Biografi Lengkap Imam Al-Ghazali Beserta Karya-Karyanya

Biografi Lengkap Imam Al-Ghazali Beserta Karya-Karyanya
Sumber Gambar: Syiarnusantara.id

Biografi Lengkap Imam Al-Ghazali Beserta Karya-Karyanya

Tongkrongan Islami – Nama lengkap al-Ghazali[1] adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin ahmad at-Thusi al-Ghazali, digelar Hujjah al-Islam[2]. Ia lahir di Ghazaleh suatu desa dekat Thus[3], bagian dari kota Khurasan, Iran pada tahun 450 H/1056 M.[4]

Ayahnya seorang yang fakir dan saleh serta hidup sangat sederhana sebagai pemintal benang,  mempunyai keagamaan yang tinggi dan mengharapkan anaknya menjadi ulama yang selalu memberi nasehat kepada umat.

Sebelum ayahnya meninggal, al-Ghazali dan saudaranya dititipkan kepada seorang sufi untuk dipelihara dan  di didik.[5] Karena ayahnya yang tidak berkecukupan dan harta warisan yang ditinggalkan untuk anaknya itu tidak banyak jumlahnya maka sufi tersebut menyekolahkan mereka ke sebuah madrasah yang menyediakan biaya hidup bagi para muridnya guru al-Ghazali yang paling utama di madrasah ini adalah Yusuf al-Nassaj, seorang sufi terkenal.[6] Tentang ibunya, Margareth Smith mencatat bahwa ibunya masih hidup dan berada di Baghdad ketika ia dan saudaranya, Ahmad, sudah terkenal.[7]

Pada masa kecilnya, al-Ghazali juga belajar pada Ahmad bin Muhammad ar-Razikani at-Thusi ahli tasauf dan fikih di kota kelahirannya, setelah  mempelajari dasar-dasar fikih ia merantau ke Jurjan sebuah kota di Persia antara kota Tabristan dan Nisabur.

Di Jurjan ia memperluas wawasannya tentang fikih dengan berguruh kepada seorang fakih yang bernama Abu al-Qasim Ismail bin Mus’idah al-Ismail (Imam Abu Nasr al-Ismaili).

Pada masa mudanya, berangkat lagi ke Nizabur (tahun 473 H)  belajar kepada Imam Abu al-Ma’ali al Juwaini. pusat ilmu pengetahuan penting di dunia Islam, kemudian ia menjadi murid pada Imam al-Haramain al-Juwaini, seorang guru besar di Madrasah al-Nizhamiyah. Ia belajar teologi, hukum Islam, filsafat, logika, sufisme dan ilmu-ilmu alam,[8] Ilmu kalam, ilmu fikih, filsafat, ilmu debat, dan mantik.[9]

Al-Ghazali dikenal seorang teolog terkemuka, ahli hukum, pemikir, ahli tasauf dengan julukan sebagai hujjah al-Islam. al-Ghazali juga belajar kepada sejumlah ulama. Setelah Imam al-Haramain meninggal dunia (478 H/1085 M) Ghazali pergi ke majlis Wazir Nidham al-Mulk al-Saljuqi, yakni Wazir dari Sultan Maliksyah di Naisabur.

Sang Wazir sangat takjub akan ilmunya, terkhusus ilmu kalam dan filsafat yang ia kuasai. Hingga Sang Wazir meminta Ghazali untuk menjadi guru besar universitas Nidhamiyah yang terletak di kota Baghdad. (484 H/1091 M).

Muridnya sangat banyak, diantaranya terdapat sekitar tiga ratus pembesar ulama ikut belajar kepadanya, karena takjub akan ketinggian ilmu Sang Imam. Keharuman namanya mulai semerbak di seantero penjuru lewat karya-karyanya dalam berbagai bidang ilmu,  baik dalam ilmu fiqh, filsafat, teologi dan sebagainya.

Dengan demikian, al-Ghazali merupakan sosok intelektual yang menguasai banyak lapangan intelektual, disamping berhasil pula menyelaraskan kehidupan intelektualnya dengan aspirasi penguasa sehingga wajar kalau ia memperoleh popularitas disamping pula kemewahan.[10]

Di situ al-Ghazali mendapatkan kemasyhuran, hingga seorang Abdul Ghaffar bin Ismail al-Farisy berpendapat bahwa; saat itu Ghazali patut untuk menyandang gelar sebagai Imam bagi Khurasan dan Irak. Bahkan pada saat-saat inilah al-Ghazali mencapai puncak kariernya.

Ketenaran al-Ghazali ternyata tidak mengantarnya kepada ketenangan batin. selama periode Baghdad, ia malah menderita goncangan jiwa akibat sifat keraguan yang menghimpit dirinya.

