Mâdzâ dalam firman Allah SWT.:

} مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا {

Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami. (QS. al-Anbiyâ’
[21]: 59).

  مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً

Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan? (QS. al-Baqarah [2]: 26).

7) Isim Mawshûl

Ism Mawshûl adalah kata yang digunakan untuk menyambung bagian-bagian dalam struktur kalimat, seperti: Man (siapa saja atau semua), Mâ (apa saja atau semua), yang masing-masing berkonotasi plural, atau al-Ladzîna, al-Lâî dan lain-lain. Misalnya, lafazh: Man, Mâ atau al-Ladzîna dalam firman Allah SWT.:

 وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلاَلُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan
kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu
pagi dan petang hari. (QS. ar-Ra’d [13]: 15).

  وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ

Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu). (QS. an-Nisâ’ [4]: 24).

 وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. (QS. al-Baqarah [2]: 234).

8) Plural yang Berbentuk Nakirah

Misalnya, lafazh: Rijâl[un] dalam firman Allah SWT.:

} رِجَالٌ لاَ تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأَبْصَارُ

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari
mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan
zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan
menjadi goncang. (QS. an-Nûr [24]: 37).

9) Lafazh: Kull, Jamî’, Ajma’ûn dan Akta’ûn

Misalnya, lafazh: Kull, Jamî’, Ajma’ûn dan Akta’ûn dalam firman Allah SWT.:

  كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

Agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya. (QS. al-Jâtsiyah
[45]: 22).

  إِنْ كَانَتْ إِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. (QS. Yasin [36]: 53).

 لأَمْلأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ

Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya. (QS. Shad [38]: 85)

B. Shîghat Khusus

Shîghat yang digunakan untuk membentuk lafazh dengan konotasi khusus, bisa diidentifikasi sebagai berikut:

1) Ism al-‘Alam

Ism al-Alam adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan nama tertentu, baik nama
manusia, tempat, waktu dan lain-lain. Masing-masing bisa dicontohkan seperti Muhammad,
Madînah dan Ramadhân. Misalnya, firman Allah:

  وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. (QS. Ali ‘Imrân [3]: 144).

  وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ

Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan
(juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya.
Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka. (QS. at-Taubah [9]: 101).

2) Ism al-Ma’rifat

Dengan Partikel “Al” al-Ahdiyyah Ism al-Ma’rifat yang di-ma’rifat-kan dengan partikel “Al” al-Ahdiyyah, misalnya lafazh: al-Ghâr dalam firman Allah:

  إِلاَّ تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makah) mengeluarkannya (dari Makah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua (Tsûr), di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. at-Taubah [9]: 40).

3) Al-Musyâr Ilayh

Al-Musyâr Ilayh adalah kata benda yang ditunjuk oleh kata penunjuk (ism al-Isyârah). Misalnya, lafazh: al-Kitâb dalam firman Allah:

  ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Inilah adalah kitab yang tiada sedikitpun keraguan di dalamnya; merupakan petunjuk bagi
orang-orang yang bertakwa (QS. al-Baqarah [2]: 2).

4) Angka Tertentu

Angka (al-‘adad) adalah kata hitung, sekalipun artinya lebih dari satu, misalnya 20, 30 atau
100, statusnya tetap merupakan lafazh khusus. Misalnya, lafazh: Mi’ah dalam firman Allah:

  الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. (QS. an-Nûr [24]: 2).

C. Taghlîb

Taghlîb adalah istilah yang digunakan oleh orang Arab untuk menyebut penggunaan lafazh
umum yang meliputi ujud derivat yang sejenis dan tidak, dengan hanya menggunakan satu lafazh, karena dominannya jenis yang disebutkan. Misalnya, penggunaan lafazh: Rijâl yang secara harfiah berarti laki-laki, kadang digunakan untuk menyebut sekelompok orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini, Taghlîb bisa diklasifikasikan menjadi tiga:

1) Penggunaan Lafazh Mudzakkar (Laki-laki) Meliputi Perempuan Ini bisa diidentifikasi melalui penggunaan lafazh yang berkonotasi laki-laki, namun di dalamnya include perempuan. Misalnya, lafazh: Rijâl dalam firman Allah:

} مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً

Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka
janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya). (QS. al-Ahzâb [33]: 23).

Di lihat dari keumuman lafazh: Mâ âhadû (apa yang telah mereka janjikan) –sekalipun konteks turunnya ayat ini berkaitan dengan jihad, yang nota bene hanya diwajibkan untuk kaum pria– maka penggunaan lafazh: Rijâl[un] di sini bisa disebut Taghlîb, yang meliputi laki-laki dan perempuan.

2) Penggunaan Lafazh Bagi yang Berakal Meliputi yang Tak Berakal

Ini bisa diidentifikasi melalui penggunaan lafazh yang digunakan untuk menyeru yang
berakal dan tidak. Misalnya, lafazh: Man yang secara harfiah berarti “yang berakal”, digunakan juga untuk konteks “yang tidak berakal” dalam firman Allah:

 وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. (QS. al-Isrâ’
[17]: 55).

3) Penggunaan Sifat Bagi yang Berakal Meliputi yang Tak Berakal

Ini bisa diidentifikasi melalui penggunaan lafazh dalam bentuk sifat yang digunakan
untuk menyeru yang  berakal dan tidak.

Misalnya, lafazh: Sâjidîn dan Hum yang secara harfiah berarti “bersujud” dan “mereka (manusia)” digunakan juga untuk konteks makhluk “yang tidak berakal” seperti bintang, matahari dan bulan, sebagaimana dalam firman Allah:

 إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. (QS. Yûsuf [12]: 4).

Takhshîsh Umum

Takhshîsh adalah bentuk pengalihan lafazh yang asalnya berkonotasi umum menjadi
khusus. Dengan takhshîsh ini, maka lafazh yang asalnya umum, konotasinya akan berubah mengikuti spesifikasi lafazh yang mengkhususkannya. Dalam hal ini, ada dua bentuk: Muttashil (tidak terpisah) dan Munfashil (terpisah).

A. Takhshîsh Tidak Terpisah

Takhshîsh Muttashil (tidak terpisah) adalah takhshîsh yang tidak berdiri sendiri, namun dinyatakan bersama konteks lafazh umum dalam satu nash yang di-takhshîsh, dengan makna yang berhubungan dengan lafazh umum, serta menjadi bagian dari kalimat yang mengandung lafazh umum. Takhshîsh  ini bisa diuraikan sebagai berikut:

1) Istitsnâ’ (Pengecualian)

Takhshîsh dengan istitsnâ’ (pengecualian) ini biasanya menggunakan adât istitsnâ’ (perangkat untuk mengecualikan), seperti Illâ, Ghayr[a], Siwâ, Khalâ, Hâsyâ, ‘Adâ, Mâ ‘Adâ, Mâ Khalâ dan Lays[a].

Takhshîsh dengan istitsnâ’ (pengecualian) ini mempunyai konotasi mengeluarkan konteks yang jatuh setelah adât istitsnâ’, atau yang biasa disebut Mustatsnâ dari konteks sebelumnya, atau yang biasa disebut Mustatsnâ Minhu.

a. Illâ

Perangkat ini hanya bisa berfungsi untuk men-takhshîsh jika dalam konteks istitsnâ’ muttashil (tidak terpisah). Artinya, antara konteks yang jatuh setelah adât istitsnâ’ (Mustatsnâ) dengan konteks sebelumnya (Mustatsnâ Minhu) adalah satu jenis. Misalnya, firman Allah SWT.:

  مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap teguh dalam beriman (dia tidak berdosa). (QS. an-Nahl [16]: 106).