Dalam puncak keraguannya, pertanyaan yang selalu membentur hatinya ialah apakah pengetahuan hakiki diperoleh melalui indera atau akal atau jalan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah memaksanya untuk menyelidiki kebenaran pengetahuan yang telah dicapai manusia pada masanya. Keraguan tersebut dituangkan dalam kitabnya al-Munqis min al Dalal.[11]

Al-Ghazali meninjau kembali jalan hidup yang dilaluinya. Menurutnya dia telah tenggelam dalam samudra godaan dan rintangan. Segala pekerjaannya termasuk mengajar yang selama ini dipandangnya mulia, ia tinjau sedalam-dalamnya.

Menurutnya, jelas ia sedang berada di jalan yang salah, dia perhatikan berbagai ilmu yang tidak bermanfaat untuk perjalanan keakhirat. Niat dan tujuan dalam mendidik dan mengajar tidak sebenarnya ikhlas karena Allah tetapi dicampuri oleh motivasi ingin kedudukan dan kemasyhuran.

Menurutnya, ia sedang berdiri di pinggir jurang yang curam, di atas tebing yang terjal dan hamper jatuh, ia yaris jatuh ke dalam neraka dan akan segerah tercampakkan kedalammya jika tidak mau mengubah sikap.[12]

Setelah berfikir cukup lama, akhirnya timbullah keinginan dalam dirinya untuk meniggalkan Baghdad dengan segala kesenagannya. Namun kemudian urung karena masih ragu. Ungkapnya “keinginan di waktu pagi untuk untut menuntut kebahagiaan abadi, menjadi lemah dipetang harinya.

Nafsu duniawi menarik hati kearah kedudukan dan kemasyhuran. Namun iman berseru: bersiap-siaplah, umur hampir berakhir, perjalanan masih sangat jauh, ilmu dan amalmu hanya sombong jika tidak sekarang kapan akan bersiap.”[13]

Hampir enam bulan ia terombang-ambing antara dunia dan akhirat. Akhirnya ia bertekat untuk meninggalkan Baghdad, harta bendanya habis ia bagi-bagikan kecuali hanya sedikit untuk bekal dijalan dan biaya anak-anaknya yang masih kecil.

Dia pergi ke tanah Syam, Damaskus dengan niat ingin berkhalwat, bersunyi diri dalam Mesjid Jami’. Pada akhir tahun 488 H/1095 M al-Ghazali memulai khalwatnya menghindarkan diri dari segala hiruk pikuk manusia, mengasingkan diri di puncak menara mesjid itu. Tidak kurang dua tahun al-Ghazali berkhalwat di situ dan di sinilah beliau mengarang kitab ihya ulum al-Din.[14]

Pada akhir tahun 490 H, al-Ghazali menuju palestina, mengunjungi Hebron dan Yerussalem. Ia berdoa dalam mesjid Bait al- Maqdis, memohon kepada Allah supaya diberi petunjuk sebagaimana yang dianugrahkan kepada para nabi.

Kemudian ia mengembara di padang sahara dan akhirnya menuju ke Cairo, Mesir yang merupakan pusat kedua bagi kemajuan dan kebesaran Islam setelah kota Baghdad. Dari Baghdad menuju ke Iskandariyah kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke tanah suci Mekkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji dan bersiarah ke makam Rasulullah saw.

Selanjutnya pada tahun 499 H/ 1105 M karena desakan dari penguasan Saljuk, al-Ghazali mengajar kembali pada madrasah Nizhamiyah di Naisabur, tetapi hanya berlangsung selama 2 tahun, kemudian dia kembali ke Thus untuk mendirikan madrasah bagi para fuqaha, dan sebuah zawiyahi atau khanaqah untuk para mutasawwifin.

Setelah mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan, menulis dan mengajar, maka pada usia 55 tahun al-Ghazali meninggal dunia dalam usia 54 tahun di kota kelahirannya pada tanggal 14 jumadil akhir 505 H/ 19 Desember 1111 M dalam pangkuan saudaranya Ahmad al-Ghazali.[15]

Al-Ghazali meninggalkan banyak karya yang ditulis dalam banyak lapangan ilmu pengetahuan diantaranya:

Karya Imam AL-Ghazali di Bidang Filsafat dan Ilmu Kalam;

  1. Maqashid al-Falasifah
  2. Tahafut al-Falasifah
  3. Al-Iqhtishad fi al-I’tiqad
  4. Al-Munqidz min al-Dhalal
  5. Al-Maqashidul Asna fi Ma’ani asmillah al-husna
  6. Faishalut Tafriqah bainal Islam wa az-Zindiqah
  7. Al-Qishahul mustaqim
  8. Al-Mustadhiri
  9. Hujjatul Haq
  10. Mufsilul Khilaf fi ushuluddin
  11. Al- Muntahal fi ‘Ilmi Jidal
  12. Al-Madhnun bih ‘Ala Ghairi Ahlihi
  13. Mahkum Nadlar
  14. Asrar ‘Ilmiddin
  15. Al-Arba’in fi Ushuluddin
  16. Iljamul Awwan ‘an ‘Ilmil Kalam
  17. Al-Qulul Umail fi ar-Raddi ‘ala man Ghayaral Injil
  18. Mi’yarul ‘Ilmi
  19. Al-Intishar
  20. Itsbatun Nadlar

Karya Imam AL-Ghazali di Bidang Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh meliputi;

  1. Al-Basith
  2. Al-wasith
  3. Wajiz
  4. Khulashatul mukhtashar
  5. Al-mustasyhfa
  6. Syifakhul ’Alil fi Qiyas
  7. Adz-Dzari’ah ila Maqarimi asy-Syari’ah

Karya Imam AL-Ghazali di Bidang Ilmu Akhlak dan Tasawuf meliputi;

  1. Ihya Ulumuddin
  2. Mizanul ‘Amal
  3. Kimiyau as-Sa’adah
  4. Misykatul Anwar
  5. Minhajul ‘Abidin
  6. Ad-Dararul Fakhirah fi Kasfil Ulumil Akhirah
  7. Al-‘Ainis fil Wahdah
  8. Al-Qurban ila al-lahi ‘Azza wa Jalla
  9. Akhlaq al-Abrar wan Najat minal Asrar
  10. Bidayatul Hidayah
  11. Al-Mabadi wal Ghayyah
  12. Talbis al-Iblis
  13. Nasihat al-Mulk
  14. Ar-Risalah al-Ladunniyah
  15. Ar-Risalah al-Qudsiyah
  16. Al-Ma’khadz
  17. Al-Amali

Karya Imam AL-Ghazali di Bidang Ilmu Tafsir, yang meliputi;

  1. Yaqutui Ta’wil fi Tafsiri
  2. Jawahir al-Qur’an

 

Catatan Kaki

[1] Ada dua macam penulisan nama al-Ghazali: (ditulis dengan “al-Ghazali” ini berasal dari nama desa/kampung kelahirannya yaitu ghazalah karena itu sebutan al-Ghazali (dengan satu “z”). dan (2)  berasal dari pekerjaan sehari-hari yang dihadapinya dan ayahnya menenun dan menjual kain tenunannya yang disebut dengan “Ghazzal” karena itu panggilannya al-Ghazzali (dengan dua “z”). Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam al-Ghazali (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 28

[2] Kefasihan al-Ghazali dalam berbicara, pengetahuannya yang dalam tentang seni berdebat dan berargumentasi serta  pengetahuannya yang luas dalam berbagai studi,membuatnya termasyhur sehingga dianggap sebagai  Hujjah al-Islam. Lihat M.M Syarif  Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan 1993), h. 220

[3] Thus adalah salah satu kota di khurasan yang penduduknya sangat heterogen, baik dari segi faham keagamaan maupun dari segi suku bangsa. Lihat, Al-Subki, Thabaqat, al-Syafi’iyat al-Kubra, Juz IV, (Mesir: Musthafa al-Bab al-Halabi, t.th.), h. 102

[4] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Cet. III; Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), h. 77

[5] Tim Ensiklopedi,  Ensiklopedi Islam, Jilid II, (Cet. III; Jakarta: PT. Inter Masa, 1994), h. 25

[6] Alfatih Suryadilaga, Miftahus Sufi, (Cet. I; Jogjakarta: Teras, 2008), h. 181

[7] Margareth  Smith, al-Ghazali  the Mystic.( Londong: Luzac Co, 1944), h. 55

[8]Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam (Cet. IX; Jakarta: Bulan Bintang, 1995), h. 41

[9] Perpustakaan RI., Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: PT.Ichtiar Baru van Hoeve, 2001), h. 405

[10] Ahmad Syarbazi, al-Ghazali  wa at-Tasawwuf  al-Islami, (Kairo: Dar al-hilal, t.th), h. 35

[11] Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqis min al Dalal, (Beirut: al-maktabah sya’biyah, t.th), h. 31

[12] Ibid,  h.71

[13] Ibid

[14] Asmaran As, Pengantar Studi Tasauf, (Cet. II; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), h. 325, Hasyimsyah Nasution, op. cit., h. 79

[15] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (cet, I; Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 136. dan lihat juga Abdul Razak al-Kailani, Min Mawakil Uzzama’ al-Muslimin (Cet. I; T.pt: Darul al-Nafais, 1994), h. 218-221. dan lihat juga Abdul Muta’al ash-Shaidi, Mujaddiduna fil Islam fi Qarni al-Awwal ila Arba’ al-‘Asyar (Kairo: Multazam an-Nasyar Wattaba’, 1996), h. 138-139

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here