Lafazh: Man ukriha wa qalbuh[u] muthmainn[un] bi al-îmân (orang yang dipaksa kafir
padahal hatinya tetap teguh beriman) adalah Mustatsnâ yang dikeluarkan dari keumuman konteks sebelum Illâ (kecuali), Mustatsnâ Minhu yaitu:

Man kafar[a] bi-Llâh[i] min ba’d[i] îmânih[i] (siapa saja yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman). Kedua konteks Mustatsnâ dan Mustatsnâ Minhu tersebut juga sejenis, manusia dengan manusia, bukan malaikat dengan iblis, misalnya. Maka, ketika perangkat Illâ dalam struktur kalimat yang terpisah, misalnya firman Allah:

 وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاّ إِبْلِيسَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis. (QS. al-Baqarah [2]: 34).

Lafazh: Iblîs dalam konteks di atas memang dikeluarkan dari makhluk yang telah bersujud
kepada Adam, tetapi konteks pengeluaran tersebut bukan dalam konteks takhshîsh. Sebab, iblis adalah genus yang berbeda dengan malaikat. Maka dalam hal ini, Illâ tidak berfungsi men-takhshîsh, karena berada dalam konteks yang terpisah, atau tidak sejenis.

b. Ghayr: Perangkat ini kadang mempunyai maksud yang sama dengan Illâ, sebagaimana
dalam firman Allah:

  لاَ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ

Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang), kecuali yang mempunyai udzur. (QS. an-Nisâ’ [4]: 95).

Frasa: Ulî ad-dharar (yang mempunyai udzur), telah dikeluarkan dari konteks Mustatsnâ
Minhu-nya, al-Qâ’idûna min al-mu’minîn (orang-orang mukmin yang duduk tidak berjihad), sehingga Ulî ad-dharar telah dikecualikan dari keumuman al-Qâ’idûna min al-mu’minîn.

2) Syarat Perangkat syarat (adât as-syarth)

Ini meliputi: Idzâ (jika), Man (siapa saja), Mahmâ (bila), Haitsumâ (ketika), Aynamâ (di mana saja). Misalnya, firman Allah:

  وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika
mereka tidak mempunyai anak. (QS. an-Nisâ’ [4]: 12).

Frasa: In lam yakun lahunna walad[un] (jika mereka tidak mempunyai anak), telah mengeluarkan konteks sebelumnya, yaitu: separoh bagian harta yang ditinggalkan isteri (mayit). Artinya, dengan adanya anak laki-laki, maka suami tidak lagi mendapatkan
setengah dari harta waris isterinya.

3) Sifat

Takhshîsh dengan sifat, antara lain, seperti dalam firman Allah:

  وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلاً أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ

Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka yang beriman, ia boleh mengawini pemudi wanita yang beriman, dari budak-budak yang menjadi milik kamu. (QS. an-Nisâ’ [4]: 25).

Sifat: al-Mu’minât (beriman), yang menjadi sifat fatayâtikum (para pemudi wanita kamu), telah men-takhshîsh keumuman fatayâtikum –Muslimah dan non-Muslimah– yang menjadi miliki orang mukmin.

Dengan sifat al-Mu’minât (beriman) tersebut, berarti hanya yang beriman saja yang boleh dikawini. Selain itu, tidak dibolehkan.

4) Ghâyah (Target)

Ghâyah mempunyai dua perangkat (adât), yaitu: Ilâ (sampai) dan Hattâ (hingga). Takhshîsh dengan Ghâyah ini, misalnya:

 فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

Maka basuhlah wajah dan tangan kamu sampai siku-siku. (QS. al-Mâidah [5]: 6).

Target: Ilâ l-Marâfiq (sampai ke siku-siku) telah men-takhshîsh keumuman aydiyakum, yang berkonotasi umum dari ujung jari sampai lengan, sehingga yang wajib dibasuh hanya sebatas ujung jari hingga siku-siku.

B. Takhshîsh Terpisah

Takhshîsh Munfashil (terpisah) adalah takhshîsh yang berdiri sendiri, terpisah dari konteks lafazh umum. Takhshîsh  ini bisa diidentifikasi melalui sejumlah dalil sam’î, yaitu al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ Sahabat dan Qiyas. Dalam hal ini, bisa diklasifikasikan menjadi:

1) Takhshîsh al-Qur’an dengan al-Qur’an

Takhshîsh al-Qur’an dengan al-Qur’an ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil umum dan khusus berikut ini:

  وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. (QS. al-Baqarah [2]: 234).

  وَأُولاَتُ الأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. (QS. at-Thalâq [65]: 4).

Isteri-isteri –baik yang hamil maupun tidak– yang ditinggal mati suaminya, masa ‘iddah-nya, menurut surat al-Baqarah: 234 adalah 4 bulan 10 hari. Namun, keumuman konteks ini
dikecualikan dari isteri-isteri yang mengandung, sehingga dia wajib menunggu masa ‘iddah-nya hingga melahirkan.

2) Takhshîsh al-Qur’an dengan as-Sunnah

Takhshîsh al-Qur’an dengan as-Sunnah ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil umum dan khusus berikut ini:

   يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ

Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan. (QS. an-Nisâ’ [4]: 11).

 « الْقَاتِلُ لاَ يَرِثُ »

Orang yang membunuh tidak bisa mewarisi. (HR. at-Tirmîdzi dari Abû Hurairah).

Anak laki-laki bisa mendapatkan dua bagian harta waris, namun hadits di atas mengeluarkan anak yang membunuh orang tuanya (mayit) dari keumuman anak yang berhak mendapatkan harta warisan.

3) Takhshîsh al-Qur’an dengan Ijma’ Sahabat

Takhshîsh al-Qur’an dengan Ijma’ Sahabat ini misalnya terlihat pada masing-masing
dalil umum dan khusus berikut ini:

  وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera. (QS. an-Nûr [24]: 4).

Keumuman frasa: wa-ladzîna yarmûna al-muhshanât (orang yang menuduh orang baik-baik berzina) yang kemudian dikenai sanksi 80 kali dera, telah dikecualikan dari budak berdasarkan Ijma’ Sahabat. Dalam hal ini, Ijma’ Sahabat menyepakati, bahwa budak yang menuduh orang baik-baik berzina hanya didera 40 kali. Dengan kata lain, ayat di atas konotasinya khusus untuk orang merdeka.

4) Takhshîsh al-Qur’an dengan Qiyas

Takhshîsh al-Qur’an dengan Qiyas ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil umum dan khusus berikut ini:

  الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. (QS. an-Nûr [24]: 2).

Budak yang melakukan zina telah dikecualikan dari keumuman lafazh: az-zâniyyah dan az-zâni (perempuan dan laki-laki pezina). Ini dianalogikan pada nash al-Qur’an yang menyatakan:

   فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ

Apabila mereka (budak) telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka setengah hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (QS. an-Nisâ’ [4]: 25).

Ayat ini menyatakan, bahwa hukuman budak ketika melakukan perbuatan keji adalah separoh sanksi orang merdeka. Maka, dalam kasus zina, ketika secara umum dinyatakan bahwa perempuan dan laki-laki yang berzina akan dicambuk 100 kali, maka berdasarkan hasil analog terhadap surat an-Nisâ’: 25 di atas bisa disimpulkan, bahwa untuk budak hanya dikenakan 50 kali cambukan.

5) Takhshîsh as-Sunnah dengan al-Qur’an

Takhshîsh al-Sunnah dengan al-Qur’an ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil umum dan khusus berikut ini:

 « أَنَّهُ لاَ يَأْتِيكَ مِنَّا أَحَدٌ وَإِنْ كَانَ عَلَى دِينِكَ إِلاَّ رَدَدْتَهُ إِلَيْنَا »

Bahwa tidak seorang pun –laki-laki atau perempuan– di antara kami (orang-orang Musyrik
Quraisy) yang datang kepadamu (Muhammad) –jika dia memeluk agama kamu (Islam)–
kecuali kamu kembalikan kepada kami. (HR. Bukhâri).

Keumuman lafazh: Ahad (seorang laki-laki atau perempuan) telah dikhususkan untuk laki-laki, setelah di-takhshîsh dengan firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلاَ تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. (QS. al-Mumtahanah [60]: 10).

Dengan kata lain, hadits di atas konotasinya khusus untuk kaum laki-laki, tetapi tidak untuk kaum wanita, setelah dikecualikan dari keumuman lafazh: ahad sebelumnya.

6) Takhshîsh as-Sunnah dengan as-Sunnah

Takhshîsh al-Sunnah dengan as-Sunnah ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil
umum dan khusus berikut ini:

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ

Terhadap tanaman yang diairi dengan hujan, mata air atau pohon korma yang tumbuh tanpa pengairan, terdapat kewajiban zakat 1/10. (HR. Bukhâri).

Keumuman lafazh: Fîmâ saqat (terhadap tanaman yang diairi) telah di-takhshîsh dengan sabda Nabi saw.:

 وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ

Terhadap harta yang kurang dari 5 Wasaq tidak ada kewajiban zakat. (HR. Bukhâri dari Abû Sa’îd al-Khudri).

Dengan demikian, keumuman hadits pertama telah dikhususkan untuk konteks tanaman atau buah-buahan yang jumlahnya mencapai 5 Wasaq atau lebih. Kurang dari itu, tidak ada kewajiban zakatnya, baik 1/10 ataupun 1/20 dari hasil panenya.

7) Takhshîsh as-Sunnah dengan Ijma’ Sahabat

Takhshîsh al-Sunnah dengan Ijma’ Sahabat ini misalnya terlihat pada masing-masing
dalil umum dan khusus berikut ini:

 فَإِنَّهُ لاَ يَنْبَغِي لِجِيفَةِ مُسْلِمٍ أَنْ تُحْبَسَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ أَهْلِهِ

Tidak selayaknya jenazah seorang Muslim ditahan di tengah-tengah keluarganya. (HR. Abû Dâwud dari al-Husayn bin Wahwah).

Keumuman konteks hadits di atas, yaitu larangan menanggung-nangguhkan pemakaman jenazah di tengah keluarganya, telah dikecualikan dari penangguhan pemakaman jenazah karena kesibukan mengangkat khalifah. Ini berdasarkan takhshîsh Ijma’ Sahabat yang menyepakati penangguhan jenazah Rasul di tengah keluarganya, sementara mereka sibuk membahas calon pengganti Rasul dalam memimpin negara.

8) Takhshîsh as-Sunnah dengan Qiyas

Takhshîsh al-Sunnah dengan Qiyas ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil umum dan khusus berikut ini:

Apakah Allah memerintahkan kamu untuk mengambil zakat ini dari orang-orang kaya di antara kami, kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir di antara kami. Maka, Nabi saw. menjawab: Ya. (HR. Bukhâri  dari Anash bin Mâlik).

Keumuman konteks hadits di atas telah di-takhshîsh dengan Qiyas, sehingga konteks hadits tersebut berlaku untuk sedekah wajib (zakat). Karena berdasarkan Qiyas, bisa disimpulkan, bahwa sedekah sunah boleh diberikan kepada orang fakir yang Kafir, sementara zakat hanya boleh diberikan kepada orang fakir yang Muslim.

9) Takhshîsh Manthûq dengan Mafhûm

Takhshîsh Manthûq dengan Mafhûm ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil umum dan khusus berikut ini:

وَفِي الْغَنَمِ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ شَاةً شَاةٌ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ

Terhadap kambing, dalam setiap 40 puluh kambing ada kewajiban zakat seekor kambing
hingga mencapai 120 ekor. (HR. Abû Dâwud dari Sâlim dari bapaknya).

Keumuman lafazh: al-Ghanam yang secara harfiah berarti kambing secara umum, baik yang digembala di padang gembalaan umum, milik negara ataupun tidak, dalam hadits tersebut telah di-takhshîsh dengan Mafhûm Mukhâlafah hadits:

وَفِي سَائِمَةِ الْغَنَمِ إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ فَفِيهَا شَاةٌ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ

Terhadap kambing yang digembala di padang gembalaan umum, jika telah mencapai 40 ekor, maka ada kewajiban zakat seekor kambing hingga mencapai 120 ekor. (HR. Abû Dâwud).

Sâimah al-ghanam adalah kambing yang digembalakan di padang gembalaan umum atau milik negara. Sifat tersebut bisa diambil Mafhûm Mukhâlafah (konotasi terbalik)-nya. Artinya, jika kambing tersebut tidak digembalakan di padang gembalaan umum atau milik negara, misalnya diternak dengan fasilitas, makanan, minuman dan lain-lain sendiri, berarti kambing tersebut tidak wajib dizakati, sekalipun telah mencapai 40 ekor.

Kaidah Lain Seputar Umum dan Khusus

Ada beberapa konteks umum dan khusus di luar ketentuan di atas yang perlu dikemukakan. Antara lain, umum dan khusus dalam konteks soal-jawab, sebab turunnya ayat al-Qur’an, peluang keumuman lafazh setelah di-takhshîsh.

A. Umum dan Khusus dalam Konteks Soal-Jawab

Jika ada khithâb (seruan) dinyatakan sebagai jawaban atas pertanyaan penanya yang
membutuhkan jawaban, maka jawaban tersebut bisa jadi tidak berdiri sendiri, atau berdiri sendiri.

1) Jawaban yang Tidak Berdiri Sendiri

Jika jawaban tersebut tidak berdiri sendiri, maka status jawaban tersebut mengikuti
pertanyaannya, baik dari aspek keumuman maupun kekhususannya. Mengenai status
keumuman jawaban –seiring dengan keumuman pertanyaan– tersebut memang tidak
ada perbedaan pendapat. Ini, misalnya, seperti hadits:

أَيَنْقُصُ الرُّطَبُ إِذَا يَبِسَ قَالُوا نَعَمْ فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ

Apakah kurma basah itu akan berkurang, jika kering? Mereka (sahabat) menjawab: Benar. Maka, beliau saw. melarangnya. (HR. at-Tirmîdzi dari Sa’ad).

Mengenai status kekhususan, sebagaimana takhshîsh dalam kasus Abî Bardah seputar hewan korban kambing bandot (al-ma’z), usia 6 bulan hingga 1 tahun (jadz’ah), Nabi menjawab:

وَهِيَ خَيْرُ نَسِيكَتَيْكَ وَلاَ تُجْزِئُ جَذَعَةٌ بَعْدَكَ

Itu merupakan sebaik-baik sembelihan kamu untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun Jadz’ah (kambing bandot usia 6-12 bulan) tidak akan mencukupi setelah kamu. (HR. at-Tirmîdzi).

2) Jawaban yang Berdiri Sendiri

Jika jawaban tersebut berdiri sendiri, maka bisa diklasifikasikan menjadi tiga bentuk:

a. Jika pertanyaan dan jawabannya selevel dari aspek keumuman dan kekhususannya, maka status jawaban tersebut mengikuti pertanyaannya, sebagaimana dalam kasus jawaban yang tidak berdiri sendiri. Misalnya:

Apakah kami bisa berwudhu dengan air laut? Rasulullah saw. menjawab: Laut itu airnya suci. (HR. at-Tirmîdzi dari Abû Hurairah).

b. Jika pertanyaannya lebih umum daripada jawabannya, maka jawaban tersebut statusnya khusus. Misalnya, ketika ‘Umar bertanya mengenai apa yang dihalalkan terhadap wanita yang haid, Nabi saw. menjawab:

لَكَ مِنْهَا فَوْقَ الإِزَرِ

Kamu berhak menikmati darinya (isteri yang sedang haid) apa yang ada di atas sarung. (HR. at-Tirmîdzi).

Dalam hal ini, jawabannya lebih khusus ketimbang pertanyaannya. Sebab, pertanyaannya meliputi apa saja yang dihalalkan dari wanita (isteri) yang tengah haid, namun jawabannya spesifik untuk untuk sesuatu yang ada di luar sarung. Berarti hokum tersebut secara spesifik berlaku untuk jawaban tadi, sementara boleh-tidaknya bagian-bagian yang ada di dalam sarung, memerlukan dalil lain.

c. Jika jawabannya lebih umum daripada pertanyaannya, maka yang berlaku adalah keumuman jawaban tersebut.

B. Umum dan Khusus dalam Konteks Sebab Turunnya Wahyu

Dalam konteks sebab turunnya wahyu –baik al-Qur’an maupun as-Sunnah– baik karena pertanyaan atau peristiwa tertentu, maka ulama’ telah menetapkan kaidah kulliyah yang menyatakan:

اَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ

Hukum yang berlaku didasarkan pada keumuman lafazh, bukan sebabnya yang spesifik.

Misalnya, ayat Kalâlah, surat an-Nisâ’: 176 diturunkan berkaitan dengan pertanyaan Jabir bin ‘Abdillah.[2] Ayat Li’ân, surat an-Nûr: 4 diturunkan berkaitan dengan pengaduan laki-laki Anshar terhadap isterinya kepada Rasulullah saw.[3] Namun, hukum-hukum tersebut telah dipraktekkan oleh Rasul dan para sahabat dalam kasus-kasus serupa yang lain. Demikian juga sabda Nabi mengenai penyamakan kulit bangkai hewan, yang dinyatakan ketika beliau melihat bangkai kambing budak Maymunah:

هَلاَّ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا فَدَبَغْتُمُوهُ فَانْتَفَعْتُمْ بِهِ فَقَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ فَقَالَ إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا

Mengapa tidak kamu ambil kulitnya, kemudian kamu samak, dan kamu manfaatkan. Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Itu kan bangkai?’ Beliau saw. menjawab: Yang diharamkan hanya memakannya. (HR. Muslim dari Ibn ‘Abbâs).

Demikianlah, semua lafazh umum yang dinyatakan berkaitan dengan kasus tertentu, atau pertanyaan tertentu, maka keumuman lafazhnya tetap bisa digunakan. Seperti kata as-Syâfi’i:

   السَّبَبُ لاَ يَصْنَعُ شَيْئًا وَإِنَّمَا تَصْنَعُ الأًلْفَاظُ

Sebab, tidak akan membentuk apapun, namun lafazhlah sejatinya yang membentuk (makna).[4]

C. Peluang Keumuman Lafazh setelah Adanya Takhshîsh

Mengenai peluang menarik kesimpulan (istidlâl) dengan dalil umum setelah di-takhshîsh tetap terbuka.

Pertama, karena lafazh umum memang meliputi keseluruhan konteksnya, sehingga tetap menjadi hujah terhadap bagian-bagian dari keseluruhan tersebut. Maka, dikeluarkannya bagian dari sebagian konteksnya melalui dalil yang mengkhususkan, tidak menyebabkan penunjukan lafazh bagain lain yang tersisa menjadi hilang.

Kedua, penarikan kesimpulan terhadap dalil umum yang di-takhshîsh dalam konteks di luar yang di-takhshîsh memang tetap bisa. Contohnya:

 وَلاَ يَحِلُّ لامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَاحِدٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

Tidak dihalalkan bagi wanita yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya serta Hari Akhir untuk
bepergian sejauh perjalanan sehari semalam, kecuali bersamanya disertai Mahramnya. (HR. Ahmad dari Abû Hurairah).

Hadits ini telah di-takhshîsh dengan hadits wanita yang telah memeluk Islam di Dâr al-Kufr, yang diberi hak untuk meninggalkan negerinya menuju Dâr al-Islâm tanpa disertai mahram. Ini didasarkan pada pembenaran Rasul terhadap Ummu Salamah yang tidak disertai mahram, dan juga suami.[5] Namun, keumuman hadits tersebut tetap berlaku di luar yang di-takhshîsh, yaitu selain wanita yang hijrah ke Dâr al-Islâm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.